Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
LELAKI MENYEBALKAN


__ADS_3

..........................


Putri memang menolak permohonan mama Vian untuk menyekolahkan kembali Putri bersama Vian. Oleh karena itu ia tetap membantu Putri dibalik layar.


Sesampainya di ruang makan. Semua makanan lezat sudah tersaji disana. Lalu Vian dan mamanya segera mendudukan dirinya di kursi biasa, sedangkan Putri dan Tiyan duduk di seberang meja didepan Vian dan mamanya. Lalu nenek pun datang ke meja. Ia melihat Putri hadir disana. Betapa bahagianya melihat Putri hadir disana.


"Putri ... cucu kesayangan nenek sudah datang?" Ucapnya penuh haru.


Putri pun tersenyum kemudian mendekati nenek untuk menyalaminya. Begitu pula dengan Tiyan yg juga menyalaminya dengan sopan.


"Kapan kamu datang sayang?"


"Baru saja nek."


"Yang ganteng ini siapa?" Tanya nenek ke arah Tiyan.


Sedangkan Vian dan mamanya saling memandang dan mengarahkan kembali pandangannya ke arah nenek.


"Kenapa? tak suka jika dibandingkan? memang benar kan yg disamping Putri itu lebih ganteng dibanding kamu?" Tunjuknya pada Vian.


"Ha ... ha ... ha ... ternyata nenek Vian lebih unik." batin Tiyan.


"Huh ... apa-apaan si nek? cucu sendiri dibanding-bandingkan?" Ucap Vian yg mulai kesal.


Nenek hanya bersikap acuh padanya. "Kok kamu belum bicara cu?" ucapnya memandangi Tiyan sedari tadi tak berbicara. Sedang Tiyan mau berucap, Putri sudah menyelanya.


"Em ... nek, kenalkan ini calon suami Putri nek, bulan depan kami akan menikah." Ucap Putri menjelaskan.


"Wah ... beruntung sekali kamu Put, mendapatkan suami setampan itu. Seperti mendiang suami nenek dulu." Ucapnya sembari menyeka ujung kelopak matanya yg sempat berair.


"Nenek kenapa?" ucap Putri panik karena melihat nenek menahan tangisnya.


"Ga apa-apa kok, makan dulu yuk, nanti keburu dingin makanannya."


Jauh di lubuk hatinya ia sebenarnya sedih, karena Putri batal menjadi calon menantu anaknya. Dan itu artinya rumahnya akan kembali sepi dari suara ceria Putri.

__ADS_1


Karena Putrilah suasana rumahnya yg dulu sepi sempat menghangat setahun yg lalu. Lalu karena kesibukan masing-masing ahirnya Putri jarang maen ke rumahnya kembali. Mengakibatkan suasana rumah menjadi sepi kembali.


Dan kini Putri hadir membawa berita bahagia untuknya. Tapi tidak untuk keluarga mereka.


Mama Vian menyadari perubahan sikap mertuanya itu. Ia sudah mengenal baik sifat mertuanya itu, bahkan saat tadi beliau membuat lelucon. Padahal ia tau ia juga sama dengan dirinya yg menginginkan Putri menjadi menantu di rumah ini.


Kemudian mereka makan dalam diam. Yg terdengar di ruang makan hanya denting sendok garpu dan piring yg saling berbenturan.


"Oh ya, setelah menikah kalian mau bulan madu kemana?" Tanya nenek tiba-tiba.


Putri , Vian dan Tiyan tersedak makanannya secara bersamaan. Semuanya saling menatap satu sama lain lalu pandangan mereka tertuju ke arah nenek.


"Apa ada yg salah dengan perkataan nenek? sampai kalian tersedak saja pake jamaah segala...." Seloroh nenek tanpa dosa dan dengan santai meneruskan kembali makannya.


"Nenek?" Ucap Vian dan mamanya bersamaan.


"Kalian ini kenapa si?"


Mama Vian mendengus kesal, "Nenek, menikah saja belum? masa sudah ditanya mau bulan madu kemana? memang nenek mau ikut kesana juga?"


Putri dan Tiyan saling memandang. Lalu Tiyan pun memulai pembicaraannya, "Maaf nek, kalau bulan madu, belum sempat terpikir oleh kami, karena memang kami hanya mendapatkan cuti 10 hari dari perusahaan, jadi untuk bermimpi pun kami tak berani."


