Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Still With you


__ADS_3

Keesokan harinya, kami memulai eksperimen kami di depan gerbang waktu, Kai menempelkan kamera kecil ke dalam sebuah boneka.


"Oke, kita akan lihat kemana dia pergi." sahutnya bersemangat, "Aku seperti sedang sekolah lagi. Jiwa mudaku bergelora saat ini." katanya antusias.


Aku dan V hanya bertukar pandangan, "Aku rasa sebentar lagi dia gila." kata V. Kai memandangnya dengan tatapan kesal, "Aku hanya bersemangat karena sebentar lagi kita bisa kembali. Kita bisa tinggalkan dunia fana yang serba mahal ini." tukasnya.


Kai menyalakan laptopnya, mangaktifkan kamera yang sudah di tempelnya, dan melemparnya ke dalam gerbang waktu yang terbuka, "Oke... mari kita lihat." katanya.


Pusaran-pusaran waktu tampak sudah lebih normal, tidak bergelombang seperti waktu itu.


"Kai, lihatlah. Pusarannya sudah lebih tenang." ucapku.


Kai dan V mengangguk, "Ya kamu benar, dan sudah tidak ada kilatan cahaya lagi, pusaran ini lebih tenang. Oh, dia sudah mendarat!" kata Kai.


Kami bertiga menyaksikan dengan seksama, "Dimana dia mendarat?" aku bertanya. Kai tidak dapat mendeteksi dimana keberadaan boneka itu, jadi dia melihat rekam jejak pada lorong waktu.


"Dimana jejak yang Josh katakan itu?" tanya Kai sambil mencari kanan dan kiri gerbang waktu.


"Ah, bonekanya di ambil orang...!" seru V, aku dan Kai menghampirinya, "Oh, sekarang gambarnya hilang!" seru V lagi.


"Terlalu jauh, dan waktunya mungkin juga jauh, V." jawab Kai lemas. "Ayo, kita temui Josh lagi. Di tahun waktu sekarang, aku rasa Josh masih hidup, hanya mungkin akan bertambah tua sedikit." sahut Kai.


Aku dan V mengangguk setuju, "Tunggu sampai aku dan V dapat jatah hari off, baru kita akan kesana." kata Kai, "kita terkungkung oleh pekerjaan sekarang. Aaarrgghhh, aku tidak suka ini, tapi aku punya anak dan istri yang harus aku nafkahi." katanya sedih.


Aku hanya tertawa melihat tingkahnya, "Temanku yang satu ini memang sedikit berlebihan, aku baru sadar setelah kita bertahun-tahun berteman." ujarku.


Kami bertiga kembali ke rumah kami, dan Bry yang biasanya menyambut kami, sekarang cuek, dan aku berpikir mungkin dia lelah, jadi aku tidak ambil pusing dengan perubahan sikapnya itu.


Aku mengurus Jean dan Jeannete, dan ketika hari itu ada waktu kosong, aku mengajak mereka untuk berjalan-jalan, dan terlintas ide untuk mencari rumah Josh, "Ayo, kita berjalan-jalan agak jauh hari ini yah." sahutku, dan mereka mengangguk senang.


Karena mobil di pakai oleh Kai dan V, maka aku memanggil taksi online untuk mengantar kami ke tempat Josh.


"Kemana kita akan pergi, Luna Dream?" tanya Jean.


"Oh, aku sedang mencari alamat rumah seseorang. Aku ingin bertanya kepadanya bagaimana cara kita supaya kita bisa kembali." jawabku kepada mereka.


"Bry tidak mau kembali." ucap Jeannette.

__ADS_1


Aku mengernyitkan keningku, "Bry? Bryanna? Bry kita yang itu?" tanyaku tidak percaya.


Mereka mengangguk, "Iyalah, Bry yang mana lagi? Memangnya ada dua Bry?" sahut mereka lagi.


Aku berpikir, memang Bryanna hanya ada satu yang kami kenal, "Apa kalian bertanya kenapa dia tidak mau kembali?" tanyaku.


"Katanya dia takut. Amber kecil belum siap untuk bepergian berpindah waktu, begitu katanya." jelas Jeannette.


Kai pasti sudah tau hal ini, tapi kenapa dia tidak memberitahukannya kepada kami? Kenapa dia diam saja dan menganggap seperti tidak ada apa-apa? Aku terus bertanya-tanya apa yang terjadi kepada mereka. Sampai tidak menyadari kalau kami sudah sampai di tempat tujuan.


"Ayo, kita turun." ajakku kepada Jean dan Jeannete. Kami mengetuk rumah Josh.


*Tok...tok


Tok...tok*


Josh sendiri yang membukakan pintu untuk kami, "Ah, aku lupa siapa namamu, tapi masuklah." sahutnya.


