Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
CALON MENANTU IDAMAN


__ADS_3

Baru sesudahnya ia pun naik ke kasur dan mulai memasuki alam mimpinya.


"Have a nice dream Putri, have a nice dream kak Tiyan, I love you ..." ucap Putri dalam doanya.


Ia sangat bahagia karena hari ini ia dan pacarnya sudah berbaikan kembali. Jadi ia bisa tidur nyenyak malam ini. Malam panjang pun dilalui dengan penuh kedamaian.


🌤 Keesokan harinya


Pagi hari di kediaman Raharja.


Putri yg sudah terbiasa bangun pagi segera keluar kamar sesudah bersembahyang subuh. Ia mencoba mengingat-ingat dimana letak dapur, lalu menuju ke tempat itu.


Disana ia hanya menemukan ART yg sedang memasak.


"Mbak, maaf apa ada yg bisa saya bantu ..." ucapnya perlahan sambil mendekati mba ART.


"Eh ... non ... ndak usah ... biar bibi aja yg masak, udah biasa kok."


"Mm ... kalau begitu, mungkin mau dibantu kupasin bawang atau buahnya," ucap Putri tetap memaksa.


"Mm, kalau begitu tolong sayurnya aja non, ini bibi mau masak sup ayam,,sama bakwan jagung."


"Siap ... ini jagungnya dipipil atau langsung disrut pake pisau bi ...."


"Langsung kayak gini aja non, nanti diblender agak kasar ya non."


"Siap ..." Putri manggut-manggut.


Lalu mereka pun mulai menjalankan tugas masing-masing. Putri lalu memasukkan jagung ke dalam blender dan mulai menghancurkan jagungnya dengan tekstur kasar.


Sesudahnya ia pun mencampur dengan bumbu yg sudah disiapkan bibi. Lalu membuat adonan itu siap di goreng. Putri yg belum bisa menggunakan kompor hanya berdiam diri di depan wajan dan kompor itu.


Padahal diatas wajan sudah ada minyaknya tapi ia bingung bagaimana cara menyalakan kompornya.


Vian yg tak sengaja ke dapur melihat Putri hanya berdiam diri di depan kompor lalu mendekatinya.


Tuing ... tuing ... tuing ... Vian mencoba men-toel bahu Putri. Putri yg kaget pun reflek menoleh.


"Kak Vian ..." ucapnya kaget.


"Kamu ngapain, kok malah bantuin bibi, bukannya kamu tamu?"


Putri menyuruh Vian agak membungkukkan badan lalu ia berbicara pelan di dekat telinganya.


"Maaf aku ga bisa nyalain kompornya," ucapnya malu-malu pada Vian.


Vian hanya menahan senyumnya, lalu memanggil ARTnya mendekat.


"Bi ... tolong nyalain kompornya, Putri ga bisa ... hi ...hi.." ucapnya sambil berlari kecil meninggalkan area dapurnya.

__ADS_1


Bibi menahan senyumnya ke arah Putri. Saat ini Putri hanya bisa memalingkan wajahnya karena malu.


Seumur-umur ia memang belum pernah memakai kompor jadi jangan ditanya betapa bingungnya dengan alat masak di depannya ini. Kalau di rumahnya ia selalu memasak menggunakan tungku dan kayu bakar, jadi mana bisa ia menggunakan kompor.


"Nona ga bisa pake ini?" tanya Bibi penasaran lalu ia pun menyalakan kompornya.


Putri menggelengkan kepalanya. Lalu ia berkata "Maaf Bi, Putri lom pernah pake kompor!"


"Lah emang biasanya non Putri masak pake apa?"


"Pake tungku dan kayu bakar," ucapnya sambil memasukkan adonan bakwan ke wajan yg minyaknya sudah panas.


"Owh, maaf bibi ga tau, kirain non ga pernah masak," ucap bibi terus terang.


"Ga papa bi, lagian emang bener Putri ga pernah pake kompor kalo masak, jadi mana bisa pakenya, kalau masak apapun langsung pake tungku dan kayu bakar, jadi maaf ya bi ..." Putri mencoba tersenyum agar suasana tidak canggung.


"Kasian sekali non ini, masa jaman sekarang masak masih pake kayu bakar, emang kehidupannya seperti apa ya? padahal ia cantik dan penampilannya juga rapi, dan satu lagi ia juga cekatan saat mencincang sayur dan lainnya, semoga non mendapatkan jodoh orang kaya ya, biar non bisa bahagia," doa bibi dalam hatinya.


