
Kesedihanku hanya berlangsung seminggu, drama cinta yang menyedihkan yang harus aku rasakan di usia mudaku ini, dimana harusnya aku sedang merasakan manisnya cinta tapi malah kepahitan yang aku dapatkan...
Aku berusaha bangkit perlahan, walaupun setengah dari hidupku terbawa oleh Robbie, aku akan menemukan hidupku yang baru. Aku akan fokus ke pekerjaanku, aku akan lebih sering bermain, dan bersenang-senang.
Seperti hari ini, V sudah datang ke ruang kerjaku dan membuat jadwal hari ini.
"Pukul 10 mulai rapat ya Dream, rapat pengadaan unit robot untuk menjaga area hijau." sahut V, "Kemudian jam 12, aku akan mengajakmu makan siang, bukan dari pil." sahut V lagi.
Aku bersorak senang, "Benarkah? Kita akan melintasi waktu kalau begitu." sahutku.
V mengangguk, "Tentu saja, kita akan pilih waktu acak. 60 menit, cukuplah untuk kita makan di tahun waktu itu." seru V.
"Eh, tapi, kalau kita mendarat di jaman Palaeolitikum, iti akan lebih dari 60 menit, V." ujarku, membayangkan kalau kami mendarat di jaman batu, "Kita harus mengasah kapak, membuat api, mengumpulkan dedaunan atau biji-bijian, beruntung kalau kita menemukan umbi, kalau tidak bagaimana?" sahutku lagi, "Jangan acak. Harus kita tentukan."
V tertawa, "Baiklah, aku yang akan menentukan, dan akan aku jadikan kejutan untukmu." ucap V tersenyum, "Dari sesudah jam makan, kamu kosong sampai pukul 4 sore, setelah itu kamu akan hadir di acara peluncuran robot manusia terbaru." sambung V lagi.
Aku mengangguk, "Baiklah, aku akan olahraga dulu pagi ini, apa kamu mau menemaniku?" aku bertanya kepada V.
"Olahraga disini? Oh aku mau sekali." sahut V, yang tiba-tiba berjalan ke arahku, dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, "Kamu mau apa, Voltaire?" aku bertanya kepadanya.
"Olahraga." tukas V, dan tersenyum lebar, "Baiklah, ayo kita keluar.. !!" sahutnya lagi dengan ceria.
V berusaha menggantikan hari-hariku yang kosong, yang biasanya Robbie mengisinya, sekarang V yang perlahan-lahan mengisinya untukku.
Begitu pula dengan Bry dan Kai. Mereka selalu ada untuk menemaniku, intinya aku tidak boleh sendiri. Orangtuaku pun tidak mau kalah dengan mereka. Begitu mendengarnya dari Kai saat acara pelantikan itu, papa menganggap hubunganku kembali gagal, dan tidak mendesakku untuk segera mencari pasangan. Dari cara mereka memelukku, menghiburku, itu sudah menandakan bahwa aku tidak perlu bersedih atau khawatir.
Tentang Robbie yang bercinta dengan teman wanitanya, hanya aku dan V yang tau. V sangat marah kepada Robbie, dan V sempat mengasihani Robbie karena ketidakberdayaannya saat itu.
"Bagaimana perasaanmu, Dream?" tanya V saat itu, setelah dia mengetahui kejadian itu dari Robbie langsung.
"Entahlah V. Aku tidak tau. Kosong saja, tidak ada isinya " jawabku lemas. Karena terlalu sakit, hatiku jadi mati rasa, dan bahkan karena terlalu sedih, airmataku tidak mau mengalir. Aku tidak bisa menggambarkan rasanya seperti apa kepada V.
"Lupakan dia Dream. Raihlah apa yang menjadi kebahagiaanmu." ucap V.
"Soal melupakan itu hanya waktu yang akan menjawabnya V, dan andaikan Robbie ikut dan tinggal disini, apa dia akan merasa tersiksa seperti kamu saat itu?" tanyaku kepada V.
__ADS_1
V mengedikkan bahunya, "Aku tidak tau. Saat itu aku belum beradaptasi, tapi karena aku sering melintasi waktu, kekebalan tubuhku jadi beradaptasi dengan kondisi di suatu tempat." jawab V.
Ya, mungkin pada awalnya Robbie akan tersiksa, tapi tidak, karena dia bersamaku, dan J's, kan? Itulah yang sering ada di pikiranku saat ini, dan aku masih mencari tau alasan mengapa dia tidak mau menginjakkan kakinya sekalipun disini. Apa benar karena dia belum siap berkomitmen? Entahlah...
...----------------...
"Dreamy..."
"Dreammyy...!!"
"Dream... Main yuk." ajak Bryanna.
Aku bergegas berlari keluar dan menemuinya, "Mau apa kita hari ini?" aku bertanya kepadanya.
"Ke Eden Park mau?" tanya Bry, "Kita refreshing, santai sejenak disana." sahutnya lagi.
