
Setelah sekian lama, akhirnya V di perbolehkan keluar dari rumah sakit.
"Ah, akhirnya aku bjsa menghirup udara luar....aku terharu." sahutnya.
Kai yang menoleh ke arahnya, "Kamu seperti habis keluar dari penjara." sahutnya.
"Oh, iya V, hari ini aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, karena ada yang harus aku kerjakan." sahutku, mengingat aku harus melintasi waktu untuk bertemu dengan Robbie.
Aku ingin mengecek apakah sanksinya di berikan sesuai dengan permintaanku. Dan lagi aku akan mengunjungi Jean dan Jeannete, itu salah satu syarat yang diajukan untuk mengadopsi mereka.
Aku mengantar V sampai ke rumahku, dan aku memintanya untuk beristirahat, tidak mengikutiku.
"Dream, biarkan aku ikut." sahutnya.
"Memang kamu tau, aku mau pergi kemana?" tanyaku, karena daritadi hanya itu yang dia ucapkan.
V menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau sendirian disini, ayolah Dream ajak aku bersamamu." pinta V dengan merengek.
Aku memanggil robot pelayanku, begitu masuk, dia mengacungkan sebuah senapan laras panjang, "Istirahatlah, jika dia mendeteksi ada satu gerakan yang ekstrem, dia tidak akan hanya menembakmu, kamu tau? Dia bergerak sesuai perintahku." seruku kepada V.
V menelan ludah, "Ke...kenapa haru sengeri ini sih, Dream?!" sahutnya.
Aku mengangguk, "Jaga dia untukku!" seruku kepada robot pelayanku itu.
"Dadah V. Selamat istirahat." sahutku lagi, dan memberikan dia ciuman jauh.
Saat aku akan berjalan, Kai berlari mengejarku, "Kamu mau kemana, Dream?" tanya Kai.
"Memastikan sanksi yang aku berikan kepada Robbie berhasil, dan aku akan mengunjungi Jean Jeannette." jawabku.
"Apa kamu serius dengan rencanamu tentang mengadopsi mereka?" tanya Kai khawatir, seakan keputusanku ini hanya asal terucap.
Aku mengangguk, "Hmmmm, tentu saja." jawabku singkat. "Baiklah, aku pergi." sahutku berpamitan kepadanya.
Kai menarik rambutku, "Tunggu...!" katanya.
"Aw...aw...Apa lagi? Kamu tidak perlu menarik rambutku Kai!" seruku kesal.
"Aku ikut bersamamu." jawabnya.
"Tidak perlu, kamu kerjakan saja urusanmu. Biarkan aku pergi seorang diri, aku butuh ini." sahutku.
Dengan berat dan perdebatan sengit, akhirnya Kai membiarkanku pergi seorang diri.
"Bry.... Bagaimana dengan Bry? Biarkan dia menemanimu!" sahutnya dalam usahanya yang terakhir.
Aku menggelang, "Tidak perlu. Dadah Kai!" sahutku.
Sekumpulan petugas satuan waktu sudah menungguku, dan Kai, untuk memastikan aku aman dan baik-baik saja, membawakanku satu unit robot kecil menyerupai Lyn, dan menurut dia, aku boleh menamakan dia, "Namailah dia sesukamu, tapi dia laki-laki, Dream. Aku membuat Lyn itu laki-laki, tapi kamu menamakannya dengan nama perempuan. Dan ini, harus nama laki-laki!" serunya.
__ADS_1
Jadi aku menamakan dia Rob...hehehehe. Petugas -petugas itu mencatat apa dan kemana tujuanku, dan aku mengisinya sendiri, dengan menuliskan Misi Rahasia.
Sesampainya di tahun waktu 2022, aku langsung pergi ke tempat tujuanku. Sekarang aku sudah cukup pintar mengoperasikan ponselku, dan memesan mobil online. Aku benar-benar menikmati kesendirianku saat ini, satu langkah menuju kemandirianku, ah..aku bangga kepada diriku sendiri.
"Permisi." sahutku, ketika sampai di depan rumah Robbie.
Dan aku melihat seorang pria, Robbie!! membukakan pintu untukku, "Selamat datang, masuklah." sahutnya ramah.
Sungguh berbeda dengan pertemuan awal kami, Robbie yang sekarang mempunyai wajah ramah, dan mata berseri-seri.
Robbie mempersilahkanku duduk, di ruangan kerjanya, dan mengulurkan tangannya, "Hai." sapa dia.
Aku membalas uluran tangannya, dan membalas senyumannya, "Hai." aku menunggu dia memperkenalkan dirinya. Di dalam program seharusnya dia sudah melupakanku sepenuhnya.
"Apa kabarmu, Luna?" tanya Robbie tersenyum.
Aku terhenyak, kenapa dia belum melupakanku? Aku menjawab Robbie, "Ah, a..aku baik. Bagaimana kabarmu?" aku balas bertanya.
"Aku baik-baik saja. Kamu pasti kaget karena aku masih mengenalimu." sahutnya.
Aku mengangguk, "Apa yang terjadi hari itu?" tanyaku.
"Aku memintanya untuk tidak menghapus semua ingatanku tentangmu, aku hanya ingin mengingat kenangan indahku bersamamu, dan dia mengabulkannya." jawab Robbie, "dia berkata tidak mungkin memodifikasi ingatan seseorang karena itu sebuah kejahatan, dan dia tidak sanggup melakukan itu." sahutnya lagi menambahkan.
"Jadi, apa yang kamu ingat?" tanyaku.
"Aku mengenalmu, dan kita sempat menjalin suatu hubungan, tapi kita harus putus, karena satu dan lain hal yang membuat kita tidak mungkin bersatu." sahutnya.