"Bibi masak apa, kok wangi sekali?" ucap mama Vian yg masih memakai pakaian tidurnya sambil mendekati dapur, ia lupa kalau ada Putri yg menginap di rumahnya.


"Sayur sop nyonya, sama bikin bakwan jagung, perkedel udang juga" ucap bibi.


"Lo, ada Putri juga rupanya, kamu ngapain disitu Put, biar bibi aja yg ngerjain," ucap mama Vian sambil mendekati Putri yg sedang menggoreng bakwan jagung.


"Ga papa tante, Putri lagi kangen masak ni, makanya dari pada nganggur dikamar, aku kesini bantuin bibi."


"Ah, kamu rajin sekali Put, pasti bahagia mama dan papa kamu," ucap mama Vian sambil membelai rambut Putri.


"Ya dah, tante ke kamar dulu mau mandi, kamu jangan lupa mandi ya Put."


"Ha ... ha ... iya te, maaf Putri masih bau ya,wkwkwkwk," ucapnya asal.


Bibi hanya tersenyum menanggapi interaksi kedua orang didepannya. Ia sangat mengenal nyonyanya yg selalu kesepian dan menginginkan ada teman di rumah ini. Karena nyonya besar lebih banyak beristirahat ketimbang menemani menantunya ini. Sedang Vian sudah sibuk kuliah dan jarang berinteraksi dengan mamanya ataupun neneknya.


"Semoga non Putri menjadi jodoh buat tuan Vian Ya Allah, Aamiin." Doa bibi ia ucapkan tulus di dalam hatinya untuk majikan dan Putri.


Lalu tinggallah Putri dan ART-nya di dapur dan menyelesaikan acara masaknya.


Satu jam kemudian semuanya sudah siap, lalu Putri meminta ijin untuk kembali ke kamarnya untuk mandi.


"Bi, Putri mau mandi dulu ya, makasih bi udah diijinkan buat ngrecokin bibi di dapur," ucapnya.


"Sama sama non, bibi malah yg ga enak sama non Putri."


"Santai aja bibi."


Lalu Putri pun menuju kamarnya dan bersiap untuk mandi. Sebelum sampai kamarnya ia berpapasan dengan nenek.


"Pagi nenek ..." ucapnya sambil mencium punggung tangan nenek.

__ADS_1


"Pagi sayang, jam berapa kamu datang."


"Maaf kemarin Putri datang malam nek."


"Sebentar, kamu kok bau masakan si!"


"Hi ... hi ... iya, maaf Putri baru aja dari dapur nek, bantuin bibi sebentar, ini mau mandi dulu nek."


"Ya dah, cepet mandi sana, jangan lupa dandan juga ya, hi ... hi ..." ucap nenek sambil tersenyum centil pada Putri.


"Iya, bye nenek."


Putri pun segera berlalu dan nenek juga melanjutkan langkahnya ke ruang makan.


"Hi ... hi ... memang calon menantu idaman banget." Batin nenek Vian sambil senyum senyum sendiri menuju ruang makan.


Dari lantai 2 terlihat Vian sudah berpakaian santai dan rapi pun turut turun ke lantai satu dan menuju ruang makan.


Di ruang makan sudah ada ibu Vian yg sedang menata beberapa makanan di meja makan.


"Hemm, wangi sekali ... siapa yg memasak ni?"


"Tentu bukan aku dong ma, tau sendiri aku tak bisa masak kecuali kue," ucap mama Vian.


"Kayaknya hasil kreasi calon cucu nih!"


"Non Putri nyonya yg memasak tadi."


"Tu kan, seperti yg mama bilang."


"Bicarain apa si ma, nek?" tanya Vian yg baru saja bergabung di meja makan.


"Engga kok, lagi bahas Putri, oh ya Putri mana Vian?"


"Kayaknya masih dikamar," ucap Vian yg mulai mendudukkan dirinya di kursi.


"Lagi ijin mandi," ucap nenek.


"Kok mama bisa tau?"


"Iya baru aja papasan ama dia."


"Oh ..."


Lalu 10 menit kemudian Putri mulai nampak di ruang tamu, dia berjalan malu-malu ke arah meja makan.


"Tu panjang umur kan, baru dibicarain udah datang," ucap nenek.


Putri tersenyum ke arah semua penghuni rumah yg ada di meja makan itu.

__ADS_1


"Selamat pagi nenek ... selamat pagi tante ..." ucapnya.


__ADS_2