
"Hah ... mana mungkin bisa begitu nek," ucap Putri mulai kesal.
"Mana mungkin ia pacaran ama Vian, suka aja engga, lagian memang dari dulu ia dan Vian hanya sebatas teman dan saling mengagumi, tidak lebih dari itu," gumam Putri dalam hatinya.
"Nenek sayang, Vian itu terlalu sempurna buat Putri dan ia pun sudah Putri anggap sebagai kakak, dan tidak mungkin lebih dari itu nek, maaf." Ucapnya sambil memegang lengan nenek dan bergelayut manja.
Ia ingat kata mama Vian, kalau mau membujuk nenek, cukup dengn kamu bermanja-manja sama nenek, pasti nenek akan luluh dengan sendirinya, begitu katanya.
"Nenek ...." ucap Putri.
"Hemm ...."
"Nanti kalau jodoh buat kak Vian, nanti Putri bantu nyari deh!"
Nenek melihat Putri dan melihat Vian.
"Memang cucuku kurang apa si,,sampai kamu menolaknya?"
Putri bingung harus berbicara bagaimana lagi. Lalu Vian pun mendekati neneknya. Lalu Putri pun duduk di tempatnya semula, memberi ruang pada nenek dan cucunya agar bisa lebih saling memahami satu sama lain.
Vian pun mulai mengutarakan isi hatinya pada neneknya, ia berkata dengan lembut dan pelan.
"Nenek sayang, Vian memang dulu sangat mencintai Putri, tapi Vian ga berani menyatakannya, sampai ahirnya Putri menjadi milik orang lain."
"Aku juga pernah kehilangan jejak Putri saat nenek dan mama membawaku kemari."
"Dan sekarang tiba-tiba nenek memintaku untuk menikahi Putri, bagaimana aku bisa? apakah dengan begitu aku bisa memberinya kebahagiaan? atau justru akan menyakitinya karena ia tidak mencintaiku?"
__ADS_1
Nenek pun mulai meresapi kata-kata cucunya tersebut, ia juga masih memandang Putri. Gadis manis yg sudah menghidupkan suasana rumahnya itu, yg dulu kelam kini sudah berubah jadi lebih hangat dan berwarna. Bahkan sejak pertama kali ia datang ke rumah nya ini, semua orang telah berubah menjadi hangat karenanya.
Vian pun melanjutkan perkataannya.
" Dan sekarang Putri juga sudah mencintai orang lain nek, Vian sudah berusaha, tapi ...."
Putri memandang lekat lelaki tampan di depannya, jauh di lubuk hatinya, sebenarnya ia pernah mengagumi sosok Vian, tapi ia tak pernah mencintainya dan sekarang pun ia masih menganggap Vian sebagai kakak sekaligus sahabatnya. Jadi ia benar-benar dihadapkan pada piliham yg sulit.
"Tapi apa cu?"
"Vian ga mungkin merebut Putri dari kekasihnya nek, itu bukan sifat yg diajarkan oleh mama atau papa dan juga nenek bukan? jadi Vian lebih baik memilih kebahagiaan Putri. " ucapnya sambil terus meyakinkan neneknya.
"Vian juga akan merasa lebih sakit jika Putri sakit hatinya karena harus berpisah dengan kekasihnya."
Nenek pun memeluk cucu semata wayangnya itu. Rona kecewa jelas terpancar dari mata tua itu. Dipandanginya Putri,,lalu ia pun menyuruh Putri untuk kembali mendekatinya.Nenek pun membelai kedua cucunya itu.
Putri pun tersenyum ke arah nenek dan mengangguk, "Iya, boleh nek."
"Terimakasih cu," ucapnya sambil mencium kedua cucunya, satu cucu kandungnya dan satu lagi cucu angkatnya.
Dan ahirnya mereka berempat makan malam bersama. Sesekali Vian masih mencuri pandang ke arah Putri. Ia masih merasakan getaran yg sama saat memandang Putri. Entah sampai kapan perasaan itu akan memudar, Vian tak tau, yg ia tau ia sedang belajar menguraikan perasaannya agar ia bisa menerima kenyataan.
