
*Piiiip....
Piiip...
Piiip*...
Dimana aku? Apa ini yang menusuk hidungku? Aku mencoba menggerakan tanganku, namun terasa berat, apa ini? Selang infusan menempel di tangan kananku, dan aku meraba hidungku, selang oksigen. Apa yang terjadi? Aku melihat sekelilingku, adakah yang menemaniku?
Aku mencoba merubah posisi berbaringku, dan aku melihat Kai di sisi kananku, dan V di sisi kiriku. Dan tak lama, seseorang masuk ke dalam ruangan kamarku, Robbie.
"Hei, Luna." sahutnya, dia meletakkan laptopnya, dan menghampiriku, "Kamu sudah sadar?" katanya, dan dia membangunkan Kai dan V yang tertidur.
"Lunaku sudah sadar!" bisik Robbie. Kai dan V terbangun, dan mereka bertiga mendekatiku begitu tau aku sudah bangun.
"Apa yang kamu rasakan, Dream?" tanya Kai
" Kamu butuh apa? Bagaimana perasaanmu?" tanya V
"Hei, tenang dulu, beri Lunaku ruang untuk menghirup udara." sahut Robbie dan mendorong Kai dan V. Mereka menuruti perkataan Robbie.
"Pertama, panggil dokternya....dan.." usul Robbie
"Aku saja...aku yang akan memanggil dokter." usul V dan kemudian dia bergegas keluar kamar hanya dengan merapikan rambutnya saja.
" Baiklah, terimakasih. Dan yang kedua, apa yang kamu butuhkan?" tanya Robbie lagi.
Kai memandangku, "Bagaimana perasaanmu, Dream?" tanya Kai cemas. Kai memegang tanganku, dan meremasnya.
"Entahlah, hanya tanganku sangat berat karena ada ini." aku menjawab Kai sembari mengangkat tanganku yang dipasangi selang infus.
Tak lama V datang bersama seorang dokter dan perawat. Dokter memeriksa detak jantungku, tekanan darahku, nadiku, saturasi oksigenku, dan perawat mengecek cairan infusanku. Mereka bergerak sangat cepat.
"Kondisinya sudah baik, saturasi sudah 99, tekanan darahnya sudah normal, detak jantung dan frekuensi nadi juga normal. Hanya tekanan darahnya masih cukup rendah. Habiskan infusannya, karena masih ada dua kantung yang harus dihabiskan. Untuk sementara masih jarus di rawat karena status pasien masih dalam pantauan kami." kata dokter menjelaskan, "kami hanya akan melepas selang oksigennya saja, tapi tetap akan kami cek untuk ke depannya." tambahnya lagi.
Perawat melepaskan selang oksigen yang terpasang di hidungku, lega rasanya setelah itu di lepas.
"Nanti akan kami ambil darahnya untuk pengecekan lebih lanjut. Permisi." sahut dokter. Dan kami mengucapkan terima kasih.
Si perawat memanggil rekannya dari unit laboratorium, dan mereka datang dengan membawa sebuah box berisikan dua tabung kecil untuk menampung darah, dan suntikan. Tak lama, mereka sudah memasukan jarum ke ujung jari telunjukku, dan di tampungnya darahku ke dalam dua tabung kecil itu.
Setelah perawat-perawat itu pergi, aku kembali membaringkan tubuhku.
"Kapan aku bisa keluar dari sini?" tanyaku kepada tiga lelaki di depanku, yang saat ini hanya menatapku tanpa berkata-kata.
"Fokuslah dulu untuk kesehatanmu, aku akan menjagamu." jawab Kai.
"Aku juga." jawab Robbie, "aku kekasihnya, harus di prioritaskan." sahutnya lagi.
__ADS_1
"Aku juga, Kai. Aku penjaganya sekarang. Jangan khawatir Dream, aku akan menjagamu, dan memberikan apa yang kamu butuhkan." jawab V.
Aku tersenyum, "Wah, aku sangat tersanjung. Terimakasih." sahutku. Aku bersyukur mereka bersamaku. Tapi memang lebih enak di rumah sendiri kan? Kai memberikanku sebuah pil untuk aku minum, kata Kai itu untuk membantuku bertahan.
"Jadi aku sakit apa?" tanyaku.
"Dokter belum memberitahu kami. Kamu masih dalam status observasi." jawab Robbie, kemudian dia mencium bibirku, "supaya cepat sembuh." sahutnya. Aku tersipu malu.
