
Aku menarik tangan V untuk masuk ke dalam ruangan kerjaku, "Kamu sedang apa disini?" tanyaku kepadanya.
"Aku sudah mengetahuinya Dream, aku sudah tau kemana hatiku, itu ke kamu, dan selalu kamu" jawab V. Aku bingung menanggapinya. Aku lelah, dan otakku tidak dapat bekerja secara maksimal saat ini.
"Hubungkan aku kepada ibu Kai" sahutku kepada Lyn.
"Ya, nona Dream" jawab ibu Kai dalam tampilan virtual hologram di depanku.
"Bu, tolong siapkan kamar untuk Tuan Voltaire, malam ini beliau akan menginap" sahutku.
"Tu--tuan Voltaire?" katanya, "baik nona, baik, akan saya siapkan" jawabnya. Aku mengangguk dan berterima kasih kepadanya. Setelah berbicara dengan ibu Kai, aku menatap V, "Malam ini tidurlah di rumah, kita bicara disana, tunggulah disini sampai aku selesai bekerja" sahutku.
V menangkap pergelangan tanganku, "Dream, terima kasih" katanya. Aku membalas tatapannya dan tersenyum.
Kai sudah menungguku di depan pintu, dan menarik tanganku ke ruangannya, persis seperti yang aku lakukan terhadap V tadi.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Kai. Aku mengangkat bahuku, "Aku juga belum tau, aku meminta dia untuk menunggu di ruanganku, dan kami akan membahasnya di rumah" jawabku.
Kai nampak khawatir. Aku menenangkannya, "Tenanglah, dia akan baik-baik saja" sahutku.
"Bukan tentang dia" sanggah Kai, "ini tentangku dan tentangmu, tentang kita" jawabnya lagi. Sekarang Kai nampak bingung dan gugup, "Apa kamu masih mencintainya, Dream?" tanya Kai. Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak. Rasa sakitku sudah aku kubur jauh di dalam sana" jawabku.
Kai nampak puas dengan jawabanku, "Kalau ada seseorang yang mengungkapkan perasaannya kepadamu, apa kamu akan menerimanya?" tanya Kai lagi. Aku tertawa, "Kamu kan tau Kai, aku sudah tidak bisa menikah lagi dengan siapapun disini, siapa yang akan mengungkapkan perasaannya kepadaku?" tanyaku lagi. Itu benar, karena aku pernah melakukan pembatalan pernikahan jadi aku tidak bisa dan tidak diijinkan untuk menikah lagi, begitulah, jadi aku pikir, untuk apa aku meletakkan hatiku untuk seseorang kalau aku tidak bisa memilikinya?
"Aku! Aku yang akan mengungkapkan perasaanku kepadamu!" sahut Kai. Aku tertawa..."Hahahaha...Kai, sepertinya kita benar-benar butuh waktu untuk berlibur" jawabku.
"Aku serius Dream" sahutnya. Aku memandang ke balik mata birunya, dan dia menatapku tajam, "Sejak kapan?" tanyaku.
"Sejak dulu, tapi begitu kamu menikah, rasa itu hilang, dan entah sejak kapan lagi, rasa itu membesar kembali Dream" jawabnya.
__ADS_1
"Aku pernah menganggapmu manis, saat kamu memakai kacamatamu, tapi aku tidak tau bagaimana perasaanku, ketika kamu mencium keningku, tidak ada debaran, Kai" jawabku. Dan aku akui, aku pernah merasakannya, tapi hanya sebatas itu, "Biarkan aku menerimamu hanya sebagai temanku Kai" sahutku lagi. Kai tersenyum, mata biru cemerlangnya berpendar-pendar, "Sampai sepuluh ribu malam pun, aku ijinkan Dream" jawabny, dia mendekatiku, dan wajahnya hanya semeter dari wajahku, aku bahkan bisa mendengar setiap helai nafasnya, deg....deg...deg...deg...
"K---Kai..." sahutku, memundurkan tubuhku, tapi Kai terus mengikutiku dan terus mendesak maju. Dan ketika bibirnya menyentuh bibirku, ada rasa hangat di dalamnya. Setelah melepasku, Kai tersenyum, "Itu ciuman pertama dan terakhirku untuk kamu, Dream" sahutnya, dan kemudian Kai pergi meninggalkan ruangannya. Aku merasakan panas yang dengan cepat menjalar ke wajahku. Aku tidak berani menatap matanya, bahkan untuk mengangkat wajahku pun, aku tidak sanggup.
...----------------...
Malam itu, aku berdiskusi dengan V, mengapa dia bisa sampai sini dan apa yang ia lakukan disini.
"Sudah kukatakan, aku ingin menemuimu, Dream, dan memulainya dari awal bersama kamu" jawabnya. Aku menatapnya, "Kenapa harus seperti itu? Bersikaplah seperti saat awal kita bertemu, aku rasa itu akan menyenangkan" sahutku.
