Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Your Promise


__ADS_3

"Bagaimana kehidupan pernikahanmu, Bry?" tanyaku beberapa minggu setelah mereka menikah.


Bryanna tersenyum, "Mengasyikan, dan menyenangkan, hanya sifat Kai terlalu sempurna menurutku." jawab Bry.


Aku tertawa, "Selamat menikmati. Tapi dia hanya ingin membuat kita mendapatkan yang terbaik. Dan dia sudah mendapatkanmu yang bisa menahan emosi dan keinginan-keinginan liarnya." jawabku.


"Bagaimana dengan kamu dan V? Aku lihat kalian semakin dekat." tanya Bry.


"Dari dulu kan memang sudah dekat. Tapi saat ini aku sedang menata hatiku, Bry. Dan hanya belajar melihat V, kalau tetap tidak terlihat, ya sudahlah...hehehe." sahutku tersenyum.


Setelah V mengucapkan cintanya kepadaku, hatiku sedikit terketuk. Namun, bukannya tidak mau, tapi hatiku masih sangat sakit karena aku belum bisa melupakan Robbie dan perbuatannya sepenuhnya.


Saat aku menceritakan hal ini kepada Kai, dia hanya berseru, "Mana ada lagi bercinta di tayangkan secara live. Dan saat itu kamu hanya menangis? Malangnya nasibmu, Dream." begitulah ucapan Kai kepadaku. Aku memintanya untuk menyimpan rapat-rapat hal ini, agar orangtuaku jangan sampai mengetahuinya.


...----------------...


Hari ini, jadwalku yang dibacakan oleh V agak sedikit padat mulai dari pagi hingga sore hari nanti. Jadi aku meminta V untuk menyiapkan bekal makanan padat untuk aku makan saat aku kelaparan.


Terkadang pil-pil itu tidak berguna, padahal Kai sudah membuatnya dengan berbagai macam rasa di dalamnya, seperti rasa soto tangkar, rasa nasi padang, rasa sate kambing Madura, tetap saja berbeda dengan makanan aslinya.


"V, malam ini ayo kita melintasi waktu untuk makan malam." seruku kepada V. Saat ini kami akan terbang ke kota sebelah untuk menandatangani perjanjian pembuangan limbah baru.


"Kamu mau makan apa?" tanya V.


Aku mencondongkan tubuhku dan berbisik kepadanya, namun penyakit isengku mulai kambuh, "Kaa...muuu..." dan mende*sah di telingnya.


V yang sangat sensitif di bagian itu, mulai bereaksi, "Apa yang kamu lakukan?!" sahutnya, dan melompat terkejut sehingga menyebabkan mobil terbang kami sedikit bergoyang tidak stabil. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, dan tidak berani menatapku.


Aku tertawa, aku suka ekspresi salah tingkahnya, "Hahahaha...kamu lucu, V." sahutku.


"Aku akan membalasnya, Dream. Tunggu saja." serunya kepadaku.


Saat itu, pengawal kami yang beterbangan di udara, mendeteksi keamanan kami, karena dia di design untuk mendeteksi gerakan tiba-tiba.


"Baik, kami akan tenang." seru V, dan aku tertawa saat pengawal-pengawal itu mengeluarkan alarm dan sensor menembak, dan hanya dengan hitungan detik, suara Kai memenuhi mobil terbang kami,


"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI ATAS SANA??!! AKU SUDAH SIAP MENARGETKAN BEGITU MENDENGAR SENSOR BAHAYA!! LAPORKAN KEPADAKU NANTI!!" seru Kai lantang.


"Ma...maafkan kami, Kai, kami tidak sengaja." sahutku.


"JANGAN KATAKAN KALIAN BERCINTA DI ATAS SANA! HAH! TIDAK AKAN BISA!!" seru Kai lagi.


"Tidak Kai...hanya nyaris, tapi itu karena kesalahan perdana mentri kita, sir." sahut V, "beliau menggunakan kekuasaannya untuk menggoyahkan pertahananku, sir." jawab Kai seakan-akan melaporkan sesuatu yang salah.


"Dream... berhati-hatilah. Aku akan tetap mengawasi." sahut Kai dan mengakhirinya omelannya. Aku dan V bertatapan dan tertawa.


Penandatanganan ini hanya membutuhkan waktu yang sebentar, selebihnya liputan pers, foto-foto, dan wawancara. Biasanya, pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan aktifitas kami hari itu, akan dijawab oleh V.