Kemudian dia mencium bibirku dua kali lagi, "Ini dari Jean" katanya, dan menciumku lagi, "dan ini salam cium dari Jeannette" dan menciumku sekali lagi.
V mendorongnya, "Sudah.... sudah...kamu malah membuatnya kemasukan virus terlalu banyak." sahut V seakan membentengiku dari Robbie.
Kai menyuapiku, V merapikan kamar yang berantakan dan tampak penuh katanya, sedangkan Robbie duduk di sofa menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama dua orang perawat masuk ke dalam ruangan, dan mereka bertuga serentak berdiri, dan itu membuat perawat -perawat itu tersenyum.
"Ukur suhu dulu yah." kata perawat itu. Dan kemudian menempelkan termometer ke dahiku.
"Siapa wali dari pasien?" tanya perawat yang satu lagi.
Dan masih dengan gaya yang sama, ketiga pria itu berdiri, dan mengangkat tangannya, "Saya suster." sahut mereka, dan sekali lagi tingkah mereka membuat para perawat tersenyum.
"Maaf kalau mau menemani hanya boleh satu orang saja, tidak boleh beramai-ramai, jadi supaya pasien bisa beristirahat dengan maksimal." kata perawat itu.
V mengacungkan tangannya, "Saya tidak menganggu, daritadi saya tidak berisik, kan?" katanya.
Kai tak mau kalah, "Saya juga. Saya pengawalnya, saya tidak boleh meninggalkan Dream sedetik pun. Saya tidak akan menganggu karena saya selalu menjaganya." kata Kai dan berdiri di depan V.
Aku tersenyum, dan perawat itu juga tersenyum, "Tapi tidak bisa semuanya, maaf yah." katanya ramah, "Oh iya, hmmm, karena kalian walinya, bisa ikut saya untuk mengurus administrasi terlebih dahulu." katanya. Mereka bertiga berebutan keluar bahkan sebelum perawat itu keluar.
Perawat yang mengukur suhuku menemaniku di dalam, masih sambil mencatat-catat hasil pemeriksaannya.
"Seru yah mereka. Kamu beruntung sekali." katanya.
Aku tersenyum, "Terkadang menjengkelkan kok..hehehe." aku menjawabnya sambil terkekeh, "Saya sakit apa yah sampai harus di rawat?" aku bertanya kepada perawat tersebut.
"Tadi kan sudah ambil darah yah? Jadi tinggal tunggu hasil laboratoriumnya keluar, baru kita bisa tau sakit apa. Ada infeksi viruskah atau infeksi bakteri, nanti akan terlihat dari pemeriksaan darah itu." jelas si perawat.
Aku mengangguk, "Berapa lama biasanya hasilnya keluar?" aku bertanya kepadanya.
"Sekitar dua jam kurang lebih, ditunggu saja, nanti dokter akan menjelaskan." jawab perawat itu, dan kemudia berpamitan kepadaku.
Aku menunggu mereka kembali, sepi sekali kalau di rawat disini sendirian, lebih baik ramai dan penuh seperti tadi kan?
Tak lama mereka kembali, dan dengan ramai berceloteh tentang apa yang mereka lihat.
"Hai. Bagaimana?" aku bertanya
"Istirahatlah Dream. Oh, lanjutkan makanmu yah, kali ini aku yang akan menyuapimu." kata V dan mengambil piringku. Aku mengangguk dan menuruti kata-katanya, karena aku mau cepat keluar dari sini. Bosan sekali disini.
__ADS_1
Selesai aku makan, dokter datang dengan membawa sebuah amplop.
"Halo, hasil laboratoriumnya sudah keluar. Dan infeksi bakteri. Ciri khasnya adalah demam menetap, ada yang demam tinggi, ada yang tidak tergantung kekebalan tubuh seseorang." jelas dokter itu, "Dreamy Eve, angka sel darah putihnya cukup tinggi melebihi sel darah merahnya, dan di perparah dengan jumlah hemoglobin yang sedikit lebih rendah dari angka normal. Itu sebabnya imun tubuhnya melemah. Jadi, masih harus di rawat selama 3 sampai 4 hari, saya akan memasukan obat ke dalam infusan yah, ada antibiotik, parasetamol, dan ini obat racik yang melalui oral atau diminum." katanya lagi menambahkan penjelasannya, "Dan satu hal lagi, kami setiap hari akan mengambil darah untuk mengecek angka sel darah putihnya. Terima kasih. Semoga cepat normal kembali." sahut si dokter.
