
"Ini buat kakak, dimakan ya, ini buatan Putri sendiri semoga suka."
"Aku masuk dulu ya, assalamu'alaikum."
"Makasih Put, wa'alaikumsalam," ucap Tiyan.
Kemudian ia pun melajukan motornya ke arah parkiran. Sedangkan pikirannya sudah kalang kabut sejak tadi.
π~π~π~π~π
Andai saja ia bisa menahan nafsunya, pasti tidak akan berahir seperti ini. Semoga Putri masih bisa memaafkan semua tindakannya tadi dan mau kembali padanya.
Ia benar-benar akan memberi pelajaran pada Aga. Ia berjanji akan hal itu. Dan kali ini ia harus bertindak rapih agar Putri tidak kembali membencinya.
πPutri pov -
Putri berjalan gontai menuju kamarnya. Ia merutuki semua hal yang terjadi malam ini. Awalnya ia hanya akan menjelaskan semua tentang kesalahpahaman tadi pagi pada kekasihnya. Tapi semua berahir seperti ini.
Ia harus menerima kenyataan kalo Tiyan tidak sebaik yang ia pikir. Kisah masa lalu Tiyan seolah telah membuatnya memiliki 2 kepribadian yang berbeda dimatanya. Ahirnya ia pun sampai di kamarnya.
Ceklek
"Assalamu'alaikum ..."
Sesampainya di kamar, ternyata kak Ida sudah tidur. Ia pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu ia pun menuju kasurnya di lantai dua.
Ia berusaha memejamkan matanya, tapi tetap saja tak bisa. Tiba-tiba HP-nya berbunyi pertanda ada pesan masuk, dan ternyata itu dari Vian.
"Vian ...? ada apa?" batinnya.
Karena penasaran, ia pun membuka chatnya.
"Malam Putri, apa kabar?"
Dengan segera ia pun membalas chat dari Vian tersebut.
"Kabar baik, kamu apa kabar? masih inget aku ya? kirain sudah lupa!"
"Ya ingat lah, masa lupa sih, maaf kemarin aku sibuk kuliah, maklum, mahasiswa baru, wkwkkwkwk ..."
"Eh iya, sekarang sudah jadi mahasiswa ya? nah gitu dong baru bener, lagian kamu sangat berbakat, jadi perlu dikembangkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi."
"Oh ya, kapan-kapan kamu mau ya aku ajak maen ke rumah nenekku? beliau ingin sekali mengenalmu."
"Oh ya, emang ada apa denganku?"
"Mungkin mau berterimakasih karena kamu uda berhasil membuatku mau kuliah, maybe!"
"Oh ya, kapan kamu punya waktu Put?" tambahnya lagi.
"Besok mungkin atau lusa?"
"Kalau begitu besok aja gimana? mumpung hari libur kan, jadi kamu bisa lama main ke rumahnya!"
Putri tampak berfikir, dari pada ia ketemu Tiyan, mending menghindarinya untuk sementara waktu, sampai ia bisa mencerna semua kejadian yang barusan terjadi.
"Ok deh, besok kamu jemput aja di asramaku."
__ADS_1
Dengan hati berbunga Vian pun membalas pesan dari pujaannya tersebut.
"Ok, jam delapan pagi aku jemput, makasih Putri."
"Masama."
Lalu obrolan mereka berhenti.
Sementara itu di parkiran motor, Tiyan yang masih duduk diatas motornya sambil memandangi kamar Putri. Ia masih melihat ada sedikit cahaya di daerah kasur Putri. Itu artinya Putri masih belum tidur.
Tiyan pun memandangi Hp-nya, tapi ada rasa takut untuk menghubungi pujaan hatinya itu. Ia pun tampak berfikir, biarlah untuk sementara waktu ia memberi kesempatan Putri untuk memahami semua masa lalu Tiyan.
Cepat atau lambat ia memang harus berkata jujur pada Putri, terlebih ia benar-benar ingin memiliki Putri seutuhnya. Artinya semua rahasianya pun harus diketahui Putri. Ia tidak ingin ada hal yang mengganjal dalam hubungan mereka baik sekarang atau dimasa depan.
"Putri aku harap kamu bisa memahamiku, aku sungguh mencintaimu Ryanni Putri Azzahra," ucap Tiyan dalam hatinya. Ia pun turun dari motornya dan menuju kamarnya.
π~π~π~π~π
Keesokan harinya.
Pagi-pagi buta, Vian sudah memberi tahu ibu dan neneknya tentang kedatangan Putri hari ini. Ibu dan neneknya sangat bahagia melihat perubahan positif dari Vian, semakin hari semakin menurut dan kembali ceria.
Sebenarnya neneknya juga sudah sedikit banyak tau tentang Putri dari mama Vian. Ia tak mempermasalahkan jika Vian menyukainya.
Apalagi, hari ini cucunya tersebut akan membawa Putri ke rumah mereka. Dan ia pun sangat antusias untuk menyambut Putri.
Pagi itu, Vian pamit pada ibu dan neneknya. Dan ia akan menjemput Putri menggunakan mobilnya, bukan motor seperti biasanya. Terlebih jarak rumah Vian dengan asrama Putri lumayan jauh, demi kenyamanan Putri ia pun lebih memilih untuk menjemputnya dengan mobil.
