Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Can We Go Back?


__ADS_3

"Jadi? Dimana kalian mendarat?" tanya Kai kepada kami. Aku mengangkat bahuku.


"Entah lah. Aku pingsan saat itu " jawabku. Tapi V menjawabnya untukku, "Dekat pos polisi." jawab V.


"Aku mendarat di dekat toko nenek Emilly." sahut Kai. Aku bingung kenapa bisa berbeda. Apa karena saat aku terlempar waktu sudah di hentikan, dan berjalan kembali ketika Kai masuk ke dalam lorong waktu?


"Setauku disana tidak ada lorong." sahutku sambil mengingat-ingat.


"Besok akan kita pastikan." jawab V.


"Ah, Dream, cincinmu. Kata papamu, konektor Lyn tertempel di cincinmu." sahut Kai. Aku memperhatikan cincin bermata berlian berwarna pink yang sering kupakai. Ini memang bukan cincin biasa, seperti alat mata-mata, kamu tau? Tapi hanya kalau ada Lyn di dekatku. Saat ini aku berabad-abad jauhnya dari Lyn.


"Berikan tanganmu." pinta Kai, dan aku memberikan jari manisku kepadanya, Kai melepaskan cincinku. Dia memperhatikan, memencet sana dan sini, tapi cincin itu tidak bereaksi.


"Kita terlalu jauh Kai." sahutku. Wajah Kai seketika putus asa, "Bagaimana kita akan pulang?" tanya Kai.


"Begini saja, besok kita akan ke lorong waktu tempat Kai mendarat, pasti ada yang berjaga kan? Maksudku, seorang putri perdana mentri menghilang kan? Dan harus dicari, bukan begitu?" sahut V.


"Iya, kalau papaku mencariku." jawabku lemas.


"Papamu sangat mengkhawatirkanmu, Dream. Dia tidak berani bergerak untuk menyelamatkanmu, tapi dengan bodohnya, kamu yang bergerak!" jawab Kai. Aku memandangnya kesal.


"Masih akan terus di bahas?" tanyaku. Kai tertawa, tapi aku tidak, "Itu bukan hal bodoh, aku dalam upaya menyelamatkan diriku sendiri. Inisiatifku tinggi, dan patut di apresiasi." sahutku ketus kepada Kai. Kali ini V yang tertawa.


"Baik nona Dream. Ada yang masih harus saya dengarkan lagi?" sahut Kai menggodaku. Aku memberengut kesal.


Malam itu aku sedikit memikirkan ucapan Kai, apa benar papa khawatir kepadaku? Kenapa tidak mencariku? Dan kalau aku bertemu dengannya, apakah aku masih harus menikah? Banyak sekali yang ada di pikiranku. V tidur di sampingku, dia memandangiku, aku balas menatapnya, "Kenapa kamu?" tanyaku. Dia tersenyum, "Apa yang kamu pikirkan, Dream?" V balik bertanya kepadaku. Aku menceritakan pikiranku kepada V, dia ikut berpikir.


"Pasti dia mencarimu, Dream. Bagaimana pun juga, dia papamu kan? Apalagi kamu putri satu-satunya kan?" sahut V.


"Entahlah, aku jadi sedih V. Aku merindukan orang tuaku, semuanya yang disana." sahutku, "dan bagaimana kalau kita tidak bisa pulang? Aku tidak begitu suka disini " sahutku lagi.

__ADS_1


V mengangguk, meyakinkanku, "Bisa kok, kita pasti bisa pulang." katanya.


Tiba -tiba terdengar suara ketukan pintu, V membukakan pintu, dan ternyata itu Kai.


"Ada apa? Masuklah." ajak V kepada Kai. Kai pura -pura menutupi wajahnya, "Apa aku menganggu? Apa kalian sedang bermain cinta-cintaan?" tanya Kai. Aku melemparkan sebuah bantal ke arahnya, buuugghhb..!!!


"Kebanyakan mengejek aku bodoh sih, jadinya ketularan bodoh kan. Mana mungkin kami akan membukakan pintu untukmu kalau sedang bermain cinta-cintaan?! Ckckckck... Semoga kamu cepat pintar yah Kai." sahutku. Kai menyerangku, dia melompat ke arahku, mengacak-ngacak rambutku, aku berteriak-teriak dan pura-pura meminta tolong kepada V, "Tolong aku V...tolong aku..." sahutku berseru. V yang sedari tadi geleng-geleng kepala, akhirnya menyelematkanku, dia menawarkan punggungnya, dan mengangkatku. Kami bermain kejar-kejaran di tengah malam.


"Jadi, ada apa kesini?" tanya V akhirnya, nafasnya masih belum teratur. Kai mengembalikan cincinku, "Dia berkedip, lemah sekali. Aku tidak tau apakah tanda yang kukirimkan akan sampai ke papamu. Lyn ada disana begitu papamu mengetahui konektor Lyn menempel di cincinmu." sahut Kai menjelaskan. Aku mendengarkan Kai sambil memutar-mutarkan cincinku, "Tidak ada sesuatu yang terjadi kan?" tanyaku.


