Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Music of My Heart


__ADS_3

Aku mengantar Kai sampai di ujung lorong waktu. Aku memeluknya, dan dia berpesan kepadaku, "Aku tau kamu punya dua pilihan, cepat atau lambat, Robbie akan segera mengisi hatimu, Dream. Pilihlah yang terbaik untukmu, aku tidak bilang Voltaire bukan yang terbaik, silahkan mencari hingga saat itu tiba." pesannya kepadaku.


"Apa yang kamu katakan, Kai? Aku tidak mengerti." sahutku.


Kai hanya tersenyum, "Kamu tidak perlu mengerti, hanya ikuti saja suara hatimu, ketika kamu menemukan orang yang tepat, jantungmu tidak hanya berdebar, tapi akan memainkan musik juga." sahutnya.


Aku memegang jantungku, "Sekarang hanya ada musik kesedihan karena kamu akan pergi, Kai." sahutku lagi.


Kai tertawa, dan beralih kepada V, "Jaga Dream selama aku tidak ada. Mungkin aku akan jarang sekali menghubungi kalian, karena pasti disana akan kacau sekali." sahutnya. Dan tak lama, Kai di jemput oleh petugas satuan waktu, dan menghilang dari pandangan kami.


...----------------...


"Sepi sekali tidak ada Kai disini. Apa yang akan kita lakukan, V?" aku bertanya kepada V. Kai selalu cerewet, dia seperti mamaku, menasehatiku ini dan itu, melarangku tidak boleh begini atau begitu, menyiapkan segala keperluanku... Ah, Kai dan kenapa juga aku tidak bisa ikut bersamanya? Disana rumahku, bukan disini.


"Masih ada aku Dream. Kita bisa bersenang-senang disini, kita bisa jalan sampai malam tanpa ada yang mengomeli...hahahaha, ayolah, bergembiralah sedikit." sahut V.


Aku menatapnya, dan tertunduk lemas, "Mana bisa seperti itu kan? Tetap saja aku ingin pulang." sahutku.


V mendekatiku, duduk di sampingku dan memegang tanganku, "Aku tau, Dream. Suatu hari nanti, kamu akan pulang bersamaku." sahut V.


Aku memandangnya lagi, "Terimakasih V." sahutku. V memelukku, dan menenangkanku.


Karena Kai berangkat sepagi mungkin, kami tidak sempat membuatkannya sarapan. Jadi pagi ini V membuatkan sarapan hanya untuk berdua. Biasanya, Kai akan selalu mengoceh, "V, jangan terlalu asin!" atau, "Buatkan untuk Dream sedikit lebih banyak." Aku sudah rindu ocehannya itu.


"Makanlah Dream, setelah itu aku akan mengantarmu ke Robbie. Atau bagaimana jika kamu berhenti bekerja saja?" ucap V sambil memberikan sereal overnight, dan telur orak arik cantik ke depanku. Aku menyendoknya sesuap, "Aku tidak mau, aku harus sibuk dan belajar mengatur waktuku." sahutku sambil mengunyah, "Aku harus menggantikan posisi papa tahun depan. Jabatan sementara Kai hanya satu periode, dan aku tidak boleh datang saat pelantikan, padahal aku ingin sekali." sahutku.


"Baiklah, aku hanya menyarankan saja. Atau kamu bisa bekerja denganku, apa kamu mau?" tanya V lagi.


"Ada apa antara kamu dan Robbie? Robbie cukup menyenangkan kok setelah hampir satu tahun aku mengenalnya." sahutku lagi.


Dan itu memang benar. Awalnya aku benci kepadanya, dia selalu melemparkan sesuatu kepadaku, selalu berteriak, selalu memaksa, tapi ketika aku tau kenapa dia seperti itu, aku jadi memberikan simpatiku kepadanya. Dan pada akhirnya kami menjadi teman baik.


