
"Please ... will you marry me Ryanni Putri Azzahra?"
Putri masih membeku dalam diamnya. Dia bingung dengan semua kejadian yang terjadi pada malam ini. Pikiranya masih mencerna apa-apa yang harus ia lakukan dengan pertanyaan Tiyan tadi.
π~π~π~π~π
Sedangkan hatinya masih tidak bisa menerima saat Tiyan dengan sengaja mencuri ciuman pertamanya tanpa rasa bersalah dan tanpa minta maaf.
Itukah yang namanya cinta? haruskah ditunjukan dengan hal-hal begitu? Yang bisa dia lakukan hanya satu, Putri harus tegas dan menguji kebenaran apakah Tiyan benar-benar mencintainya atau hanya ingin mempermainkan hatinya.
"Kak, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
"Apa itu Put?"
"Kenapa kakak tadi melakukan hal itu padaku, tanpa minta persetujuanku kakak langsung melakukannya? apakah aku serendah itu dimata kakak?"
Tiyan hendak berbicara, tapi telunjuk Putri menempel pada bibir Tiyan berniat menghentikan agar ia tak memotong pembicaraannya.
"Aku memang polos kak, tapi aku tidak bodoh, aku tidak mau seperti ini lagi, kalau sampai kakak melakukannya lagi padaku, maka aku pastikan hubungan kita berahir!"
Ucapan Putri benar-benar menohok jantung Putri. Ia tak menyangka perbuatannya malah menjadikan hubungan mereka merenggang.
"Aku bukan wanita yang mudah diperlakukan seperti tadi, kalau kakak benar-benar mencintaiku kakak pasti akan meminta ijin dan memperlakukanku dengan lembut."
"Kita bisa bicara baik-baik kalo ada masalah. Apa dengan begitu kakak merasa baikan telah menjadikanku pelampiasan kemarahan kakak."
"Harusnya kakak tau seperti apa perasaanku sekarang?"
"Putri, aku sungguh minta maaf untuk semua perbuatanku tadi. Aku benar-benar marah saat kamu tadi pagi jalan sama Aga, makanya aku ingin memberi pembuktian kalo kamu hanya boleh untukku seorang."
"Kakak sendiri tau kalo aku belum pernah melakukan hal seperti itu sebelum dengan kakak, tapi apa yang kakak lakukan tadi!"
"Dan tidak ada orang lain yang boleh menyentuh kamu selain aku," sahut Tiyan.
Putri masih terdiam, andai saja Revano seperti Tiyan, mungkin ia akan bahagia sejak dulu. Bukan merasakan sakit hati seperti saat ini.
Sampai ahirnya Tiyan datang dan memberi obat padanya, dan memberikan warna dalam kehidupan Putri. Dan ahirnya hatinya benar-benar sembuh.
Dan sekarang ia kembali merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Ada rasa bahagia tapi ada rasa yang sakit juga yang turut menyertainya. Dia benar-benar bingung dengan perasaannya saat ini.
"Tapi kita bisa bicara baik-baik terlebih dulu kak!"
Hiks ... hiks ... hiks ...
Tiyan mendongakkan wajahnya ke arah Putri ia menangkup kedua pipi Putri, mencoba menghapus luka yang baru saja ia torehkan.
"Maaf, maaf, maaf ... aku sungguh bodoh, karena sudah melakukan hal tadi."
"Maafkan aku sayang, aku sungguh tidak mau kehilanganmu," ucapnya frustasi.
Dan tiba-tiba Putri ingin bertanya sesuatu pada kekasihnya tersebut.
"Kakak sudah biasa ya melakukan hal seperti tadi?" ucapnya memulai menginstrogasi.
__ADS_1
"Tttt ... iiidak ... bukan ... aarrrggghhhhh ..." Tiyan berteriak frustasi.
"Maksudnya?"
Apa aku harus mengatakan semua pada Putri sekarang, Tiyan pun dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. Tapi ia pun memberanikan diri untuk berkata jujur.
"Jujur, dulu aku juga masih polos sepertimu, sampai aku dijebak oleh seseorang."
Putri masih menyimak apa yang diucapkan Tiyan.
πFLASH BACK ON
"Dia seorang wanita, tepatnya lebih tua dariku dua tahun, ia meminta bantuanku untuk mengantarkannya menemui pacarnya waktu itu."
"Tapi ditempat itu dia diputuskan oleh pacarnya. Lalu dia menangis aku tidak bisa melihat seorang wanita menangis, lalu aku mencoba menghiburnya."
"Awalnya ia memelukku dengan tiba-tiba, lalu ia bertanya apa salahnya sampai diputuskan apa dia kurang cantik? kurang sexi? aku hanya menggelengkan kepala."
"Lalu dia mencuri ciuman pertamaku dengan sengaja lalu dia pun mengajariku cara ciuman dan ...."
πFLASH BACK OFF
"Dan apa?" Putri tampak kaget mendengar cerita dari Tiyan.
"Dan dia meletakkan kedua tanganku dikedua bukit kembarnya dan mengajariku untuk mere*asnya."
