Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
I LOVE YOU


__ADS_3

Sesudah Vian berlalu, Rya segera menyimpan kado dari Vian ke dalam tasnya, takut teman-teman gesreknya tau.


Untung kejadian tadi tak ada yg melihatnya, dan Rya segera berlalu ke ruang perpus, dia ingin sejenak bersantai di perpustakaan sekolah. Karena di perpustakaan ia dapat merasakan dinginnya udara Ac, dan dapat minum es Fanta kesukaannya sambil menunggu jam mapel selanjutnya.


Entah hari ini dia ingin sendirian, tidak ingin bersama ataupun ditemani teman-temannya. Setelah dirasa cukup, ia kembali ke ruang kelasnya di ruang X.


Dan mapel selanjutnya pun dimulai. Tak terasa jam 11.30 dan untuk hari ini pelajarannya sampe disini. "Terimakasih anak-anak dan selamat siang." Ucap Pak Guru


"Selamat siang pak." Ucap murid-murid serentak.


Dan kali ini Rya masih menunggu kelas kak Vano selesai, karena siang ini dia sudah ada janji dengannya.


Deg


Deg


Deg


"Wa ... jantungku kenapa 'ga bisa diajak kompromi gini si ... akh ... 'ga sabar buat ketemu ... akh ... nanti kita ngapain ya?" Rya begitu gusar memikirkan kejadian nanti.


Danuarta tiba-tiba muncul dan mengagetkan Rya, "Woii ... siang-siang uda ngelamun aja, kantin yuk." Ajaknya.


"Mm engga makasih ... nanti aja ... lagian lagi nungguin teman ni."


"Oh." jawabnya sambil manggut-manggut


Dan Danuarta ingat dia ingin memberikan kado kecilnya buat Rya hari ini, saking sibuknya sampe dia lupa mau ngasih ke Rya. Lalu ia pun mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada Rya.


"Rya ... happy valentine day's." Ucapnya sambil memberikan bingkisan pada Rya.


"Eh ... iya ... makasih, tapi aku 'ga ngerayain Dan ... jadi maaf ...."


"Ga papa Rya, lagian kan kita juga jarang tuker kado, eh ... maksudnya aku yg 'ga pernah kasih hadiah ke kamu, maaf soalnya aku juga 'ga tau kapan kamu ultah."


"Ih ... apaan si Dan ... sante aja kali ... lagian aku juga 'ga pernah merayakannya kok, jadi 'ga usah minta maaf, betewe makasih ya." Ucap Rya diiringi dengan senyum manisnya.


"Akh ... dia jadi tambah manis gini, kamu tu beda ama gadis-gadis lainnya Rya, pribadi apa adanya tapi aku suka." Batin Danuarta.


"Ya uda aku permisi pulang duluan ya,kamu beneran gpp aku tinggal sendiri?"


"Iya gpp, kamu pulang aja."


Dan Danuarta pun berlalu. Sebenarnya Rya juga tak enak dengan perhatian Danu, ia yakin Danu menyimpan rasa untuknya, tapi sayang hati Rya hanya untuk Revano seorang.


Jam menunjukkan 11.45 dan dari arah kelas Vano sudah banyak yg keluar, itu artinya kelas sudah selesai. Tapi Rya masih sama di posisinya, tak mau jika dia yg duluan menghampiri Vano, gengsi.


Dan Revano yg paham akan situasinya, segera memisahkan dirinya dari teman-temannya dan segera menghampiri Rya.

__ADS_1


Hanya beberapa langkah Vano sudah sampai di tempat Rya menunggu.


"Sudah lama ya?" Tanyanya memulai obrolan


"Belum kak."


"Kalo begitu, ayo ikut aku."


"Hu um."


Rya tidak banyak bertanya, dan hanya mengekor dibelakang Vano ketika berjalan, jadi seolah-olah mereka tidak sedang jalan berdua. Karena ia ingat ini masih di area sekolah.


Dan sampailah mereka keluar dari gerbang sekolah. Dan di tepi jalan, Revano memegang tangan Rya dan menggandengnya ketika menyeberang jalan. Dan ahirnya mereka berenti di sebuah kedai soto yg jauh dari lingkungan sekolah.


Sebenarnya Vano mau mengajak Rya jalan-jalan ke distro atau mall, sekedar memanjakan Rya dengan membelikan barang-barang kesukaan Rya, tapi Rya menolaknya dengan halus. Dan jadilah siang ini mereka hanya mengobrol sambil makan soto.


Dengan menghabiskan siang ini berdua saja, Rya sudah bahagia. Karena dia sudah lama kangen dengan kondisi seperti ini. Kangen berduaan dengan pujaan hati.


"Rya, kangen 'ga sama kakak ?"


"Hum ... kangen dong." Jawabnya dengan tersipu.


