
"Hati-hati ya Put, Vian kamu jaga Putri antar dengan selamat sampai tujuan ya," ucap mama Vian dengan ramah.
"Iya mam."
Lalu Putri pun berpamitan pada keluarga Vian.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sambil melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga.
π~π~π~π~π
Selesai berpamitan, mereka berdua segera masuk mobil. Lalu Vian pun segera melajukan mobilnya keluar pekarangan rumah untuk menuju ke arah asrama Putri.
Di dalam mobil.
"Makasih ya Put, kamu udah mau datang ke rumah nenekku," ucapnya lirih.
"Sama-sama, tapi maaf tidak bisa berlama-lama disana."
"Maaf juga tadi aku lom sempat jadi model lukisan kamu, soalnya takut keburu sore juga," ucapnya kembali.
"Iya 'ga papa Put, lagian kamu udah mau maen ke rumah aja, aku udah bahagia banget kok!"
"Masa sih?"
"Iya lah," ucapnya sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Putri, dan tentu saja Putri menjadi merona karenanya.
"Em, sejak kapan kamu bisa bawa mobil Vi?"
"Dari dulu aku udah diajarin sama sopir di rumah, cuma belum mau praktek, soalnya belum butuh banget ... hehehe ...."
"Lagian kamu tu, pake belagak jadi anak culun si," ucapnya.
"Ya, biar bisa memilah mana yang beneran bisa jadi teman sama yang tidak?"
"Owh iya bener juga ya?"
Putri pun mengerti arah pembicaraan Vian.
"Kamu mau mampir kemana dulu? biar sekalian aku antar atau mungkin mau beli makanan untuk makan malam."
Dan karena perkataan Vian, ia jadi ingat sesuatu.
"Yah, gara-gara keburu pulang jadi lupa nyobain kue buatan mama kamu deh!"
"Oh iya, sampe lupa ya ... hehehe ..."
Mereka pun tertawa secara bersamaan.
Sementara itu di tempat lain.
πTiyan pov -
__ADS_1
Sejak tadi pagi Tiyan sama sekali tidak melihat tanda kehidupan di kamar Putri. Ia sengaja berdiri di balkon kamar di lantai 3 untuk melihat kamar Putri.
Mungkin ia bisa melihat Putri yang ingin membeli makan atau lagi menjemur bajunya, tapi ternyata hasilnya NIHIL. Ia sama sekali tidak melihat Putri sedikitpun.
Lalu kemana perginya Putri? ia masih bingung harus dengan cara apa agar ia bisa kembali lagi dengan Putri. Menghubunginya saja ia belum berani, apalagi untuk bertemu dengannya saat ini.
Satu sisi, ia juga pengen meminta maaf pada Putri untuk kejadian tadi malam. Tapi ia sungguh tak berani menemuinya. Lalu harus dengan cara apa supaya ia bisa kembali?
Setelah beberapa menit tenggelam dalam lamunannya, ia pun melihat Putri baru saja sampai di depan kamarnya. Ia masih memakai tas ranselnya dan juga sepatu. Apa Putri baru saja bepergian? lalu dengan siapa?
Banyak sekali pertanyaan yang menghantui Tiyan saat ini. Pandangan matanya kembali terusik, apalagi ia melihat Putri sangat cantik saat itu.
Dengan sweater warna kuning dan celana jeans. Tunggu dulu, kenapa ada syal yang melilit lehernya dicuaca panas begini?
"Kenapa dia pake syal dihari yang panas sih!" gerutu Tiyan.
Tiyan menepuk jidatnya frustasi, dia ingat semalam dia dengan rakus mencium dan menyesap leher jenjang Putri. Pasti itu meninggalkan bekas kepemilikannya disana.
"Aarggggghhhhh, pasti Putri sangat marah padanya saat ini," gumamnya.
Tapi ia masih memperhatikan Putri yang masih melepas sepatu ketsnya. Lalu sesudahnya ia pun masuk ke dalam kamarnya.
Tangan Tiyan sudah gatal ingin menghubungi Putri. Tapi terjadi perang batin, satu sisi ia ketakutan, satu sisi lainnya, ia tidak mau kejadian ini semakin berlarut larut. Dan ia pun memutuskan sesuatu.
"Ya nanti malam ia harus bertemu Putri," ucapnya mantap dalam hati.
πVian pov -
Ia tak menyangka gadis impiannya dengan mudah dapat diterima dengan mudah dalam keluarga neneknya. Atau memang karena Putri adalah orang yang mudah bergaul sehingga siapapun yang berada disisinya pasti akan merasa nyaman dan bahagia.
