
Beberapa hari sesudah perkemahan itu, tepatnya tgl 13 Februari.
⚘Danuarta POV
"Hemm ... besok pagi kan hari Valentine. Kira-kira hadiah apa ya yg cocok buat aku kasih ke Rya? Coklat udah biasa, mmm gimana kalo boneka ya ... akhhh tapi nanti kalo ketauan teman-teman lain, bisa berabe ... hhhhh."
Danuarta masih bingung dan frustasi karena besok mau kasih kado spesial valentine buat Rya, sementara dia juga takut ketauan teman-teman kelesnya🤣🤣🤣
Tau dong siapa mereka? (Deo, Cahyo, Hilmy dan Bobi)
⚘Revano POV
Hampir dua bulan lebih Revano tidak bertemu Rya, bahkan ia pun melewatkan ulang tahun Rya, begitu pula dengan Rya, yg memang jarang merayakan hari ulang tahunnya sehingga ia pun melewatinya seperti hari-hari biasa. Tak ada sesuatu yg spesial dihari kelahirannya.
Begitu pula denvan Vano, bertahun-tahun Vano pun tak merayakan hari spesial apapun, tapi tahun ini dia ingin melewati hari Valentine bersama Rya. Ya dia mau ngajak dinner Rya sepulang sekolah. Dan Vano pun sudah menyiapkan kado spesial buat Ryani.
⚘Ryani POV
Ryani akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan studynya dan kegiatan extrakurikulernya. Dan itu cukup menguras energi dan fikirannya. Dia memang giat karena dia juga mengincar beasiswa untuk sekolah ke ITB Bandung dan clue kedua ke UNY atau PPPG Kesenian Jogja.
Dia memang tidak memilih ke ISI karena yg ada beasiswanya baru kedua kampus itu, kecuali UNY.
Dan seleksi untuk kelas 3 yg sudah diterima di ITB tahun ini hanya 1 orang, yaitu Kak Listy.
Kenapa memilih ITB? karena nanti bila kuliah disana bisa sekalian study banding ke sekolah Seni di luar negeri, dan itu juga menjadi alasan Ryani belajar sungguh-sungguh. Siapa yg tak suka jika diberi kesempatan belajar di luar negeri, apalagi itu di MESIR. Pendidikan memang menjadi no satu buat Rya, tetapi perekonomian keluarganya kadang membuatnya harus berusaha lebih ekstra agar bisa melanjutkan kuliah.
Ryani tetap bersyukur karena bagaimanapun, hanya dia yg pendidikan nya lebih unggul ketimbang kakak-kakaknya. Kalo kakaknya memilih sampe tamat kelas 9 langsung kerja, tetapi Ryani setidaknya bisa menamatkan sampai kelas 12.
⚘Vian POV
Mencintai dalam diam itu bisa dibilang menyakitkan, dan bisa dibilang menguntungkan. Pasalnya dia hanya mencintai tanpa tau apakah orang yg dicintainya mengetahui perasaan cintanya itu, dan bahkan bisa saja cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi ia juga tak berani untuk memperjuangkan cintanya.
Dan itu amat tidak menyenangkan baginya, tapi bagaimanapun besok hari kasih sayang, Vian akan mulai menunjukkan cintanya. Dan kini ia akan mulai berjuang selagi masih ada kesempatan.
⚘Ryani POV
Pagi ini dikelas 11 lebih tepatnya kelas Dekorasi dan Patung.
"Tumben bener pagi-pagi gini geng lemes uda stand by di kelas." Batin Rya sesampainya di depan kelasnya.
"Pagi semuanya ..." Sapa Rya pada penghuni kelas.
"Pagi sayangku ..." Jawab Bobi dan Hilmy hampir bersamaan.
"Eh betewe hari ini kan hari kasih sayang ni? kira-kira yg paling cantik di kelas ini akan dapat hadiah 'ga ya ... he ... he ...." Ucap Hilmy seraya melirik Rya.
__ADS_1
Dasar Rya yg punya sifat acuh, dia pun tak membalas perkataan mereka. Dia mah cuek-cuek bebek.
"Dari pada manyun, ni cokelat dari kita berdua ya say!" Ucap Bobi yg entah kapan sudah berdiri d depan Rya.
"Kita kan sayang juga ama elu, selamat hari kasih sayang ya cinta, tapi jangan lupa nanti elu kasi contekan ke kita saat ulangan ya ... he ... he ..." Pinta Bobi dan diangguki pula dengan Hilmy.
"Akh dasar kalian ini, 'ga tulus ni kalo gitu caranya!" Ucap Rya kemudian.
Dan baru saja Danuarta memasuki kelas seperti biasa. Sambil memasukkan salah satu tangan ke saku celana dan satunya lagi memegangi tas punggung yg dicantol sebelah, ia pun duduk di sebelah Ryani.
"Ada apa ni rame-rame, kok gue 'ga diajak?" Tanyanya sambil menaik turunkan alisnya dan sedikit mencondongkan badannya di depan Rya.
"Ikh, elu sonoan dikit napa? pagi-pagi uda ganjen aja, ngerusak mood gue aja sih!" Gerutu Rya.
