
Sesudah makan siang romantis tadi, Rya pamit pulang. Dan setiba di rumah, Rya segera mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, tak lupa ia juga memasak untuk seluruh anggota keluarga.
Dan malam pun tiba, setelah habis isya' Rya undur diri untuk belajar di kamarnya. Sedang Ibunya seperti biasanya akan menghadiri pengajian ibu-ibu di komplek. Dan ayahnya menonton TV di rumah, sedang kakaknya sudah pasti berkumpul dengan muda-mudi lainnya.
Di dalam kamar Rya.
Sembari melihat kembali sketsa Vian yg terpajang manis di dinding kamarnya, ia kembali teringat hadiah-hadiah yg ia terima hari ini.
Pertama dia membuka kado dari Vian, sebuah coklat dan boneka beruang kecil (teddy bear kecil nan lucu ada tulisan "I love U")
Yg kedua dia membuka kado dari Danuarta, didapatnya sebuah coklat dan sebuah BROS hijab yg lucu ada simbol huruf "R" nya.
"Ih lucu-lucu sekali mereka." Batin Rya.
"Eh tunggu dulu, kenapa mereka memberi semua ini ya, ada simbol R nya juga kayak cincin pemberian kak Vano ini.
Tapi aku paling suka cincin ini, aku sangat mencintaimu kak Vano, semoga rasa ini selalu ada untukmu."
Dan malam itu selepas belajar Rya pun menyimpan hadiah-hadiah tadi, agar tidak ketauan anggota keluarga lainnya, ia selalu menyimpan dibawah baju-bajunya di almari.
Sesudah itu pun Rya mengistirahatkan badannya yg lelah seharian ini, tapi sangat berkesan dan semoga mimpi indah semuanya.
Beberapa bulan kemudian.
Tibalah saatnya para siswa kelas 3 akan mengadakan UJIAN NASIONAL. Dan siswa kelas 1 dan 2 diliburkan sementara waktu.
Di rumah Rya berharap-harap cemas, semoga kak Vano diberi kelancaran mengerjakan ujiannya. Vano yg ujian tapi Rya yg berdebar-debar, rasanya dia ingin memberi support sebesar-besarnya agar pujaan hatinya lulus dengan nilai sempurna.
Ya perasaan Rya untuk Vano sampai saat ini tidak pernah berubah. Entah karena apa Rya begitu percaya dengan Vano dan mungkin harapan padanya sangat lebih.
Vano memang begitu sempurna bagi Rya, dia mampu mengerti perasaan Rya dan bisa memperlakukan Rya sebaik mungkin.
Di sekolah
"Anjir ... kenapa soalnya susah banget ya..beda sama try out kmrn." Seru salah satu siswa sesaat sesudah mengikuti ujian.
Begitu pula dengan Revano Cs, "Semoga nilai kita memuaskan, semoga saja ... aamiin."
Ahirnya para siswa selesai mengikuti Ujian Nasional dengan lancar, dari hari pertama sampai hari terakhir ulangan, terlihat sekali beberapa siswa puas dengan pengerjaan mereka dan ada juga yg kurang puas.
Revano Cs memang bukan dari golongan anak rajin dan pintar, tapi cukup. Jadi tetap mereka was-was dengan hasilnya nanti.
Apalagi saat itu UNAS sangat penting, karena itulah yg menentukan kualitas mereka saat mau melanjutkan kuliah atau jenjang berikutnya.
__ADS_1
"Rya ... aku kangen." Tiba-tiba suara hati Revano berbicara. Dia merasa butuh seseorang buat nemenin dia menunggu hasil ujian kmrn.
Seperti ada ikatan batin, Rya yg ada dirumah, seperti tau bahwa ada seseorang yg merindukannya.
Rya ingin segera masuk sekolah esok hari. Karena hari ini hari terakhir ia libur sekolah.
Deg
Deg
Deg
Seperti biasa, jantung Rya seolah berenti saat ia merasakan sesuatu tentang Vano.
"Kak ... aku juga sangat merindukanmu."
Hari yg ditunggu ahirnya tiba. Hari ini Rya dan anak-anak lain sudah masuk sekolah seperti biasa.
Rya terlalu bersemangat sampai-sampai dia tak sengaja menabrak seseorang ketika mau masuk gerbang sekolah.
Tubuh tinggi menjulang, dan aroma maskulin yg ia rindukan menyeruak kedalam penciuman Rya.
"Kak Vano."
Rya mendongakkan wajahnya, terang saja, dia hanya setinggi 150 cm, sedang Vano 172 cm."
"Kak ..."
"Hei ... itu sungguh kamu."
"Kebetulan yg menyenangkan "
"Yuk segera masuk sekolah nanti keburu telat lo."
