Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Inauguration


__ADS_3

"Dream cepatlah sedikit." sahut Kai kepadaku. Menjelang hari-hari sebelum aku dilantik, Kai menjadi mudah senewen, dan bereaksi terlalu berlebihan terhadap sesuatu. Hanya ada satu orang yang mampu mengendalikannya saat ini, Bryanna.


Seperti hari ini, Kai mengajakku rapat, padahal hanya rapat menggunakan worldmetaverse, tidak perlu lah bermake up resmi, lagian hanya virtual kita saja yang masuk ke dalam dan bertemu dengan si tamu, tapi entah kenapa permasalahan itu menjadi besar karena Kai. Menurutnya aku belum siap dengan materi yang akan aku sampaikan.


"Kai tenanglah, aku sudah menguasai materi apa yang akan aku sampaikan. Tenang, rileks." ujarku.


"Bagaimana aku bisa tenang, dari semenjak kamu ditolak Robbie, kamu seperti kosong, tidak ada bedanya dengan surrogate. Aku takut kamu tertukar dengan surrogatemu sendiri." sahut Kai.


"Robbie tidak menolakku!" balasku, berusaha mempertahankan diriku sendiri.


" Belum." jawab Kai sinis.


"Apa maksudmu dengan belum?" tanyaku kesal.


Bryanna dan V datang berlari menghampiri kami, "Demi Tuhan, apa yang terjadi pada kalian?" tanya Bry


"Tidak ada. Aku hanya meminta dia untuk fokus!" sahut Kai.


"Aku sudah fokus! Kamu yang membahas Robbie lebih dulu, Kai!" tukasku lagi. V akhirnya menenangkanku, dan Bry menarik tangan Kai untuk segera menjauh dariku sementara.


"Hei, kenapa?" tanya V kepadaku.


"Kami akan ada rapat di worldmetaverse, dan Kai khawatir aku belum siap dengan materiku, aku bilang padanya, aku sudah siap dan memintanya untuk tidak terlalu khawatir, tapi dia malah membahas tentang Robbie. Kai bilang Robbie menolakku. Itu tidak benar kan. Robbie hanya belum memberikan jawaban, bukan berarti menolakku." jawabku kepada V. Aku sangat sensitif sekali jika membahas tentang Robbie.


V memelukku, "Sabarlah Dream. Kai hanya mengkhawatirkanmu." sahut V


"Tapi bukan begitu caranya, kan?" aku menyahut kesal, "aku mengundang Robbie untuk datang ke acara pelantikanku nanti." ujarku.


V menganggukan kepalanya, "Lakukanlah, Dream. Semoga dia berkenan untuk datang." ucap V.


Setelah V dan Bry menenangkanku dan Kai, akhirnya kami berbaikan, dan terlambat untuk datang ke rapat. Tapi tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, kami menyampaikan materi kami dengan semaksimal mungkin, dan hasilnya cukup memuaskan.


"Dream, berjalanlah bersamaku." pinta Kai. Aku mengikutinya, Bry seperti biasa, berada jauh di belakang kami.


"Maafkan sikapku, aku khawatir padamu, Dream. Hanya itu. Aku takut Robbie membuatmu kehilangan fokusmu disini." sahut Kai.


"Aku juga minta maaf kepadamu atas kesalahan yang tidak kulakukan." sahutku, memang benar, aku korban Kai dan aku tidak bersalah, "Kamu tau aku wanita cerdas Kai, aku bisa membuat prioritas dan membedakan mana yang harus aku kerjakan. Jika aku punya banyak waktu, maka aku akan bengong seperti surrogate katamu." ujarku.


Kai tertawa, "Apa kamu akan mengundangnya nanti?" tanya Kai.


"Ya, aku tetap mengundangnya. Saat itu adalah jawaban untukku. Selama Robbie belum memutuskan tentang apa pun aku akan menunggunya, Kai."


"Teguh sekali hatimu setelah di tolak." ujar Kai lagi.


Aku mencubit lengannya, "Aku tidak di tolak, hubungan kami baik-baik saja, Kai." sahutku.


"Bukan tidak tapi belum. Firasatku dan V mengatakan seperti itu, Dream. Maaf, tapi kalian gagal bertahan." ucap Kai.


"Aku akan memperjuangkannya, Kai." ujarku.


"Jangan lakukan itu, Dream. Dia tidak akan memperjuangkanmu." ucap Kai muram.


2 days before inauguration day


Malam ini Robbie berjanji akan menjemputku, kami akan berkencan setelah sekian lama tidak bertemu dengannya. Kai mengijinkanku dan memberikan waktu sebanyak dua jam, "Itu sudah lebih dari cukup, Kai. Kami bisa melakukan banyak hal dalam waktu dua jam." sahutku bahagia.

