
"Apa yang kalian lakukan anak-anak bodoh??!!" sahutku keesokan harinya.
Ketika aku bangun pagi hari, aku mendudukan Jean dan Jeannete di kursi makan, dan membuatkan mereka sarapan berupa susu, sereal, dan omelet.
Dan betapa terkejutnya aku, ketika akan pergi membangunkan Robbie dan V, mereka berdua terkapar di lantai dengan wajah lebam dan berantakan. Aku akan berpesta tujuh hari lamanya, kalau mereka mati!
"Apa yang kalian lakukan??! Kalian bertengkar dan saling memukul??!! Kenapa tidak di lanjutkan sampai salah satu dari kalian mati??!!" bentakku kepada mereka.
"Contoh yang baik untuk anak-anakmu kan Rob?!!" sahutku kepada Robbie yang sekarang tertunduk.
"Ini kan karena kamu, bukan salah kami!" seru V dan memindahkan kesalahannya kepadaku.
Aku menatap Jean dan Jeannete, "Kalian boleh makan di kamar, nyalakan apa pun yang ingin kalian nyalakan." sahutku, dan membantu mereka membawakan sereal ke kamarku.
"Darimana itu menjadi kesalahanku?!" aku bertanya kepada V.
"Kalian berciuman! Kamu anggap aku apa?!" tanya V tidak terima.
"Loh, kita tidak terikat! Aku bebas mencium siapa pun yang aku mau!" sahutku lagi.
"Tidak seperti itu!" sahut V, "kamu hanya akan bermain, dan dia akan mempermainkanmu, sadarlah!" sahutnya lagi.
Robbie kali ini angkat suara, "Aku tidak pernah berniat mempermainkan dia! Aku sungguh-sungguh mencintainya! Dengar, Luna, aku mencintaimu! Hiduplah bersamaku, di tahun waktu manapun! Bebas!" sahutnya.
"Lihat!! Dia tidak paham apa yang dia katakan!" seru V.
"Aku sangat paham, aku mengajak Lunaku untuk tinggal bersamaku! Dimana letak ketidakpahamanku??!!" seru Robbie tak kalah tingginya.
"Lunaku?? Sejak kapan dia menjadi Lunamu??!" tanya V sinis.
"Sejak dia bertemu denganku, dia resmi menjadi Lunaku!" jawab Robbie tegas.
Tinju V kembali melayang ke arah Robbie, namun aku menahannya, "Bisa kalian hentikan ini? Aku tidak menjadi Luna siapa-siapa. Waktuku tinggal tiga bulan, V. Dan aku benar-benar akan memikirkan ini matang-matang." sahutku.
Andaikan aku punya teman berbicara, aku bisa membagi kegalauanku dengannya. Aku pergi meninggalkan mereka berdua, bahkan aku tidak berpamitan kepada Jean dan Jeannete. Aku menunggu di pintu lorong waktu, aku memanggil Kai melalui Lyn.
"Ada apa lagi?" tanya Kai.
"Bawa aku!" sahutku.
"Hei, ada apa denganmu?!" tanya Kai khawatir. Aku mendorong Kai bersamaku dan masuk ke dalam pusaran waktu, dan pluk. Aku belum kehilangan kemampuan mendaratku.
"Hei, Dream! Kamu gila??! Kamu tidak bisa muncul seperti ini??!!" sahut Kai.
__ADS_1
Aku melihat ke sekelilingku, benar-benar berubah. Sebelum terjadi kekacauan, negara ini tampak indah, walaupun penuh dibandingkan tahun-tahun lampau. Namun sekarang, asap dimana-mana, dan aku rasa tingkat panas mulai kembali naik. Tidak ada taman atau apa pun. Eden Park tampak mati.
"Apa yang terjadi disini, Kai?" aku bertanya kepadanya. Dan bahkan lorong waktu tidak berbunyi saat mereka tidak bisa mendeteksiku.
