Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
KENCAN


__ADS_3

Sebelum Danuarta benar-benar keluar dari gerbang sekolah, Mungil sudah menghalangi jalan Danuarta.


"Dan ... ngapain si lo pake ngelindungi Rya ... ada hubungan apa antara lo dengan Rya?" Tanya Mungil tiba-tiba.


"Oh jadi ini beneran semua rencana elu ... gue 'ga nyangka lo masih kayak gitu sampe sekarang?"


"Maksud lo apa Dan ... kita uda berteman cukup lama dan elu tau gue, apa yg gue mau harus gue dapetin, dan ...."


"Dan apa ?"


"Dan gue 'ga mau elu ikut campur, elu temen gue dan 'ga mungkin gue nyakitin elu, plissss Danuarta."


"Sorry ... gue 'ga bisa."


"Asal lo tau ... Rya adalah gadisku dan aku 'ga mau dia kenapa-napa ... emang sebenarnya apa si istimewanya seorang Rya?"


"Rya udah ngrebut apa yg aku suka, oh ya ... memang kamu belum tau, kalo Rya ada hubungan dengan kakak kelas kita." Ucap Mungil mulai memanasi Danu.


"Emang apa yg lu tau?" Tanya Danu yg sudah terpancing.


"Cihh ... bilangnya dia gadismu, tapi masalah kek gini aja elu g tau."


"Emang setau aku Rya baik ama semua orang yg ia kenal, tapi sejauh ini, Rya tidak sedang menjalin apapun dan dengan siapapun." Ucap Danu kemudian.


"Akh ... kau ini! sama sekali 'ga berubah, selalu luluh hanya dengan muka polos seseorang dan maaf Danu, aku kira kamu sudah tertipu dengan wajah polos Rya."


"Cukup ... aku cuma mau ingetin kamu, sebagai cewek yg cukup manis engkau tak perlu merusak citramu dengan perbuatan seperti ini, kalau kamu menginginkan sesuatu, capailah dengan bijak, jangan sampai menyakiti orang lain." Ucap Danu tak terima dengan semua tuduhan Mungil pada Rya.


"Dan jangan sampai engkau mencoba menyakiti Rya ... atau semua yg kamu lakukan akan ...."


"Sudahlah ... aku pulang duluan, dan ingat kata-kataku tadi Mungil."


Danu yg masih merasakan sedikit nyeri karena kakinya yg terkilir, ahirnya mengakhiri perdebatan tadi. Langkahnya masih terseok-seok, karena memang dia tadi jatuh dari lantai 2 tanpa persiapan.

__ADS_1


Dan Mungil pun segera pergi dari area sekolah dan lagi-lagi ia harus menelan pil kekecewaan karena entah kenapa dengan kehadiran Rya, dia merasa terusik seperti ini. Dan bisa dipastikan setelah ini, dengan kehadiran Mungil, kehidupan Rya bisa saja terusik.


⚘Ryani pov


Dari kejadian dua hari ini, berturut-turut, Rya merasa kalau memang ada sesuatu yg janggal dalam kesehariannya. Pertama tadi di kelas, saat ia masih memasukkan buku-buku ke dalam tas, tiba-tiba ada seseorang yg mengunci pintu, dan tentu saja Rya begitu kaget. Dia segera berlari ke arah pintu, dan menggedor-gedor pintu, untung saja ada Danuarta yg tiba-tiba muncul dan membuka pintu. Kalau pun tidak ada orang yg bisa menolongnya, dengan terpaksa ia akan minta tolong kak Vano dari sisi jendela yg mengarah ke kelasnya.


Kedua, saat di tangga, sepertinya memang benar ada yg menaruh pelicin di lantai, karena semua penghuni lantai 2 sudah pada pulang, dan tinggal kelasku saja, dan orang yg bersisa hanya aku dan Danu, masa iya Danu yg dibuat celaka, dengan siapa yg jadi musuhnya? Atau target sebenarnya memang aku ? hhhh ...Trus apa masalahnya denganku? akhhh....pusing...tapi aku harus cari tau , sebelum ...." Ucapan Rya terhenti saat seseorang datang dari arah lain.


"Sebelum apa sayang?"


Dari arah samping tiba-tiba ada sesosok pria tinggi menjulang berdiri di dekat Rya, dan tadi sempat membisikkan sesuatu di telinga Rya, yg membuatnya merinding sekaligus geli.


Dan tentu saja Rya kaget dan sempat terlonjak dari duduknya.


"Ish ... kak Vano ngagetin aja." Ucapku kemudian.


"Habisnya dari tadi kaya ada yg kamu pikirkan, dan pas aku uda nyampe malah dicuekin, ya udah aku tunggu aja disini, sampe kamu ngedumel sendiri ... he ... he ...."


"Jadi kakak denger semuanya dong!" Pekik Rya tak terima sekaligus malu.


"Hhhh ... ya uda kalo 'ga denger ... trus kita mau ngapain sekarang?"


