
Diluar asrama tepatnya didepan gerbang ia melihat Putri datang, Aga pun senang bukan main saat melihat Putri begitu cantik malam itu. Padahal ia hanya mengenakan sweater hitam dan rambut tetap tergerai. Saat terkena angin malam, kecantikannya begitu memukau.
Kelap kelip lampu malam itu membuat suasana makin romantis menuju warung makan yang ingin mereka kunjungi. Ya malam itu mereka berdua hanya berjalan kaki menuju tempat itu.
Sesekali Aga mencuri pandang terhadap Putri. Tapi Putri mengabaikannya, pikirannya masih teringat saat tadi sore ia ditelpon oleh Vano. Bayang-bayangnya tak bisa ia lepaskan begitu saja.
"Dasar cowok gendeng, bisa-bisanya datang disaat gue dah lupain dia." Gerutu Putri dalam hati, ia pun bahkan melupakan Aga yang berada disampingnya.
"Put ... Putri, hellow ...." sapa Aga yang sedari tadi melihat Putri melamun sepanjang perjalanan mereka.
"Eh ... iya kak, gpp kok, maaf ya, ada apa?"
"Ehemmm ... kayaknya kamu lagi banyak pikirannya? Kenapa? Atau mungkin kamu keberatan aku ajak keluar malam ini?" tanya Aga.
"Engga kok kak, serius enggak ada apa-apa kok kak, aku juga sama sekali gak keberatan!"
"Oh ya, apa masih jauh tempatnya?"
"Engga juga kok, tuh ... dah keliatan tempatnya, eh tapu kamu 'ga punya alergi ama seafood kan?"
"He ... he ... tenang aja kak ... makanan apa aja aku ga nolak kok, ga ada alergi-alergian selama masih halal!"
"Bagus deh kalo gitu, yuk." Ajaknya sesaat kemudian.
Tak sengaja tangan Aga menggenggam tangan Putri, dan reflek aja Putri menolaknya.
"Maaf kak, bukan muhrim!"
"Eh, maaf Put ..."
Aga kelabakan dan salting, karena biasanya dia langsung gandeng aja cewek-cewek yg dia ajak kencan. Sebenarnya Aga cowok playboy, tapi demi di cap baik ama Putri ia bersikap agak sopan.
Mereka pun menuju warung seafood di dekat asrama. Aga memesan dua porsi kepiting asam manis dan dua porsi nasi dan segelas es teh.
"Kakak ga berlebihan, ini pasti mahal banget ..." ucap Putri jujur karena tak enak hati di traktir makanan mahal.
"Engga kok Put, santai aja, yuk makan, 'ga enak kalo keburu dingin."
"Mm, serius ini gapapa, tapi ... ya udah kalo kakak maksa, Putri 'ga tanggung jawab lo ya kalo aku makan banyak."
Aga hanya senyam senyum menanggapi tingkah Putri. Ia sungguh berbeda dengan gadis-gadisnya yang dulu. Ia begitu imut dan apa adanya, tanpa polesan make up dia sudah terlihat cantik.
"Aku harus mendapatkannya," gumam Aga dalam hati.
Kebetulan Tiyan dan Egi lewat daerah situ. Egi yang mbonceng Tiyan seperti melihat sosok Putri di sebuah kedai seafood tadi. Tapi ia tak berani bilang sama Tiyan, takut ia curiga kalo ia juga menaruh hati pada Putri.
"Kak, udah selesai ni ... pulang yukk," pinta Putri.
Aga yang sudah lebih dulu menghabiskan makanannya pun menyetujui permintaan Putri, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kasir dan membayarnya, setelah itu mengajak Putri pulang.
Di perjalanan.
"Em ngomong-ngomong, kamu suka 'ga Put ama masakannya tadi?" Tanya Aga basa-basi.
"Mm ... suka banget, makasih ya kak."
"Sama-sama Putri ... oh iya habis ini masak langsung pulang sih? Ini kan masih sore ..."
"Sebenarnya sih iya, tapi karena Putri kurang enak badan, sebaiknya kita pulang aja yah! maaf banget 'ga bisa keluar lama-lama."
"Kenapa 'ga bilang dari tadi sih Put! Kalo gitu aku 'ga akan maksa kamu keluar tadi!" ucap Aga yang mulai tak enak hati pada Putri karena sudah memaksanya keluar malam ini.
"Gpp kok ... dibuat istirahat nanti pasti uda pulih kembali, lagian udah dikasih nutrisi barusan, pasti cepet sembuh ... he ... he ...." Putri pun mencoba bercanda, agar Aga tak terlalu merasa bersalah.
"Lain kali bilang ya Put! Beneran aku ngerasa 'ga enak banget ama kamu, sekali lagi aku minta maaf ya!"
"Gpp kak, santai aja kak, betewe makasih ya buat traktirannya malam ini, lain kali sering-sering aja ya! dan aku pamit dulu kak, bye ." Pamit Putri pada Aga di pintu gerbang asrama.
"Sama-sama Putri ..."
Putri pun masuk area asrama putri. Dan Aga pun menyusul masuk ke dalam asrama putra.