Vian sudah berangkat sejak pukul setengah tujuh pagi, agar ia tidak terjebak macet dan juga bisa sampai tepat waktu. Ia dan Putri sama-sama sangat disiplin waktu, oleh karena itu dulu semasa sekolah mereka berdua jarang masuk ke ruang BP.
Sementara itu, di lain tempat, Putri sudah bersiap sejak kak Ida pamit pulang subuh tadi. Meski hari ini ia ada janji dengan Vian, tapi Putri tidak memberi tahu Tiyan. Sungguh ia butuh waktu untuk sendiri saat ini.
Mendengar Hp-nya berbunyi, Putri pun mengangkat telponnya.
"Assalamu'alaikum Put, aku uda didepan."
"Wa'alaikumsalam, iya aku keluar, sebentar ya."
"Ok."
Dengan senyum merekah, Vian menunggu Putri di dalam mobilnya. Beberapa kali ia mencium tubuhnya hanya untuk memastikan dirinya wangi. Ia hanya ingin tampil menawan didepan Putri.
Setelah menutup telponnya, Putri keluar kamar dan mengunci pintunya. Kali ini kuncinya ia bawa karena memang tak ada penghuni lain dikamarnya kecuali Putri.
Pagi ini ia sengaja memakai blouse turtle neck karena ia menutupi bekas kepemilikan Tiyan yang ada di leher Putri. Bukan hanya satu tempat, melainkan di dua tempat yang berbeda.
Ia pun baru menyadarinya saat ia menyisir rambutnya tadi pagi. Untung saja di kamar 'ga ada orang. Kalo ada bisa berabe nantinya. Karena ada janji dengan Vian, lebih baik ia pake turtle neck untuk menutupinya.
Ia langsung berjalan menuju depan asramanya, dia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada orang. Yang ada hanya sebuah mobil jazz yang terparkir apik di seberang jalan.
Lalu dari dalam mobil, muncullah Vian yang melambaikan tangan ke arahnya. Putri sempat kaget, tapi ia berusaha santai dan berjalan menuju mobil Vian.
"Masuk Put," ucap Vian seraya membuka salah satu pintu mobilnya untuk Putri.
"Makasih," ucapnya tersipu.
Bagaimana tidak tersipu, Vian menyambutnya layaknya seorang kekasih yang menyambut kedatangan kekasihnya dengan cara spesial.
__ADS_1
Setelah duduk, Putri pun memasang seat beltnya. Lalu Vian pun segera melajukan mobilnya menjauh dari asrama. Putri masih mengedarkan pandangan ke lantai tiga, jikalau ada Tiyan disana.
Tapi NIHIL, ia tak melihat seorangpun disana, pandangan mata Putri berubah menjadi sedikit sendu.
"Rasanya ada sesuatu yang hilang," batinnya.
Vian pun menyadari ada sesuatu yang sedang dipikirkan Putri.
"Kok bengong Put?" tanya Vian.
"Em, gpp ..." ucapnya.
"Maaf aku jemput pakai mobil, soalnya jarak rumahku dengan asramamu jauh, takutnya kamu capek kalo aku bonceng motor," ucap Vian jujur.
"Owh, kirain kamu gojek ... wkwkwkwk," canda Putri.
"Ha ... ha ... ha ... kamu masih aja suka becanda rupanya."
"Ya emang beginilah aku Vian, kaya kamu 'ga kenal aku aja."
"Betewe, pacar kamu 'ga marah kalau kamu jemput aku pake mobil?"
"Pacar, mana aku punya Put! Teman cewek aja cuma kamu doang, mana bisa aku punya pacar, dasar aneh."
"Masa si, tapi kamu 'ga belok kan?"
"Masih normal kan?"
"Aap ... paan si, ya jelas aku masih normal Putri," ucapnya gemas.
"Syukurlah ..." ucapnya sambil mengusap dadanya naik turun.
"Kamu ada-ada aja Put."
Lalu tujuh puluh menit kemudian mereka sampai di rumah kediaman Raharja, rumah nenek Vian.
"Wah, rumah kamu mewah banget Vian, aku jadi ragu masuk ni, pulang aja ya?" ucap Putri.
Vian memegang tangan Putri.
"Tenang, nenek dan mamaku orang baik kok," ucapnya.
Jantung Putri tiba-tiba berdisko tidak karuan saat tangan Vian memegang tangannya. Pandangan mata mereka beradu.
"Ayok masuk!" ajak Vian yang entah sejak kapan ada disampingnya sudah membuka pintu mobil tepat disebelah Putri duduk.
.
.
.
JANGAN LUPA KRITIK, SARAN, FAVORIT DAN GIFT-NYA YA..
BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT BUAT NULIS NOVELNYA.ππ
OH YA JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL KEDUAKU " AFTER MERRIED "
__ADS_1
SEMOGA KALIAN SUKA π.. TETAP JAGA KESEHATAN DAN PATUHI PROTOKOL KESEHATAN YA...π.. SEHAT-SEHAT SEMUANYA π