Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

.......................


Kemudian mereka pun melanjutkan acara makan berduanya tadi. Semenjak mereka berencana menikah, mereka sudah jarang pergi berkencan lagi diluar, mereka lebih senang menghabiskan malam di kost, atau langsung pulang ke rumah orangtuanya ataupun pergi ke rumah Putri.


Jadi mereka benar-benar meminimalkan waktu untuk lebih giat bekerja daripada pergi untuk bersenang-senang.


Seperti malam ini, sesudah makan bersama, Tiyan menghabiskan waktunya di kost Putri hanya untuk menemaninya mengerjakan tugas-tugas sebagai freelance membuat desain perhiasan. Tak jarang ia juga memberi masukan pada karya Putri tersebut.


Malam itu, waktu cepat sekali berlalu, jam dinding di kamar Putri sudah menunjukan pukul 20.45 WIB, itu artinya Tiyan harus segera pulang. Ia tak mau melanggar jam malam di kost Putri. Maka dari itu ia pun berniat untuk segera pamit pulang.


"Put, kayaknya mas mau pamit dulu deh, udah jamnya pulang!" Pamitnya.


"Hati-hati ya mas, makasih udah meluangkan waktu untuk kesini dan nemenin Putri mengerjakan tugas-tugas Putri." Ucap Putri dengan raut bahagia dan dipenuhi senyuman.


Karena bagaimanapun Tiyan sekarang lebih memilih banyak menghabiskan waktu untuk menemani Putri ketimbang bersama teman-temannya.


"Sama-sama sayang." Ucap Tiyan sambil mendaratkan sebuah ciuman di pucuk kepala Putri.


Putri pun sudah biasa mendapatkan hadiah itu dari Tiyan, dan Tiyan pun juga sudah lebih bisa menjaga dirinya untuk tidak memaksa Putri melakukan ciuman seperti waktu itu. Tiyan benar-benar sudah insyaf akan kelakuannya yg bar-bar dulu.


Lalu Tiyan pun segera keluar dari kamar Putri, dan melangkahkan kakinya menuju parkiran di lantai satu.


Ia juga tak segan berpamitan sama tetangga kamar Putri saat menuju parkiran. Sementara Putri sudah membereskan kamarnya dan segera mencuci piring bekas makan mereka. Setelah itu ia pun mengistirahatkan tubuhnya yg sudah kelelahan akibat bekerja seharian.


Begitu pula dengan Tiyan, setelah sampai di asrama, ia memarkirkan motornya dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat.


⚘ Beberapa hari kemudian.


Ahirnya weekend pun tiba. Pagi itu, Tiyan dan Putri sudah bersiap-siap menuju rumah Vian. Tujuan utama mereka untuk menyelesaikan urusan Putri dengan Vian.

__ADS_1


Karena Putri termasuk orang yg mempunyai ingatan yg cukup kuat. Meskipun ia hanya dua kali mengunjungi rumah Vian, tetapi ia cukup hafal dengan rute ke arah rumah Vian tersebut.


Lagipula, semalam Putri juga sudah menghubungi Vian dan mengutarakan maksudnya untuk mengunjungi rumah Vian. Ia juga meminta dikirimkan lokasi rumahnya. Jaga-jaga bilamana Putri lupa arah rumahnya.


Dan Vian begitu bahagia mendengar kabar kalau Putri mau berkunjung ke rumahnya, dan hal itu segera ia beritahukan pada anggota keluarganya malam itu.


⚘Flash back on


Sementara itu di rumah Vian, sesudah acara makan malam, mereka bertiga pun mengobrol bersama di ruang keluarga. Di depan meja juga tersedia teh dan camilan buat menemani acara mengobrol malam itu.


"Nek, besok Putri mau kesini?" Ucapnya Vian tatkala memulai obrolannya.


"Putri anak manis yg kapan hari kamu ajak kesini? yg pernah diajak shopping bareng mama sama nenek kan?" Tanya nenek yg sudah antusias.


"Iya nek."


