
......................
"Wek, wek, wek ga gakut weeeekkkk" Ucapnya sambil berlari menghindari Tiyan yg mau mengerjarnya.
Dan karena kamar Putri sempit, maka dengan cepat ia bisa mengejar Putri dan memeluknya dengan erat.
"Makasih sayang kamu dah mau menerimaku apa adanya." Ucap Tiyan dengan penuh kasih sayang sambil mengecup pucuk kepala Putri.
"Sama-sama kak, kamu uda mau menerima Putri yg kekanak-kanakan ini ... hiks ... hiks."
"Love you Putri."
"Love you too."
Entah berapa lama mereka berpelukan sampai ahirnya waktu semakin sore, dan Tiyan memutuskan untuk pulang ke asramanya.
š± Satu bulan kemudian.
Hari yg ditunggu sudah tiba, beberapa jam lagi Tiyan akan sampai di kediaman Putri. Besok pagi adalah hari pernikahannya dengan Putri.
Tiyan datang 2 hari sebelum hari ijab qabul dilaksanakan. Itu semua sesuai permintaan para ketua adat setempat.
Vian datang ditemani omnya, dan sementara mereka tinggal di rumah tetangga Putri. Sedang Putri di rumah mempelai masih dalam tradisi pingitan, mereka mengusung adat Jawa sesuai dengan tanah kelahiran Putri.
Pingit atau pingitan adalah salah satu tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon pengantin perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya nggak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba. Tradisi ini wajib dilakukan oleh pengantin yang menikah dengan adat Jawa.
Maka dari itu mulai dari telepon atau berkirim pesan juga tidak dilakukan Putri dan Tiyan. Yg direpotkan kali ini adalah kak Rega, kakak laki-laki Putri. Dia yg bolak-balik ke rumah Putri dan tempat menginap Tiyan.
Jika menuruti adat, tradisi pingitan ini berlangsung selama 1-2 bulan lamanya, sampai hari pernikahan pengantin. Namun karena hal itu ga memungkinkan dilakukan oleh Tiyan dan Putri, maka mereka hanya melakukan selama satu minggu.
__ADS_1
Beberapa tujuan pingit yg Putri dan Tiyan ketahui adalah
āSatu mempersiapkan diri: Tradisi pingitan bertujuan memberikan waktu pada calon pengantin untuk mempersiapkan dirinya menuju pernikahan. Saat dipingit, ia dapat beristirahat dan merawat dirinya sendiri dalam menyambut hari bahagianya. Dengan begitu, calon pengantin terlihat lebih sehat dan segar di hari pernikahannya.
ā Kedua memupuk rindu di antara kedua calon mempelai: Ada alasan tradisi pingit melarang calon pengantin perempuan keluar rumah dan menemui calon pengantin laki-laki. Alasannya agar keduanya dapat saling merasakan rindu sehingga saat pernikahan nanti, keduanya akan semakin bahagia karena lama nggak berjumpa. Selain itu, calon pengantin laki-laki akan merasa pangling melihat calon pengantin perempuan karena sudah nggak bertemu dalam waktu lama.
āKetiga membangun rasa percaya dan kesabaran: Dengan nggak bertatap muka, tradisi pingit ini turut bertujuan untuk membangun rasa kepercayaan di antara calon pengantin. Selain itu, kedua calon mempelai ini turut melatih kesabarannya, yang bermakna agar perempuan dan laki-laki dapat bersabar dan berhati-hati saat menjalani kehidupan pernikahannya nanti.
āKeempat menghindari mara bahaya: Konon, tradisi pingit juga memiliki makna agar kedua calon pengantin terbebas dari bahaya yang dapat mengganggu keselamatan keduanya. Ini merupakan salah satu kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat mengenai pingitan.
Apapun makna dari pingitan tersebut Putri dan Tiyan tak mau ambil pusing, karena mereka juga mencintai tradisi dan budaya, sekaligus ingin melestarikannya juga.
Tapi memang benar adanya tradisi tersebut membuat Tiyan maupun Putri tidak kuat karena bagaimanapun mereka terbiasa saling bertukar pesan atau sekedar bertelpon. Tapi saat ini mereka memendam rasa itu demi kelancaran acara tersebut.