__ADS_1


"Kemungkinan besar kalian tidak akan pergi kemana pun selain ke ranjang. Itu yang akan kalian lakukan selama dua jam, komunikasi non verbal yang luar biasa efisien." ucap V dengan sinis.


"Walaupun seperti itu, aku belum bisa melakukan itu kepadanya. Selalu papa muncul saat kami sudah siap untuk bergelut." sahutku sedih.


Kai dan V menepuk pundakku, "Turut berduka cita untuk birdie Robbie yang belum pernah merasakan kehangatan cinta Dream." sahut mereka seakan-akan ada upacara kematian yang menyedihkan.


*Bletak!!


Bukk*!


Aku melemparkan Lyn dan sebuah bantal kepada mereka, "Hentikan! Kalian tidak sopan mengingat itu terus!" tukasku.


Akhirnya dengan pengawalan super ketat, aku kembali melintasi waktu, dan menunggu Robbie di ujung lorong waktu. Tak lama mobil Robbie datang, dan dia membukakan pintu untukku.


"Hai, Luna, ah maksudku Dream. Senang melihatmu." sahut Robbie.


Aku memandangnya, "Hai, Rob. Aku juga senang melihatmu. Bagaimana kabarmu?" tanyaku kepadanya.


"Selalu tidak baik tanpamu, Lun..ah, Dream. Maafkan aku yang belum terbiasa memanggil nama aslimu." sahut Robbie lagi.


"Tidak apa. Mau kemana kita?" aku bertanya lagi.


"Mau ke rumahku?" tanya Robbie, aku mengangguk dan berpikir, benar dugaan V, kami akan berakhir di kamar...hihihi.


Sesampainya di rumah Robbie, aku menanyakan Jean dan Jeannette, "Sepertinya sudah tertidur, ini sudah larut sekali, Dream." jawab Robbie. Dan aku melihat jam dinding, dan memang benar ini sudah cukup larut.


Robbie mengajakku masuk ke kamarnya, dan memintaku untuk menunggunya, aku mengangguk dan menunggu di ruang kerja di dalam kamarnya. Tidak lama, Robbie sudah rapi dan tampak segar, dan aku bermaksud untuk memulai percakapan, "Rob, maukah kamu datang ke acara pelantikanku hari minggu nanti?" aku bertanya kepadanya.


Robbie tampak berpikir, "Baiklah, tunggu aku di lorong waktu yah, aku ingin memasuki lorong waktu berdua denganmu." jawabnya.


Dua jam yang kuhabiskan bersama Robbie kali ini benar-benar luar biasa, kami tidak bermain cinta-cintaan, hanya ciuman-ciuman kecil yang tidak menuntut. Aku sedikit heran juga, sepertinya dia menghindariku, tapi perasaan itu aku buang jauh-jauh dari pikiranku. Dan akhirnya alarmku berbunyi, pertanda aku harus kembali, Robbie mengantarku ke lorong waktu, dan disana para petugas satuan waktu, dan pengawal-pengawalku telah menungguku.


"Wow, ketat sekali sekarang." ucap Robbie kagum dan kaget.


"Aku calon perdana mentri, dan tidak boleh tergores sedikit pun." sahutku sambil tertawa.


Sebelum berpisah, Robbie mencium lembut bibirku, berbeda dengan ciuman yang tadi dia berikan, ini ciuman dari Robbie yang kukenal, aku membalas ciumannya, dan Robbie semakin dalam menciumku, sampai akhirnya mobil Robbie di ketuk oleh salah seorang petugas waktu, "Sampai bertemu kembali, Luna." sahutnya.


Itu aneh...daritadi dia berusaha memanggilku dengan Dream, dan sekarang dia memanggilku Luna. Aku berusaha mendekati Robbie lagi tapi petugas waktu itu telah membawaku paksa untuk segera masuk ke dalam gerbang waktu.


...----------------...


Inauguration Day


Hari pelantikanku telah tiba, orangtuaku datang dan membantuku untuk bersiap-siap, termasuk tanya jawab tentang pidato yang akan aku bacakan.


"Anggaplah aku pers, Nona Dream, apa program jangka pendek anda selama menjabat menjadi perdana mentri?" nah, apa jawabanmu, nak?" tanya papa.


"Program jangka pendek saya adalah meniadakan dan menonaktifkan unit robot pers yang pertanyaannya melewati batas dan tidak sesuai dengan materi yang disampaikan" jawabku kepada papa. Orangtuaku bertepuk tangan sejenak sambil menatapku bangga.


Setelah selesai dengan segala persiapan yang ada, aku menunggu Robbie di lorong waktu, tempat kami berjanji untuk bertemu. Aku sudah memakai pakaian terbaik, aku sudah siap dengan senyuman terbaik dan termanis yang aku punya, orangtuaku pun sudah menunggu untuk bertemu dengannya juga, ini memang hari terbaikku.