"Lagian bulan madu atau tidak, Putri dan Tiyan tak mempermasalahkannya nek, bulan madunya saat nanti ahir tahun aja, sekalian cutinya bisa panjang, he ... he ... he." Seloroh Putri dengan gaya biasanya.


"Owh."


"Memang kalian satu tempat kerja?" Tanya mama Vian tiba-tiba.


"Mm ... tentu saja tidak tante, saya bekerja di bidang produksi, sedang Putri dibagian staff-nya."


"Owh ... tapi kamu sangat beruntung nak dapat calon istri seperti Putri, sudah cantik, pinter masak, berbakat pula, nenek harap pernikahan kalian nanti langgeng sampai ahir hayat memisahkan ya, dan satu lagi pesan nenek, jangan pernah menyakiti hati istrimu nanti." Ucap nenek panjang lebar.


Tiyan mengangguk paham, ia tak menyangka nenek Vian begitu menghargai kehadiran dirinya. Meskipun ia tau, di dalam lubuk hatinya ia pasti kecewa karena Putri tidak menjadi menantu di keluarga besarnya.


Putri pun tersentuh akah ucapan nenek yg begitu mendalam untuknya. Baginya nenek Vian sudah seperti neneknya sendiri, karena memang Putri sudah tidak memiliki nenek. Dan wejangan seperti ini sangat dinantikannya saat menuju pintu pernikahan.

__ADS_1


Vian terhenyak akan perkataan neneknya, ada sesuatu yg seakan menyadarkannya, jika ia tetap menginginkan Putri, tentunya itu akan lebih menyakitinya dan orang-orang terdekat Putri. Dan sungguh ia tak menginginkannya.


Setelah beberapa saat kemudian mereka pun menyelesaikan acara makannya. Dan dengan segera nenek meminta ijin pada Tiyan untuk mengajak Putri mengobrol bersama. Dan nenek juga meminta Vian mengajak Tiyan untuk bersamanya. Awalnya Vian menolak tetapi karena tatapan tajam neneknya ia pun menurutinya.


"Ayo Put, ikut nenek." Ucapnya kemudian. Putri pun ahirnya mengikuti ajakan nenek dan meninggalkan Tiyan bersama Vian.


"Vian ...."


"Iya nek."


"Jangan kau apa-apakan calon suami Putri, kamu paham!" Ancamnya pada cucunya tersebut.


"Iya nek."


Tiyan tersenyum dikala Vian diceramahi neneknya. Sedangkan Putri masih menatapnya dengan isyarat mata yg hanya bisa diartikan olehnya. Kira-kira seperti ini percakapan mereka.


"Mas, jangan kamu apa-apakan Vian, dia masa laluku dan aku juga tidak pernah ada hubungan cinta dengannya."


"Iya sayang, aku paham, aku tak akan mengapa-apakan dia, kamu percaya kan sama mas?"


"Ok, aku percaya sama mas, dan tolong maafkan jika dia tidak menyukai kehadiran mas disini, mungkin dia belum terima kalau aku mau menikah."


"Siap istriku yg bawel ..." senyumnya pun terukir indah saat Putri terlihat kesal memandanginya.


Dan disaat mereka masih melakukan kontak batin. Tangan Putri sudah ditarik nenek untuk mengikutinya. Tiyan hanya tersenyum melihat kepergiannya.


Sedangkan Vian masih memandang kesal lelaki dihadapannya saat ini. Kalau boleh memilih, ia lebih suka jika disuruh untuk menemani Putri ketimbang calon suaminya, tapi ia juga tak enak hati jika harus menolak permintaan nenek, apalagi melihat wajah Putri, tak mungkin dia menunjukan ketidaksukaannya dihadapan wanita yg dicintainya itu, terlebih di depan calon suaminya itu.


Bisa-bisa ia tersenyum senang ketika melihat kekesalannya.


"Hei kau ..." Ucapnya saat memanggil Tiyan.


Tiyan menoleh, "Kau memanggilku?" Tanyanya sedikit angkuh.


"Siapa lagi kalau bukan kau? ayo ikut saja ke galery di ruangan atas, aku mau menyelesaikan tugas kuliahku disana, tapi kalau kau keberatan, kau boleh menunggu Putri disini!"

__ADS_1


"Cihh ... dasar lelaki menyebalkan" Gumam Tiyan dalam hati.


__ADS_2