
Sarah Eddison, wanita yang cantik bermata hijau seperti air danau, yang ternyata sepupu jauh Vm Aku terpana kepadanya saat pertama kali dia berjalan masuk menemui kami, dia terlihat seperti penyihir cantik yang mampu menyihir semua orang untuk menatapnya.
"Jadi, kalian membutuhkan bantuanku untuk memproses pemindahan tanganan saham? Perwakilan dari pemilik saham ada?" tanyanya.
"I...itu belum ada." sahutku terbata-bata.
Dia mengerutkan dahinya, "Kenapa belum ada? Volt, bagaimana?" tanyanya.
"Dia berada di Jerman, Sar. Mungkin Dream bisa menghubunginya lewat virtual meeting?" tanya V.
Aku mencobanya, pertama aku mengirimkan pesan kepadanya, "Ini Dream, tolong angkat ponselmu, kami mau bertanya siapa perwakilan dari pihakmu, Quin?" tulisku.
Katena tidak kunjung di balas, aku menghubunginya, dan kemudian dia mengangkat, kami berhasil tersambung dengannya.
Quincy menyapa kaki satu per satu, giliran sampai pada Robbie, dia memalingkan wajahnya, tidak mau memandangnya.
"Saya ingin ini agar cepat selesai, tidak berbelit-belit, usaha Luna Dream beserta teman-temannya sudah cukup meyakinkan saya bahwa mereka bersungguh-sungguh untuk mengurus anak saya. Maka dari itu, saya dengan ini memberikan klarifikasi, bahwa saham atas nama Jean dan Jeannete akan saya pindahkan menjadi atas nama Robbie Stans. Untuk tanda tangannya, Luna Dream bisa mewakili saya, dan Voltaire bisa menjadi saksi." sahut Quincy.
"Okei, baiklah kalau begitu. Berarti anda dalam keadaan sadar dan tidak berada di bawah paksaan atau ancaman bersedia memindahtangankan saham atas nama Jean Jeannette kepada Robbie Stans." kata Sarah, dan mulai mengetik di laptopnya.
"Maaf, Sarah, berapa lama prosesnya?" tanyaku.
"Satu tahun kah?" tanyaku, dia menaikkan tangannya, "naik terus...naik lagi." jawabnya.
Setelah itu dia tertawa, "That was a joke, honey. Ini akan memakan waktu sekitar 30 hari kerja. Jadi bersabarlah." sahut Sarah.
Aku mengangguk, "Baiklah, terimakasih Sarah." sahutku.
"Aku memerlukan tanda tanganmu, dan tanda tangan Robbie. Dan saksi, Volt i need you." katanya centil ke arah V.
V tersenyum menanggapi candaannya, "Habis ini apakah ada rencana Volt? Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu sebentar?" tanya Sarah.
Aku berpura-pura batuk, "Uhukkk....!!"
"Aku tidak ada acara sih, boleh, sudah lama juga kita tidak berbincang-bincang yah? Mau dimana?" jawab V menanggapi.
"Uhhuuukkk..."
"Oke, seselesainya ini, oke? Ini tidak akan memakan waktu lama." jawab Sarah.
Tidak ada yang mendengarku, jadi aku menempeli V dan batuk dengan sangat keras, "Uuuhhhuhkkk..uueeekkkhhh...!!!"
V memandangku sebentar, menepuk punggungku, dan berbicara lagi dengan Sarah. Aaarrggghhh, aku kesal!
"V..." sahutku sambil memegang ujung baju V.
Ternyata Robbie yang memperhatikanku, jadi aku akan mempergunakan Robbie untuk membuat V melihat ke arahku, "Hai, Rob." sapaku.
__ADS_1
"Hai, anak kecil." jawabnya sambil tersenyum menggoda.
"Pacarmu ternyata menyukai yang dewasa bukan yang seperti anak kecil." katanya, senyumannya semakin lebar.