5 menit...


10 menit....

__ADS_1


15 menit sudah aku menunggunya, tapi Robbie belum kunjung datang. Waktu yang tersisa tinggal lima menit. Aku mencoba menghubunginya sekarang, tapi tidak ada balasan. Kai dan V sudah menyusulku melintasi waktu, dan kini sudah berada bersamaku di ujung lorong waktu.


"Dream, waktumu. Dalam lima menit dia tidak datang, gerbang waktu akan tertutup." ucap Kai.


Jantungku berpacu, tidak mungkin dia lupa kan? Tidak mungkin dia mengingkari janji kami kan?


"Tunggu dulu, Kai. Bersabarlah, Robbie pasti datang. Paling tidak aku melihat mobilnya dulu saja. Konektor menyala, artinya dia tau aku memanggilnya." sahutku.


Kami menunggu dalam diam, aku sudah bolak-balik khawatie, Robbie tidak pernah membuatku menunggu terlalu lama seperti ini, dan alarm berbunyi....


"Dream, waktunya sudah habis." sahut Kai, kini dia merangkulku.


Aku tidak bergeming, tidak bersuara...


V menggandeng tanganku, "Ayo, Dream." sahutnya.


"Kai, bisa aku minta perpanjangan waktu?" aku bertanya kepadanya.


Kai menggeleng, "Kita sudah memberhentikan waktu selama 30 menit lebih, ini yang terlama sepanjang sejarah. Setelah pelantikanmu, kamu boleh menyelesaikan urusanmu dengan Robbie. Aku akan memberimu waktu 24 jam. Sekarang, kembalilah." seru Kai. Aku berjalan lunglai menuju gerbang waktu, semua senyumanku sirna, hilang dalam sekejap. Tak terasa, setetes airmataku turun, aku buru-buru mengusapnya, tapi tetesannya malah jatuh semakin banyak.


...----------------...


EPILOG


Kai POV


"Bagaimana dengan Robbie?" tanyaku.


"Entahlah, belum ada kabar darinya." jawab V.


"Melintaslah bersamaku, V. Kita temui dia." ucapku lagi.


"Percuma, kan? Terakhir kali bahkan aku memukulinya dan tidak ada perubahan darinya. Aku dan Dream berpikiran sama, kenapa tidak di putuskan saja? Akan lebih baik untuk mereka. Terakhir bertemu, Dream berkata hubungan mereka tidak ada yang salah, dan segalanya tampak seperti biasa, walaupun agak sedikit canggung karena lama tidak bertemu, begitulah." sahut V berpendapat.


"Sepertinya Dream akan hancur. Ayo, ikut aku!" sahtuku dan menarik baju V dengan setengah memaksa.


Kami pun melintasi waktu, dan sesampainya segera menghubungi Robbie. Karena hari sudah malam, Robbie menjemput kami, dan mengajak kami ke rumahnya.


"Bagaimana, Rob? Putuskan saja hubunganmu dengan Dream." sahutku tanpa basa basi, "Dia akan hancur, tapi dia akan bangkit dengan cepat, aku yakin itu. Dibandingkan dengan kamu menggantungnya seperti ini, dia malah akan hancur perlahan-lahan, dan akan lebih sulit untuk bangkit." aku menambahkan.


"Tidak ada yang menggantungnya, Kai. Kemarin saat aku bertemu dengannya, semua perasaanku untuknya membuncah kembali, aku ingin memutuskan hubungan kami saat itu, tapi melihat Luna di depanku, dan aku bisa menyentuhnya, aku tidak sanggup. Aku masih mencintainya, Kai." jawab Robbie.


"Tapi kamu menghilang, Rob. Kamu tidak menepati semua janjimu. Itu membuatnya sakit. Dream wanita yang kuat dan tangguh, baru kali ini aku melihatnya begitu rapuh." sahut V.


Aku mengangguk, "Saat gagal dengan V, dia tidak serapuh ini, Rob. Tapi saat denganmu, tatapannya kosong seperti zombie. Kamu tau kan?"


Robbie terdiam, "Apa yang harus kulakukan?" tanyanya.


"Kalau kamu tidak siap berkomitmen dengannya, buat dia membencimu. Jangan datang ke acara pelantikannya, lupakan dia, dan putuskanlah hubunganmu dengannya. Setelah itu, menghilanglah!" ujarku.


"I...itu terlalu kejam, Kai." sahut V.


Robbie seperti tertampar, dan aku menyerangnya lagi, "Bagaimana? Pilihan ada di tanganmu, Rob! Jadilah pria sejati." sahutku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2