
"Mami Quincy, kalau tidak salah namanya." sahut V mengingat-ingat, "mereka bilang, Quincy ini di usir oleh Robbie sepertinya, karena mereka menirukan Robbie saat mengusir Quincy ini." tambahnya lagi.
Aku memandang V, "Benarkah seperti itu? Mengerikan sekali." sahutku.
"Ya, sekarang aku tau, kenapa kamu ingin sekali mengadopsi mereka." ucap V.
Aku memandang Jean dan Jeannette, yang tertidur di atas tempat tidurku, tadi seselesainya kami dari meeting, mereka memintaku mengajaknya menginap disini, dan aku merasa tidak enak terhadap mereka, sekecil itu sudah mengalami hal yang tidak menyenangkan terkait orang tua mereka.
Malam itu, sepulangnya dari pertemuan dengan Robbie dan pengacaranya, aku segera mencari informasi mengenai ibu kandung Jean dan Jeannette.
Dan V berhasil mengetahui nama ibu kandung mereka. Tapi kan nama Quincy itu banyak, dan bisa ada di belahan dunia manapun.
Kai dan Bry meminta waktu untuk berdua, "Aku masih dalam misi, Dream. Maaf, malam ini tidak bisa membantu kalian." sahut Kai.
V memandang mereka heran, "Misi apa?"
"Membuat seorang anak. Ingat, Dream, kamu menantang kami, dan kami terima tantanganmu, anak kami sedang on progress." sahut Kai lagi, dan menunjukkan perut Bry yang tertulis on progress.
Aku dan V tertawa, "Baiklah, semoga lancar. Kami tunggu kabar baik kalian, Kai." jawabku, menggoda mereka. Bry mencubit lenganku, dan aku memeluknya.
"Aku sudah memberitahunya untuk melakukannya setiap pagi, apa dia mendengarkan usulku?" tanya V kepada Bryanna.
"Setiap pagi dan setiap malam, V." jawab Bry tersenyum bangga.
"Nikmatilah dan tidak perlu memasang target." seru V. Bry tersenyum dan berpamitan kepada kami.
...----------------...
"Quincy....Quincy... Quincy...rumit sekali mencari nama Quincy." seru Kai mengacak-acak rambutnya, "dimana Voltaire, kepalaku mau pecah." sahutnya lagi.
"Dia sedang bermain bersama Jean dan Jeannette." sahutku singkat.
"Enak sekali. Aku akan menyusul mereka." sahut Kai, "biarkan otakku beristirahat sejenak, Dream..kumohon." katanya memelas.
Aku mengangguk, dan mengambil alih pekerjaan Kai, yang mana dia sedang mengerjakan pekerjaanku untuk mencari Quincy.
Aku mencari di data Robbie, dan bingo, aku menemukannya, Quincy Ray. Kai benar-benar lelah sekali, dokumen ini sudah di bacanya tapi dia tidak melihatnya.
Quincy Ray
Wiesbaden, Mainz. Germany
Aku mencatat alamat Quincy, dan menghubungi Bry. Tak lama Bry datang, "Ada apa Dream?" tanya Bry.
"Kamu tau kota ini?" aku bertanya kepada Bry.
"Ya ,itu kota kecil di Jerman. 40 menit dari Frankfurt." sahutnya, "siapa Quincy Ray itu?" tanya Bry.
__ADS_1
"Ibu kandung Jean dan Jeannette." jawabku.
Bry membalas jawabanku, dengan o tanpa bersuara, "dan dia tinggal di Mainz ini?" tanya Bry.
Aku mengangguk. Bry menjelaskan kepadaku, "Disana itu tidak bisa menerima bahasa selain bahasa Jerman." katanya.
"Aku akan mensetting lorong waktu nanti." seruku.
Tapi Bry menggelengkan kepalanya, "Aku tau jalan kesana. Tidak perlu lorong waktu, kita akan naik pesawat!" seru Bry, dia menekan tanganku membayangkan keseruan kami berempat menaiki pesawat.
"Ayolah Dream. Kita naik pesawat saja." pinta Bry, "itu akan menyenangkan."
"Tidak, itu akan membuang waktu. Sesampainya kita kan tidak akan langsung bertemu Quincy. Pasti mencari sambil jalan-jalan, ya kan?" Jadi, lorong waktu saja." jawabku.
Akhirnya, setelah di putuskan pemungutan suara sebanyak dua kali, kami memutuskan untuk pergi menggunakan pesawat.
"Dia hanya akan terbang kan? Maksudku, aku tidak suka saat mereka mengalami turbulent..ah, ayolah." seruku, jujur saja aku tidak nyaman dengan turbulent.
Kami bersiap-siap, dan mengantarkan Jean dan Jeannette terlebih dahulu.
"Kalian tidak bisa ikut dulu, tapi aku berjanji minggu depan kita akan bersenang-senang lagi. Hari ini pulanglah dahulu ke papa Robbie, oke?" sahutku, dan kemudian kami memasuki lorong waktu ke tahun 2022.
Setelah itu, kami mengantar Jean dan Jeannette ke rumah mereka, dan Robbie sudah berdiri disitu, entah apa yang di lakukannya.
"Terimakasih sudah menjaga dan mengantar mereka dengan baik." ucap Robbie, merangkul kedua putrinya itu.
"Minggu depan, menginaplah disini. Aku ingin berjalan-jalan bersama kalian." ucapnya.
"Kalau begitu, aku tidak perlu menginap, kan. Hanya aku akan datang kesini selama dua hari berturut-turut." jawabku, "Baiklah, aku pergi." sahutku berpamitan. Aku melambaikan tangan kepada Jean dan Jeannette.
