
"Claire, pernahkah kamu mengalami LDR?" tanyaku kepada Claire. Aku sudah kembali kuliah untuk menyelesaikan tugas akhirku.
Kata Kai, aku harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya, jadi disinilah aku sekarang.
"Sudah. Tapi tidak bertahan lama." jawab Claire, "Apa kamu dan Robbiemu itu akan menjalani LDR?" tanya Claire.
Aku menatap kosong meja kantin di depanku, "Aku tidak tau, tapi kemungkinan besar iya." aku menjawabnya dengan lemas.
Bagi orang lain LDR hanya sebatas beda kota atau beda negara, tapi untukku dan Robbie sangat berbeda. LDR kami berbeda abad bahkan tahun waktu. Aku mau menangis rasanya saat ini.
"Bersemangatlah, Luna. LDR tidak seberat itu, aku tidak tahan LDR maka itu aku memutuskan untuk mengakhirinya. Tapi menurutku, kamu dan Robbie akan siap dengan segala konsekuensi yang akan kalian hadapi saat LDR." sahutnya sambil menghiburku.
Kamu tidak tau Claire, akan sejauh apa LDR kami....sahutku dalam hati. Dan yang paling menyakitkan adalah, kami tidak boleh berciuman....huaaaa....huaaa.. aturan macam apa itu??!! Claire menepuk-nepuk pundakku, menenangkanku, "Tidak usah bersedih, Luna, dan astaga, wajahmu seperti mau menangis saja." ujarnya, dan kemudian memelukku.
"Kenapa Robbie tidak boleh menciumku?" aku bertanya kepada V dan hologram Kai (Kai sudah kembali sehari setelah aku keluar dari rumah sakit)
"No, bakteri, Dream. Ciuman itu apalagi dengan lidah, itu bertukar saliva. Di dalam saliva ada banyak virus dan bakteri, dan kalian bertukar itu. Uugghhh, apa kamu tidak merasa jijik?" tanya V dan memasang wajah jijik begitu pula dengan Kai.
"Tidak seperti itu, dan demi Tuhan, kenapa kalian berkonspirasi melawanku? Kalian bersengkongkol!" sahutku lagi.
Seperti itulah alasannya kenapa aku tidak boleh berciuman. Belum lagi pendapat mereka tentang cinta itu tidak selalu sentuhan fisik, tapi kan cinta butuh bumbu. Ah, aku jadi lemas dan tidak bersemangat...
Sore ini, selesai aku menyelesaikan tugas akhirku, Robbie berjanji akan menjemputku, jadi aku kirimkan pesan kepadanya,
"Hai, Rob, apa kamu jadi menjemputku?" aku bertanya kepadanya melalui pesan.
Tidak lama balasan Robbie pun muncul, "Tentu saja, aku sedang menuju disana. Aku rindu padamu, Lunaku. Tunggu aku yah." balasnya.
Selesai aku berbalas pesan dengan Robbie, Claire keluar dari ruangan sidang dengan wajah tidak berbentuk, tapi Claire masih sempat menyemangatiku, "Semangat, Luna. Aku tidak bisa menjawab dengan benar tadi, dan aku tidak tau bagaimana nasibku." katanya lemas.
Aku merangkulnya, "Tenang saja, Claire, kita akan lulus bersama-sama. Aku berani jamin itu." sahutku, dan kemudian aku memasuki ruangan sidang untuk mempresentasikan tugas akhirku.
...----------------...
"Bagaimana sidangmu?" tanya Robbie ketika dia menjemputku.
Aku mengangguk, "Oke menurutku...aku kan dari masa depan, sudah jelas aku menguasai pertanyaannya." sahutku bangga.
__ADS_1
Robbie mencubit pipiku dengan gemas, "Aku ingin sekali menciummu." katanya.
"Aku juga."sahutku dan memberengutkan mulutku, "Tapi aku akan tetap mencobanya...hehehe" kataku nakal.
Robbie tertawa, "Luna, mengenai hubungan kita...."
Deg ...jantungku mulai berdegup. Akhir-akhir membahas soal hubungan membuatku takut, aku takut jika aku gagal nanti bersama Robbie.
"Aku tidak, ah maksudku aku belum bisa pindah dan menetap di tahun waktumu, tapi kita bisa tetap melanjutkan hubungan ini. Bagaimanapun, aku sayang kamu, Luna, dan rasa sayangku kepadamu besar sekali." katanya.
"Aku tau, Rob. Aku juga sayang sekali padamu. Tapi bagaimana kita bisa bertemu nanti?" aku bertanya kepadanya, "Bisa saja, aku memberikan konektor Lyn kepadamu atau apapun itu, tapi bagaimana caranya aku berkencan denganku, atau bagaimana rasanya mencium hologrammu saja? Atau bahkan seperti ide Kai, aku akan mengirimkan robot pengganti kesini, aku tidak rela jika hanya menontonnya melalui layar." sahutku lagi menambahkan.
Robbie tertawa, "Tidak seperti itu. Tidak akan seperti itu. Aku akan menyempatkan diri setiap sore berada di ujung lorong waktumu, dan kita bisa berkencan seperti ini, atau sesekali kamu bisa mengajakku kesana." katanya.
"Wah, itu ide bagus, Rob! Aku tidak menyangka ternyata kamu pintar ." sahutku bersemangat.
Robbie membelai rambutku, "Senang melihatmu seperti ini, Lunaku." katanya, kemudian mengecup bibirku dengan lembut dan melepasnya, aku menariknya untuk mendekat, namun Rob berbisik, "Aku parkirkan mobil ini dulu." katanya.