Seselesainya dari sana, kami bersiap-siap terbang lagi ke kota yang agak jauh untuk rapat tentang pembangunan penginapan di sekitar area bisnis Eden Park.


"Uugghhhh...lelahnya. Setelah ini apa, V?" tanyaku sambil meregangkan badanku.


"Kosong, kamu bisa istirahat, kita akan pulang, Dream." jawabnya.


"Aku benci pertanyaan pers!" sahutku kesal, "tidak adakah pertanyaan yang lebih baik selain membahas pernikahan atau jodohku?!" tukasku, "Dan terima kasih untuk mewakilkan aku saat menjawabnya." ucapku lagi berterimakasih kepada V.

__ADS_1


"Sesuai janjiku, aku akan selalu menjagamu, Dream." jawab V.


Aku terdiam dan mengalihkan pandanganku dari V. Matahari mulai terbit sepenuhnya, V memberikanku sebuah permen manis untuk menghilangkan rasa laparku sementara.


Begitu memasuki kawasan rumahku, V mendaratkan mobil kami dengan mulus.


Kami bergegas turun, dan Kai berlari mendekati kami, aku dan V berpandangan, tidak mungkin Kai berlari hanya karena masalah tadi.


"Cepat masuklah!" seru Kai. Sejumlah robot pengawal, membuat barisan dan memblokir jalan masuk gerbang rumahku. Mereka di posisikan untuk posisi siaga.


Kai setengah menyeretku, V yang kebingungan turut serta menjagaku, "Kai ada apa ini?"


"Penyelundup waktu! Cepat masuklah!" seru Kai.


"Orangtuaku? Bagaimana mereka?!" sahutku khawatir.


"Mereka aman, tenang saja." jawab Kai.


Namun, semua usaha kami sia-sia, dari atas sana, sebuah mobil terbang melaju dengan kecepatan tinggi, dan kemudian menabrakkan dirinya kepada robot-robot udara, mereka berjatuhan, dan si pengendara mobil, berhasil mendaratkan mobilnya melewati blokade pengawalan.


V berlari mendekat, dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa pengendara mobil tersebut, "Ro...Robbie!! Bagaimana kamu bisa kesini??!!" tanya V.


Begitu mendengar nama Robbie di sebut oleh V, aku segera melepaskan peganganku dari Kai, dan berjalan menghampiri V.


"Aku mencari Dream! Liontin yang kamu hancurkan, aku menyimpan pecahannya, aku menunggu di lorong waktu dan mencoba membuka gerbangnya, dan hari ini, aku berhasil melakukan itu!" jawab Robbie menerangkan, "DREAM, aku datang untukmu, Dream!!" serunya lantang, "Lihat, bahkan aku bisa menyebut namamu, dan bukan Luna lagi! Ikutlah denganku, Dream!" sahut Robbie.


Aku yang sudah berada di belakang V, menatap Robbie, apa yang dia inginkan, bagaimana dia melewati pengawasan ini?


Sepertiga menit, aku hanya terdiam dan menyimak apa yang diucapkan Robbie, namun Robbie yang begitu melihatku, menarik tanganku, dan berlari menuju mobil yang tadi di kendarainya.


Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkraman Robbie, namun tenaganya terlalu kuat, dan membuat tanganku sakit, "Lepaskan!! Apa yang kamu inginkan! Lepas, Rob! Lepaskan!!" sahutku berusaha memberontak.


Aku mendengar Kai memerintahkan untuk menembak, dan robot-robot pengawal itu mulai memberikan tembakan melumpuhkan.


Psiyyuuu....


Satu tembakan telah di luncukan, Robbie dan merunduk sehingga tembakan itu lolos.


Psiyuuuu...


Tembakan kedua mulai di lontarkan, kembali Robbie dan aku menundukkan kepala, dan tembakan itu gagal memgenainya.


V berteriak kepada Kai, "Dia membawa Dream, hentikan tembakan, Kai!!" serunya.


Kemudian tembakan ketiga...


Psiyuuuu...


Aku menoleh kebelakang, V berhasil melewati robot pengawal di depannya, dan menghadang pelurunya untukku, peluru itu tepat mengenai dadanya, V terjatuh, dan tergeletak tak berdaya, dengan sisa kekuatan yang dia punya, dia masih berteriak, "HENTIKAN, KAI!! DREAM BERSAMANYA!!!" serunya kemudian dia terjatuh lemas.