"Entah kenapa nahan rindu itu berat banget!" Kata Babang Dilan sih, jadi lebih baik fokus ke setiap bagian prosesi dari acara aja." Gumam Putri dalam hatinya.
Satu persatu proses dilalui mereka dengan baik.
Rumah Putri sudah dihias sedemikian rupa oleh keluarga dan para kerabatnya. Dekorasi tiap ruangan terlihat sangat cantik dan menawan. Ada bunga-bunga indah yg disematkan dimana-mana.
Bahkan saking banyaknya bunga, harum semerbak wangi bunga bisa dicium darimana saja. Sungguh ini adalah sebuah acara pernikahan yang didambakan dan diimpikan Putri sedari kecil.
Putri kecil mempunyai impian, suatu saat jika dirinya sudah mendapatkan jodoh, maka ia akan mengadakan sebuah impian pernikahan yg penuh bunga-bunga asli, dan ia biayai sendiri.
Ini semua adalah hasil kerja keras Putri sejak kerja di kota X. Ia dan Tiyan sama-sama memulai dari nol. Maka dari itu setiap inchi bagian dari pernikahan ini, tak luput dari perhatian dan campur tangan Putri dan Tiyan. Hampir 90% biaya pernikahan mereka adalah uang pribadi Tiyan dan Putri.
Kamar Putri pun sudah dihias sedemikian rupa, dan tempat untuk acara siraman besok pagi juga udah dihias sehingga menjadi tempat yang sangat indah dengan bertabur bunga-bunga asli.
Sedangkan Tiyan juga melakukan hal yg sama di rumah tetangga Putri. Beberapa rangkaian proses ia lakukan disana.
__ADS_1
Oh ya sebelum Putri dan Tiyan pulang sebelumnya sudah diadakan beberapa prosesi, yaitu pasang tratag dan tarub, dan memasang tuwuhan.
Makna dari pasang tuwuhan adalah harapan terhadap kedua pasangan suami istri agar dikaruniai momongan.
Salah satu bagian penting dalam tuwuhan adalah pohon pisang raja yang buahnya sudah matang.
Selain pisang, ada juga tebu wulung, cengkir gading, daun randu, dan dedaunan lain. Dedaunan sebagai simbol rintangan dalam hidup, yang diharapkan mampu dilewati bersama.
āKeesokan harinya
Hari ini Putri sudah dihias cantik dengan memakai rangkaian bunga melati sebagai baju di tubuhnya. Pagi ini ia akan melakukan proses siraman.
Sebuah ritual yang bertujuan untuk membersihkan jiwa pengantin. Diselenggarakan sebelum proses akad nikah, biasanya satu atau dua hari sebelumnya di kediaman calon mempelai perempuan.
Sebelumnya calon pengantin, Putri wajib memohon doa restu kepada kedua orangtuanya.
Begitu pula dengan calon pengantin laki-laki, Tiyan melakukan video call dari tempat dimana dia berada sekarang.
Mereka sama-sama duduk di tikar pandan, lalu mereka disiram oleh pinisepuh, yakni orang yang ādituakanā dan orang lain yang telah ditunjuk.
Dari tempat Putri, masih ada nenek dari pihak ayahnya, lalu ada kakak laki-laki dari pihak ayahnya dan istrinya yg turut ikut dalam acara itu. Kemudian dari wakil keluarga ibunya ada kakak perempuan dan suaminya yg ikut serta. Tak lupa kedua orang tua Putri juga ikut menyiramkam air kembang pada putrinya tersebut. Karena memang ritual terahir kedua mempelai harus disiram air oleh kedua orangtuanya.
Pada proses siraman ada tujuh orang yang melakukan siraman, jumlah ini pun berdasarkan sebutan tujuh pada bahasa Jawa yaitu āpituā atau disyaratkan sebagai pitulungan (pertolongan) kepada calon pengantin.
Ritual siraman ini menyimbolkan pembersihan diri sebelum masuk ke ritual yang lebih sakral. Nantinya, sang ayah dari mempelai wanita yang akan melakukan siraman terakhir. Kemudian dilanjutkan dengan menggendong anak perempuannya menuju kamar pengantin.
__ADS_1
Selama proses berlangsung, tampak suasana menjadi haru biru, Putri tak kuasa menahan rasa bahagianya saat itu, begitu pula dengan kedua orang tua Putri.