Dan benar kata Kai, dia sudah lebih tua sedikit dibanding saat kami bertemu sebelumnya di tahun waktu lalu. Sikapnya yang misterius masih tampak jelas di wajahnya. Hanya kerutannya saja yang bertambah banyak, selebihnya dia masih Josh yang sama seperti waktu itu.


"Dream." jawabku singkat.


"Ah, si kecil Dream. Aku turut berduka cita untuk ayahmu." katanya mengulang pembicaraan yang sama seperti waktu itu.


Aku mengangguk, Josh melihat ke arah Jean dan Jeannete, "Dan mereka anak-anakmu?" tanyanya.


Aku mengangguk, "Ya, mereka anak-anakku." jawabku. Jean dan Jeannete berkenalan dengan uncle Josh, Josh meminta mereka untuk memanggilnya uncle. Setelah itu, aku memberitahukan maksud kedatanganku kesini.


"Jejak di lorong waktu? Apa aku pernah berkata seperti itu?" tanyanya.


Aku mengangguk, "Sebentar, biar aku ingat-ingat. Umurku sudah banyak, dan sudah banyak kejadian yang aku alami dan aku tidak dapat mengingatnya...hehehehe." katanya lagi.


Aku menunggunya mengingat-ingat tentang apa yang pernah dia katakan. Tidak berapa lama kemudian, dia berseru, "Ah, ya...ya...ya...aku dan Mark pernah menjelajahi waktu. Pengalaman yang sangat gila, bukan?" katanya.


"Tentu saja semua benda yang terkoneksi mempunyai rekam jejak, kamu tidak dapat mengetahuinya jika hanya melihatnya. Gunakanlah penerangan kecil tapi jangan yang terlalu terang, maka akan timbul angka-angka yang menunjukan tahun waktu terakhir yang kalian jelajahi." katanya.


Josh beranjak dari tempat ia duduk, dengan langkah terseret-seret ia masuk ke dalam ruangannya, dan keluar dengan membawa benda kecil di tangannya, "Gunakanlah ini." katanya dan menyerahkan benda kecil itu kepadaku, "sudah tidak ada yang menjualnya, tentu saja. Ini barang langka. Aku hanya memperingatkan, lihatlah dengan cermat tapi jangan sampai terjatuh ke dalam pusarannya." katanya lagi memperingatkanku.

__ADS_1


Aku menerima benda kecil yang menyerupai senter kecil dengan cahaya lembut, tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap, "Apa aku boleh membawanya?" tanyaku.


Josh tertawa, "Hahahaha...bawalah anak muda. Untuk apa aku kembali menjelajahi waktu. Aku sudah tidak kuat berjalan jauh walau hanya melewati terowongan seperti itu ..hahahaha." jawabnya.


Aku membiarkan Jean dan Jeannete bermain bersama Josh untuk beberapa waktu, Josh menawari kami makan siang juga, dan kami menerimanya.


"Sudah lama sekali aku tidak makan bersama seramai ini. Aku senang sekali, Terimakasih Dream, dan Jean Jeannette." kata Josh tersenyum.


Setelah makan, kami mengucapkan terimakasih kepadanya, dan kami kembali karena hari sudah mulai sore.


...----------------...


**EPILOG


Kai POV**


"Ada apa dengan Bry?" tanya Dream sore itu kepadaku, "Ada apa dengan kalian?"


"Dia tidak mau kembali, tapi aku juga tidak mau meninggalkannya disini." jawabku.


"Kenapa kamu tidak memberitahukan hal ini kepadaku?" tanya Dream lagi, pertanyaannya semakin menuntut.


"Aku tidak mau membebankanmu, Dream." sahutku.


Dream menggebrak meja, "Apanya yang beban??!! Kan aku bisa membujuknya! Atau kita bisa merundingkan hal ini bersama-sama dan mengambil jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak!" katanya kesal.


"Ya, maafkan aku Dream." ujarku lemas.


"Kenapa kamu tidak mau menemaninya menetap disini?" tanyanya kepadaku.


"Aku tidak suka disini, Dream. Kalau untuk bertugas atau kita menetap sementara aku masih oke. Tapi untuk menetap selamanya, aku keberatan." jawabku lagi, aku berusaha membuat Dream mengerti dan paham keinginanku. Hidup di masa ini berat, aku ingin membangun keluargaku disana bersama Bry dan Amber. Tapi kalau Bry tidak mau, apa yang harus aku lakukan kepadanya supaya dia paham?


"Kalau kamu mau membantuku untuk berbicara dengannya, aku akan berterimakasih sekali kepadamu." sahutku.


Dream menghela nafas panjang, "Baiklah, akan aku coba." katanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2