Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
BERITA BAIK


__ADS_3

"Tunggu, Putri mau muntah lagi, minggir mas."


Lalu Putri kembali mengeluarkan semua isi perutnya dan ia merasakan lemas luar biasa. Sebelum Putri terjatuh, Tiyan dengan sigap segera menggendong Putri ke tempat tidur.


"Kamu kenapa sayang?"


Hanya untuk berucap, Putri pun tak kuat, maka ia pun memilih untuk berdiam diri sambil memijit-mijit keningnya.


Tiyan tampak khawatir terhadap istrinya tersebut, lalu ia pun segera membuatkan teh hangat untuk istrinya itu. Di tepi tempat tidur, ia masih setia menunggu istrinya untuk berbicara, tapi semakin lama Putri pun hanya terdiam.


"Sayang, ini teh hangatnya, siapa tau bisa bilangin rasa mual kamu. Diminum ya?"


"Taruh aja disitu mas, kepalaku pusing banget."


"Kamu mau makan apa sayang? mau mas belikan apa?"


Putri nampak berfikir, "Hmm, gimana kalau nasi goreng aja, kayaknya enak banget."


"Ok sayang, mas belikan sebentar ya, sama jangan lupa diminum teh nya, besok pagi kita ke dokter ya?"


"Hu um, makasih mas."


"Masama sayang."


Lalu setelah tiga puluh menit berlalu, Tiyan sudah membawakan nasi goreng. Entah kenapa aroma nasi goreng terasa sangat nikmat di hidung Putri, maka tanpa disuruh pun ia sudah makan dengan lahap.


Nyam ... nyam ... nyam ...


"Ini enak sekali mas, masyaAllah ...."


"Alhamdulillah kalau begitu."


Ahirnya mereka pun makan berdua dengan lahap. Dan malam itu Putri dapat tidur dengan nyenyak. Tapi keesokan harinya, hal itu terjadi kembali.


Hoek


Hoek


Hoek


Sebelum waktu subuh, perut Putri sudah mual-mual kembali. Entah kenapa bau sabun di kamar mandinya pun membuatnya mual-mual. Tiyan yg menyadari istrinya muntah kembali, ia pun mendekati istrinya.

__ADS_1


"Kamu muntah kembali sayang?"


"Iya mas, lemes banget, tolong buang sabung itu mas, aku ga suka baunya!"


"Iya sayang, tenang aja nanti mas buang."


"Sekarang mas, mas mau aku mual lagi hanya karena mencium aroma sabun itu."


Tiyan pun menggaruk tengkuk kepalanya. Sebenarnya ada apa dengan istrinya itu? Kenapa dia mempermasalahkan sebuah sabun? Trus dia mudah sekali marah-marah? Ini bukan seperti sifat istrinya deh? Hmmm, entahlah Tiyan masih belum bisa mencerna semua ini. Tapi jadwal mengunjungi dokter pagi ini akan tetap berjalan Ia tak mau pusing lama-lama dengan kejadian ini. Kesehatan istrinya jauh lebih penting.


Sayup-sayup terdengar suara adzan. Mereka berdua pun segera mengambil air wudhu dan berjamaah.


๐Ÿƒ Pukul 07.00 di klinik kesehatan


"Pagi mas, mbak, ada yg bisa saya bantu?" Tanya dokter yg dikunjungi Tiyan dan Putri.


"Ini dok, istri saya setiap pagi muntah-muntah ga jelas. Trus indra penciumannya agak bermasalah." Terang Tiyan pada dokter itu.


Sedangkan Putri masih diam terpaku, hidungnya sudah ditutup masker, untuk menghindari ia mencium bau-bau an yg aneh menurutnya.


"Kalau begitu mbak ikut saya ke sebelah, biar saya periksa!"


Putri pun mengikuti kemana dokter muda itu mengantarnya. Ia kemudian berbaring di brankar dan dokter mulai mengoleskan gel di area perut Putri. Lalu ia pun mengeser-geser alat itu dia area yg sudah dikasih gel.


Putri nampak berfikir, "Kayaknya bulan kemarin dok, tapi itu pun engga banyak dan engga selama seperti biasanya."