Ternyata kami sudah sampai di depan rumah Robbie, entah mengapa dia membawaku kesini bukannya ke rumahku.
Setelah mobil berhenti, aku menariknya untuk mendekatiku, dan aku menciumnya, Robbie membalasnya, tidak lama Robbie berbisik, "Mau di lanjutkan di kamarku?" katanya.
Robbie menggeleng, "Tidak harus berciuman kan?" jawabnya dan tersenyum, senyuman yang sangat seksi.
Ternyata rasa rindu membuat seseorang menjadi seksi, aku mendapat pelajaran baru lagi disini. Aku sangat menikmati waktuku bersama Robbie, maksudku ketika nanti tiba waktunya, kami harus berpisah, akan sulit lagi seperti ini.
......................
"Ayo Dream. Cepatlah, waktu kita hanya 20 menit." sahut Kai.
Akhirnya hasil sidangku keluar, aku dinyatakan lulus dengan predikat terbaik, dan Kai menjemputku untuk kembali ke tahun waktuku, dan memulihkan kesehatanku. V akan menemaniku disana, yang menurut Kai, "Supaya kamu ada teman untuk berdebat kan, kalau dengan Bry kamu terlalu asik berdua, aku tidak begitu suka itu." katanya beralasan.
Tapi saat ini, aku masih menunggu kedatangan Robbie, "Tunggulah Kai, Robbieku belum datang. Dia sedang menuju kesini secepat yang dia bisa. Aku akan meninggalkan konektorku kepadanya." sahutku.
"Katakan saja kepadanya, kami akan menunggunya di ujung lorong waktu." sahut Kai lagi.
V membantuku menyiapkan segala keperluanku yang memang bisa dan harus dibawa, termasuk hadiah-hadiah dari Robbie.
__ADS_1
"Dream, akan kamu apakan bunga kering ini, hah?! Ayolah, ini hanya bunga yang sudah layu, untuk apa kamu simpan?" kata V dan tanpa perasaan membuangnya ke tempat sampah.
Aku menatap V kesal, dan dia balas menatapku, "Cinta tidak bisa diukur dari setangkai atau sebuket bunga. Mereka bisa mati, kalau cinta kalian kuat, maka cinta kalian tidak akan mudah mati. Percayalah!" sahutnya lagi.
V dan Kai akhirnya memaksaku untuk menuju ke lorong waktu, tapi Robbie belum muncul. Dimana dia? Ayolah Robbie...datanglah.
Para polisi satuan waktu, sudah keluar dan siap mengawal kami, airmataku mulai berjatuhan, "Tunggulah dulu, Kai. Tunggulah 10 menit lagi, beri aku tambahan waktu 10 menit lagi." pintaku terisak. V memandang Kai, dan Kai membisikkan sesuatu kepada salah seorang polisi satuan waktu itu untuk menunda waktu hingga 10 menit.
Ayo Robbie...cepatlah! Tepat 5 menit waktu tersisa, mobil Palisade Robbie datang, dia segera keluar dan berlari memelukku, "Maafkan aku karena terlambat datang. Oh, Luna, aku tidak pernah membayangkan hari ini akan datang." sahutnya, melepas pelukanku, dan menciumku lembut.
Ciumannya kali ini terasa asin, karena aku menangis dan airmataku seperti keran yang bocor, menetes terus., "Aku akan menemuimu disini setiap hari, Rob." sahutku.
Robbie mengangguk, "Datanglah, aku selalu menunggumu disini, tepat disini." katanya. Aku menyerahkan konektor Lyn, dan menjadikannya sebuah liontin pada seuntai kalung, aku pakaikan ke leher Robbie. Setelah itu, Kai sudah tidak dapat memperpanjang waktu lagi, "Dream, sudah saatnya." kata Kai.
Para polisi satuan waktu, melepaskan tanganku dari genggaman Robbie, dan mengawalku untuk masuk ke dalam pusaran waktu yang telah menunggu kami.
......................
**EPILOG
Robbie POV**
"Ikutlah, Rob!" bujuk V untuk kesekian kalinya.
"Aku mau, tapi aku tidak bisa bukan aku tidak mau!" tukasku kepadanya.
"Bagaimana kalian melanjutkan hubungan ini? Dream, bukan wanita yang mudah berpaling, dia akan menahan rindu dan sakit karena tidak bisa bertemu denganmu sesering saat ini!" timpal V.
Aku memukul meja dengan kepalan tanganku, aku sendiri masih bimbang dan tidak tau bagaimana melanjutkan hubungan ini.
"Sudah kukatakan, jangan pernah jatuh cinta kepadanya. Itu bukan ancaman, tapi memang kalau kamu tidak bisa bersamanya, jangan memulainya." sahut V.
"Berisik!! Aku yang memulainya, dan aku tidak akan mengakhirinya, V!! Camkan itu! Aku sayang Luna, melebihi diriku sendiri! Aku akan menemukan cara supaya kami tetap berhubungan, bagaimanapun caranya!!" tukasku kesal.
"Sampai kapan kalian akan berada di ujung lorong? Turunkanlah egomu, dan ikutlah bersamanya kalau kamu benar mencintainya!" sahut V lagi.
Aku terhenyak dan kehabisa kata-kata, aku tidak tau harus membalasnya apa lagi.
__ADS_1
"Aku akan membuat ini berhasil, V! Apapun caranya! Percayalah kepadaku! Tunggulah aku, dan sampaikan kepada Lunaku, untuk tidak berpaling dariku, karena aku akan membuat ini berhasil!" sahutku.
...----------------...