"Hadeh ... kenapa ni mulut langsung jawab gitu aja sih," gerutu Rya dan blushh seketika rona merah muncul di kedua pipi Rya, dan itu membuat Rya tak berani menatap wajah tampan Revano.


Vano hanya tersenyum simpul, dia bahagia sekali mendapatkan kenyataan kalau Rya juga merindukannya. Dia sadar telah menyia-nyiakan Rya selama ini dan tidak pernah memanjakannya seperti orang-orang lain yg sedang pacaran.


Deg, jantung Rya serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Vano barusan.


"Tapi ...."


"Tapi aku tak cukup berani dengan mengatakan engkaulah kekasihku, aku bahkan tak punya apa-apa untuk dibanggakan, prestasiku saja masih kalah denganmu, bahkan aku kesekolah pun jalan kaki, lalu apa kau tak malu berpacaran denganku?"


"Kenapa kakak bicara begitu, aku kira kakak yg malu karena aku tidak cantik, tidak seksi, bahkan aku menutup tubuhku dengan hijab." Tenggorokanku tercekat setelah mengatakan hal barusan pada ka Vano.


"Hush ... jangan ngomong gitu, bagiku Kamu mah yg tercantik dan terspesial Rya, jangan bandingkan dirimu dengan yg lainnya, dimataku kamu lebih berharga dibanding apapun."


"Emang apa istimewanya aku kak?" Tanyaku seraya memandangi kedua bola matanya.


"Aku bahkan memiliki kekasih tapi tak dianggap keberadaannya." Ucapku dalam hati.


Sakit memang rasanya mencintai dalam diam.


"Kamu tu punya hati yg baik, tulus, penyayang, inner beauty yg kamu miliki, membuatmu cantik alami dan pembawaan kamu yg ceria membuat orang yg ada disisimu merasa nyaman, bahkan kalo kamu boleh dibawa pulang, pasti uda aku bawa pulang sejak kita jadian."


Rya membulatkan matanya, " Apa katanya dibawa pulang? enak aja mau bawa anak orang pulang sembarangan?"


"Emang aku barang, bisa dibawa pulang sembarangan? emang kakak 'ga takut ama ayah dan kakakku?"

__ADS_1


"Ya takut lah, makanya nanti aku mau minta ijin, kali aja dibolehin." Ucapnya sembari menaik turunkan alisnya.


"Coba gimana minta ijinnya, Rya pengen tau ni ...."


"Siang Pak, Buk, dan Mas , perkenalkan nama saya Revano, adapun maksud dan tujuan saya kemari untuk meminta adinda Ryani sebagai calon istri saya."


"What's??????" Rya pun hampir berdiri dari kursinya.


"Jangan becanda deh kak, ini g lucu sama sekali, udah Rya mau pulang aja."


"Kamu kok marah si, kan ini beneran dari hati nurani kakak, jangan marah dong sayang."


"Tapi, aku masih sekolah, dan aku ga mau menikah muda."


"Jadi kalo uda lulus mau dong artinya." Ucap Vano sambil terus menggoda Rya.


"Ya engga juga si kak, aku kan belum kuliah dan kerja, apa kakak mau menungguku."


"Aku akan menunggumu Rya, sampai kamu siap." Vano semakin memandang intens manik mata Rya.


Dia senang sekali memandang wajah Rya yg semakin merona dan tentunya Rya jadi salting karena terus diperhatikan seperti itu.


"Oh ya ... ini ada sesuatu buat kamu ..." Vano memberikan sebuah bingkisan kotak kecil berbalut pita pink diatasnya dan menyerahkannya pada Rya.


"Makasih kak ..." Ucap Rya masih malu-malu saat menerimanya.


"Buka aja Rya." Pintanya.


"Mm baiklah ...."


Rya terharu dengan isinya, ada sebuah cincin dengan ornamen huruf R dan pita diatasnya..


"Kamu suka?"


"Mm ... ini terlalu bagus kak, aku 'ga pantas menerimanya." Rya menutup kembali kotak itu dan menyodorkan kembali ke arah Vano.


"Ini sebagai bukti keseriusanku tadi padamu, aku harap kamu menerimaku, tenang saja, aku membeli dengan uangku sendiri, yg aku kumpulin saat kmrn Praktek TA dan aku 'ga minta ke ortuku sama sekali."


"Kalo kamu mengembalikannya padaku, artinya kamu ga suka sama aku."


"Bukan begitu maksud aku kak ..." Dengan berat hati ahirnya ia pun menerimanya.


"Sini tangannya ... aku pakein." Titahnya.


Dengan ragu-ragu Rya menyerahkan salah satu tangannya ke Vano, dan Vano pun memasangkan cincin itu di jari manis Rya.


"I love you Rya." Ucapnya seraya mencium tangan Rya dengan mesra.

__ADS_1


"Love you to kak Vano."


__ADS_2