
.............................
"Haizzz sayang, kamu 'ga liat jam, ini uda jam 9 malam, bubuk gih."
"Haaahhhhh, masa si mas? kayanya tadi masih jam 7."
"Udah ah ..." Lalu Tiyan pun menggendong Putri ke tempat tidur.
Bukan terjadi hal yg seperti dibayangkan pemirsa, tapi memang mereka berdua istirahat karena lelah. Maklum acara pernikahan mereka ini tergolong lumayan padat merayap.
Pesta pernikahan megah di kediaman Putri dilaksanakan karena mengingat Putri adalah anak terahir dalam keluarga besarnya, sedangkan Tiyan adalah anak pertama di keluarganya.
Pesta besar karena sehabis ini keluarga Putri tidak akan mengadakan pesta pernikahan kembali. Sedang disisi lain, keluarga Tiyan tidak memiliki anak perempuan, jadi mereka hanya bisa merayakan acara unduh mantu saja.
Dilakukan menggunakan adat istiadat sesuai kebiasaan daerah masing-masing.
⚘Keesokan harinya.
Di tempat Putri, pagi-pagi Putri dan Tiyan sudah melakukan sholat subuh berjamaah. Lalu mereka berbaur dengan anggota keluarga lainnya, karena memang kondisinya masih pagi. Mereka juga sudah menyiapkan barang-barang yg akan mereka bawa pergi nanti siang.
Ayah dan ibu Nisa pun juga sudah bersiap-siap untuk ikut dalam mengantar Putri ke kediaman mempelai pria. Kakak perempuan Putri ada 2 orang yg ikut mengantarkannya. Ada keluarga kecil dari Kaj Gina dan Kak Vira.
...⚘Sepenggal kisah keluarga besar Putri⚘...
Kak Gina adalah anak perempuan pertama ayah, sedangkan Kak Vira adalah anak kedua. Mereka sudah sama-sama memiliki keluarga sendiri. Tapi yg paling dekat dengan Putri hanya Kak Vira. Karena anak perempuannya sangat dekat dengan Putri, bahkan dibilang lengket kayak perangko. Bahkan kalau mereka jalan berdua, bukan seperti keponakan dan tantenya, melainkan kakak beradik.
__ADS_1
Sisil namanya, ia satu weton dengan Putri. Weton adalah hari dalam pasaran/hitungan jawa. Suku jawa salah satu suku di Indonesia yang masih kental dengan adat dan tradisinya. Termasuk salah satunya terkait soal hitungan hari mulai dari hari dan pasarannya yang sering disebut weton.
Dalam kalender Jawa, satu pekan terdiri dari tujuh hari yang diadopsi dari kalender Islam dan lima hari pasaran Jawa. Weton, adalah gabungan keduanya yang menunjukkan hari kelahiran seseorang.
Biasanya orang jawa dalam menentukan hari dan tanggal sering mempertimbangkan weton jawa ini dengan harapan dilancarkan dan sesuai perhitungan makna weton Jawa. Termasuk dalam pernikahan, jodohpun antara kedua pasangan terkadang dihitung menggunakan weton jawa berdasarkan tanggal dan pasaran jawanya yang memiliki arti berbeda-beda.
Biasanya kalau anak perempuan dalam satu silsilah keluarga ada yg mempunyai hari weton yg sama, mereka akan lengket satu sama lain. Tidak pernah bertengkar tetapi mereka malah akrab satu sama lain. Dan sifat mereka saling menyayangi, bahkan boleh dikatakan jarang bertengkar.
Sisil adalah pribadi yg hangat, meskipun ia masih kecil, ia sudah tumbuh menjadi gadis cantik, hanya saja perawakan tubuhnya mini, alias pendek seperti Shelly sahabat Putri semasa SMK.
Ia juga bersikeras untuk ikut mengantarkan Putri ke kediaman mempelai pria nantinya. Ibunya pun tak mempermasalahkan jika Sisil ikut. Adik laki-lakinya Fadhli juga ikut. Sisil dan Fadhil meskipun kakak beradik tapi mereka tak pernah akur. Kalau bertemu bagai kucing dan anjing.
Jarak usia mereka pun terpaut cukup jauh. Sisil kelas 8, Fadhil masih kelas 3 SD. Sisil cerewet, Fadhli pendiam. Sisil lebih dominan gen ibunya, makanya sifatnya persis seperti Kak Vira. Sedangkan Fadhil dominan gen ayahnya yg pendiam. Meskipun mereka berdua tak pernah akur, tetapi Putri sangat menyayangi keponakannya tersebut.