"Aku hanya tidak suka kepadanya, maksudku aku takut kamu menyukainya atau dia menyukaimu. Karena pasti kalian akan sering menghabiskan waktu bersama-sama." sahut V lagi.


"Ternyata kamu cemburu? Hahahaha." aku menggodanya. V tertunduk, "Aku tidak cemburu, hanya aku terlalu mencintaimu, Dream." jawab V.


Aku tersenyum kepadanya, "Ketika aku sudah menempatkan hatiku kepada seseorang, itu akan selamanya. Dan saat itu, aku baru meletakkan seperempat hatiku kepadamu, sisanya masih untuk diriku sendiri. Dan seperti Kai bilang, aku harus mendengarkan musik di hatiku, kalau aku sudah mendengarnya, berarti dia orang yang tepat untukku." sahutku.


V menempelkan kepalaku di dadanya, "Dengarlah, sudah ada musik di hatiku saat ini." sahutnya.


Aku tertawa mendengarnya, "Ya aku mendengarnya, tapi sepertinya itu bukan di hatimu, melainkan dari perutmu." sahutku.

__ADS_1


V melepaskan kepalaku, dan menempelkan kepalanya di dadaku... deg....deg...deg... Jantungku seketika melompat-lompat ketika V mendekatiku, mereka berirama. V tersenyum, "Aku mendengarnya, Dream." katanya sambil menatapku.


"Bu...bukan...itu hanya berdetak seperti biasa. Mereka belum bermusik!" sahutku dan menarik kepalanya. V tertawa lagi, dan melanjutkan sarapannya.


Aku sekarang tau irama musik hatiku untuk V, apa dia memang di takdirkan untukku?


...----------------...


"Bye, V..sampai nanti." sahutku.


"Aku akan menjemputmu nanti." sahut V, "hubungi aku jika terjadi sesuatu yah, Dream." sahutnya lagi menambahkan. Aku mengangguk, dan aku melihat Robbie sudah ada di depan pagar rumahnya. V mengklakson mobilnya saat melewati Robbie.


"Pagi, Rob." sapaku. Dia tersenyum, hari ini Robbie tampak ceria sekali, mungkin proyek kerjasamanya berhasil.


"Pagi Luna. Itukah mantan suamimu?" Robbie bertanya. Aku mengangguk. "Kenapa dia menyetujui pembatalan pernikahan denganmu? Bodoh sekali melepaskan wanita sepertimu." sahut Robbie.


"Dia tidak melepasku, kamu bisa lihat sendiri kan? Jangan berburuk sangka terhadap orang lain, kalau kamu tidak tau apa-apa tentangnya." sahutku, "dan dimana anak-anakku?" aku bertanya kembali kepadanya. Robbie tidak menjawab, hanya membukakan pintu rumahnya untukku, dan begitu pintu terbuka, anak-anak itu lari mendekapku, "Luna...kamu datang..kamu sudah datang! Lunaku...Lunaku!" sahut mereka dan langsung mengglendot kepadaku. Robbie memandang kami bertiga.


"Hari ini mau kah kamu berjalan bersamaku?" tanya Robbie. Aku memandangnya, "Hanya berdua? Bagaimana dengan mereka?" aku bertanya.


Robbie tersenyum, "Aku berencana mengajak mereka dan Nancy bersama kita. Ayolah..." pinta Robbie.


Robbie tersenyum lagi, dan berbisik kepadaku, "Aku memgambil cuti hari ini." jawabnya tersenyum.


Aku mengangguk sebagai jawaban, dan membantu anak-anaknya untuk bersiap-siap.


Robbie mengajak kami untuk naik ke sebuah kapal pesiar, disana ada tertulis My Ladies J². Seketika aku paham, nama siapa yang dimaksud.


Nancy mengejar Jean dan Jeannette yang berlari kegirangan.


"Luna...Luna itu kapal kami!! Luna..kemarilah cepat!" sahut mereka.


Aku menyusul mereka, dan mereka menggandeng tanganku masing-masing. Robbie mengikutiku, dan berjalan di samping Jean.


