Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
ISI HATI


__ADS_3

...........................


Tiyan menoleh, "Kau memanggilku?" Tanyanya sedikit angkuh.


"Siapa lagi kalau bukan kau? ayo ikut saja ke galery di ruangan atas, aku mau menyelesaikan tugas kuliahku disana, tapi kalau kau keberatan, kau boleh menunggu Putri disini!" Ucapnya angkuh.


"Cihh ... dasar lelaki menyebalkan" Gumam Tiyan dalam hati.


Sebenarnya Vian maupun Tiyan sama-sama lelaki baik hati, namun karena sikap mereka mendominasi dan terlebih karena mereka juga satu rasio bintang yaitu sama-sama berbintang Scorpio jadilah mereka bersikap seperti itu.


Tapi Tiyan punya sedikit keinginan untuk memanas-manasi Vian dan mengetes sejauh mana perasaannya untuk Putri. Meskipun ia tau kalau Putri tak pernah mencintai Vian, tetapi terlihat sekali kalau Vian dan keluarganya sangat mengharapkan Putri menjadi bagian dari keluarga mereka.


⚘ Sementara itu di ruangan lain.


Tepatnya mereka kini sedang berada di sebuah taman, belakang rumah Vian, ada sebuah gazebo kecil disana. Dan sekarang nenek, Putri dan mama Vian sedang menikmati udara pagi disana.


"Put, nenek kangen sekali sama kamu." Ucap nenek sembari memegang tangan Putri.


"Iya nek, Putri juga kangen nenek."


"Nenek g nyangka lo, setahun ga ketemu kamu, ketemu sekali langsung dapat kabar kalau kamu mau menikah, padahal baru aja kemarin kita shopping bareng ya." Ucap nenek sembari menerawang ke beberapa bulan kemarin saat mereka sekeluarga jalan-jalan bersama.


"He ... he ... he ... iya nek, sebenarnya waktu itu Putri main kesini niatnya buat menghindari dia, sampai ahirnya kini dialah yg akan mendampingi hidup Putri ke depan."


"Maksud kamu, waktu itu kamu lagi ada masalah sama calon suami kamu ini Put?" Tanya mama Vian.


"He ... he ... he ... iya tante, dialah orang yg aku maksud kapan hari. Ternyata takdir Tuhan menyatukan kita kembali, sampai ahirnya memantaskan kita untuk menyatukan dua hati menjadi satu."

__ADS_1


"Kalau dulu kami saling mementingkan ego kami masing-masing tentu hari ini tidak akan pernah ada, dan karena dorongannya lah Putri bisa maen kesini."


"Kok gitu?" Tanya nenek.


"Sebenarnya calon suami Putri tau tentang rasa yg dimiliki Vian untuk Putri, dan takut kalau Vian akan semakin mengharapkan Putri, maka kami datang kesini agar Vian bisa melupakan Putri dan menemukan calon yg lebih tepat untuknya."


"Jadi kamu tau perasaan Vian padamu?" Tanya mama Vian.


Putri mengangguk. "Iya tante, karena dulu Vian pernah mengutarakan isi hatinya pada Putri. Tapi karena Putri sudah menerima Tiyan sebagai pacar, maka Putri menolaknya. Vian terlalu baik untuk Putri tante." Ucapnya seraya memandang mama Vian bergantian dengan nenek.


Mereka bertiga nampak diam dalam pemikiran masing-masing.


Jauh dilubuk mereka berdua, mama Vian dan nenek, memang Putri-lah yg mereka harapkan untuk menjadi pasangan hidup Vian. Terlebih lagi mamanya, dia tau begitu banyak perubahan yg diberikan Putri terhadap putra satu-satunya itu.


Bahkan kabar tentang pernikahan Putri juga yg membuatnya nekad kapan hari dengan menyakiti kedua tangannya. Tapi memang masalah hati tak dapat dimonopoli. Apalagi jika cintanya bertepuk sebelah tangan.


Melihat betapa besar rasa cinta Putri terhadap calon suaminya, rasanya mama Vian tak boleh melanjutkan rencananya. Bagaimanapun Putri sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.


Putri terhenyak, bagaimanapun keluarga Vian sudah seperti keluarganya sendiri, bagaimana ia bisa menolak mereka? Seketika Putri pun tersenyum.


"Tentu saja tante, asalkan kehadiran Putri tidak mengganggu disini."