"Ah, iya, maksud kedatanganku kesini adalah, aku ingin mengadopsi anak-anakmu, apakah itu mungkin?" aku bertanya, karena dia sudah berubah menjadi lebih baik, mungkin saja dia tidak akan melepaskan anak-anaknya.
"Ada satu hal yang belum aku ceritakan kepadamu. Ini tentang Jean Jeannette. Sebenarnya mereka bukan anak-anakku. Mereka anak mantan istriku, dan ketika kami menikah, dia sudah mengandung Jean dan Jeannette." sahutnya menjelaskan, "aku menyayangi mereka tapi terkadang aku membenci kehadiran mereka. Kalau memang kamu mau mengadopsinya, silahkan, aku sangat berterimakasih kepadamu."
"Apa kamu sama sekali tidak menyayangi mereka?" tanyaku, "Kalian cukup lama tinggal bersama bukan?" aku semakin penasaran bertanya.
"Aku sayang mereka, Luna. Hanya saja aku rasa aku belum siap selama ini, dan aku tidak tau kapan aku siap untuk hidup menikah, mempunyai anak, atau berkomitmen sehidup semati dengan seseorang. Mungkin itu yang membuat kita putus saat itu." jelas Robbie.
Aku merenungkan jawaban Robbie, dan berpikir ini yang terjadi kepadanya beberapa saat lalu, saat aku memutuskan untuk menikahinya.
"Luna, maafkan aku. Dan dimana rumahmu, maaf sekali aku benar-benar lupa." sahutnya.
"Oh, kamu akan tau. Aku tidak akan mempersulitmu untuk bertemu dengan anak-anakmu nantinya." aku menjawabnya.
"Dan, dimana suamimu? Maksudku bagaimana kamu akan memenuhi kebutuhan anak-anakku?" tanya Robbie lagi.
"Aku belum mempunyai suami. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal itu, penghasilanku cukup tinggi. Dan, selama tiga bulan ini aku akan rutin berkunjung kesini, apa itu mengganggumu?" aku bertanya kepadanya.
Dia menggeleng, "Tentu tidak. Aku senang kalau kamu kesini. Kita jadi bisa berbicara seperti ini." jawabnya.
Aku tersenyum lagi, "Dan apakah tidak apa-apa bila sesekali dalam kunjunganku, aku membawa seorang teman?" tanyaku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Luna. Sungguh." jawabnya.
"Apakah kamu mendaftarkan nama anak-anakmu di kartu kependudukanmu?" tanyaku lagi.
Dan dia mengangguk, "Mereka membutuhkan itu untuk kepentingan sekolah, kan?" jawabnya.
"Oke, kalau begitu. Aku akan berkunjung lagi minggu depan dan..."
"Apakah mereka mengenalmu?" tanya Robbie.
"Tentu saja, kami berteman baik." aku menjawabnya.
"Baiklah, sepertinya persiapanmu sudah matang sekali. Maafkan aku, aku ayah yang sangat buruk, karena tidak bisa mendidik mereka dengan baik." kata Robbie.
"Ya, tentu saja. Semua orang pernah gagal, dan aku yakin dalam waktu setahun, kamu akan melupakanku dan anak-anakmu dengan cepat." sahutku.
"Bagaimana bisa begitu?" tanya Robbie.
"Waktu akan terus berjalan, dan kamu akan disibukkan dengan aktifitasmu, apalagi kamu bilang kamu kewalahan dengan hadirnya mereka." jawabku.
Dia mengangguk, "Aku berusaha keras untuk tidak melupakan kalian." sahutnya.
"Terimakasih kalau kamu mau berusaha untuk seperti itu." aku tersenyum, "Baiklah, sampai jumpa minggu depan." sahutku, dan berpamitan kepadanya.
"Luna, selagi proses ini berjalan, maukah kamu mengajakku saat berjalan bersama anak-anakku?" tanya Robbie.
Aku mengangguk, tersenyum "Tentu saja. Terimakasih." sahutku.
"Aku yang berterimakasih kepadamu Luna." ucap Robbie.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Ide gila apa lagi yang akan kira-kira dibawa Dream?" tanya V.
"Entahlah, 25 tahun lebih aku bersahabat dengannya, dan perkiraanku selalu meleset, aku tidak berhasil memahami dia. Karena itu, aku hanya akan mendampinginya saja." aku menjawab pertanyaan V.
V tersenyum mendengar jawabanku, "Tapi saat ini kamu sudah beristri, Kai. Bryanna akan cemburu sekali pada Dream jika kamu seperti itu, kan." jawab V.
"Bry tau tugasku. Aku akan berhenti mendampinginya saat dia benar-benar sudah mempunyai seorang yang bisa aku percaya." sahutku, kemudian aku menepuk pundak V, "maka dari itu, Voltaire yang tampan, jangan biarkan ketampanan dan kejantananmu habis sia-sia karena terkikis waktu. Menikahlah dengan Dream, supaya aku bisa pensiun." sahutku.
V tertawa, "Aku tidak akan terkikis waktu, Kai. Berhentilah khawatir dengannya, aku akan menggantikan tugasmu. Bergembiralah, Kai." ucap V.
Tak lama, Dream datang, "Hai, aku sudah mememui Robbie dan dia setuju aku mengadopsi mereka. Kita akan mempunyai dua anak kembar sekaligus. Kita akan membagi tugas mulai hari ini." sahut Dream antusias.
Aku menjabat tangan V, "Aku pensiun lebih cepat. Silahkan urus anak-anakmu." sahutku, dan memberikan senyuman lebarku kepada V.
__ADS_1
...----------------...