Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
JODOHKU


__ADS_3

....................


"Ya sudah kalau begitu, ibu cuma mengingatkan aja kok."


Lalu mereka pun melanjutkan masak memasak pagi itu. Sedangkan jam masih menujukan pukul setengah enam pagi.


Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi. Tiyan yg mulai terusik dengan suara-suara di luar kamarnya pun segera bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Putri yg sudah selesai menata makanan di atas meja, mulai mendengarkan suara dari arah kamarnya.


"Mungkin kak Tiyan sudah bangun." Ucap Putri.


Lalu ia pun menuju dapur untuk mengambil teh hangat.


"Gimana put, temanmu sudah bangun?" Tanya ibu Putri.


"Sudah bu baru mandi orangnya."


"Ow, ya sudah kalau begitu, sebenarnya Tiyan itu pacar atau calon suami si?" Tanya ibunya menyelidik.


"Ha ... ha ... baru sebatas pacar bu." Jawab Putri kikuk dan malu.


"Kalau ayahmu menginginkan lebih gimana?"


"Mm ... mmmaksudnya?"


"Ya ayahmu inginnya dia yg jadi suami kamu."


"Lah kok bisa si Bu, ga mungkin dong, Putri kan masih 20 tahun, masak disuruh menikah muda?"


Ibu hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Sudah-sudah, ayo ajak temanmu untuk segera makan! Ibu mau panggil ayahmu dulu."


Lalu ibu pun berlalu meninggalkan Putri sendirian di dapur.


Putri pun segera menuju kamar Tiyan eh, kamarnya yg dipake tidur buat Tiyan untuk mengajaknya sarapan pagi.


Tok


Tok


Tok


Belum terdengar sahutan dari kamar Tiyan. "Akh, mungkin ia belum selesai mandi." Pikirnya.


Lalu ia pun mengetuk kembali.


Tok


Tok


Tok


"Kak Tiiyaaannnn ...."


"Ya ..." Jawab Tiyan sambil memakai baju.

__ADS_1


"Tunggu sebentar Put!" Ucapnya dari dalam kamar.


Putri pun masih menunggunya didepan pintu kamarnya.Lalu Tiyan pun keluar kamar dan mengikuti Putri menuju ruang makan.


Disana sudah ada bapak dan ibu Putri.


"Pagi bu, pagi pak." Ucap Tiyan sopan.


"Pagi, jangan formal begitu nak, oh ya, maaf siapa namamu nak?" Tanya Bapak Putri.


"Tiyan pak, nama saya Tiyan."


"Ya ... ya ... nak Tiyan ayo dimakan, maaf cuma seadanya dan maaf bapak tadi ga tau nama kamu soalnya baru kenalan juga."


"Iya pak, ndak papa kok, maaf saya berkunjungnya juga mendadak, jadi tidak membawa oleh-oleh," ucapnya hormat.


"Ga papa nak, yg penting kalian selamat sampai sini aja bapak sudah senang."


"Oh ya kok tumben kesininya naik motor ga naik bus saja."


"Iya pak, lagi pengen mencoba naik motor saja, mumpung masih muda." Ucap Tiyan


"Bagus, bagus, mumpung masih muda harus banyak mencoba pengalaman baru, tapi ya jangan dihabiskan untuk pacaran aja, sesekali buat jalan-jalan gitu, menikmati kota baru, dan sekitarnya."


"Uhukkk ... uhukk ..." Tiyan pun tersedak saat mendengar penuturan calon mertuanya tersebut.


Putri pun reflek memberikan minum pada Tiyan.


"Ha ... ha ... ha ... kamu jangan tersinggung ya nak Tiyan, bapak suka becanda kok." Ucap ibunya Putri.


"Iya bu." Ucapnya sambil tertunduk.


"Tapi kalau mau pacaran lama-lama jangan sama anak bapak ya, kalau mau serius sama anak bapak, pacarannya sehabis menikah saja."


"Uhuk ... uhukk ..." Tiyan tersedak untuk kedua kalinya.


Deg


Jantung Putri berhenti berdetak sepersekian detik berikutnya. Ucapan ayahnya begitu ringan tapi menusuk jantung keduanya.


"Bapak tu kalo mau bicara serius jangan saat makan dong, kasian tu nak Tiyan sampe tersedak 2 kali lo." Sungut Ibu Putri.


"Ga papa kok bu, tadi cuma kebetulan aja pas makan yg pedas." Elak Tiyan.


"Bukannya Kak Tiyan suka sekali masakan yg pedas." Ucap Putri keceplosan, dia pun reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Reflek Tiyan langsung memandang ke arah Putri, sedangkan yg dipandangi hanya senyam-senyum tanpa dosa.


"Ha ... ha ... sudah-sudah, maafkan bapak ya, tapi nanti kita perlu bicara 4 mata, ok!" Sambil kedua jari bapak diarahkan ke mata Tiyan kemudian ke arah matanya. Istilahnya bicara empat mata.