"Ya sudah, mbak aku tes urin ya, untuk mengetahui apakah deteksi saya salah atau engga?"


"Ini ada cawan, nanti air pipisnya ditampung sedikit disini ya!"


Putri pun mangut-manggut, dan ia pun mengikuti instruksi dokter itu. Lima menit kemudian, ia pun keluar dan ia segera menyerahkannya ke dokter itu.


Dokter pun mengambil sample dari air tersebut dan memasukkan alat ke dalamnya, dan sesudah itu ia pun mengibas-ngibaskan alat tersebut ke udara. Dan taraaaaa ... dokter itu pun kembali tersenyum.


Lalu dokter itu mendekati pasangan suami istri tersebut. Sedang mereka berdua masih melongo menatap dokter tersebut.


"Bagaimana dok?" Tanya Tiyan yg sudah antusias.


"Mas lihat ini?"


Tiyan memandangi alat yg dipegang dokter itu, dua garis merah jelas terpampang disitu.

__ADS_1


"Apa itu dok?"


Tiyan dan Putri sama-sama bingung dengan alat itu, maklum mereka juga baru pertama kali melihatnya. Dan jijiknya itu tadi sempat dicelupkan ke sample air seni Putri.


Dokter itu menahan senyumnya, ia sadar pasti dua orang di depannya ini masih pasangan baru.


"Ini namanya tespek pak, alat deteksi kehamilan."


"Terus, maksudnya itu apa?" Tanya Tiyan sambil menujukkan dua garis merah di alat tersebut.


"Selamat ya Pak, istri anda sekarang sudah hamil enam minggu."


"Haaaaahhhhhh ... serius dok? dokter enggak bohong kan?" Ucap Tiyan dengan gugup.


"Tidak dong, tadi pun saya sempat mengecek perut istri anda, di layar monitor itu nampak segini kacang di dalam rahim istri anda. Itu artinya calon anak bapak sudah mulai tumbuh di dalam rahim istri anda."


Tangis bahagia jelas terpancar di kedua wajah Tiyan dan Putri. Dan bodohnya Tiyan tidak tau tempat, ia malah berjingkrak-jingkrak tidak karuan dan langsung menghujani istrinya dengan ciuman.


Dokter pun bersedia keras, membuat pasangan yg sedang dimabuk kebahagiaan itu sadar, mereka masih di ruang praktek dokter.


"Terimakasih dokter, terimakasih." Ucap Tiyan bahagia, sedangkan Putri menunduk karena malu dengan sikap suaminya barusan.


"Oh ya, tapi kenapa setiap pagi istri saya mual dan muntah, trus mencium bau sabun, aroma bawang putih, kerupuk dan bahkan mencium aroma tubuh saya saja ia sudah mual." Ucap Tiyan yg masih penasaran dengan istrinya.


"Begini pak, di tri semester pertama kehamilan, biasanya ada sebagian ibu-ibu muda yg mengalami "morning sicknes", jadi bapak tidak perlu khawatir.


"Baiklah dok, terimakasih banyak."


"Sama-sama, ini saya tuliskan beberapa resep obat dan vitamin untuk ibu, supaya mengurangi rasa mualnya."


"Terimakasih kembali dokter, saya permisi."


Lalu Tiyan dan Putri menuju apotek untuk menebus obat dan juga buku panduan pink yg berisi tentang panduan tentang kehamilan, cara merawat bayi dan perkembangan dari awal kehamilan sampai anak berusia balita.


Tiyan sangat bahagia karena apa yg ia harapkan akan segera terwujud yaitu menjadi seorang ayah.


Sedangkan Putri masih terdiam karena ia masih merasakan mual dari tadi.


๐ŸƒSatu bulan kemudian


Putri sudah berkurang morning sicknessnya, tapi soal makanan masih belum bisa memakan nasi. Ia hanya makan beberapa macam makanan tertentu saja. Bahkan minum susu hamil pun masih milih-milih. Kadang ia suka rasa vanilla, kadang coklat, tapi ia tidak suka rasa plain.

__ADS_1


Hampir setiap sore ia selalu membeli empek-empek. Entah kenapa rasanya sangat nikmat sekali. Dan itu membuat selera makan Putri meningkat.


__ADS_2