Kami menaiki kapal besar itu. Dan kapal itu mulai berjalan perlahan.


Kapal itu memecah lautan, dan menerjang ombak. Aku memandang ke atas, langitnya indah sekali. Langit ini suatu saat akan kurindukan.


"Hai...beruntungnya kita, langit cerah hari ini " sahut Robbie tiba-tiba dan duduk di sampingku, "anak-anak sedang bersama Nancy." sahutnya lagi.


Aku bergegas berdiri untuk membantu Nancy, tapi Robbie menahan tanganku, "Temani aku disini, Luna, duduklah bersamaku." pintanya.

__ADS_1


Dengan enggan, aku duduk di sampingnya. Dia memulai pembicaraannya, "Terima kasih yah, kamu sudah membuat anak-anakku menjadi anak yang manis dan menyenangkan." sahutnya.


"Anak-anakmu selalu manis dan menyenangkan, kamu tau? Hanya kamu saja yang kurang mempunyai waktu untuk mereka. Mereka seperti itu hanya karena ingin mencari perhatianmu saja." aku menanggapinya.


Robbie mengangguk, "Kamu berbeda dari wanita yang kukenal. Hanya dalam waktu seminggu, anak-anakku sudah memanggilmu dengan Lunaku. Maka dari itu, aku penasaran seperti apakah kamu, dan saat kita bertemu aku tidak menyangka kalau kamu masih sangat muda." sahut Robbie lagi.


"Tapi aku bukan anak kecil." sahutku protes, karena banyak orang masih menganggapku anak kecil.


Robbie tertawa, "Luna, bolehkan aku memanggilmu dengan Lunaku juga?" tanya Robbie menatapku serius.


"Kenapa?" tanyaku. Aku mencari dan mendengarkan detak jantungku, apakah mereka berdebar-debar, dan ternyata tidak ada.


"Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, dan aku berharap kita lebih dari seorang teman baik." jawabnya, "Bagaimana supaya aku bisa memenangkan hatimu?" tanya Robbie lagi.


Aku menatapnya tidak percaya, "Aku tidak tau." jawabku.


"Boleh aku mencobanya?" tanya Robbie lagi. Dan aku mendengarnya... deg...deg...deg... ada apa denganku?


"Cobalah." jawabku tanpa berpikir. Robbie tersenyum, dan menatapku, "Terima kasih." sahutnya.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Apa katamu?! Robbie menyukai Dream?!!" sahutku, saat aku mendengar Kai menceritakan hal itu kepadaku.


Aku menatap Kai yang sedang bersiap untuk kembali ke tahun waktunya.


"Berusahalah lebih keras, V. Atau posisimu akan di rebut oleh Robbie. Sama seperti kamu yang telah berhasil mengalahkanku." sahut Kai, "tapi itu juga karena aku mengalah...hahahahaha" tambahnya lagi, kali ini dengan candaan isengnya.


"Aku tidak akan mengalah dari Robbie. Aku tidak akan sepertimu, Kai." sahutku, sekaligus aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak menyerah terhadap Dream.


"Dream sedang merasakan kebebasan disini, dia tidak ingin terikat atau berkomitmen. Menurutnya, mana yang membuatnya nyaman itu yang akan dia jalanin. Aku harap kamu tetap akan membuatnya nyaman. Dan jika kita buat perbandingan, tentu saja antara kamu dan Robbie akan berbeda. Dia lebih matang, lebih dewasa, dan mungkin dia akan lebih bisa membuat Dream merasa nyaman di dekatnya." ucap Kai panjang.


Dan ucapan Kai itu membuatku tersadar. Aku tidak bisa memaksa Dream, aku hanya bisa berada di posisi bertahan, dan mempertahankan dia supaya tidak berpaling ke Robbie.


"Pikirkanlah langkahmu selanjutnya V, dan bijaksanalah." sahut Kai, kemudian berpamitan kepadaku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2