"Kegagalan sistem. Beginilah. Tidak ada pengaturan. Ini sudah jauh lebih baik, Dream. Robot-robot sudah mulai bekerja sesuai dengan tugasnya, kemarin robot-robot itu di akses untuk menghancurkan. Kamu tau kan, seberapa parah daya hancur dari satu unit robot, nah kemarin ratusan unit robot malfungsi." sahut Kai menjelaskan, "makanya sudah kubilang tunggulah sebentar lagi, tiga bulan lagi paling cepat ." sahut Kai menambahkan.
"Aku antar ke papamu. Naiklah." aku mengikuti Kai menaiki mobil terbang, dan bisa terlihat jelas bagaimana kondisi negaraku sekarang. Ada rasa sedih yang amat sangat menggerogotiku dari dalam.
"Orangtuaku baik-baik saja, Kai?" aku bertanya kepadanya, "dan bagaimana ibumu dan Bryanna?"
"Mereka baik sekali, Dream. Aku rasa hanya kamu yang tidak baik disana...hahahaha!" sahut Kai tertawa.
Sesampainya di rumah papa, aku berlari menemui mereka. Mereka tidak tau aku datang, tapi rambutku masih hitam aku rasa tidak akan ada yang sadar kalau aku adalah Dreamy Eve.
"Papa...papa ..mama. Aku datang!" sahutku. Robot penjaga menghalangiku.
"Maaf Dream, kamu tidak mempunyai akses untuk masuk kesini, semenjak kejadian itu, papamu di perketat penjagaannya. Aku lupa memberitahumu." sahut Kai. Kemudian Kai mematikan sistem pada robot tersebut, dan kemudian menginstall ulang, dan memintaku untuk mendekatkan mataku ke mata robot tersebut, "Aku menggunakan sensor mata. Jadi tidak ada yang tau kan? Awalnya aku memakai robot teka teki, tapi aku sendiri tidak tau jawabannya...hahahaha." sahutnya menjelaskan.
"Apa contoh pertanyaannya?" tanyaku kepada Kai.
"Hmmm...coba kuingat... oh, apa yang lebih menyebalkan dari sakit gigi?" tanya Kai. Aku mengangkat bahuku, dan dia menjawab, "jatuh cinta dan menikah." jawabnya sambil tertawa.
"Apa itu?" tanyaku tertawa juga. Tak lama mamaku keluar, "Dream, kamu kah itu?" tanya mama seakan tidak percaya. Aku mengangguk. Dan kemudian papa muncul dari ruangan kerjanya, "Luna!!" sahutnya. Kemudian memelukku. Aku memeluk mereka sekuat yang aku bisa.
"Kamu bisa menggantikanku seorang diri. Aku percaya itu." sahut papa. Aku kembali memeluknya, "Terimakasih papa karena sudah percaya kepadaku." sahutku.
"Berjanjilah kepadaku, selesaikan masalahmu disana, setelah itu kembalilah lagi kesini." sahut papa.
Aku menggeleng, "ijinkan aku disini dulu sampai kepalaku dingin. Aku mohon." pintaku. Aku menatap Kai untuk meminta bantuannya.
"Biarkan dia disini selama beberapa hari, aku akan terus memantau keadaan disana." sahut Kai.
Papa setuju dengan usul Kai dan mengijinkanku untuk tinggal disini selama beberapa hari.
......................
"Bantu aku Kai, hapuskan ingatan mereka tentangku." pintaku kepada Kai sekarang.
"Tidak bisa Dream, itu akan merubah masa depan mereka. Bagaimana kalau salah satu dari mereka benar-benar menjadi suamimu?" jawab Kai menjelaskan.
"Tapi aku benar-benar bingung, Kai.," sahutku lagi, "dan lagi...." belum selesai aku berbicara seorang wanita memanggil Kai. Bryanna!!
"Kai dengan siapa kamu bicara?" tanyanya. Aku menengok dan melambaikan tangan kepadanya, Bry mengenaliku dan semakin mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Dream?! Kamu benar-benar Dream? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bry.