Kemudian, kami bergegas menuju bandara udara. Sesampainya, Bry dan V yang membelikan kami tiket. Karena tidak tau ini akan memakan waktu berapa lama, maka mereka tidak memesan tiket pulang.
"Tenang, Dream. Sudah ada direct flight, jadi kita tidak perlu transit, ini akan cepat. 17jam 5 menit." sahut V merangkulku.
Penerbangan kami cukup cepat, pesawat datang tepat pada waktunya, dan selama 17 jam itu, aku menghabiskan waktu dengan tidur. Dan ini yang membuat mereka mengejekku, "Kamu benar-benar seperti seekor kucing, Dream. Meringkuk dan tertidur seperti itu." begitulah kata mereka.
Aku suka melihat awan saat mulai terbang, dan saat mau mendarat. Segala bangunan tampak mengecil dan menghilang tidak terlihat, dan begitu mendarat, perlahan-lahan mereka muncul kembali.
Saat ini kami sudah mendarat di Frankfurt Airport, dan kami segera membuka data dari Quincy untuk menemukan dimana tempat tinggalnya.
"Rumit sekali hidup manusia purba. Aku pikir begitu sampai, kita bisa langsung ke tempatnya, ternyata harus berkendara lagi. Kenapa tadi tidak pakai lorong waktu?" protesku kepada mereka. Dan aku melihat ke arah Kai, yang wajahnya sama tersiksanya denganku.
"Kereta api lebih cepat. Ayo, kita beli tiketnya dahulu." seru Bry bersemangat.
Dia yang paling bersemangat begitu kami berhasil menemukan dimana Quincy Ray tinggal. Bahkan dia juga yang mengusulkan untuk naik ini, naik itu, bawa ini, bawa itu. Aku lelah. Kai menggandeng tanganku, "Bertahanlah, ini pelajaran untuk kita juga, bagaimana manusia jaman dahulu itu berpindah tempat." seru Kai.
V yang mendengarnya, menjitak kepala Kai, "Ini namanya berlibur, bukan berpindah tempat. Daritadi kalian mengeluhkan betapa ribet dan lamanya manusia purba. Kami bukan hidup di jaman batu, segala sesuatu disini sudah cukup canggih dan serba cepat. Ya memang berbeda dengan di jaman kalian." seru V.
__ADS_1
"Apa tidak ada mobil?" tanya Kai.
Aku mengangguk, "Aku tidak pernah naik kereta api. Bagaimana dengan mobil?" sahutku, mendukung usul Kai.
Bry yang melihat wajah lesu suaminya, akhirnya mengalah, dan kami menyewa mobil di tempat terdekat, "Susah memang mengajak manusia instan untuk berlibur." tukas Bry saat kami sudah di dalam mobil.
"Maafkan aku honey." jawab Kai, menggenggam tangan Bry.
Kami menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Frankfurt, dan memasuki tol no.66. Aku kembali tertidur, dan begitu keluar tol, mereka membangunkanku, "Apakah sudah sampai?" tanyaku.
"Belum, tapi lihatlah, kalau kamu tertidur terus, kamu tidak akan bisa menikmati kota ini, Dream." seru V. Kemudian, V membuka kaca jendela di bagianku, dan aku melihat kota Mainz yang di penuhi gedung-gedung tua dengan atap berwarna kemerahan.
V menjalankan mobilnya perlahan, supaya kami bisa menikmati pemandangan yang indah di kota Mainz.
"Dimana tinggalnya si Quincy ini?" tanya V lagi.
"Wiesbaden, Mainz. Begitulah yang tertulis di data." jawabku. V mencari Wiesbaden di dalam peta online, dan dari kota Mainz, kami di arahkan ke barat daya menuju Weisbadden.
Hanya memakan waktu kurang lebih 20 menit, akhirnya kami sampai di Wiesbaden. V mengajak kami turun untuk mencari alamat pastinya.
Dan akhirnya kami menemukan Quincy Ray di sebuah apartemen di Dreiherreinstein 1a, Wiesbaden. Kami segera mengetuk pintunya, dan keluarlah seorang wanita cantik, bermata bulat, dan rambut ikal seperti Jean dan Jeannette.
"hallo, kann ich dir irgendwie helfen?" sahutnya dalam bahasa Jerman. Hallo, ada yang bisa saya bantu?
Bry yang menjawabnya untuk kami, "Sind Sie Quincy Ray? Die Frau von Robbie Stans? Und die Mutter von Jean und Jeannette?" apakah benar anda Quincy Ray? Istri Robbie Stans? Dan ibu dari Jean dan Jeannette?
Wanita itu menatap Bry, dan kami bergantian, "Ja, bitte komm rein." katanya.
Kami menatap Bry, "Masuk dulu katanya." jawab Bry, dan dia menjawab wanita itu lagi, "Danke." Terimakasih.
...----------------...
**EPILOG
Bry POV**
"Honey, ajaklah Dream supaya mau naik pesawat ke Jerman?" bujukku kepada Kai suamiku, sebelum kami pergi menemui Quincy Ray.
"Dia pasti akan tidak nyaman bepergian selama itu, honey. Sama seperti aku. Itu aneh sekali." jawab Kai.
"Ayolah, ini akan menyenangkan, sudah lama juga aku tidak berlibur dan naik pesawat." pintaku, membujuk Kai.
Kai tampak berpikir, "Baiklah, aku akan mendukungmu untuk naik pesawat. Bagaimana dengan V?" tanya Kai.
"Dia kan dari tahun waktu yang sama denganku, pasti dia punya kerinduan yang sama juga. Aku yakin, dia akan memilih naik pesawat juga. Percayalah." ucapku, Kai mengangguk. Aku mencium bibir suamiku dengan lembut, "Terimakasih honey." ucapku lagi.
...----------------...
__ADS_1