
Hari itu, kami sudah memutuskan untuk kembali ke tahun waktu kami minggu depan karena kami menunggu keputusan Bry, untuk ikut atau tidak.
Aku masih berusaha membujuknya untuk kembali bersama kami, "Bry...ayolah Bry. Ikut denganku yok." pintaku sedikit merengek, demi mendapatkan apa yang aku mau.
Bry tersenyum, "Aku memang belum sampai pada keputusan finalku, tapi untuk saat ini jawabanku masih sama dengan kemarin." jawabnya.
Setiap hari aku selalu menanyakan bagaimana keputusan akhir Bry, tapi jawabannya tetap sama. Sampai akhirnya, "Dream, kamu sudah memaksanya. Lama-lama Bry akan tidak nyaman sama kamu. Biarlah dia dengan keputusannya, karena ada yang dia pertimbangkan, yaitu Amber. Kita yang sudah dewasa saja takut terpisah, apalagi Bry dan Amber. Itu kekhawatiran Bry. Biarlah, itu menjadi keputusannya." kata V.
"Jadi maksudmu, aku harus menyerah?" aku bertanya kepadanya.
V mengangguk, "Ya, waktu kita tersisa tinggal beberapa hari lagi, jadi kita nikmati saja. Habiskan waktumu dengan Bry dan Amber. Jangan ungkit lagi tentang kembali bersama." jawab V.
Aku mengalihkan pandanganku darinya untuk berpikir sejenak. Baiklah, akan aku ikuti kemauan Bry yang seperti itu. Dan, akhirnya selama sisa minggu itu, aku tidak lagi mengajaknya untuk kembali.
Aku juga ada Jean dan Jeannete yang harus aku perhatikan disini, jadi mudah sekali untuk mengalihkan pikiranku dari keputusan Bry.
Akhirnya, hari kepulangan kami datang juga. Dan karena itu bertepatan dengan hari libur, kami bisa berjalan-jalan bersama Bry dan Amber terlebih dahulu. Aku membiarkan Kai jalan bersama Bry.
Aku dan V juga sempat bertanya kepada Kai tentang keputusan dia untuk kembali beberapa hari yang lalu, "Bagaimana denganmu, Kai?" tanya V.
"Bagaimana apa?" tanya Kai saat itu.
"Ya kamu dan Bry. Bry tidak mau kembali, lalu kamu? Dan bagaimana kelanjutann hubungan kalian?" tanya V menuntut.
"Itu yang sedang aku pikirkan. Bry memintaku untuk tinggal, tapi aku tidak bisa kan?" jawab Kai.
"Tidak bisa atau tidak mau?" tanya V lagi. Kali ini dia mendesak Kai untuk tinggal, karena Kai sudah mempunyai tanggung jawab disini.
"Aku tidak bisa, V!" tukas Kai.
"Dengar, kalau ini masalah Dream, aku yang akan menggantikanmu untuk menjaganya. Kamu sudah bebas dari tugas itu sejak aku resmi menikah dengannya. Tidak perlu khawatir tentang itu. Justru, kamu harus tinggal dimana istri dan anakmu tinggal, Kai. Apapun yang terjadi. Apalagi anakmu masih sangat kecil." ujar V.
Kai tidak membantah atau menjawab pernyataan dari V ini. Dia hanya merenungkannya tanpa berbicara. Setelah kejadian itu, Kai banyak menghabiskan waktu bersama Bry dan Amber.
"Lihatlah, dia punya pilihan, tapi dia membiarkan waktu mengalahkannya. Apa yang membuat Kai tidak mau tinggal?" tanya V.
"Dia tidak nyaman disini, V. Aku paham perasaannya. Dia sudah banyak mengeluh. Maksudku, kita juga tidak pernah membayangkan akan terdampar disini sampai selama ini, kan? Kita membayangkan Bry akan melahirkan disana sepulang kita liburan, dan ya sudah, tiba-tiba ini harus terjadi, kita jadi terpaksa menetap sementara disini." sahutku.
"Kalau soal nyaman atau tidaknya aku tidak bisa berkata-kata lagi. Karena itu kan kalian yang merasakan. Kalau aku, dimana ada keluargaku, disitulah aku akan tinggal." jawab V, "dan aku berharap Kai seperti itu. Aku tau ini bukan pilihan seperti aku di Jerman, dan kamu di Dubai, dan aku harus menyusulmu di Dubai. Ini sesuatu yang berbeda Saat ini kita berhadapan dengan waktu." ucapnya menambahkan.
__ADS_1
Dan, pada akhirnya, Kai dan Bry tetap pada keputusan mereka masing-masing. Entah apa kesepakatan mereka, dan bagaimana aku tidak pernah mengetahuinya.
