
"Bagaimana Dream, berhasilkan misi kita tadi malam?" tanya Chaim saat aku bertemu dengannya lagi di keesokan hari.
"Iya berhasil Chaim, aku berhasil malu" jawabku, "Kamu membodohiku Chaim!" seruku lagi. Aku menceritakan apa yang terjadi kemarin malam kepada Chaim, dan dia tertawa setelah mendengar ceritaku.
"Itu kamu yang bodoh, Dream, bukan aku yang membodohimu...hahahahaha" sahutnya lagi. Sudahlah, aku kesal padanya!
"Kamu punya rencana cadangan?" tanya Chaim lagi kepadaku. Aku menggeleng, Chaim kemudian memberikanku ide, "Bagaimana, kalau kamu belajar masak saja? V itu kepala chef, pasti dia akan terpikat kalau kamu pintar memasak." sahutnya lagi. Aku berpikir, "Wah, kamu pintar Chaim, dimana aku harus belajar? Memotong wortel saja, aku tidak bisa" sahutku sedih. Tapi Chaim menepuk pundakku, "Berlatihlah, aku akan mengajarimu pelan-pelan" katanya. Aku mengangguk setuju, "Hari minggu adalah hari ulang tahun V, masaklah untuknya" sahut Chaim lagi.
"Benarkah? Apa yang dia sukai?" tanyaku. Chaim mengangkat bahunya, "Entahlah, semua dia suka, makanan barat, makanan timur, makanan lokal" katanya lagi.
Baiklah, aku akan berusaha sekuat tenagaku!
"Terimakasih ya Chaim. Aku rasa kamu ada di pihakku dan akan mendukungku daripada Bryanna itu." sahutku. Chaim menggeleng, "No, aku hanya penasaran, siapa yang dicintai oleh V? Kamu atau Bry?" jawab Chaim
...----------------...
Selama hari itu, aku belajar masak dengan Chaim. Dia mengajariku mengupas bawang (anehnya, berakhir dengan aku menangis karena mataku pedih, dan airmataku berlinang), mengupas wortel dan kentang (sekarang aku sudah tidak sampai habis mengupasnya), dan aku belajar memotong sayuran juga, memberikan mereka bumbu-bumbu, dan menghiasnya dengan indah saat di sajikan.
Hari minggu pun tiba, aku membeli kue tart untuk V dengan di temani oleh Chaim. Aku pun membuat hidangan ulang tahun untuk V, aku tidak tahu nama-namanya, tapi Chaim memberitahuku. Ada mie ulang tahun, sup buntut, dan lain-lain. Segalanya aku buat dan kusiapkan sendiri. Aku menunggu V pulang sambil menyiapkan lilin ulang tahun yang sudah aku tancapkan di atas kue ulang tahunnya. Aku memakai baju baru yang kubeli dengan uang bayaranku saat bekerja. Senangnya hatiku, aku membayangkan ketika V pukang, kami akan meniup lilin, menyanyikan lagu ulang tahun, makan bersama, setelah itu mungkin kami akan berciuman...aahh..tidak...tidak, aku menyadarkan diriku sendiri. Apa V masih lama pulangnya? Biasanya sudah sampai rumah, apa yang sedang ia kerjakan? Atau ada pekerjaan mendadak? Tidak masalah untukku, aku akan tetap menunggunya. Aku kembali melirik jam, sudah malam, tapi V belum muncul, apa kususul aja di tempat kerjanya? Ah tapi nanti tidak jadi surprise kan? Atau... aah aku bingung.
Kue ulang tahunnya pun mulai meleleh, aku memasukkannya ke dalam kulkas, aku akan tetap menunggunya disini saja. Malam semakin larut, tapi V belum pulang juga, dan aku mengantuk. Aku meletakkan kepalaku di atas kedua tanganku, dan tidak sengaja tertidur.
__ADS_1
"Dream..hei bangunlah" sayup-sayup aku mendengar suara V membangunkanku. Aku menguap dan meregangkan badanku, dan kulihat V di depanku, baru saja aku mau tersenyum dan menyapanya, tapi ternyata V tidak sendiri, dia bersama Bry.
"Kamu darimana V?" tanyaku, sambil menguap.
"Ah, aku habis makan malam bersama Bry. Tidurlah Dream, kamu sepertinya lelah sekali" sahutnya. Aku terkejut mendengar jawabannya, aku memasak dan menyiapkan segalanya untuknya, tapi dia malah bermain bersama Bry, semua usahaku sia-sia.
"Kenapa kamu makan bersamanya tanpa memberitahuku?" tanyaku, kesal...tahan Dream... jangan menangis, kuatkan hatimu, tatap matanya, dan buat dia merasa bersalah... Aku sekuat tenaga menahan airmataku, dan aku menguatkan suaraku.
"Ini ulangtahunnya Dream, hari ini ulang tahun V" Bry yang menjawabnya untukku. Aku melihat jam, masih ada waktu sebelum pergantian hari. Aku menuju kulkas, dan kukeluarkan kue ulang tahun yang telah aku beli bersama Chaim. "Aku tahu, aku menunggumu untuk memberikanmu ini" sahutku, menancapkan kembali lilin angka yang tadi telah kulepaskan, dan kunyalakan lilinnya. Aku membiarkan lilinnya tetap menyala, "dan kamu tau V, aku bahkan memasak untukmu!" sahutku, kuperlihatkan jari-jariku yang luka terkena pisau saat memasak. Aku memberikan kue ulang tahun kepada V, memintanya untuk meniup lilinnya, "Selamat ulang tahun V" sahutku, dan bergegas masuk ke kamar. Aku tumpahkan semua kekesalanku, dan airmataku. Aku benci V!