Kak Rega dan keluarga kecilnya tak bisa ikut mengantarkan Putri, karena istri kak Rega tidak kuat menempuh perjalanan jauh, ia mengalami mabuk yg sangat parah. Bahkan hanya dari rumah orangtua Putri ke rumahnya saja, ia bisa mabuk kalau diajak naik bus atau mobil, maka dari itu Kak Rega hanya menggunakan sepeda motor. Dan hal itu untungnya tak menurun pada anak perempuan mereka.
Rombongan pengantar pengantin sudah sampai di kota K sejak dini hari. Para rombongan sebagian besar sudah kembali ke kediaman masing-masing. Mereka langsung beristirahat sejenak sebelum besok pagi mereka akan berbaur untuk menyambut rombongan keluarga besar Putri. Ya hari Sabtu pagi, keluarga Putri akan sampai di kota K, untuk mengikuti adat unduh mantu di kediaman Tiyan.
Ngunduh Mantu merupakan istilah dalam perspektif budaya Jawa yang mengacu pada rangkaian upacara perkawinan adat Jawa. Acara tersebut diselenggarakan setelah selesai acara resepsi perkawinan di lingkungan tempat tinggal pengantin wanita.
Ngunduh mantu adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa, ngunduh artinya panen atau memanen sedangkan mantu artinya adalah menantu. Singkat cerita, acara ngunduh mantu dilakukan ketika orangtua menikahkan anak laki-lakinya, kemudian si istri dibawa untuk tinggal bersama suami dan tidak langsung keluarga tersebut akan mendapatkan personel tambahan.
Hal itu masih dilakukan dan dilestarikan di tempat tinggal Tiyan.
⚘Kediaman Putri
__ADS_1
Tepat pukul tujuh malam, rombongan keluarga Putri dan kedua pengantin menuju ke kota K. Ada 2 rombongan yg menggunakan dua bus besar. Pengantin dan keluarga besar diantar dengan 4 mobil pribadi.
Perjalanan mereka ditempuh 7 jam perjalanan. Di dalam perjalanan mereka beristirahat 2 kali, saat pukul sembilan malam dan waktu subuh. Sesampainya di kota K, mereka sampai pukul enam pagi. Rombongan pun segera membersihkan diri, sedangkan pengantin berganti pakaian kembali. Begitu pula dengan Putri, kembali dirias dengan menggunakan adat Jawa.
Setelah rombongan selesai sarapan dan semuanya sudah siap, iring-iringan pengantin pun memasuki rumah Tiyan.
Kedua mempelai datang bersama pangombyong (pengiring) dari rumah mempelai perempuan. Para pengiring ini biasanya terdiri dari keluarga besar, tetangga dekat dan kerabat dekat mempelai perempuan yang berada di belakang pengantin.
Rombongan yang hadir di rumah besan (orangtua pengantin pria), diiringi Gendhing Boyong Pengantin.
Orang tua pengantin pria menyambut kehadiran besan (orang tua pengantin wanita) bersama kedua pengantin.
Sindur Binayang, yaitu sang ayah mempelai pria menyampirkan kain sindur, atau kain motif Sidomukti atau sejenisnya ke pundak kedua pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan. Ayah berada paling depan, pengantin berada di tengah dan ibu mempelai pria berada di belakang mengiringi pengantin sambil memegang pundak kedua pengantin. Dalam prosesi ini biasanya diiringi gendhing Ketawang Boyong Basuki, Pelog Barang.
Lalu kedua mempelai diiringi kedua orangtua menuju pelaminan. Sebelum kedua mempelai duduk dipelaminan, terlebih dahulu melakukan sungkem ke kedua orangtua.
Kedua mempelai duduk di pelaminan, diapit kedua orangtua. Kedua orangtua mempelai pria selaku pemangku hajat duduk di sebelah kanan pengantin. Sementara kedua orang tua mempelai wanita duduk di sebelah kiri pasangan pengantin.
Rangkaian acara pun sampai pada sesi "Imbal Wicara" yaitu dialog penyerahan pengantin dari keluarga mempelai perempuan kepada keluarga besar mempelai pria.
Kedua mempelai diberi tirta suci dua cangkir yang diminumkan oleh kedua orang tua mempelai pria secara bergantian.
Setelah itu acara sambutan dan ucapan terima kasih dari perwakilan keluarga mempelai pria, saat itu kedua mempelai bersama orangtuanya berdiri berjajar di depan pelaminan.
Lalu acara pun ditutup dengan rangkaian jamuan makan untuk tamu undangan.
__ADS_1
Unik, beda, dan menyenangkan, mungkin adalah tiga kata yang paling pas untuk menggambarkan tradisi budaya Jawa berupa acara ngunduh mantu.
Dan sebagai bagian dari warga negara Indonesia yg baik dan suku keturunan Jawa, author pun mau memberikan edukasi buat para pembaca setia novel author, supaya kita menjaga dan ikut melestarikan budaya bangsa kita.