"Ahaa ... kan enak pagi-pagi denger kamu bawel dan marah-marah, seru pula pagi-pagi bisa godain kamu ... wkwkkwkwk." Seru Danuarta tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kayaknya ada yg kasmaran ni ...." Seru Bobi tiba-tiba.
Dan Hilmy pun menyenggol lengan Rya," Tuh pangeran kamu uda datang, cie ... cie ...."
"Mana-mana Hil, lu godain gue ya?" Ucap Tya yg sudah keburu sewot. Di dalam pikirannya hanya terlintas satu nama, Revano Aldi Putra seorang.
"Lah emang elu nyari siapa? bukannya Danuarta pangeran elu, kan dia suka nempel ke elu, dimana ada elu pasti ada dia yg setia menemani." Ucap Hilmy dengan mantap.
Obrolan mereka jelas masih bisa didengar Bobi , Danu , dan lainnya.
Dan guru pun tiba, dan mapel pagi ini pun segera dimulai.
Tapi sebelum itu Pak Guru meminta Rya untuk mengambil buku paket di perpus. Dan kali ini Rya minta ditemenin Hilmy.
Di tengah jalan.
"Tumben lu minta gue temenin, napa 'ga si Danu aja sih?" Gerutu Hilmy dengan gaya lebay-nya.
"Oh elu 'ga mau, oke ntar gue bilang ama Pak Rahmat, lagian kan gue ketua kelas, ya suka-suka gue lah mau ngajak siapa?"
"Ampun mba jago ...." Ucap Hilmy kemudian.
"Sialan lu ... nama gue Rya bukan mba jago dudul!" Dan Rya pun mengejar Hilmy yg sudah berlari duluan, dan ditengah jalan Rya, dia di sapa Vano.
"Kak Vano." Ucapnya, dan Rya pun menghentikan larinya tepat di depan Vano Cs. Malu dan deg-degan jadi satu.
"Nanti pulang sekolah boleh kita bicara bentar?" Pintanya.
"Mm ... boleh kak, kalo 'ga ada lagi Rya duluan ya kak, soalnya uda ditungguin Pak Rahmat." Pamit Rya kemudian.
__ADS_1
"He em, jangan lari-lari lagi ya." Pinta Revano yg entah kenapa pagi itu berbeda di mata Rya.
"Hati-hati Rya ..." Seru kak Roni sembari tersenyum.
Rya hanya menjawab dengan anggukan kepala dan segera berlalu.
Kejadian tadi pun tak luput dari pengliatan Hilmy. Dan itu bisa jadi heboh kalo seisi kelas tau nanti.
Sewaktu kembali ke kelas, Hilmy pun bertanya, "Rya siapa tadi yg ketemu ma kamu sewaktu jalan ke perpus tadi ?"
"Oh itu tadi kakak kelas kita, Kak Vano Cs." Jawab Rya singkat.
"Oh ... kirain lu mau digrebek ...wkwkkwk,kok kamu bisa kenal mereka, padahal sebagian bentuknya absurd gitu, tapi ada yg ganteng juga sih!"
"Jangan gitu ... mereka baik kok, cuma penampilannya aja seniman banget, jadi kelihatan 'ga rapi, tapi mereka sopan dan satu lagi, jangan bilang mereka absurd, 'ga sopan tau."
"Wah kayaknya kamu 'ga trima deh aku mengejek mereka." Sahutnya kembali.
"Ya jelas, kan mereka geng pacar gue, dan satu lagi jangan kasi tau temen sekelas kalo gue punya pacar, atau kalo engga awas aja nanti ulangan 'ga akan gue kasih contekan, titik ga pake koma." Ancam Rya pada Hilmy.
"Wah ngancem ni ceritanya, oke buk!" Seru Hilmy dengan berjalan gontai, karena rencananya gagal sebelum terlaksana, akhh jadi 'ga seru ni!"
Dan ahirnya mereka sampai di kelas dan ulangan harian pun dilaksanakan dengan lancar.
Pada jam Istirahat, kebetulan Vian bertemu Rya di lorong kelas dan entah keberanian dari mana, Vian memberanikan diri menyapa Rya.
"Hai Rya." Sapanya.
"Eh Vian ... ada apa?"
"Aaa ... ku mau ngasih sesuatu ama kamu." Ucapnya terbata.
Rya mendongakkan kepala dan memandang wajah Vian secara intens "Hmmm, apa itu?"
Vian pun segera mengambil sesuatu dari belakang badannya dan segera memberikan bingkisan itu pada Rya.
"Terima ya, semoga kamu suka dan aku permisi dulu." Ucapnya dengan cepat, dan ia pun segera berlalu dari hadapan Rya.
Rya hanya terbengong, tak pernah ia mendapat hadiah sekalipun dihari ultahnya. Tapi hari ini secara tiba-tiba Vian kasih sesuatu ama Rya.
"Vian makasih ya ...."
Rya tidak tau kalo Vian buru-buru, karena dia tidak bisa mengontrol detak jantungnya dan ia takut Rya menolak pemberiannya, makanya dia buru-buru pergi.
Selly yg berdiri tak jauh dari situ, sempat melihat semuanya. Dan hatinya serasa terluka. Ternyata sampe saat ini pun Vian masih menyimpan rasa pada Rya, sahabatnya.
__ADS_1
Tapi Selly menguatkan hatinya, asal sahabatnya bahagia ia pun akan merasa bahagia.