"Pasti ada, Dream. Saingan papamu akan dengan mudah menjatuhkan posisi papamu dengan membawa masalah pelarian tiga narapidana, dengan begitu sistem yang bertahun-tahun sudah dijalankan akan di anggap gagal oleh saingan papamu. Tapi kita hanya bisa berharap yang terbaik saat ini " jawab Kai. Aku tidak berpikir sampai kesana. Tiga narapidana berhasil melarikan diri, itu akan jadi sejarah dan akan mempengaruhi posisi papa, apalagi kalau sampai tau bahwa putri satu-satunya dilemparkan ke lorong waktu dan belum di temukan, wah, itu akan menjadi catatan kegagalan terbesar sepanjang sejarah.


"Baiklah, besok kita akan memeriksa lorong waktu tempat kalian mendarat dan tempatku mendarat. Semoga kita bisa mendapatkan jawaban dan titik terang disana." sahut Kai lagi. Aku dan V mengangguk, dan mengacungkan jempol kami, "Oke."


Pagi harinya, aku terbangun dalam keadaan sangat berat. Dan ughhhh!! Apa ini? Dimana aku? Ketika aku membuka mataku, aku tertidur di lantai kamar, dengan V di sebelah kananku, tangannya berada di atas tubuhku, dan Kai di sebelah kiriku, dan kakinya juga menimpa tubuhku, ini ternyata yang membuatku keberatan, aku pikir beban hidupku...uuugghhh!!! Aku menggeser kaki dan tangan mereka, kemudian bergegas untuk bangun.


Tak lama, bau nasi goreng (aku tau namanya saat belajar memasak dengan V di tahun waktunya) sudah memenuhi ruangan. Mbah Emilly sudah mondar-mandir dengan celemek dan apronnya, dan tangannya tertutup mitten sibuk membawa makanan yang masih berasap. Aku membantunya membawakan ke meja makan, dan membantunya menyiapkan makanan untuk dihidangkan.


"Semoga di lancarkan semuanya, dan selalu hati-hati, ya?" sahut si mbah. Kami mengangguk kembali dan mengucapkan terimakasih.


Selesai makan, kami berpamitan kepada mbah Emilly untik memeriksa lorong waktu.


"Harusnya disini kan? Tapi kenapa tidak ada penjaganya?" sahutku.


"Ada 2 kemungkinan, pertama, ada sesuatu yang terjadi dengan tahun waktu kita, dan yang kedua ini lorong waktu ilegal. " jawab Kai menjelaskan.


"Berarti antara tempat kami atau tempatmu Kai?" tanya V. Kai mengangkat bahunya, "Kita harus memeriksanya satu-satu kan? Baiklah ayo ke tempat pendaratanku." sahut Kai.


Sesampainya disana, Kai memintaku untuk mengaktifkan konektor cincinku, dan berhasil! Cahayanya berpendar. Dan tak lama muncul 4-5 orang petugas satuan polisi waktu, mereka memeriksa identitas kami, dan tak lama...


"Papa!!!" aku berlari memeluk papaku.

__ADS_1


"Papa.... maafkan aku papa!" sahutku. Papa menyambutku ke dalam pelukannya.


"Dream...papa yang harusnya minta maaf. Maafkan papa Dream, anakku." sahut papa.


Papa melepaskan pelukanku, menyeka airmatanya, dan tatapannya beralih kepada Kai dan V, "Aku minta maaf kepada kalian, sekaligus ingin berterimakasih. Dan dengarkan aku, kondisi tahun waktu kita sedang tidak baik, aku terpaksa tidak akan membiarkan kalian kembali kesana hingga kondisinya kondusif dan normal kembali." sahut papa. Kami bertiga saling berpandangan, "Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Kai. Aku kagum dengan kestabilan suaranya yang selalu berwibawa dan terdengar kuat.


"Kalian menetap disini atau ke tahun waktu lain, cari tempat aman, dan kali ini aku meminta padamu, Dream, ubahlah identitasmu sementara, dan semua peralatan yang kamu pakai, tanggalkanlah dahulu." jawab papa.


"Apa??!! Sampai separah itukah?!" tanyaku terkejut. Papa mengangguk lemah.


"Maafkan aku, karena kelalaianku maka terjadi kegagalan sistem, dan berita kamu menghilang beredar dengan cepat." sahut papa, sambil menangis, "aku harus pergi lagi. Aku bawakan Lyn untukmu, pakai ini untuk berkomunikasi denganku saja." sahut papa lagi. Setelah itu papa memelukku dan menghilang. Papa membiarkan gerbang waktu terbuka dengan penjagaan ketat.


...----------------...


**EPILOG


Dream POV**


"Aku akan ikut denganmu kemanapun kamu pergi, V. Kita harus tetap bertiga apa pun yang terjadi." sahutku malam itu, sebelum kami tidur.


"Bagaimana denganku?" tanya Kai. Aku tersenyum sekaligus tertawa kecil, "Tentu saja kamu harus ikut, kamu pengawalku, kan, maksudku aku juga tidak bisa hidup tanpamu, Kai." sahutku, kali ini aku sudah setengah sadar karena mengantuk.


"Tidurlah Dream." sahut V. Dia mencoba mengangkatku ke temoat tidur.


"Ah, tidak. Aku masih mau berbicara dengan kalian, setelah apa yang terjadi kemari kan." sahutku, menolak untuk dipindahkan.


"Bagaimana ini Kai?" aku mendengar V bertanya.


"Biarkan saja dia seperti itu." jawab Kai. Aku pun tertidur.


......................

__ADS_1


__ADS_2