"Ayukk."
Tak sadar Vano menggenggam tangan Rya dan segera memasuki sekolah.
Rya dengan senang hati menerima perlakuan manis pagi itu dan tibalah mereka berpisah menuju kelas masing-masing.
Tak jauh dari Rya dan Vano, ada Mungil yg melihatnya.
Mungil adalah teman sekelas Selly, dan ia sudah mengincar Vano sejak kelas 1, tapi tak pernah mendapat balasan dari Vano. Sejak itulah Mungil selalu memata-matai pergerakan Vano, begitu pula kejadian kapan hari, sebenarnya ia juga tau saat Vano mengajak Rya makan siang.
__ADS_1
Dan pagi ini, ia pun mendapatkan pemandangan serupa. Sungguh ingin sekali Mungil menyingkirkan Rya. Rya jugalah yg membuat Vian sedikit dingin kepadanya. Tapi pada Rya, ia begitu hangat. Mungil juga sadar bahwa Vian juga mencintai Rya, tapi ia tidak tau kalo Rya dan Vano bersama, tapi entah apa statusnya Mungil belum paham. Yg ada dibenaknya ia begitu membenci Rya.
Tapi Mungil akan bersikap biasa saja saat bersama lainnya meskipun ada Rya disitu. Tapi saat Rya sendiri, kadang Mungil suka berbicara kasar dan sedikit menyindir Rya.
Danuarta yg mengenal Mungil sejak kelas 8, ia pun sangat paham. Apa yg disukai Mungil harus menjadi miliknya, apapun caranya akan dia lakukan sampai berhasil. Termasuk mendapatkan Vano, tapi sebelum itu ia harus menjauhkan Rya terlebih dahulu.
Danuarta sebenarnya selalu melindungi Rya dari serangan Mungil, tapi Rya tidak tau akan hal itu. Danuarta tidak tau apa motif dibalik semua hal yg dilakukan Mungil pada Rya. Yg Danu paham ia akan melindungi Rya dari apapun itu.
Rya memang tidak mau mempunyai musuh, apalagi itu karena cowok. Ia akan merasa tidak enak kalo sampe disebut merebut pacar orang. Maka dari itu jauh sebelum ia menerima Vano sebenarnya ia sudah mencari tau semua tentang Vano pada Roni. Sampai ahirnya ia menerima Vano, karena ia paham ia sama-sama free belum ada pasangan.
Dan tentang masa lalu Vano, Rya sudah sedikit tau itupun karena Roni menceritakan sedikit kisah ttg Vano.
Entahlah sesudah kejadian itu memang Danuarta sedikit jauh dengan Rya, tapi bukan menjauh, tapi karena ia sibuk menghalangi recana jahat Mungil.
Siang itu di ruang X.
Mungil berencana mengunci Rya di ruang kelasnya, karena ia mau Rya tidak jadi ketemu Vano, tapi rencana itu gagal karena Danuarta tiba - tiba datang dan pura-pura mengambil buku yg tertinggal di kelas.
Lalu Mungil beralih ke rencana B, ia menaruh pelicin di tangga. Dan saat Rya mau turun, Danuarta terlebih dulu mencekal tangan Rya dan kembali pura-pura menggoda Rya. Danu tak sengaja berlari kecil menuruni tangga dan naasnya justru Danuarta lah yg kepeleset dan terjatuh.
Rya yg tahu Danuarta terjatuh segera turun dan menolongnya. Disisi lain Mungil sudah menahan amarahnya, kenapa bukan Rya malah Danuarta yg jadi korbannya.
Danuarta hanya meringis dan menahan sakit, tapi dilubuk hatinya dia bersyukur pujaannya baik-baik saja.
"Danuarta kamu apanya yg sakit ?, tumben kamu ceroboh, biasanya juga jalan, ini malah gaya-gayaan pake lari."
Rya terus saja mengomel tiada henti, tapi satu sisi dia juga ga tega, Danu begitu juga karenanya. Kalo saja dia yg turun duluan, pasti ia akan baik-baik saja.
"Aku gpp kok, cuma sedikit kaget aja, kok tumben tiba-tiba lantainya licin gitu."
"Ih iya juga ya, padahal tadi aku lewat tidak apa-apa lo."
"Akh ... sudahlah ... aku mau langsung pulang aja."
"Kamu beneran gpp Dan."
"Santai aja sis, aku gpp kok, lagian rumahku deket, nanti biar di kompres sama mama aja."
"Hati-hati ya Dan."
Danuarta melambaikan tangan sama Rya, dan Rya membalas nya.
Rya segera melangkahkan kaki menuju perpus, sembari menunggu kak Vano pulang.
__ADS_1