Aku memberutkan bibirku, dan pergi meninggalkan dia, tapi Robbie menarik tanganku, dan aku jatuh ke pangkuannya, "Aku selalu melihatmu, Luna." katanya.
V melihatku yang sedang bertatapan dengan Robbie, "Maaf, ayo Dream." sahut V. Dia menggandengku, bukan untuk pergi, tapi hanya untuk kembali berbincang-bincang dengan Sarah. Aku berusaha melepaskan gandengan tangannya, "sebentar lagi." bisiknya.
Kali ini, Derrick bergabung bersama kami, jadilah mereka bertiga semakin seru mengobrol, dan aku seperti seekor kutu caplak yang menempel di badan V.
Robbie melepaskan tanganku dari V, dan menarikku keluar dari sana, V mengejarku, "Dream! Robbie, kembalilah!" pekik V.
Robbie memojokkanku ke dinding luar kafe, dan dia menciumku, "Hiduplah bersamaku, Luna Dream." pintanya.
V datang, dan...
Buuukkkk!!
"Apa yang kamu lakukan, Rob?!" bentaknya.
"Aku mencurinya darimu, aku perhatikan kamu sangat fokus kepada notaris cantik itu." jawab Robbie, membersihkan darah dari ujung bibirnya, dan...
Buuukkkk!!
Dia membalas pukulan V. Aku memekik, "V!!" sahutku dan membantu V yang tersungkur.
Derrick, Sarah, dan pengacara Robbie bergegas keluar begitu mendengar suara keributan yang kami timbulkan.
Sarah menggandeng tangan V, "Volt, kamu baik-baik saja?" tanya Sarah dan menarik tangan V menjauh. Aku berlari kecil, mengikuti mereka dari belakang.
Sarah melihatku, "Kamu pacar Robbie atau Volt?" sahutnya ketus, "Aku melihatmu berciuman dengan Robbie, dan sekarang mengikuti kami!" tukas Sarah, dan mendorongku. Kemudian menarik tangan V yang tidak menyadari aku terjatuh karena dia menahan sakit akibat pukulan dari Robbie.
Aku menahan tangisku, Robbie datang berlari mendekatiku, "Kamu baik-baik saja, Luna?" tanyanya. Dan membantuku berdiri.
Derrick juga menghampiriku, "Apa yang terjadi pada kalian?" tanyanya, "Dengar, pertemuan hari ini bisa dikatakan berhasil, semua dokumen yang sudah di tanda tangani akan aku serahkan kepada notaris perusahaan Robbie untuk di proses, dan Robbie nantinya harus membayar sejumlah uang, karena dia sama saja dengan membeli saham Jean dan Jeannete, bagaimana Rob?" tanya Derrick.
Robbie mengangguk, "aku siap." jawabnya.
Setelah Derrick pergi, Robbie menggendongku di belakang punggungnya, dan mengajakku ke rumahnya. Aku menyetujuinya, karena aku juga harus menunggu Voltaire bodoh itu!
Sesampainya kami di rumah Robbie, Jean dan Jeannete berlarian memelukku, "Luna....Luna...!!" kata mereka.
Robbie tersenyum melihatnya, "Masuklah." katanya mempersilahkanku masuk ke dalam kamarnya. Kamar sejuta wanita, dia mengajak Billie, mengajakku, mengajak wanita yang saat itu bersamanya, wanita yang aku temui di kamar ini juga, luar biasa sekali kamar ini, saksi bisu perjalanan cinta Robbie.
"Aku ingin bertanya, apa yang terjadi dengan kita, dan apa alasanmu untuk mengambil has asuh anak-anakku?" tanya Robbie.
"Aku dulu pernah merasakan disitu bersamamu," sahutku, "karena kita pernah melakukan hubungan yang spesial menurutku, jadi suatu hari aku yang melamarmu, dan memintamu, tapi kamu menolaknya." jawabku.
__ADS_1
Robbie memandangku dengan matanya yang tajam, "Benarkah kita pernah melakukan sejauh itu? Seberapa bodoh diriku dulu, sehingga menolakmu?" tanya Robbie.