Mulut Putri terbuka lebar, ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Tiyan barusan. Seorang yang nyaris ia anggap sempurna, ternyata pernah melakukan hal itu.
Putri menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak habis pikir Tiyan yang begitu tegas dan nyaris sempurna, tak bisa mengendalikan situasi seperti itu dan malah pasrah menikmatinya.
Entah kenapa pernyataan Tiyan barusan menyakiti hatinya.
"Awalnya tidak, tapi lama-lama, aku terbuai."
"Sebagai lelaki normal harusnya aku tak terpancing, tapi entah kenapa semua itu bisa terjadi, maaf Putri."
"Aku berani jujur padamu, setelahnya aku pun tak pernah melakukannya lagi," ucapnya sungguh-sungguh.
Putri lalu bertanya dengan tegas sekaligus geram dengan kejujuran Tiyan.
"Berapa kali kakak pernah berciuman?"
Tiyan mendongakkan kepalanya, ia bingung harus menjawab apa. Jujur akan membuatnya hancur, berbohong pun tak akan bisa.
"Dan berapa kali kakak menjamah itu? apa pernah melakukan hal yang lebih dari itu?"
Lama mereka berdua terdiam. Saking geramnya akan kejadian barusan Putri hendak berdiri dari tempat duduknya, ia sudah bingung akan tingkah laku Tiyan. Tapi tangan Tiyan segera menariknya kembali.
"Aku ingin pulang sekarang," ucap Putri.
"Aku mau jujur padamu Put, tapi aku mohon kamu jangan pergi dariku."
Ucapan Tiyan membuatnya kembali ke tempat semula. Tempat yang sama dengan posisi Tiyan duduk.
__ADS_1
"Cepat katakan kak, atau aku akan benar-benar pergi dan menjauh darimu. Dan tak akan pernah kembali lagi," ucapnya.
"Hhhh ..." Tiyan pun menghembuskan nafas panjangnya.
"Duduk dulu Put, ada satu hal rahasia lagi yang akan aku ungkapkan padamu."
Putri pun duduk kembali seraya menunggu penjelasan dari Tiyan.
"Dulu waktu aku kecil, sekitar TK, aku dan saudara perempuan dari pihak ayah, bermain ibu dan ayah. Satu anak laki-laki dan dua anak perempuan."
πCERITA MASA LALU
Kami bertiga main ibu dan ayah, aku sebagai ayahnya dan Dea sebagai ibunya. Sedang Sari sebagai anaknya. Karena Dea waktu kecil sering melihat kedua orangtuanya melakukan hubungan intim, maka saat menjadi ayah dan ibu, kami juga melakukannya.
Saat itu aku belum tau tentang hal begituan aku hanya menurut saja disuruh telentang dan dilepas celanaku, sedang ia berbuat itu padaku.
Sungguh aku tak merasakan apa-apa, karena memang aku tidak tau maksud Dea melakukan hal itu. Kalo aku tanya dia menjawab, kalo jadi ayah ibu tu harus kayak gini Yan," ucapnya menirukan ucapan Dea semasa kecil.
Dan aku hanya ber oh ria.
Lalu aku cerita sama kedua orangtuaku dan sejak saat itu aku dipindah rumah dan tak pernah diperbolehkan untuk bermain lagi bersama mereka. Ayah ibuku juga memberi tau kalo hal seperti itu tidak boleh dilakukan kalo belum menikah. Boleh dilakukan saat sudah menikah dan dewasa.
Lalu soal ciuman, aku sudah lupa berapa kali aku melakukan ciuman seperti tadi. Tapi jujur aku tak pernah melakukan hal lain yg lebih parah dari itu.
Putri masih meresapi setiap perkataan Tiyan. Ia menelaah satu persatu perkataan dan pengakuan dari Tiyan.
"Ok, kalo begitu kasih waktu buat Putri untuk berfikir dengan jernih, dan maaf sekarang aku ingin pulang."
Tiyan pun meng-iyakan permintaan Putri . Lalu mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.
Tiyan melajukan motornya ke asrama. Ia bahkan lupa tak mengajak Putri untuk makan malam.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di asrama. Sebelum berpamitan Putri mengeluarkan toples kecil berisi kue kering yang ia buat tadi dan menyerahkan pada Tiyan.
"Ini buat kakak, dimakan ya, ini buatan Putri sendiri semoga suka."
"Aku masuk dulu ya, assalamu'alaikum."
"Makasih Put, Wa'alaikumsalam," ucap Tiyan.
Kemudian ia pun melajukan motornya ke arah parkiran. Sedangkan pikirannya sudah kalang kabut sejak tadi.
.
.
.
JANGAN LUPA KRITIK, SARAN, FAVORIT DAN GIFT-NYA YA..
BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT BUAT NULIS NOVELNYA.ππ
OH YA JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL KEDUAKU " AFTER MERRIED "
__ADS_1
SEMOGA KALIAN SUKA π.. TETAP JAGA KESEHATAN DAN PATUHI PROTOKOL KESEHATAN YA...π.. SEHAT-SEHAT SEMUANYA π