"Ya kencan lah ... wkwkwkkwk ... emangnya mau belajar bareng?" Canda Vano pada Rya.


"Ga lucu kali kak ... ya uda ayo, keburu sore ntar."


"Ya uda jangan ngambek gitu dong, ntar manisnya ilang lo!"


"Hhhh ... seorang Revano yg dingin kayak es bisa ngegombal ... wkwkwkwk ... seumur-umur baru kali ini deh kak Vano ngegombal." Batin Rya.


Dengan reflek tangan Vano kembali memegang tangan Rya dan mengajaknya ke sudut sekolah, tempat paling favorit mereka berdua, alias mojok. Pojok ruang UKS, tempat paling bersejarah di sudut sekolah bagi Rya dan Vano. Tempat mereka mengikat janji untuk saling mencintai satu sama lain.


Rya tak pernah merasa keberatan meskipun hanya berdua di sudut sekolah. Karena memang mau kemana lagi, ia dan Vano tak suka di keramaian. Di sudut sekolah banyak cerita indah tentang kenangan mereka berdua setahun ini.

__ADS_1


Sebenarnya Vano bisa saja melakukan apapun dengan Rya disitu, dan tentunya suasananya mendukung, tapi Vano bukanlah badboy, ia amat menjaga perkataan dan sikapnya terutama pada Rya. Sesekali kalaupun ia sangat rindu Rya, ia hanya berani memegang tangannya dan mencium punggung tangannya, atau sekedar menyuruh Rya bersandar di bahunya dan sesekali memandangi langit bersama. Itu sudah lebih dari cukup baginya.


Rya juga sangat nyaman diperlakukan seperti ini, setidaknya ia merasa dicintai dan mempunyai sandaran hidup. Mungkin inilah kenangan yg akan ia simpan di masa putih abu-abunya.


Sesampainya di tempat biasa, ia dan Rya segera mengambil tempat di sudut favoritnya. Disini udara siang tidak akan terlalu terasa panas, hanya angin sepoi-sepoi yg menemani. Langit hari ini begitu cerah, bersih dan membentang lautan biru di angkasa.


"Hmmm ... bagus banget ya langitnya dan untungnya cuacanya ga begitu terik." Ucap Rya di sela keheningan yg tercipta dari tadi.


"Oh ya kak, gimana ujian kmrn, berjalan lancar kan?"


"Mmm ya begitulah, otak kakak 'ga terlalu bisa dipaksa, jadi ya sebisanya aja ngerjainnya."


"Ihhh ... kok bilang gitu, ya berdoa dong kak, biar diberi kelancaran dan semoga lulus dengan nilai terbaik ... gitu!"


"Aamiin ...."


Vano masih memandang Rya dengan intensnya dari tempat duduknya dan tentu saja yg diperhatikan sudah malu-malu.


"Sini Rya ... kamu 'ga kangen ama kakak?" pintanya diiringi dengan menepuk tempat duduk di sebelah Vano. Yg artinya ia akan meminta Rya duduk didekatnya seperti biasa.


Rya pun melangkahkan kakinya menuju arah yg ditunjuk Vano, tapi dia tidak duduk terlalu dekat, masih berjarak 1 jengkal kaki. Vano pun jengah dengan sifat Rya yg masih menjaga jarak dengannya, dengan agresifnya ahirnyalah Vano yg berpindah posisi mendekat dengan Rya.


"Ishhh ... kakak! Jangan dekat-dekat, bukan muhrim tauk!"


"Ya kan bentar lagi jadi muhrim." Canda Vano pada Rya.


"Apaaan si kak Vano." Semburat rona merah pun muncul di kedua pipinya.


Tak dapat dipungkiri Rya, pesona seorang Revano telah meluluh lantakkan hati seorang Rya. Rya yg begitu polos tentang cinta, harus membuka hati dan belajar mencintai hanya karena kehadiran seorang Revano.


Revano begitu sempurna di mata para wanita, tubuh atletis, kulit putih bersih, rambut yg selalu rapi, dan bahu yg begitu nyaman buat sandaran, begitu pula deru nafasnya pun mampu menyalurkan ketenangan di hati seorang Rya.


Tangan yg begitu kokoh itu terasa lucu tatkala memegang jemari Rya yg kecil, seperti kakak yg memegang tangan adiknya atau lebih tepatnya kalo disandingkan Rya bahkan akan dianggap adik Vano. Tubuh yg menjulang tentu akan sangat lucu jika disandingkan dengan gadis yg berpawakan kecil dan imut seperti Rya.

__ADS_1


Seperti karakter anime jepang, yg cewek kecil pendek dan pasangannya tinggi menjulang dengan badan atletis. Seperti itulah bayangan hubungan Vano dan Rya.


Dan seperti biasanya kegiatan berdua di sekolah pun berjalan penuh keheningan. Hanya sesekali candaan yg muncul dari keduanya.


__ADS_2