"Eh ngomong apa kamu? siapa bilang mengganggu, kamu sama sekali tidak mengganggu sayang." Ucap mama Vian seraya memeluk Putri.


"Kamu sudah aku anggep seperti putriku sendiri sayang, eh tunggu dulu, asal kamu ga keberatan." Ucapnya sambil membelai kembali pucuk kepala Putri.


"Terimakasih tante."

__ADS_1


"Udah-udah, nenek juga mau dipeluk ..." Ucapnya manja. Lalu mereka bertiga pun berpelukan satu sama lain.


Di sudut jendela ada dua lelaki tampan yg sama-sama memperhatikan ketiga wanita itu.


"Sudah lihat kan betapa Putri sangat disayangi di keluarga ini ..." Ucap Vian sambil memandang lelaki didepannya.


"Ya, aku akui kehadiran Putri cukup membawa kehangatan di dalam keluargamu ini. Tapi aku ragu apakah ini berlaku juga bila didekatmu." Balas Tiyan dengan tatapan menghunus.


"Maksudmu?"


"Cih, jangan kau bilang kamu masih berharap akan cinta Putri. Bahkan perasaanmu tak berbalas darinya kan?" Ucapnya dengan nada mengejek. Ia pun berjalan meninggalkan jendela itu dan mulai duduk di sofa yg ada diruangan itu.


"Semua yg pernah Putri lalui denganmu sudah diceritakan semuanya padaku, jadi untuk apa aku ragu akan perasaannya padaku. Tapi aku ragu setelah ini apakah kamu masih berharap akan cinta darinya."


"Vian ... Vian ... diluar sana masih banyak wanita cantik dan baik jika kamu mau? tetapi kenapa harus Putri? aku sungguh berterimakasih padamu karena dari dulu kamu sudah menjaga Putri untukku, tapi biarlah sekarang Putri berjalan bersamaku tanpa beban."


Vian mulai mendekati Tiyan, ia pun berpindah duduk didepan Tiyan.


"Maksudmu apa menjadikanku beban bagi Putri?" Tanya Vian dengan suara melemah, karena awalnya ia menyudutkan Tiyan, tapi faktanya justru dialah yg sekarang dalam posisi tersudut.


"Meskipun Putri tidak mencintaimu, tapi ia menganggapmu sebagai kakaknya, dia menghormati dan menyayangimu sebagai kakaknya. Bahkan sejak pertemuan terahir kalinya denganmu, dia selalu membahasmu didepanku dan selalu meminta saran padaku."


"Putri akan sangat bahagia jika kau segera menemukan cintamu, ia akan sangat bahagia jika kamu bisa hidup bahagia tanpa bayangannya. Mungkin dulu jika kamu datang lebih cepat padanya, mungkin dia bisa mempertimbangkannya, tapi kamu selalu datang ketika dia sudah menemukan cintanya. Bahkan cinta pertama yg telah menyakitinya. Sampai aku datang menyembuhkan lukanya."


Ucapan Tiyan benar-benar menohok padanya. Memang benar dulu dia juga datang setelah Putri menemukan cinta pertamanya. Bahkan ia juga tau kalau cintanya kala itu menyakitinya. Ia pun juga tak bisa untuk mendekatinya, dan saat ia menemukannya kembali dia sudah bersama lelaki didepannya saat ini.


Bahkan itu hanya berselang dua hari sejak jadian mereka. Vian mengusap rambutnya dengan frustasi. Kenapa kisah cintanya tak pernah semulus itu. Bahkan ia harus memendamnya berkali-kali dan hanya tersenyum getir ketika tau cintanya tak berbalas. Bahkan cinta pertamanya pun juga sama tak indah, dan berahir seperti ini.

__ADS_1


Tiyan memandang wajah lelaki didepannya, meskipun ia bisa lebih kejam dari ini, tapi tak seharusnya ia berlaku demikian. Cukup dengan kata-katanya ia yakin Vian akan sadar dengan posisinya saat ini.


"Harusnya aku tau, semua akan berahir seperti ini, aku sadar jarak diantara aku dan Putri memang sudah terlalu jauh. Benang rumit diantara kami pun sudah mulai terulur dengan baik. Mungkin inilah jawaban yg harus aku terima untuk sikap ketidakberanianku selama ini." Gumam Vian dalam hatinya.


__ADS_2