Aku tersenyum, "Cukup bodoh sampai kamu menghianatiku dan bermain bersama wanita lain." jawabku.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat satu moment pun yang pernah kita lakukan?" tanyanya bingung.
Aku mengangkat bahuku, "Entahlah, mungkin menurutmu aku tidak penting. Saat itu, aku lelah mengejarmu, sampai pada akhirnya aku terjatuh. Dan aku bisa berpikir, untuk apa mengejar kamu yang tidak mau kukejar, untuk apa aku menggapai kamu yang terus menjauh dan tidak mau kugapai, jadi perlahan aku melepasmu." jawabku.
Robbie tertunduk, dan aku melanjutkan jawabanku, "Jean dan Jeannete adalah aku waktu kecil. Orangtuaku terlalu sibuk, jadi aku bermain hanya dengan ibu temanku dan temanku itu. Pertama kali melihat mereka, aku tau apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka butuhkan, jadi aku mengisi kekosongan di hati mereka. Jujur saja, alasanku menikahimu saat itu, supaya aku bisa memiliki anak-anakmu. Aku menyukai mereka, dan aku ingin mereka tidak kesepian lagi. Beruntungnya, mereka punya satu sama lain, jadi tidak separah aku dulu." sahutku.
"Mengenai pria bernama V itu, apa dia calon suamimu?" tanya Robbie.
Aku kembali mengangkat kedua bahuku, "Tapi dia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkanku, dia selalu berada di sisiku saat aku susah, atau kesepian. Dia berhasil meluluhkan hatiku, Rob." jawabku lagi.
Robbie tersenyum, "Jadi itu suatu kesalahan aku menciummu tadi?" tanya Robbie.
"Tentu saja." sahutku. Robbie menggenggam tanganku, "Andaikan, aku selalu berandai-andai, waktu bisa diputar ke waktu pertama kali aku bertemu denganmu, aku rasa aku akan mempertahankanmu, Luna. Aku tidak akan melepasmu." katanya.
Aku melepaskan tanganku, dan mengedikkan bahuku, "aku tidak pernah berandai-andai." sahutku singkat.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Dimana Dream?!" sahutku, "dan ini dimana? Apa yang akan kamu lakukan,Sar?" tanyaku. Dia membawaku ke hotel, dan sekarang kami hanya berdua di kamar hotel.
"Kamu sempat pingsan tadi." jawabnya, "Dream? Wanita mungil itu? Aku memintanya untuk tidak mengikuti kita." sahutnya dengan enteng.
"Dengar, Sarah. Dream calon istriku, dia mantan sekaligus calon istriku, jadi...."
"Bagaimana maksudmu? Mantan dan calon?" tanya Sarah bingung.
"Hanya kami berdua yang paham maksudnya, yang jelas aku tidak mau kamu menyakitinya." sahutku.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Sarah lagi.
"Sangat. Aku sangat mencintainya, dia merubah hidupku. Dari yang tidak punya tujuan, sekarang aku punya tujuan, dari yang tidak percaya cinta, sekarang aku percaya dan mengerti apa arti cinta sejati. Dream memberikan warna dalam hidupku, Sar." sahutku.
"Sewaktu dengan Bryanna, kamu tidak seserius ini." protes Sarah kepadaku.
"Karena Bry juga bermain di belakangku, tapi sekarang dia menjadi pribadi yang lebih baik, dan Dream sangat berperan penting atas perubahannya. Begitu pula dengan hidupku. Aku tidak mau menjadikanmu seperti cadanganku, karena aku hanya mau Dream di hidupku. Jadi, kumohon, jangan sakiti dia, biarkan dia mengikutiku, karena aku senang sekali jika dia mengikutiku." sahutku, "Sampai jumpa lagi, Sarah. Semoga kamu berbahagia." tambahku.
Dan aku bergegas keluar dari hotel itu, dan menjemput Dream, wanita kesayanganku.
...****************...
__ADS_1