...----------------...
V mengetuk pintu kamarku pada esok harinya, "Dream, aku masuk yah" sahutnya. Aku tidak menyahut. Kemudian V muncul, dan mendekatiku.
"Oh, dia sudah bekerja" jawabnya. Aku mengangguk. Dan V kembali menatapku, "Aku benar-benar minta maaf padamu Dream, aku merasa bersalah sekali kepadamu. Maafkan aku" katanya, "dan terimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku" sahutnya lagi. Aku tersenyum memandangnya, aku bisa merasakan ketulusan di setiap kata-katanya.
"Selamat ulang tahun V" sahutku lagi. Dia menciumku, lembut sekali, "Kamu salah V, harusnya aku yang memberikanmu hadiah, tolong terima aku" sahutku, dan aku menciumnya, sama seperti awal dia menciumku. Dan V membalasnya dengan lembut, ciuman kami semakin mendalam, aku memejamkan mataku untuk menikmati setiap detik di saat ini. Setelah dia melepaskan ciumannya, V tidak berhenti disana, dia melanjutkannya kembali di semua area di tubuhku. Di pikiran dan di hatiku hanya ada satu nama, Voltaire, "Apakah aku harus memanggil namamu lagi?" tanyaku sambil menahan *******.
"Apa kamu ingin mengakhiri ini?" tanyanya, mengangkat kepalanya sebentar dan melanjutkan kembali permainannya di bawah sana, aku menggeleng, "tidak" sahutku malu.
Sejak kejadian hari itu, sikap V kepadaku manis sekali. Hingga pada suatu hari, Bry datang ke rumah, dan tiba-tiba dia menamparku.
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada V?! Kamu kan tau dia tunanganku" cecarnya kepadaku. Aku memegang pipiku yang memanas karena tamparannya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi kenapa Bry marah kepadaku?
"Apa maksud kamu Bry? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, dan kamu datang, tiba-tiba menamparku?" tanyaku, hatiku sakit sekali. Lebih sakit daripada pipiku yang di tamparnya.
"Kamu melakukan apa dengan V?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak melakukan apapun!" sahutku.
"V tidak menyentuhku sama sekali saat hari ulang tahunnya, dan semenjak hari itu, dia juga tidak pernah menciumku, dan aku berpikir, apa ini ada hubungannya denganmu." katanya, sekarang nada suaranya melemah, dan terdengar ingin menangis.
"Aku benar-benar tidak tau kenapa V seperti itu kepadamu, apakah hubunganmu dengan V sudah sejauh itu?" tanyaku lagi, aku berpikir, apa yang V pikirkan tentang diriku.
Tak lama kemudian, V datang, dia menatapku dan Bry bergantian, "Aku bisa jelaskan semuanya kepadamu, Bry" sahut V. Aku masuk ke dalam kamar. Dan aku bisa mendengar, apa yang mereka bicarakan. Ada 1 ucapan V yang membuatku sangat sakit. Aku mendengarnya, "Bry, dia cuma seorang anak kecil Bry, tolong dipahami." itu yang dikatakan V. Aku menutup kupingku, dan membenamkan diriku kembali di dalam selimut.
**EPILOG
V POV**
"V, happy birthday" sahut Bry kepadaku. Hari ini hari ulang tahunku, dan aku sedang merayakannya bersama Bry, kekasihku. .Aku tersenyum memandangnya, "Thank you Bry" sahutku. Bry kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan menciumku, ada yang aneh, kenapa rasanya asing? pikirku. Aku membalas ciumannya dengan singkat. Setelah makan malam, Bry memintaku untuk mengajaknya ke rumahku, menurutku itu tidak masalah. Akhirnya aku mengajak Bry ke rumahku dulu sebelum aku mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah, aku melihat Dream tertidur di atas meja makan, tangannya terlipat, namun saat kuperhatikan, Dream menggenggam sebuah pemantik api, ada apa lagi dengannya. Dan aku melihat ke sekeliling dapurku yang berantakan, sampah sayuran dimana-mana, belum lagi potongan sayuran yang berjatuhan di lantai, belum dibersihkan. Aku membangunkankunya, dan dia bertanya, "Kamu darimana?" aku ingin menjawabnya, namun Bry sudah menjawabnya untukku. Sekali lagi, aku dibuat terkejut olehnya, ternyata sumber segala huru-hara yang terjadi dapur adalah Dream. Malam itu aku sangat merasa bersalah kepada Dream, hingga Bry marah kepadaku.
"V kamu kenapa sih?" tukas Bry, ketika aku tidak merespon saat dia berusaha menciumku.
__ADS_1
"Aku ngga mau Bry, aku agak sedikit lelah malam ini." jawabku. Bry memberengut kesal. Entah kenapa malam ini, untuk pertama kalinya aku peduli tentang perasaan Dream kepadaku. Esok harinya, aku mengetuk pintu kamarnya untuk meminta maaf, dia mengijinkanku masuk, dan aku melihat matanya yang sembap, perasaan bersalahku semakin memuncak. Dan ketika dia memaafkanku, segunung rasa sayang merekah di hatiku, dan aku tidak bisa menahannya lagi.