"V!!!" teriakku.


Kai memerintahkan untuk menghentikan tembakan, dan berlari keluar menghampiri V.


Aku melepaskan tanganku dari Robbie, berbalik dan berlari menghampiri V juga.

__ADS_1


Aku mendekatinya, dan menopang kepalanya, "V, bodoh! Untuk apa kamu menghadang tembakan? Kamu bukan kucing V, nyawamu hanya satu." tangisku mulai pecah.


"Aku sudah memanggil ambulance, dan tetaplah sadar V, bantuan akan segera datang. Aku akan mengurus Robbie! Ajaklah dia bicara terus, Dream. Bertahanlah." sahut Kai, kemudian dia berlari ke arah Robbie yang sudah di bekuk oleh para polisi satuan waktu.


"Dream...Aku sudah menepati janjiku, untuk selalu menjagamu, aku...uhuk...uhuk...memang bukan ku..kucing, Dream. Nyawaku ha...uhuk..hanya satu, dan aku sudah buktikan kepadamu, bahwa...a..ku...uhuk..mencintaimu." ucapnya dengan susah payah.


Aku memeluknya, airmataku menetes ke tubuh V juga, "Kuatlah V, kuatlah sekali lagi untukku. Bertahanlah..." tangisku, meminta itu untuk tidak memejamkan matanya.


"A...aku..akan...hi...hidup...a...aku be...uhuk...uhuk...belum men...mendapatkan cintamu, Dream." tangan V mengusap airmataku, dan kemudian V tidak sadarkan diri.


Aku menangis dan memeluknya, "Jangan mati, V...!! Bangunlah!!" tangisku.


Saat itu ambulance datang, mengeluarkan peralatan pertolongan pertamanya, dan robot perawat menscan tubuh V untuk melihat dimana pelurunya bersarang. Kemudian, V dinaikkan ke dalam ambulance....


...----------------...


**EPILOG


V POV**


Malam itu, aku menemui Robbie hanya untuk mengambil pecahan konektor Lyn. Dan Robbie berjanji akan menemuiku di ujung lorong waktu.


"Berikan kepadaku, pecahan konektor itu!" pintaku kepadanya.


"Kamu gila, V! Ini sudah tidak berfungsi!" sahutnya.


"Masih, Lyn masih berpendar saat kamu menekannya. Berikan kepadaku!" sahutku, dan meminta pecahan konektornya.


Robbie, dengan kesal, menyerahkan pecahan tersebut. Aku mengambilnya, dan berbalik untuk pergi.


"Hei, bagaimana kalau aku tiba-tiba datang ke tahun waktumu, dan menemui Dream?" tanya Robbie.


"Apa maksudmu?!" tanyaku kepadanya.


"Aku akan menemuinya, dan meminta maaf kepadanya." sahut Robbie, "aku berharap dia memaafkan kesalahanku, V. Aku ingin mengajaknya menikah denganku." ucapnya lagi.


Emosiku perlahan-lahan membuncah keluar, "Apa kamu gila, Rob??!! Lupakan dia!! Biarkan dia bahagia tanpamu!" tukasku.


"Dan bahagia bersamamu? Itu yang kamu harapkan? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, V. Dia hanya boleh menikah denganku!" sahut Robbie menggila.


Aku yakin dia sedang mabuk, aku mendekatinya, dan tercium bau alkohol dari mulutnya.


"Sadarlah, Rob! Biarkan dia hidup tenang." sahutku, "Pulanglah dan hiduplah dengan baik." ucapku kepadanya.


Ketika aku berbalik, Robbie berusaha meninjuku, aku berhasil menghindarinya, "Sadarlah dulu, Rob, baru kamu pukul aku!!" bentakku kepadanya.


"Aku akan menikah dengan Lunaku. Aku akan melakukan itu dengannya, dan akan hidup bahagia selamanya, dan kamu! Pergilah dari hidupnya dan jangan menghasut pikirannya!" ucap Robbie lagi, masih berusaha melayangkan tinjunya ke arahku.


Aku mencengkram kerah kemejanya, dan...


Bugghhh....!!


Tinjuku mendarat di pipinya...


"Menjauhlah darinya, Rob!!" seruku.

__ADS_1


Aku tidak menyadari bahwa Rob masih menyimpan pecahan kecil konektor Lyn, dan saat itu ada di genggamannya.


...----------------...


__ADS_2