Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
DILEMA SEORANG CALON AYAH


__ADS_3

.............................


Bolak-balik ke setiap lorong klinik, aku pun didampingi 2 orang suster. Satu disampingku sambil terus bertanya apakah mengalami sesuatu. Dan satunya dibelakangku, siap siaga. Sedang ibuku ada disampingku. Dan tiba-tiba ... sleb ... sleb ... senut ... senut ... auwwwhhh.


"Kenapa ini sakit sekali?" rintihku.


Sampai aku pun tak kuat merasakan kontraksi kali ini, entahlah rasanya sulit sekali diungkapkan dengan kata-kata. Rasa sakitnya sampai terasa ke punggung belakang.


"Aduh ... ga kuat," rintihku.


Tak sengaja aku pun meremas lengan suster yg memapahku. Ia pun terkaget, maklum susternya masih muda, kira-kira seumuran denganku, maka dari itu aku uda anggap temen sendiri, sampai kelupaan kalo dia suster, ku remas lengannya tadi.


"Eh, maaf ya sus."


"Gpp mba, mari istirahat di kamar saja." Ucapnya sambil menahan sakit. Tentu saja karena saking rafleknya ku remas lengannya sekuat tenaga.


"Ayo sayang kita ke kamar saja," ucap ibu mertuaku.


"Huh, dasar suster aneh, tadi tiduran malah disuruh jalan-jalan, katanya biar makin mempercepat pembukaan, eh, habis gitu suruh balik kamar lagi," gerutuku.


Dan sampai kamar, entah kenapa kontraksinya semakin terasa dan aku sudah tidak kuat lagi. Aku pun berbaring di brankar dan aku pun segera diperiksa.


"Auwwwwwggggghhhhh ..."


"Sakit mas, hiks, kapan kamu pulang?" rintihku setelah semua meninggalkanku sendiri di kamar.


Entah kenapa si kecil aktif sekali sekarang, tendangan kuatnya pun sampai tidak bisa aku tahan. Dorongan dari dalam begitu kuat.


"Sabar ya sayang, kita tunggu ayah pulang dulu, baru kamu keluar ya." Ucapku sambil mengelus-elus perutku.


🍃Sementara itu ditempat kerja Tiyan.


"Yan, elu dapat telpon dari orang rumah," kata salah satu operator di tempat kerjanya.


Tiyan pun segera meninggalkan pekerjaannya karena pikirannya sudah tidak enak sejak pagi.


"Assalamu'alaikum," Ucap Ibu Tiyan.


"Wa'alaikumsalam, kenapa bu?"


"Istri kamu mau melahirkan, cepet pulang ya nak".


"Serius bu, tadi pagi tidak apa-apa?" tanyanya panik.

__ADS_1


"Ya serius to nak, masa ibu bohong."


"Ya sudah bu, Tiyan ijin dulu sama kabag bagian tempat kerja."


"Ya sudah, segera pulang ya, jangan ngebut."


"Iya bu, assalamu'alaikum ."


"Wa'alaikumsalam."


Dan dengan tergesa-gesa, Tiyan pun segera meminta ijin pada kabagnya. Dan karena kabag tempat kerja Tiyan masih baru, ia tak serta merta memberi ijin pada Tiyan, malah Tiyan disuruh menyelesaikan pekerjaannya karena pekerjaan saat itu lumayan banyak.


"Astagfirullah, dasar kabag kagak ada akhlak, masa istri mau melahirkan engga dikasih ijin, malah dipersulit." Gerutu Tiyan setelah keluar dari ruangan kabagnya.


Saat itu masih pukul 14.00, dan ia harus bekerja sampai pukul 19.00 baru bisa pulang.


Dengan terpaksa ia hanya bisa bekerja sekaligus berdoa agar saat proses melahirkan istri tercintanya nanti ia bisa pulang tepat waktu, dan bisa melihat anaknya melihat dunia untuk pertama kalinya.


Pekerjaan kantornya saat ini menjadi sangat membosankan bagi Tiyan, apalagi konsentrasinya sudah terpecah saat ini. Satu sisi ingin segera pulang, satu sisi ia belum mendapatkan ijin cuti.


Karena iba melihat sahabatnya bingung, salah satu teman kerja Tiyan pun dengan sembunyi-sembunyi membantu untuk memintakan ijin bagi Tiyan melalui Asman divisinya dan berhasil. Lalu saat jam istirahat makan sore, ia pun memberikan surat ijin cutinya pada Tiyan.


