
"Dream, ayo berangkat." sahut V. Aku mengambil setangkup french toast yang V buatkan untukku.
"Okei, tunggulah sebentar." sahutku, "dimana Kai?" aku celingukan mencari Kai.
"Ada yang harus dia urus pagi ini." jawab V. Aku segera memindahkan posisi dudukku ke sebelah V.
"Kamu mau bekerja hari ini atau aku antar ke kampus?" tanya V.
"Hari ini aku tidak ada jadwal kuliah, dan kemarin sudah hari off ku bekerja kan, jadi hari ini aku harus bekerja. Aku sudah mengatur jadwalku dengan baik, tenang saja." jawabku bangga.
V memandang ke arahku, tersenyum, "aku tau, kamu sudah cukup baik saat ini, karena itu aku semakin mencintaimu." sahut V.
Degggg....deg....deg...
Jantungku yang telah lama mati suri, sekarang hidup kembali. Sudah lama aku tidak berdua saja dengan V, terakhir di rumah mbah Emily, aku pikir rasa itu sudah hilang, ternyata masih ada.
V tertawa melihat reaksiku, "Hei, ada apa denganmu?" tanya V.
"Ti...tidak ada apa-apa." aku menjawabnya dengan memalingkan wajahku ke arah jendela. V mengacak-acak rambutku.
"Ada yang belum sempat aku sampaikan kepadamu, Dream." ucap V.
Aku menelan kegugupanku, "Apa itu?" aku bertanya.
"Make overmu tidak pernah gagal, dan kamu amat sangat cantik seperti ini." jawabnya.
V memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Robbie Stans.
Aku tertunduk saat dia mengungkapkan kejujurannya, "menurut anak-anak itu aku seperti kucing." sahutku.
V tertawa, "Kucing yang cantik." jawab V.
Aku segera bergegas keluar, dan aku melihat Robbie sudah menungguku di depan pagar rumahnya yang tinggi.
"Ah, aku harus segera keluar." sahutku.
Moodku seketika berubah melihat wajahnya.
"Tidak harus kan?" V memandang ke arah Robbie, kemudian mendekatkan wajahnya kepadaku, dan dia mencium bibirku, What??!!
"Aku akan menjemputmu nanti." sahut V melepaskan ciumannya, dan menatapku dengan senyumnya yang luar biasa menawan pagi ini.
...----------------...
"Hai!" sapaku kepada Robbie Stans. Dia berdeham dan memintaku untuk masuk.
"Aku tunggu di ruanganku." sahutnya galak.
Cih...kalau tidak karena anak-anaknya, aku tidak akan bertahan disini. Kenapa sih aku harus sebaik ini? Tuhan menciptakanku terlalu sempurna.. terimakasih Tuhan 😇, sahutku dalam hati, tapi tetap saja jadi merepotkan dirimu sendiri.
Aku mengikuti Robbie dari belakang, tak seperti biasanya, rumah ini tampak sepi.
__ADS_1
"Ini buatmu, ambilah!" sahut Robbie dan kembali melemparkan sebuah kotak, "bukalah sekarang!" perintahnya lagi.
Aku membukanya, dan betapa terkejutnya aku, sebuah ponsel.
"Apa ini?" aku bertanya kepadanya. Robbie menatapku heran.
"Itu namanya ponsel." jawabnya singkat. Astaga, manusia satu ini, andai dia tau aku dari masa depan, dia tidak akan meremehkanku seperti ini!
"Aku tau, maksudku untuk apa?" tanyaku lagi.
"Untuk mengirimkan pesan, untuk menghubungi seseorang, terutama aku. Astaga, Luna!! Apa kamu seorang Pyhtecantrophus? Sampai kamu tidak mempunyai ponsel bahkan tidak tau fungsinya?" ucapnya dengan sombong, dan nada putus asa.
"Aku tau itu semua, Rob! Maksudku, untuk apa kamu memberikanku benda ini?" tanyaku.
"Untuk menghubungimu sudah pasti. Aku tidak mau kejadian seperti kemarin lusa terulang kembali!" jawabnya tegas.
"Itu mudah, dan tidak memerlukan ini! Berikan sedikit perhatian dan waktumu untuk Jean dan Jeannete!" sahutku tak kalah tegasnya.
Robbie berdiri, dan berjalan mendekatiku, dia menyudutkanku hingga aku tersudut di belakang pintu ruangan kerjanya.
"Tidak perlu ikut campur urusanku dalam mendidik mereka! Kalau kamu mau mendidik anak, buatlah sendiri dengan pacarmu yang tampan itu!" sahutnya berbisik menahan kesal.
Tangan kanannya terkepal di atas kepalaku.
"Ba...baik, aku akan pulang, dan membuatnya!" jawabku, aku mendorongnya, tapi Robbie tidak bergerak.
Aku melemparkan kotak ponsel ke wajahnya, bletakk!! point 100 untukku, karena itu tepat mengenai wajahnya.
Dan sekarang dia memegangi hidungnya, "BERANI-BERANINYA KAMU MELEMPARKAN SESUATU KEPADAKU!! TIDAK PERNAH ADA YANG SEPERTI KAMU!! PERGI KAMU DARI HADAPANKU!!" teriaknya murka.
Aku keluar dan membanting pintu ruangan kerjanya.
Aku segera berlari mencari Nancy di rumah besar itu, dan benar dugaanku, Nancy berada di kamar anak-anak itu. Jean dan Jeannete memelukku ketika mereka melihatku masuk ke dalam kamar mereka.
