
PROLOG
KAI POV
"Apa yang terjadi padanya, Kai?" tanya Mark begitu kami mendarat di tahun waktu kami.
"Aku juga tidak tau, begitu mendarat dia sudah tidak sadarkan diri seperti ini." sahutku.
Mark memerintahkaku untuk segera menaikkan Dream yang tidak sadarkan diri ke dalam mobil terbang kenegaraan, mobil ini seperti mobil terbang yang lainnya, hanya mobil kenegaraan ini di lengkapi dengan peralatan medis untuk pertolongan pertama.
Begitu Dream di baringkan di kursi tengah, berbagai macam peralatan medis segera di keluarkan untuk menangani Dream.
"Bawa dia ke rumah, Kai. Aku sudah menyiapkan dokter untuk memeriksa kondisinya." sahut Mark. Aku mengangguk. Dan menerbangkan mobil kenegaraan ke arah rumah Mark.
Sesampainya disana, benar saja, seorang pria memakai baju hazmat lengkap, disertai dengan satu buah unit robot kecil yang terbang di sampingnya sudah menunggu. Begitu Dream di turunkan dari mobil, mereka sudah siap memeriksakan semuanya.
Si robot menyinari Dream dengan memakai alat semacam tablet dan dari layar tablet itu, nampaklah semua bagian dalam tubuh Dream, seperti jaringan otot, susunan tulang, jaringan saraf, hingga pembuluh darah. Begitu ada sesuatu yang tidak seharusnya, tablet itu merekamnya dan akan langsung terkirim ke konektor dokter, sehingga dokter tidak perlu menunggu lama untuk memberikan tindakan.
"Bakteri aneh yang melayang-layang di tubuhnya masih banyak, masih dalam masa penyembuhan?" tanya dokter itu.
"Iya, baru dua minggu yang lalu keluar dari rumah sakit." sahutku.
"Pengobatannya kuno sekali. Aku akan memberikan suntikan prebiotics kepadanya, dan ini akan langsung membunuh semua bakteri jahat di tubuhnya. Tapi tetap dia masih harus beristirahat, kira-kira 7 hari aku akan menemuinya kembali." sahut si dokter.
...----------------...
Dream POV
"Kai, bisakah aku menemui Robbie?" aku merengek kepada Kai yang sekarang ketat sekali menjagaku, padahal dia sebagai perdana mentri harusnya berada di tempatnya, kan? Bukan mengurusiku?
"Tunggulah sampai 7 hari, Dream." sahutnya, "Aku harus menemui mentri utama secara langsung, dan aku akan meminta V untuk menemanimu sementara. Nikamati saja waktumu." sahut Kai lagi.
Tak lama V datang, namun Kai sudah pergi sehingga mereka tidak bertemu.
"Bagaimana hari ini?" tanya V.
"Seperti biasa kan, ah aku ingin keluar, V. Ayolah ajak aku." sahutku berusaha membujuk V agar dia mau mengajakku keluar.
"Kalau keluar mungkin boleh tapi untuk menemui Robbie, maaf aku lebih baik menguncimu daripada harus menemuinya. Apa kamu mau sakit begini terus? Bersabarlah Dream." jawabnya lembut.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita berjalan-jalan." sahutku mengajaknya. V menganggukan kepalanya, dan membantuku untuk berdiri.
Aku meregangkan tubuhku, "Aku rasa bentukku akan pipih karena berbaring setiap waktu." sahutku.
V tertawa, "Apa kamu buta? Lihatlah depanmu, sudah aku katakan kepadamu, mereka membesar, tidak mungkin pipih, dan lihat bagian belakangmu, tidak ada yang pipih, Dream. Tenanglah, kamu indah di tempat yang tepat...hahahaha" canda V.
Aku memukulnya, "Jorok!" sahutku.
Kami berjalan-jalan mengitari rumahku saja, dia belum mengijinkanku untuk keluar rumah. Walaupun aku merasa sudah cukup kuat untuk melakukan itu, tapi tetap mereka tidak mengijinkanku.
"V, bagaimana kondisi Robbie disana yah? Apa dia merindukanku?" tanyaku.
V mengangkat bahunya, "Aku tidak tau, tapi pasti dia merindukanmu juga. Aku percaya itu." katanya meyakinkanku.
"Tapi, kenapa dia tidak menghubungiku?" aku bertanya lagi kepada V. Sudah 5 hari aku disini, tapi dia belum pernah menghubungiku sekalipun, padahal aku sudah memberikan konektor Lyn, dan menyambungkannya.
"Kamu tau, tidak semua orang nyaman dengan komunikasi seperti itu. Dengan kamu sebagai hologram dan bergerak seperti asli, itu tampak aneh bagi sebagian orang." kata V menjelaskan.
Kata-kata V ada benarnya, "Apakah mungkin dia menjawabnya andaikan aku menghubunginya lebih dulu?" aku bertanya lagi.
"Bisa saja, lakukanlah itu nanti malam, ketika dia senggang." jawab V tersenyum.
...----------------...