Eden Park taman gantung menembus langit, tapi tidak lebih tinggi dari lintasan terbang pesawat. Dan kami hanya akan berada di dasarnya saja. Karena cuaca di atas dingin sekali.
"Dream, aku punya berita untukmu, tapi aku di larang menceritakannya oleh Kai." sahut Bry.
"Oh aku ingat sesuatu, Bry. Tentang kamu dan Kai, apa kalian mempunyai hubungan spesial?" tanyaku, dan Bry ber kyaaa dengan sangat menggemaskan.
"Aku turut bahagia untukmu, Bry." sahutku, dan mengenggam tangannya, "jadi benar ada sesuatu yabg spesial di antara kalian berdua?" pancingku lagi.
Bryanna mengangguk, "Oh, tunggu saja, Dream, ini akan menjadi berita yang menggemparkan seluruh negri." ucap Bry.
Aku tertawa, "Oh yah? Kalau bisa kalahkan rekor berita aku melakukan pembatalan pernikahanku, dan berita yang saat ini sedang naik, Dreamy Eve, Perdana Mentri baru, yang kehidupan cintanya tidak secemerlang karirnya." sahutku menirukan salah satu tajuk berita.
"Dan aku bingung, bagaimana mereka bisa mendapatkan berita tentangku? Hal ini sudah kututup serapat mungkin." ucapku lagi.
"Kai sudah menguninstall semua robot pers yang berada di lorong waktu, maupun yang membuat berita murahan seperti itu." jawab Bry, "tapi tetap saja masih ada yang lolos." jelas Bryanna lagi.
"Iya, mereka cukup cerdik, para pers itu." sahutku geram, "sudahlah, terserahlah mereka mau menaikkan berita tentangku bagaimana dan sedang apa. Selama tidak mengusik keluargaku, aku akan tenang-tenang saja." jawabku, dan kuberikan Bry cengiran lebar.
Setelah mengobrol dengan Bry kami kembali, dan Bry masih memintaku untuk menemaninya ke beberapa taman hijau.
__ADS_1
"Apakah kamu akan menikah, Bry? Bryanna, jawablah pertanyaanku dengan jujur." sahutku menggodanya.
Bry berkilah dan tersipu, "Tidak Dreammyku sayang ..aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu hari ini." sahutnya.
Aku tertawa, "Kamu tidak bisa membohongiku, Bry." ucapku kepadanya.
"Berkatmu, kita jadi mempunyai 3 taman tambahan selain Eden Park. Ada Paradise Park, River Park, dan satu lagi Cloudy Park. Dan mulai banyak juga wisatawan datang, dan itu meningkatkan pendapatan kita, Dream." sahut Bry.
Aku tersenyum, "Syukurlah Bry. Aku terinspirasi dari masa lampau yang aku lewati, sebelum adanya ledakan penduduk, rata-rata hampir di semua kota memiliki ruang hijau yang cukup banyak dan luas. Kemudian manusia mengenal yang namanya globalisasi, dan mulailah masuk pertukaran barang import ke berbagai wilayah, belum lagi perkembangan manusia yang semakin ingin di fasilitasi dengan mudah, permintaan lahan kerja meningkat, jadilah gedung-gedung menguasai hampir sebagian wilayah, dan ruang hijau semakin berkurang." aku menjelaskan kepada Bry.
Bry mengangguk, "Kamu benar sekali, Dream. Jadi impianmu, masih akan menambahkan ruangan hijau disini?" tanya Bry.
"Impianku banyak Bry, itu sebabnya aku selalu melihat bintang di langit, aku berusaha menghitung banyaknya bintang yang kulihat, tapi selalu gagal, dan seperti itulah mimpiku, banyak dan tak terhitung, tapi mereka hilang timbul karena berkelap-kelip." sahutku. Dan menggandeng tangan Bry, untuk pergi ke tujuan kami berikutnya.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Kai, bantu aku." aku merengek kepada Kai.
"Bantuan seperti apa yang kamu butuhkan?" tanya Kai.
"Aku ingin mengungkapkan cintaku sekali lagi kepada Dream." jawabku.
"Ada istilah populer namanya istirahat, dan biarkan Dream memakai istilah itu dulu V sampai dia benar -benar siap." ucap Kai.
"Aku tau itu, Kai." balasku.
"Ya sudah, berikan dia waktu. Temani dia selalu, tetaplah di sampingnya, jaga hatimu, dan raih hatinya dengan lembut, dan perlahan tapi tepat sasaran." usul Kai.
Aku mengangguk, "Tapi kamu mengijinkanku untuk itu?" tanyaku lagi sekedar untuk memastikan restu Kai.
"Kamu salah orang. Tanyalah pada Mark!" sahutnya.
__ADS_1
Aku tersenyum, benar juga apa yang dikatakan Kai, aku harus ijin kepada orangtuanya kan? sahutku dalam hati.
"Baiklah, aku akan menunggunya, Kai."