π Dari lantai 3 asrama Putra
__ADS_1
Egi yang sudah curiga sama Putri, masih mengawasi pintu gerbang asrama dari tadi. Ia sudah menyangka bahwa yang dilihat tadi benar-benar Putri, tapi dengan siapa? dan barusan dia kaget saat tau Putri pulang dengan Aga.
"Dasar curang! Beraninya kamu merebut Putri dariku." Desis Egi.
Tiyan yang barusan datang pun mendekati Egi dan menepuk bahunya. Sontak saja Egi berjingkat karena kaget.
"Ngeliatin apa sih?" tanya Tiyan menyelidik, seraya menahan tawanya.
"Hasem lu, sue ...."
"Ngagetin orang aja, ga seru luh!"
"Wkwkwkwk ..."
"Lu sendiri ngapain disini?"
"Di kamar berisik makanya gue keluar ..."
Tiyan memang kurang menyukai keramaian, ia lebih suka menyendiri ketimbang berkumpul-kumpul dengan orang lain.
"Oh ya, betewe kamu aslinya dari kota mana yan?" tanya Egi mencoba mengalihkan perhatian Tiyan.
"Dari kota K, dekat gunung K itu lo ..."
"Oalah, kapan-kapan kalau kamu mudik, bawain oleh-oleh ya ..." canda Egi.
"Ha ha ha ... kalau 'ga lupa ya, soalnya aku juga jarang pulang."
"Iya ... gpp ... semoga aku masih disini, jadi bisa nyicipin oleh-oleh darimu ..." ucapnya tertunduk lesu.
"Emangnya kamu 'ga betah disini?"
"Betah si, tapi kalo lama-lama aku takut bosan,
emang kamu 1 tahun lebih kerja disini 'ga bosen gitu?"
"Karena aku butuh makanya aku bertahan, kamu mah enak semuanya dipenuhi kedua orang tuamu, kalau aku harus berusaha dulu untuk mendapatkannya." Ucap Tiyan sambil menerawang masa lalunya.
"Makasih."
Kemudian mereka pun melanjutkan obrolan mereka, sampai kedatangan Aga pun tak diketahui mereka berdua.
πKamar Putri
"Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam, eh Putri udah pulang, gimana kencannya?" canda kak Novi.
"Eis, apaan si kak Novi ni ... bukan kencan kok ... cuma makan bareng aja!"
"Owh, bisa jadi berawal dari makan makan trus jadi cinta deh ... he he he ...."
"Au ah ..." elak Putri.
Ia pun kemudian menuju kamar mandi dan berwudhu lalu sholat isya'. Sesudahnya ia pun naik ke kasurnya.
Sungguh hari ini ia merasa lelah, ia ingin mengistirahatkan dirinya untuk sesaat. Mungkin dengan tidur bisa sedikit membantunya melupakan kejadian sore tadi.
"Tumben-tumbenan Put, jam segini uda bubuk."
"Iya kak, capek banget, Putri ijin bubuk dulu ya semuanya," lalu ia pun merentangkan selimut sampai menutupi kepalanya.
"Mimpi indah ya Put ..." sahut kak Novi.
"Makasih," ucapnya dari dalam selimut.
πRevano Pov -
Sejak tadi ia masih bingung bagaimana ia harus memulai hubungannya dengan Putri. Dia yang dulu egois dan lebih memilih untuk pergi. Tapi nyatanya hatinya tidak bisa berpaling dari Putri.
Kini aku sudah mempersiapkan segalanya untukmu, aku harap engkau menerimaku, maka aku akan berusaha menjadi yang terbaik bagimu.
...π~π~π~π~π...
__ADS_1
...Akankah perasaanmu saat ini sama denganku...
...Asa yg kujalin denganmu kini sudah berbeda...
...Jauh berbeda dengan hubungan kita yg dulu...
...Hubungan yg penuh kenangan manis...
...Kini sudah berubah menjadi kenangan...
...Kenangan yg penuh luka bagimu dan bagiku...
...Kita semakin terjerat jatuh ke lubang yg sama...
...Lubang yg aku gali sendiri...
...Kini aku mencoba merajut asa yg baru...
...Akankah kau menerimaku seperti dulu...
...Bisakah aku memperbaiki keadaan ini...
...Bisakah aku menjadi seseorang yg kau cintai...
...Sampai ahir hayat nanti...
...Bisakah aku memlikimu...
...Menjadi pelindungmu...
...Menjadi imam di dunia dan di akhirat untukmu...
...Ryani Putri Azzahra...
...Tunggulah aku disana...
...Ijinkan aku menua bersamamu...
...Ryani Putri Azzahra...
...Ijinkan aku untuk...
...Meminang kau dengan " Bismillah "...
...π~π~π~π~π...
Sambil memeluk foto Putri, Revano pun tertidur malam itu..
~ Bersambung ~
.
.
.
.
.
...JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA ...
...LIKE...
...KOMEN ...
...FAVORIT & SHARE...
...VOTE/GIFT ...
...TERIMAKASIH π...
__ADS_1