"Hai Robbie." sahutku, virtual Robbie masih belum begitu jelas, tapi sekitar dua menitan mulai tampak jelas Robbie. Malam ini Robbie tampak seksi dan keren, dengan memakai kaos oblong dan celana pendek selutut.
"Ha....Hai Lunaku...Oh, kamu ada di depanku. Tapi aneh sekali, aku tidak bisa menyentuhmu." sahutnya, Robbie tampak kagum sekaligus aneh.
"Hai... Aku jadi ingin menemani kamu tidur malam ini." godaku kepadanya.
Dia tertawa, "Bisakah seperti itu?" tanya Robbie.
"Bisa aja, kita akan bisa mengobrol semalaman, aku bisa menyentuhmu tapi kamu tidak, seperti ini.." sahutku, dan aku memegang pipinya dengan tangan kananku.
Robbie merasakannya, dan meletakkan kepalanya di tangan kananku, "Aku rindu sekali padamu, Luna. Mari kita bertemu di lorong waktu." sahut Robbie, "Pagi sebelum aku ke kantor dan sore setelah aku selesai kerja. Bagaimana dengan itu?" usulnya.
"Aku mau sekali!" sahutku kegirangan.
"Lebih baik, kamu berkunjung kesini, Rob." tiba-tiba V muncul dan bergabung bersama kami.
__ADS_1
Robbie menatap dengan kagum, "Bisa juga bersama-sama yah? Luar biasa sekali." katanya.
"Tentu saja bisa seperti ini. Bagaimana? Aku akan menjemputmu setelah Dream melakukan kontrol dokter lusa." sahut V.
Robbie menimbang-nimbang, "Baiklah akan aku coba seperti itu. Tapi ijinkanlah besok aku bertemu dengan Lunaku." pinta Robbie.
V berpikir, "Baiklah, tapi tidak lebih dari dua puluh menit." sahutnya.
Aku melompat dan memeluk V, "Benarkah? Benarkah kamu akan mengijinkanku menemui Robbieku? Terimakasih sekali V!!" sahutku.
Robbie berdeham, "Ehem... Luna, ada aku disini, dan demi Tuhan aku iri sekali pada V, dia bisa memelukmu." sahut Robbie dan berpura-pura menangis.
Keesokan harinya, V benar-benar menepati janjinya, dan mengantarku ke lorong waktu. Dengan berdebat dulu dengan Kai, "Apa yang terjadi kalau dia pingsan lagi, ah dan pagi ini aku harus bertemu dengan pimpinan dari negara lain!" katanya, "Jaga dia, awasi jangan sampai berciuman. Boleh ciuman tapi jangan terlalu lama, dan tolong jaga Dream." pinta Kai.
Aku menunggu Robbie di ujung lorong dengan pengawasan ketat, dan diikuti pula oleh satu unit robot yang memeriksaku saat itu, Kai yang menugaskannya. Aku berpikir, mana ada kencan dua puluh menit ditemani dengan sekompi pasukan polisi waktu, dan satu unit robot yang selalu siap mengarahkan tabletnya ke arahku? Luar biasa sekali.
"Luna...Lunaku!" Robbie keluar dari mobil dan menggendongku. Aku memeluknya dan merangkulkan kedua kakiku ke pinggangnya.
Robbie sudah siap menciumku, tapi aku mendengar V ber Ehem, dan Robbie membatalkannya. Alih-alih mencium bibirku, Robbie hanya mencium kening dan pipiku.
"I miss you, so bad, Luna." sahutnya, "bisakah aku membawamu ke mobil? Disini agak terlalu ramai dengan beberapa pasang mata menatap kita, aku jadi merasa seperti penjahat." sahut Robbie.
"V, aku ke mobil sebentar yah, tidak lebih dari dua puluh menit." janjiku.
V cemberut, "Kalau aku melihat mobilmu bergoyang, aku akan langsung menembak ban mobilmu, Rob!" ancam V.
Robbie tersenyum dan menggandengku ke mobilnya, "Akhirnya kita berdua saja." katanya.
Aku menghabiskan waktu dengan Robbie di mobil, dia bertanya bagaimana kondisiku, dan bercerita tentang Jean dan Jeannette yang sekarang punya teman, dan bagaimana mereka menanyakan keberadaanku.
"Mereka kehilanganmu, Lun. Begitu juga denganku." sahutnya.
"Aku juga merasakan hal yang sama, tapi menurut dokter, aku tidak bisa menetap disini. Aku bingung." sahutku.
Lima belas menit berlalu begitu cepat, dan V mengetuk pintu mobil.
"Aku harus pergi, sampai nanti malam." ucapku, dan mencium Robbie lembut.
Lima belas menit yang sangat berharga untukku. Entah aku bertahan berapa lama dalam situasi seperti ini, haruskah aku kembali kesini? Dengan sesekali kembalinke tahun waktuku hanya untuk mengontrol kesehatanku? Entahlah, aku harus menggantikan posisi Kai juga kan? Aku tidak bisa lari dari tanggung jawabku.
__ADS_1