"Apa yang terjadi, Luna?" bisik Nancy, "Suara pak Robbie terdengar sampai sini, aku terpaksa menyanyikan lagu dengan kencang untuk menutupi suara teriakan pak Robbie." bisiknya lagi menambahkan.
"Aku pikir, Rob harus segera berobat, dia sakit parah." aku menjawab Nancy dalam bisikan juga.
"Dia bercerai dengan istrinya, ibunya mereka. Dan sekarang, pak Rob mempunyai tunangan, sepertinya sedang ribut dengan tunangannya itu, dari tadi buka mata sudah marah-marah seperti itu." sahut Nancy menjelaskan.
Aku mengangguk mendengar informasi ini.
"Kawin kontrak. Pelebaran bisnis seperti itulah, bukan cinta." sahut Nancy lagi.
"Ya tapi ngga ada salahnya, berikan waktu sedikit untuk Jean dan Jeannete, ya sayang-sayangku?" jawabku, sambil bercanda dengan si kembar, mereka tertawa lucu,
"Luna, lakukan itu kepadaku juga." sahut Jeannette.
"Apa passwordnya, kamu lupa?" tanyaku.
"Luna, tolong lakukan itu kepadaku juga." ulang Jeannette, aku tersenyum dan mengangkat Jeannette dalam pangkuanku, dan memainkan rambutku di atas perutnya.
__ADS_1
"Kalian mau berjalan-jalan denganku hari ini?" tanyaku. Mereka mengangguk bersemangat. Aku meletakkan tasku di atas meja belajar mereka, dan bergegas keluar kamar dengan menggandeng mereka di kanan kiriku.
"Mau pergi kemana?" tanya Robbie saat melihat kami akan keluar.
"Luna mengajak kami bermain di taman, bolehkah?" jawab Jean sopan kepada Robbie.
Dan Robbie menyadari perubahan sikap anaknya ini, karena itu dia menatapku, dan berjongkok di depan Jean, "Bermainlah sebentar, guru kalian akan datang 10 menit lagi, segeralah bersiap setelah bermain." jawab Robbie.
"Baiklah, terima kasih papa." sahut mereka berdua bersamaan. Aku membisikkan sesuatu di telinga Jeannette.
Jeannette maju mendekati Robbie, dan memeluknya, "Terimakasih papa, selamat bersenang-senang untukmu juga." sahutnya, dan tak lama Jean mengikuti Jeannette, mereka bergantian memeluk Robbie.
Kami bermain di taman selama 10 menit lebih hingga guru mereka datang. Robbie memperhatikan kami bermain. Dan selagi anak-anak belajar bersama guru mereka, Robbie memintaku ke ruangannya.
"Ambillah!" katanya, dan kembali memberikan ponsel yang tadi kulemparkan ke wajahnya.
"Tinggallah disini." pintanya.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak bisa. Aku tidak bisa menerima ini semua." jawabku.
Robbie bersikeras dan memaksaku, "Ambillah itu, kalau kamu tidak mau tinggal, tidak apa-apa. Terima kasih sudah memberikan efek positif untuk anak-anakku."
"Baiklah, aku akan mengambil ini, tapi tidak untuk tinggal." jawabku, "terima kasih untuk ini."
Aku berpamitan untuk melanjutkan tugasku, namun Robbie memanggilku kembali.
"Apakah kamu punya waktu untuk mengobrol denganku besok? Aku akan mengosongkan waktuku untukmu besok, aku ingin mengenalmu lebih jauh." sahutnya.
Aku menggeleng, "Besok hari liburku. Bicara saja disini, aku akan kembali mengawasi Jean dan Jeannete, terima kasih sekali lagi untuk ini." sahutku.
EPILOG
V POV
"Besok aku akan mengurus id card Dream, antarlah dia kemana pun rencananya." sahut Kai.
"Aku mengajak dia jalan, tapi aku sendiri ada janji untuk besok. Jadi aku hanya akan mengantar dan menjemputnya." aku menjawab Kai.
"Baiklah, aku tidur duluan, V. Selamat malam." ucap Kai.
Besok paginya, aku mengantar Dream, sudah lama aku tidak mempunyai waktu berdua dengannya. Aku senang sekali sekaligus gugup.
"Kamu menjadi amat sangat cantik dengan penampilan barumu, Dream." sahutku jujur. Dia tersipu malu.
Manis sekali... Jantungku berdetak melihatnya seperti itu.
"Hei ada apa?" aku bertanya padanya, hanya sekedar untuk mengusir suasana aneh di antara kami.
"Ti...tidak ada apa-apa." sahutnya terbata-bata. Ingin rasanya aku membawanya pulang, dan menghabiskan waktu berdua dengannya. Aku mengacak-ngacak rambutnya.
Tak terasa perjalanan kami begitu cepat, aku memberhentikan mobilku di depan rumah Robbie. Dan aku melihat Robbie Stans mengintip dari balik pagar. Dia menatap dan memandang Dream, aku tidak suka itu! Aku memutuskan untuk mengambil langkah pertama, mengintimidasi dia, sekedar memberikannya peringatan, untuk tidak macam-macam dengan Dreamku.
__ADS_1
Aku mendekatkan wajahku ke Dream, dan aku mencium lembut bibirnya, dan itu membuatku sulit untuk melepaskannya, dia membalas ciumanku sedikit, dan aku memainkan ciuman kami sebentar.
"Nanti aku akan menjemputmu." sahutku, melirik ke arah Robbie Stans, dan wajahnya tampak seperti tertampar sesuatu yang keras.