
Hampir setiap hari, sepulang sekolah ia menyempatkan diri untuk bergabung dengan panitia pameran. Rya memang anak yg aktif dan trampil. Maka dari itu campur tangannya dalam pameran kali ini amat penting dan kehadirannya mampu menghangatkan lingkungan pertemanan barunya. Rya bersyukur karena di jenjang pendidikan kali ini, ia banyak menemukan ilmu kehidupan dan juga pengalaman baru.
🍃~🍃~🍃~🍃~🍃
Ya, aktif dalam kegiatan sekolah memang sudah menjadi salah satu hobby Rya, meskipun ia tidak pernah menjadi salah satu bagian dari anggota OSIS atau PASKIBRAKA, tapi ia masih bersyukur karena ia masih bisa masuk dalam kegiatan atau organisasi lain di dalam sekolah.
Prestasinya di sekolah juga tidak terlalu buruk, bahkan ia sangat akbrab terhadap beberapa guru pengajarnya di sekolah.
Sifat rajin dan cerianya mampu menghangatkan suasana. Pembawaannya ramah kepada setiap orang, membuatnya dengan mudah dicintai semua orang.
Ia pun amat bersyukur bisa sekolah disini. Tidak terasa sudah hampir 3 th ia mengenyam pendidikan di sekolah seni ini. Berbagai kenangan turut mewarnai hidupnya selama 3 th ini. Sungguh masa-masa putih abu-abu memang sangat indah dan susah untuk dilupakan.
Pagi ini, seperti biasa Rya akan bersiap-siap untuk sekolah. Pukul 05.00 pagi ia sudah memasak air untuk mandi, entah kenapa cuaca hari ini amat dingin, jadi ia ingin mandi air hangat. 20 menit kemudian airnya sudah mendidih, maka dari itu ia membawa air tersebut ke kamar mandi dengan ember.
Jleg ... jleg ... jleg ...
"Kenapa lantainya bergoyang ya?" tanyanya dalam hati.
Tong ... tong ... tong ...
Suara kentongan dan perkakas rumah sudah ramai dibunyikan para warga. Ia pun ikut panik, karena ia baru sadar ternyata itu gempa bumi. Ia pun berlari keluar bersama kedua orangtuanya.
Di luar rumah terlihat pohon-pohon bergoyang hebat, bangunannya pun turut bergoyang. Sungguh pagi itu suasana begitu mencekam.
Seumur hidup Rya baru kali ini merasakan hebatnya gempa bumi, apalagi dalam waktu yg lama, sepersekian detik berikutnya terdengar warga yg berteriak karena ada salah satu anggota keluarganya yg terhimpit tembok rumahnya yg roboh karena gempa tadi.
Tolong ... tolong ... tolong ...
Banyak jeritan bersahut-sahutan dari arah manapun. Kekacauan pun terjadi dimana-mana. Tak terasa air mata Rya menetes dengan sendirinya. Pikirannya kosong melihat keadaan di sekitarnya, sampai ahirnya ia ingat kakaknya masih di dalam rumah.
Padahal bumi kala itu masih bergoyang hebat, sebentar berhenti sebentar bergoyang kembali, meskipun tidak sehebat guncangan pertama tadi.
Rya pun menggoncang-goncangka lengan ayahnya.
"Yah ... kak Rega masih di dalam rumah," serunya sambil terisak.
Ia begitu kawatir terhadap kakak laki-laki satu-satunya tersebut.
__ADS_1
"Kamu disini sama ibuk, biar ayah yg memeriksa keadaan kakakmu di dalam sana, kamu tenang dan terus berdoa," pinta ayah padanya sambil sesekali mengusap punggung anaknya tersebut, berharap agar ia bisa menyalurkan sedikit ketenangan.
Rya hanya mengangguk dan memeluk ibunya.
"Sabar nak, ini musibah sayang," tenang ibunya.
Ayahnya pun segera masuk ke rumah, beruntungnya ia masuk dalam keadaan rumah yg belum runtuh, tetapi di lantainya sudah banyak genteng yg berjatuhan, akibat dahsyatnya gempa tadi. Ia pun menuju kamar anaknya, Rega dan membangunkannya.
"Nak, bangun, gempa nak, ayo keluar rumah, bahaya kalo disini terus," terang ayah.
Rega yg masih tertidur agak kaget karena ayahnya sudah berada disisi tempat tidurnya. Kemudian pandangannya menyisir area kamarnya. Banyak pecahan genteng dan atap rumah yg berserakan. Belum lagi dinding rumah yg retak.
"Ada apa ini yah?"