Aku memeluknya, "Senang sekali bisa bertemu kembali denganmu Bry." sahutku.
"Aku juga senang melihatmu dalam kondisi sehat. Oh, Dream, aku merindukanmu." sahutnya. Kami saling berpelukan dan bertukar cerita singkat.
"Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan, dan siapa yang akan kamu pilih. Kalau aku sudah jelas, aku akan memilih Robbie." celoteh Bry. Masih seperti dulu, dia banyak bertanya, dan memberikan saran dengan pemikirannya yang tajam, tidak heran Kai memintanya untuk menjadi juru bicara pribadinya.
"Dan dari ceritamu, ciuman Robbie sepertinya hebat." seru Bry lagi. Lega sekali bisa bercerita dengan Bry seperti ini. Aku memang butuh pulang.
"Memang. Dia bisa membuatku meleleh hanya dengan membuka mulutnya. Bry kamu harus bertemu dengannya. Dan kamu tau yang lebih hebat, dia memainkan lidahnya juga saat kami berciuman." seruku dan itu di sambut dengan kyaaaaa dari Bry.
"Bagaimana dengan V?" tanyanya lagi, "V agak membosankan menurutku. Dia sedikit posesif tapi ciumannya manis dan seksi menurutku." seru Bry lagi.
Aku setuju dengan ucapannya, "Iya kan, dia manis tapi kadang membosankan. Tapi Robbie lebih wild, kamu tau maksudku?" aku bertanya kepada Bry. Dan di sahut dengan anggukan semangat dan antusias darinya. Benar-benar tidak mengecewakan melihat reaksinya.
"Dan bagaimana denganku?" tanya Kai, "dan apakah kalian para wanita menilai kami dari ciuman?" tanya Kai lagi.
"Tentu saja. Ciuman itu menyiratkan segalanya." jawab Bry. Aku mengangguk setuju dan melakukan high five dengan Bry.
"Ciuman denganmu mengasyikan tapi tidak menuntut, kamu manis Kai dan sedikit agresif. Andaikan saat itu aku benar-benar memyukaimu itu akan menjadi kenangan yang tidak akan kulupakan, tapi saat itu aku hanya meyakinkan perasaanku saja...hahahaha." aku menjawabnya sambil menggoda Kai.
Mata Bry membesar, "Benarkah Kai seagresif itu? Bolehkah aku mencoba berciuman denganmu, Kai? Ayolah.." sahut Bry menarik-narik baju Kai untuk mendekat.
Aku tertawa melihatnya. Entah sudah berapa lama aku tidak tertawa selepas ini, dan hatiku terasa lebih ringan sekarang.
......................
**EPILOG
Kai POV**
"Jadi Dream ada disana?" tanya V saat aku menghubunginya. Aku memberikan konektor kepadanya juga saat akan pulang ke tahun waktuku, hanya untuk memantau Dream pastinya.
"Ya, dan sementara ini, jangan menyusulnya, biarkan dia disini selama beberapa hari. Aku memintanya kembali kesana untuk menyelesaikan masalah kalian. Kamu tau kan, kami tidak bisa meninggalkan masalah dan jejak di setiap tahun waktu, karena itu akan mempengaruhi masa depan kalian dan kami." sahutku memberikan penjelasan kepada V.
"Siapa yang dia pilih akhirnya?" tanya V lagi, "maksudku kalau memang dia memilih Robbie aku bisa apa lagi, kan?" sahutnya.
"Kalau kamu mencintainya, berjuanglah V. Dan andaikan kamu bisa menemuiku dengan Robbie aku ingin berbicara dengannya juga untuk menjelaskan semuanya." sahutku lagi.
V mengangguk, "Baiklah akan kuatur jadwal kalian untuk bertemu. Dan sampaikan salamku untuk Dream. Sampaikan juga maafku kepadanya." sahut V.
Tak lama aku mengakhiri panggilanku dengannya.
__ADS_1
...----------------...