"Bro, maaf ga bisa bantu banyak, kalo kamu mau pulang, pulang aja, semoga istri kamu melahirkan dengan normal dan lancar ya." Ucap salah satu sahabat Tiyan.


"Iya sama-sama."


"Makasih banyak, ok aku pulang dulu."


Dan setelah berpamitan pada teman-teman satu ruangan dengannya, Tiyan pun segera pulang. Dengan segera ia pun segera melajukan motornya menuju rumah kontrakan dan mengambil tas, yg bahkan isinya belum sempat dikeluarkan karena tadi pagi ia buru-buru berangkat kerja.


Ternyata ditengah perjalanan ada hambatan untuk Tiyan. Hujan datang dengan lebatnya ditambah lagi petir yg menyambar pohon mengakibatkan pohon itu tumbang dan menutupi hampir seluruh badan jalan.


Pada ahirnya para pengguna jalan terpaksa berhenti. Proses membersihkan jalan pun memakan waktu yg tidak sedikit, jadi perjalanan Tiyan pun terhambat. Padahal kalau harus putar arah, akan menambah waktu lebih lama lagi.


Oleh karena itu, ia terpaksa menunggu ditempat sembari menunggu hujan reda. Dan sialnya ponselnya lowbat jadi ia tak bisa memberi kabar orang rumah.


"Astaghfirullah, kenapa semua menjadi rumit seperti ini." Gumam Tiyan sambil mengacak-acak rambutnya.


Sedangkan di tempat lain, Putri sedang merintih kesakitan.


🍃Putri Pov-


"Kenapa ayah belum pulang sayang?" Ucap Putri sambil mengelus-elus perutnya, tapi disatu sisi punggungnya juga sakit sekali.

__ADS_1


Putri pun semakin merasakan sakit diseluruh tubuhnya, karena proses pembukaan masih terus bertambah. Sedangkan ibu mertuanya masih di luar dan entah ada dimana.


Sanak saudara Putri dan Tiyan juga belum hadir semua, sedangkan di dalam ruang perawatan tidak boleh ditunggu lebih dari 2 orang.


Kedua orang tua Putri juga masih dalam perjalanan menuju rumah kediaman orangtua Tiyan. Sedangkan Tiyan masih terjebak hujan di kita S.


"Andai kamu ada disini sayang, pasti rasanya tidak akan seperti ini ... hiks."


Tok


Tok


Tok


"Permisi bu, maaf mau diperiksa dulu ya." Ucapnya ramah.


Lalu Putri pun terlentang dan suster mulai memeriksa sudah sampai mana proses pembukaan pada Putri.


"Mungkin sebentar lagi ya bu, proses pembukaannya hampir sampai tahap akhir, ini masih pembukaan 7, mungkin masih 3 jam lagi." Ucapnya dengan tenang.


"Ya Allah masih 3 jam lagi," keluh Putri.


Dan sesaat kemudian suster pun pergi. Kemudian ibu mertuanya pun segera masuk, dan beliau membawakan air minum untuk Putri.


"Minum dulu sayang, dari tadi kamu belum minum dan makan."


Saat ini mertuanya menyerahkan sebotol air mineral, Putri sempat kaget karena didalam nya ada tulisan arab, seperti rajah atau sejenisnya. Tapi karena ia takut membuat mertuanya kecewa, ia pun meminum air tersebut dengan mengucap "Bismillah."


Tapi air itu tidak diminum semua, melainkan hanya sepertiganya.


"Kenapa tidak habis sayang?"


"Nanti saja bu, takut klepoken," jawabku.


Dan ibu pun tersenyum. Lalu beliau dengan setia masih berada disampingku dan kadang kala beliau mengusap punggung Putri untuk mengurangi rasa sakitnya.


Dan alhamdulillah rasa sakit yg menderanya tidak sesakit tadi.


.


.


.

__ADS_1


Hai para reader's setia "CTSN" CINTAKU TAK SEINDAH NOVEL, sebentar lagi akan sampai ke proses akhir ya.. jadi mohon maaf bila novel perdana Fany ini kurang sesuai dengan imajinasi kalian. Terimakasih sudah mendukung novel fany sampai hari ini. Love you 😘


__ADS_2