Andai ia bisa memilih, ia pasti akan lebih dulu hadir agar ia bisa memiliki hati dan jiwa Putri atau mungkin ia bisa menjadi suami Putri seperti keinginan kedua orang yg disayanginya yaitu mamanya dan neneknya.
Mama Vian yg masih memperhatikan tingkah anaknya sangat tau kalau Vian sebenarnya masih menyimpan rasa untuk Putri.
Sedari tadi ia masih berdiam karena ia ingin anaknya mengutarakan isi hatinya pada Putri. Jadi ke depannya tidak akan ada lagi kesalahpahaman diantara mereka. Meskipun dengan segenap kemampuannya mama Vian bisa menyatukan keduanya, tapi ia tidak mau bertindak gegabah. Karena bagaimanapun masa depan mereka ada di tangan mereka sendiri.
__ADS_1
Kebahagiaan impian mereka harus mereka ciptakan sendiri tanpa campur tangan kedua orangtuanya. Agar ke depannya mereka akan menjadi pribadi yg melengkapi satu dengan yg lain. Jangan sampai keegoisan dari salah satu pasangan mendominasi dan menimbulkan kekecewaan pada ahirnya.
Ia juga tak akan membiarkan Putri merasakan kesepian seperti dirinya yg hanya dijadikan no 2. Karena prioritas utama suaminya yg tidak lain ayah Vian adalah pekerjaan dan kebahagiaan keluarganya.
Hanya materi dan materi saja di otaknya. Padahal yg namanya hubungan pernikahan adalah penyatuan dua orang yg saling melengkapi satu dengan yg lain.
Dan ahirnya malam itu, Putri harus menelan pil kekecewaan karena ia harus kembali menginap di rumah Vian. Ia juga sudah mengirim pesan pada Tiyan agar tak mencarinya, karena ia masih belum pulang. Ia tidak mungkin berani cerita kalau dia sekarang masih menginap di rumah temannya, apalagi temannya itu adalah Vian, mantan temannya yg pernah menyukainya.
🍃Tiyan pov-
Tiyan yg tadi pagi hatinya berbunga-bunga, kini menjadi sendu. Harapan bisa bertemu Putru kali ini pupus sudah. Padahal tadi pagi ia sudah menyusun sesuatu yg indah-indah untuk berdua dengan Putri. Tapi karena pesan yg barusan ia baca, keceriaanya kini luntur sudah .Tapi ia tak berkecil hati. Minggu depan saat ada tanggal merah double, ia ingin mengajak Putri untuk mengunjungi kedua orangtuanya di kota K.
Semoga Putri setuju dan mau diajak bertemu kedua orangtuanya. Ia ingin segera mengenalkan Putri pada kedua orangtuanya agar ia bisa segera meminang Putri atau setidaknya meyakinkan pada Putri kalau dirinya benar-benar serius akan hubungan yg mereka jalani sekarang ini. Bukan hanya sebatas hubungan main-main atau pacaran semata, tetapi sebuah hubungan yg pada ahirnya akan menuju gerbang pernikahan.
Sebuah pernikahan yg ia impikan sejak dulu. Dengan wanita yg bisa memahami hati dan fikirannya dan juga bisa menjadi ibu yg baik untuk calon anak-anaknya nanti.
🍃Putri pov -
Setelah menyelesaikan masalah tadi Putri meminta ijin untuk bergegas istirahat. Ia ingin segera istirahat agar esok hari ia tak terlambat masuk kantor.
Vian juga sudah berjanji akan mengantarkannya pulang sehabis subuh. Agar Putri bisa bersiap - siap dan mempunyai banyak waktu untuk bisa iatirahat.
Putri yg sudah masuk ke dalam kamarnya segera mengunci pintu kamarnya dan segera beranjak untuk tidur. Ia sudah terlalu capek dengan semua kegiatan yg terjadi hari ini.
Keluarga Vian yg hangat ini ahirnya menjadi keluarga Putri yg baru di kota S. Putri sungguh beruntung, setelah ia mengakui hubungan mereka kemarin ia menjadi lebih nyaman dan untungnya tadi ia tidak diusir nenek. Bahkan ia sekarang sudah dianggap sebagai cucu oleh nenek Vian.
~ Bersambung ~
__ADS_1