"Wow, Dream... panjang sekali, dan hebatnya tidak ada satu kata pun yang aku mengerti." sahut V.
"Itu karena kamu saja yang bodoh, V. Intinya adalah Luna imun tubuhnya menurun karena bakteri." seru Robbie mendekatiku, dan siap menciumku kembali.
"Robbie, stop sampai disitu! Dia terserang bakteri, dan ciuman itu bisa membawa virus dan bakteri, jadi mulai detik ini, kamu dilarang berciuman dengan Dream kami, sampai dia sembuh dan sehat. Kalau mau cium, ciumlah pipi atau tangannya." seru Kai.
Robbie terdiam, membeku seperti tertampar oleh kata-kata yang di lemparkan Kai kepadanya. Kemudian menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Baiklah, aku yang akan menjaga Dream malam ini. Kalian pulang sekarang!" perintah Kai lagi.
Dan seperti yang sudah aku bayangkan, mereka bertengkar mengenai siapa yang akan menemaniku.
"Hei!!" teriakku.
"Bermainlah untuk menentukan siapa yang akan menemaniku malam ini!" aku berseru kepada mereka, "aku biasa memainkan ini bersama Jean dan Jeannete kalau mereka berebutan sesuatu."
"Apa itu?" tanya Robbie.
"SOS." aku menjelaskan kepada mereka cara bermainnya, dan Robbie yang membawa laptop membuat SOS digital, dan mereka mulai memainkannya.
"Oke, hasilnya adalah, malam ini yang menemani Dream adalah aku, kemudian besok pagi Robbie, dan terakhir V." sahut Kai bangga, "Kalian berdua, silahkan pulang, yang keberatan, maka jatah menemani Dream berkurang satu hari." ancam Kai.
Dan dengan langkah berat dan enggan, V dan Robbie berpamitan kepadaku, Robbie mencium pipiku, karena tatapan jangan menciumnya di bibir Kai sudah menghantui Robbie.
"Bye, sampai besok pagi Luna." katanya. Aku terkikik melihatnya salah tingkah seperti itu.
......................
**EPILOG
Kai POV**
"Robbie, apa kamu akan ikut dengan Dream saat dia kembali ke tahun waktu kami?" aku bertanya kepadanya.
Robbie mengangguk, "Tapi aku tidak bisa menetap disana." jawabnya, "Bagaimana dengan kehidupanku disini?" tanya Robbie khawatir.
"Kehidupanmu disini akan terhapus, seolah kamu tidak pernah ada. Kurangi saja dengan umurmu saat ini dan bandingkan dengan tahun waktu kami, dan hasilnya di tahun waktu itu lah namamu muncul." jawabku menjelaskan, "masa depanmu disana sudah jelas, Rob. Kamu akan menggantikan posisiku, dan anak-anakmu akan menjadi anak Luna juga." jawabku lagi mencoba meyakinkan Robbie.
"Tapi, aku belum siap untuk seperti itu, Kai. Dengan segala usahaku, dan apa yang sudah kuraih saat ini, aku tidak bisa meninggalkannya. Apa tidak mungkin jika Luna yang menetap disini?" tanya Robbie.
Aku menggelengkan kepalaku, "Kamu lihat kondisinya sekarang? Imun tubuhnya akan terus menurun, karena sedang beradaptasi begitu pula dengan umurnya, dan ini sudah mencapai batas maksimal dia berada di luar tahun waktu. Dengar, Rob, kamu atau V bisa menetap di masa depan, hanya dengan konsekuensi, masa lalumu berubah, tapi kami, tidak bisa menetap disini, resikonya kematian. Hidup di masa depan dengan segala sesuatunya sudah terukur, sudah lebih canggih, sudah lebih mudah dan fleksibel dari tahun waktu saat injy. Berpikirlah Rob." aku masih berusaha membujuk Robbie untuk menetap bersama Dream.
Tapi sepertinya harapanku sirna, karena Robbie menggelengkan kepalanya, dan masih tampak ragu dengan segala tapi dan bagaimana jika yang terus keluar dari mulutnya.
__ADS_1
...----------------...