Mama Vian hanya diam sambil sesekali memandang Putra sekaligus mama mertuanya.Ia belum berani bicara saat ini. Ia masih mendengarkan obrolan anak dan mama mertuanya tersebut.


Lagipula ia juga pusing dengan nasib putra semata wayangnya tersebut, bagaimana ia bisa move-on, sementara ruang galeri lukisannya sudah dipenuhi oleh lukisan yg menggunakan Putri sebagai modelnya. Dan galeri foto di HP vian pun masih sama, yaitu berisi foto Putri saat mereka berada di rumahnya setahun yg lalu.


Tapi Vian sudah membuktikan bahwa dalam setahun belakangan ia sudah bisa mengejar ketertinggalannnya dalam mengenyam pendidikan kuliah. Bahkan dia mengambil 2 jurusan sekaligus. Yaitu jurusan desain komunikasi visual dan juga seni lukis. Itupun dia lakukan karena dorongan dan motivasi dari Putri.


Darah seni yg mengalir dalam tubuh Vian memang sangat besar. Hal itu diturunkan oleh mendiang kakeknya. Kakeknya adalah seniman yg sudah terkenal akan karya-karyanya. Bahkan galeri seni milik keluarganya tetap terjaga sampai dengan sekarang, dan tetap dibuka untuk semua kalangan, dan terletak di kota J.


Nenek pun memecah keheningan di meja makan.


"Kamu kenapa diam? apa ga suka jika Putri maen kesini lagi?" Sindirnya terhadap menantunya tersebut. Siapa lagi kalau bukan mamanya Vian.


Mama Vian pun tersentak kaget, "Apaan sih ma, aku seneng kok Putri bisa maen kesini lagi, apalagi aku juga sudah kangen ama dia, dia udah aku anggap sebagai putri aku sendiri ma."

__ADS_1


"Mmm ... baguslah kalau begitu! besok suruh Mba Sari bikin makanan yg enak untuk menyambut Putri!" Ucap nenek memberikan instruksi pada menantunya itu.


"Iya ma." Ucapnya patuh.


Vian mendengus kesal bercampur bingung, ia memang cucu kandungnya, tetapi perhatian nenek lebih besar pada Putri yg jelas-jelas bukan bagian dari keluarganya. Itu artinya mereka sangat menyayangi Putri. Tapi mereka tidak tau kalau Putri tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga besar Raharja.


Dan bagaimana Vian bisa menjelaskannya nanti, apalagi Vian juga sama halnya dengan mereka, begitu besar menaruh harapannya pada Putri.


⚘Flash back off


Hari itu Putri dan Tiyan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, karena jalanan masih pagi, jadi kondisi jalannya pun tidak terlalu ramai.


Empat puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di pintu gerbang kediaman Keluarga Raharja.


Putri turun dari motor Tiyan dan segera memencet bel di pintu gerbang itu. Dari dalam gerbang muncullah Pak Parman security di rumah itu.


"Mau bertemu dengan siapa non?" Tanyanya ramah.


"Mau bertemu sama Vian pak!" Ucap Putri dengan ramah.


"Oh den Vian, mari silahkan masuk!" Ucapnya sambil membukakan gerbang di rumah itu.


Putri pun menaiki motor Tiyan kembali, dan lalu menuju ke dalam rumah itu. Dan Tiyan pun memarkirkan di tempat yg sudah ditunjukan oleh security tadi.


Ditatapnya rumah besar dihadapannya itu, ternyata memang Vian berasal dari keluarga yg berada. Jelas terlihat olehnya kemewahan yg terpampang nyata di depan matanya ini. Andai Putri menyukai harta, pasti ia akan lebih memilih Vian ketimbang dirinya. Tapi ia tau betul, Putri orang yg sederhana, dan mau diajak untuk hidup memulai dari nol dan mewujudkan impian bersamanya.


Sedang dari lantai dua, ada sepasang mata yg mengawasi kehadiran Putri sedari tadi. Ya, dialah Vian, ia sudah mengetahui akan kedatangannya Putri dan kekasihnya tersebut.


Putri pun segera memencet bel rumah ketika Tiyan sudah berdiri disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2