"Iya pak." Ucapnya patuh.


Ibu dan Putri hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan bapak.


Sesudah makan, Putri pun ijin pada kedua orangtuanya untuk membawa Tiyan pergi ke pantai . Karena memang jarak pantai dengan rumah Putri cukup dekat, cukup 15 menit sudah sampai di pantai yg lumayan bersih di dekat rumah Putri.


Hari itu Tiyan dan Putri kompak memakai pakaian putih saat ke pantai, karena sangat tabu bila ke pantai pakai pakaian warna merah atau hijau.

__ADS_1


Itulah salah satu larangan jika tak ingin terseret ombak di pantai selatan yg didatangi Tiyan dan Putri.


Sesekali Putri dan Tiyan bermain ombak yg ada disana, berlarian mengejar jingking dan keong yg ada di pantai itu.


Air dipantai itu sangat bersih, ombaknya pun sangat cantik, udara yg ada disana pun begitu segar. Sehingga membuat keduanya merasa nyaman berada disana.



"Put, kira-kira bila nanti bapak kamu memintaku untuk melamar kamu, apakah kamu keberatan?" Tanya Tiyan saat Putri membersihkan rambutnya yg terkena pasir.


"Mm ... gimana ya?" Putri tampak berpikir keras.


"Kok gimana? apa kamu ga mau jadi istriku?" Tanya Tiyan sembari cemas.


"Sebenarnya Putri bahagia jika kak Tiyan mau melamarku, tapi ... Putri masih muda kak, masih labil emosinya, aku takut, nanti kakak ga kuat sama tingkah lakuku yg kekanak-kanakan." Ucapnya sambil tertunduk.


"Oh, kirain kamu ga mau jadi istriku."


Putri melihat wajah Tiyan yg teduh, sifat yg sangat Putri rindukan saat ini. Beberapa bulan menjadi pacar Tiyan sudah cukup membuatnya sedikit banyak mengetahui sifat-sifatnya. Bahkan memahami dan memaafkan kesalahan masa lalu Tiyan dan berdamai dengannya.


Putri juga bukan orang yg sempurna, justru ia sangat jauh dari kesempurnaan. Justru Tiyanlah orang yg selalu menguatkannya disetiap saat. Bahkan ia selalu ada untuk mendukung setiap keinginan Putri.


"Apa kakak sungguh-sungguh mencintai Putri?" entah kenapa pertanyaan itu bisa muncul tiba-tiba.


Seketika itu pandangan Tiyan segera menuju Putri yg berada disampingnya sambil sesekali mencuri pandang padanya.


"Apa kamu meragukan cintaku Putri?" Tanyanya kembali.


"Bukan, bukan begitu maksud Putri, aku hanya takut kakak tidak bisa menerima sifat-sifatku yg tidak kakak ketahui." Ucapnya seraya tertunduk, ia tak mampu melihat wajah ataupun manik mata Tiyan, karena takut Tiyan mengetahui isi hatinya.


"Pernikahan itu hanya untuk sekali seumur hidup kak, bukan untuk mainan, sekali kita menjalin sebuah ikatan pernikahan, baik buruknya pasangan kita, kita harus menghormatinya bahkan kalau salah satu menjadi api, satu sisi lainnya harus menjadi air untuk memadamkannya." Ucap Putri panjang lebar.


Sungguh Putri sangat menginginkan sebuah pernikahan, tapi hanya sekali seumur hidup. Itupun dengan orang yg benar-benar mencintainya dengan segala kebaikan dan kekurangannya.


Putri manusia biasa begitu juga dengan Tiyan. Kalau Putri bisa menerima kekurangan dan kelebihan Tiyan, maka Tiyan pun harus bisa sepertinya. Mungkin saat ini yg dilihat Tiyan hanya sebagian kecil dari sifat-sifatnya.


Ia takut Tiyan akan pergi meninggalkannya seperti Revano yg datang sesuka hati dan pergi sesukanya. Sungguh Putri tidak mengharapkan dicintai seutuhnya tapi dihargai dan dihormati sebagai wanita.


"Aku tau Putri, aku akan siap menerima semua kelebihan ataupun kekuranganmu, karena aku pun tak akan bisa hidup tanpa ada kamu disisiku Putri."


Tiyan pun merubah posisi duduknya dan berlutut di depan Putri.


"Ryani Putri Azzahra ... would you be my wife? ... will you marry me, please ..." Ucap Tiyan sembari mencium kedua tangan Putri.


.


.


.


.


DITUNGGU LIKE, FAVORIT, DAN GIFT NYA, MAKASIH 🙏


.


.

__ADS_1


SEMOGA ALLAH MEMBALAS SEMUA KEBAIKAN KALIAN BERLIPAT-LIPAT ... AAMIIN


__ADS_2