"Bry, aku meminjam konektor Jean. Simpanlah ini supaya kita tidak putus kontak dan tidak saling melupakan." sahutku, dan menyerahkan robot kecil berbentuk kelinci dan kujadikan satu dengan seuntai kalung kecil yang aku dan V belikan sebagai hadiah untuk Amber. Kemudian aku pasangkan kalung itu ke leher kecil Amber.
Aku menggendong Amber sebentar, "Aku tunggu kamu di tahun waktuku yah, aku sudah berjanji akan mengajarimu menerbangkan mobil terbang disana." sahutku.
Bry berdeham, "Dia masih sangat kecil, kamu sudah menerapkan sistem pelanggaran sejak dini untuknya." ucap Bry. Aku tertawa, "Tidak apa nakal sedikit, aku yang akan bertanggung jawab nantinya..hehehe." sahutku.
V mengambil Amber dariku, "Cepatlah besar Amber kecil. Enam bulan lagi belajarlah melintasi waktu, dan temuilah kami. Kami akan menunggumu disana." ucapnya sambil mencium pipi Amber yang tembam.
V memberikan Amber kepada Kai, Kai dan Bry menepi sebentar. Kami memberikan ruang dan waktu untuk mereka. Sambil menunggu, V mengarahkan Jean dan Jeannete bagaimana kami nanti akan melintasi waktu.
"Kita tidak akan satu-satu tapi bersama-sama, untuk menghindari sesuatu yang buruk terjadi. Oke, Jean? Jeannette?" kata V.
Mereka mengangguk, dan saling bergandengan tangan, "Oke, V." jawab mereka.
Kai menghampiri kami, aku melihat Bry, tidak ada airmata di wajahnya, sebaliknya Kai yang meneteskan airmatanya.
Dia mengagguk ke arah kami.
"Sudah siap?" tanyaku.
Bry tersenyum, "Aku berjanji, Dream. Maafkan aku kalau aku belum bisa pergi bersama kalian." katanya.
Kami saling berpelukan, dan kemudian dengan bergandengan tangan, kami masuk ke dalam lorong waktu. Aku sudah tau apa yang harus kulakukan jika kami melakukan kesalahan saat mendarat.
"Bye Bry. See you soon." sahutku, dan kemudian masuk ke dalam pusaran waktu.
"Jean!" teriakku di dalam pusaran.
"Jangan pernah kamu lepaskan pegangan kami yah. Jeannette juga sama.!" teriakku.
Aku masih bisa mendengar suara mereka membalas ucapanku.
Setelah beberapa lama kami berputar-putar, dan tibalah kami di tahun waktu kami.
Yang pertama keluar adalah aku, dan...
"V, kita berhasil!!" teriakku kegirangan.
__ADS_1
Kemudian V
Disusul.oleh Jean, Jeannette dan terakhir Kai.
Tidak ada yang terpisah, ini tempat kami!! Ini rumah kami!
"Kita berhasil, Dream!" sahut V.
Akhirnya, kami berhasil kembali.
Sejumlah petugas satuan waktu dan beberapa unit robot mengawal kami untuk kembali ke rumah kami. Mereka sempat meminta keterangan kami mengapa pergi keluar tahun waktu begitu lama.
Kami menjelaskan apa yang terjadi, begitu juga dengan mereka. "Sempat ada penyelundup waktu, namun Nyonya Fransiskus berhasil mengatasi segalanya selama Nona Dream tidak ada di tempat." jelas petugas itu.
Mereka mengantar kami, dan menurunkan kami di rumah mama. Mama sudah menunggu kami bersama ibu Kai dan memeluk kami, "Akhirnya kalian kembali. Mama takut kalian tidak akan pernah kembali, Dream." tangisnya dan memelukku dengan erat.
"Aku selalu akan kembali." sahutku.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
Malam sebelum keberangkatan kami, aku dan Bry membuat kesepakatan.
"Jadi, aku akan mengunjungimu seminggu dua kali selama weekend. Aku tetap akan mengurus dokumen Amber disana, karena aku masih berharap kalian akan kembali." sahutku.
"Aku akan kesana setelah Amber siap melintasi waktu, Kai." jawab Bry.
"Kapan pun itu, akan aku tunggu. Kesepakatan yang kedua adalah dari kamu. Apa permintaanmu?" tanyaku kepadanya.
"Selama kamu mengunjungiku, aku berharap kamu tidak mengajak rombonganmu kesini....hehehehe." pinta Bry. Dan aku tau sekali siapa rombongan yang dia maksudkan.
Aku tersenyum, "Baiklah, akan kutepati janjiku." sahutku.
Begitulah kesepakatan yang kami buat. Aku akan tetap menunggu sampai Bry dan Amber siap untuk pergi bersamaku. Dan sampai saat itu tiba, aku yang akan selalu mengunjunginya, bahkan kalau ada panggilan darurat sekali pun, aku akan tetap menjadi suami dan ayah siaga untuk mereka.
...----------------...
__ADS_1