"Gempa bumi nak."
Tanpa berpikir panjang ayahnya segera menarik anaknya agar segera keluar dari rumah sebelum gempa susulan terjadi.
Lima menit kemudian mereka berdua segera keluar dari kamar. Rya dan ibunya yg mendapati ayah dan kakaknya selamat hanya bisa bersyukur, kemudian mereka berempat berpelukan.
"Alhamdulillah nak, kamu tidak apa-apa," seru ibu.
Ia pun mengedarkan pandangan ke seluruh tempat, sungguh kejadian pagi ini memang sebuah bencana alam.
Setelah kondisi aman, Rya pun segera mandi karena tidak ingin terlambat masuk sekolah. Ia juga masih punya tanggung jawab untuk mengurus persiapan pameran.
Setelah melihat kondisi lingkungan tempat tinggalnya sudah stabil, kedua orang tuanya pun mengizinkan Rya berangkat sekolah.
Seperti biasa, pagi itu Rya naik bus, bersama orang-orang yg mau bekerja di kota, ada beberapa siswa sekolah seperti dirinya yg juga ikut berangkat sekolah. Mungkin karena mereka tidak tau kalo ini adalah bencana yg dialami oleh seluruh bagian di kota itu.
Sepanjang perjalanan, Rya mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Dilihatnya banyak rumah yg roboh, orang-orang yg penuh luka, dan setelah memasuki kota, banyak lalu lalang ambulance. Rya yg masih syok, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, mungkinkah ini bencana alam nasional? kenapa seluruh kota juga mengalaminya, bahkan lebih parah dari sekitar rumahnya."
Bahkan ia pun melihat beberapa rumah hampir rata dengan tanah.
Ya benar, pagi itu Gempa Bumi Tektonik telah mengguncang kota tempat tinggalnya tepatnya pada hari Sabtu pagi, kurang lebih pukul 05:55:03 WIB selama 57 detik. Gempa Bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. United States Geological Survey melaporkan bahwa gempa terjadi sebesar 6,2 pada skala Richter.
__ADS_1
Gempa susulan terjadi beberapa kali seperti pada pukul 06:10 WIB, 08:15 WIB. Gempa Bumi tersebut mengakibatkan banyak rumah dan gedung perkantoran yang roboh, rusaknya instalasi listrik dan komunikasi.
Rya yg tak sanggup melihat daerah sekelilingnya seperti itu, agak ragu menuju sekolahnya, tapi ia punya tanggung jawab yg lebih, maka dari itu, ia tetap melanjutkan perjalanan ke sekolahnya.
Setelah 1 jam perjalanan, ia pun sampai disekolah, ternyata area sekolahnya pun tak kalah parah dengan kondisi bangunan lainnya.
Di sekolah ia menemukan beberapa teman sekolahnya yg hari itu juga datang. Tapi kemudian kepala sekolahnya menyuruh semua siswanya untuk pulang, karena hari itu sekolah diliburkan sampai batas waktu yg tidak ditentukan. Karena benar ternyata ini adalah sudah masuk becana alama nasional. Begitu kata Kepsek tadi. Seluruh berita di tanah air sudah memuatnya.
Kemudian dengan temannya Rya menuju ke tempat pameran untuk melihat kondisi bangunan disana. Dan ternyata disanapun kondisinya juga sama parahnya dengan tempat yg lain.
Dan ternyata gempa pagi itu yg terjadi dalam waktu 57 detik, menghancurkan ratusan ribu rumah dan menyebabkan ribuan orang meninggal. Begitu berita yg sempat Rya dengar dari kepala sekolahnya tersebut.
Rya pun segera kembali ke rumah, dengan satu - satunya bus yg terahir, karena semua armada sudah tidak beroperasi lagi akibat banyaknya gempa susulan yg terjadi, seperti beberapa waktu lalu sekitar jam 11.22 WIB pun terjadi gempa susulan.
Sungguh hari itu, hari yg tidak mungkin Rya lupakan sepanjang hidupnya.
Gempa membuat kota tempat tinggalnya menjadi lumpuh seketika, banyak tangisan dimana-mana. Banyak orang yg berduka. Kotaku berduka, Negeriku pun ikut berduka.
~ Bersambung ~
.
.
.
Hello para readers yg budiman, bila suka karya author..tolong kasih like dan vote buat authornya..biar bisa ngasih cerita yg lebih baik lagi buat kalian..🙏
Oh ya.. kalo mau sapa author boleh banget follow author di sosial media author ya
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN N GIFTNYA
__ADS_1
~ Terimakasih ~