"Tapi aku tidak bisa menunggu." sahutnya lagi.
"Kenapa?" tanyaku
"Karena, aku tidak mau membuang kesempatan ini, dan aku tidak mau kehilangan kamu lagi" jawab V. Dan aku hanya bisa menghelas nafas.
V memandangku, "Itu hak kamu, Dream, tapi aku ingin berjuang untukmu saat ini" sahutnya.
"Kamu tau, aku tidak memikirkan cinta-cintaan lagi setelah pembatalan pernikahan, dan aku bersyukur, orangtuaku juga tidak memaksaku untuk mencoba mengikuti tes kecocokan 100% itu. Kalau kamu mau mencobanya, silahkan" sahutku, menawarkan ide putus asaku kepadanya. Karena memang aku sedang tidak memikirkan ke arah itu.
V tersenyum, "baiklah, aku akan mencobanya, tapi denganmu, Dream" sahutnya lagi. Aku menertawakan idenya, "Hahahaha... tidak, terima kasih, Istirahatlah V, dan pikirkan baik-baik tujuanmu kesini, atau aku yang akan mengusirmu dan memulangkanmu ke tahun waktumu" sahutku kepadanya. Aku menutup pintu kamar V dan kembali ke ruanganku. Mau pecah rasanya kepalaku, biasanya di saat seperti ini aku bisa memanggil Kai, tapi sekarang, aku tidak bisa. Mau memanggil Bry, tapi aku tidak enak kepadanya. Aku mengambil pil lonjong berwarna pink, dan meminumnya, aku akan tidur malam ini, dan membiarkan waktu yang bergerak untuk membereskannya.
...----------------...
Keesokan paginya, aku merasa ada sesuatu yang berat di atasku, "Selamat pagi" sahutnya. Bibirnya yang lembut menyapa bibirku. Suara yang sangat aku kenal, seperti suara Voltaire... what??!!
"V?! Kamu sedang apa??!!!" sahutku, setengah berteriak. Dia tersenyum, "Kamu memintaku untuk kembali seperti kita sebelum menikah, seperti ini kan?" jawabnya sambil nyengir. Masih berada di atasku.
"Ta--tapi bukan seperti ini juga kan?" tanyaku. V semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.
__ADS_1
" Aku hanya ingin tau, apa kamu masih punya debaran yang sama untukku?" tanyanya. Dan sebelum aku bisa menjawabnya, V membuat debaran jantungku aktif kembali. Dia menyapukan bibirnya dengan bibirku, aku tak kuasa menolaknya, dan tanpa sadar, aku sudah mengalungkan lenganku di lehernya. V menciumku semakin dalam, sekali lagi, aku merasakan detak jantungku berirama kembali.
"Ah ternyata kamu masih berdebar untukku, Dream" katanya, dan kemudian V melanjutkan ciumannya lagi.
"V...." aku memanggil namanya, saat V asik bermain di leherku. V kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum, "Panggil namaku dengan baik, dan benar, maka aku akan menghentikan semuanya" jawabnya, dan kembali menyapukan bibirnya disana. Sulit sekali untuk memanggil namanya, atau aku yang tidak mau menghentikannya. Bosan bermain disitu, V menyusuri bawah leher, dan aku hanya bisa mengerang saat bibir dan lidahnya bekerja disana, "V...Vol.." sahutku. V kembali mengangkat wajahnya, "Ya...ucapkan dengan benar, Dream, maka aku akan berhenti" aku mendengar jawabannya. Kemudian, aku mengangkat wajahnya, sehingga aku dapat menatap matanya, bahkan aku tidak mempercayai diriku sendiri saat mengucapkannya, "V, jangan berhenti. Lakukanlah denganku selama seribu malam, dan seribu malamnya lagi" sahutku. V menatapku, dan tersenyum, "Ayo kita menikah" sahutnya. Dan memulai segalanya kembali dari awal.
...----------------...
EPILOG
V POV
"Untuk apa kamu kesini lagi?" tanya Kai kepadaku.
"Menikahinya" jawabku lantang.
"Dulu kamu bisa menikah dengannya karena misi untuk menyelamatkanmu, aku mengikhlaskan kalian menikah, namun, karena kamu pernah menyakitinya, saat ini, aku tidak akan pernah memberikan ijinku lagi untukmu, V" Kai menjabarkan jawabannya kepadaku. Aku mengerti perasaannya.
"Kamu masih menyukainya?" aku bertanya padanya, dan Kai mengangguk, "selalu"
"Bisa kita bersaing untuk mendapatkannya?" aku menantang Kai kali ini.
"Kalau itu yang kamu mau!" jawabnya, dan mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku membalasnya.
"Skor saat ini sepertinya aku lebih unggul" aku menjawab dengan senyum kemenangan terlukis jelas di wajahku.
"Kita lihat nanti" jawab Kai.
...----------------...
__ADS_1