Ya tak dapat dipungkiri kehadiran Putri dalam kehidupan Vian sudah menjadi kebahagiaan tak terkira baginya. Meski ia belum pernah menjadi seseorang yang berarti di hati Putri.
Tapi ia bahagia karena bisa bertemu dengan Putri dan mengenalkannya pada keluarganya. Dan pesona yg dimiliki Putri pun sudah menghipnotis keluarga besarnya tadi.
"Putri ... putri ... i love you ..." ucap Vian sambil bernyanyi menuju kediaman neneknya.
πKediaman Raharja.
Ketiga orangtua di rumah itu sudah berkumpul. Dan masih membahas Putri.
"Kamu lihat sendiri kan , bagaimana putra semata wayangmu berbeda hari ini?" tanya nenek pada ayah Vian.
"Iya ma, aku lihat semuanya hari ini."
"Dan kau bisa lihat akibat didikanmu dan ulahmu dia sampai tidak mempunyai teman atau bahkan pacar!"
"Untung saja ia masih mempunyai teman yang baik seperti Putri tadi," ucap nenek masih dengan nada kesal.
"Ya, aku mengerti ma."
"Lalu ...."
__ADS_1
"Lalu apa ma?"
"Dasar anak bodoh, sudah setua itu masih saja egois," ucap nenek.
Menantu dan anaknya pun saling memandang satu sama lain akibat perkataan sang nenek.
Ya memang akibat ayahnyaz Vian menjadi pendiam dan jarang mempunyai teman. Semua gerak gerik Vian juga dibatasi oleh ayahnya.
Bahkan semua kegiatan Vian diawasi langsung olehnya. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Vian, tak luput dari perhatian ayahnya.
Meskipun begitu, Vian sebenarnya tau kalau ayahnya sangat menjaga dan menyayanginya cuma caranya agak sedikit over menurutnya. Begitupun menurut neneknya.
"Bahkan cucuku yang ganteng itu pasti tidak pernah merasakan yang namanya pacaran," gumam nenek dengan nada kecewa.
Meskipun suara nenek sudah sangat lirih, tapi masih bisa didengar semuanya.
Mama Vian pun tersedak minumnya, "Uhuukkk ..."
"Maa ..." ucap ayah Vian tidak terima istri tercintanya tersedak akibat perkataan nenek.
"Ah, sudahlah, pokoknya saat usia Vian 25 tahun, ia harus sudah menikah," ucap nenek sambil berlalu.
Lalu tinggalah sepasang suami istri itu di dalam ruang keluarga yang masih diam dan saling menatap satu sama lain. Lalu istrinya pun ingin kembali ke kamar dan tangannya di tahan suaminya.
"Mau kemana ma?"
"Ya ke kamar lah pa, dari pada disini. Cuma diem-dieman 'ga asik," ucap mama diselingi kerlingan matanya ke arah suaminya itu.
Suaminya hanya geleng-geleng saja, sebenarnta usia mama Vian memang masih muda. Karena saat melahirkan Vian usianya masih 19 tahun. Jadi kalo dilihat dari penampilannya masih terlihat cantik meskipun usianya sudah memasuki kepala empat.
Dan bahkan 6 tahun yang lalu ia masih melahirkan anak ke dua mereka, meskipun sekarang putri cantik mereka sudah tenang diatas sana.
Memang jarak usia Vian dan adiknya terlalu jauh, itu memang karena ayah Vian yang selalu sibuk, bahkan di rumah pun jarang. Jadi tidak mungkin kan membuat adik Vian dengan cepat.
Dan kalau sekarang mau bikin adik Vian lagi, rasanya tidak mungkin. Karena sebentar lagi Vian pasti akan menikah dan mereka akan menjadi oma dan opa.
Bahkan memikirkan nasib putranya saja sudah membuatnya pusing. Andai saja dulu ia tak sesuka itu pada pekerjaan pasti ia tidak akan kehilangan momen terhadap putra semata wayangnya itu dan yang pasti sudah memiliki banyak anak dengan istri tercintanya itu.
.
.
.
HAI... HAI... GIMANA... SUKA 'GA DENGAN KEDATANGAN VIAN KEMBALI DALAM HIDUP PUTRI... ABIS TIYAN JAHAT SI AMA PUTRI..π
OH YA JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, KRITIK, SARAN & GIFT-NYA YA.. BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT BUAT NULIS NOVELNYA.ππ
..OH YA JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL KEDUAKU " AFTER MERRIED "
SEMOGA KALIAN SUKA π.. TETAP JAGA KESEHATAN DAN PATUHI PROTOKOL KESEHATAN YA...π.. SEHAT-SEHAT SEMUANYA π
__ADS_1