Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
KESAN PERTAMA


__ADS_3

Jantung Putri tiba-tiba berdisko tidak karuan saat tangan Vian memegang tangannya. Pandangan mata mereka beradu.


"Ayok masuk!" ajak Vian yang entah sejak kapan ada disampingnya sudah membuka pintu mobil tepat disebelah Putri duduk.


🍃~🍃~🍃~🍃~🍃


Putri pun turun dari mobil Vian. Ia masih terpaku dengan desain rumah yang sangat mewah didepannya ini.


Lalu ia pun masuk ke dalam didampingi Vian.


Ceklek


"Assalamu'alaikum," ucap Vian dan Putri bersamaan.


Lalu muncullah ibu Vian. Vian pun mencium punggung tangan ibunya begitu pula dengan Putri.


"Ini siapa? cantik sekali!" ucap mama Vian.


"Putri tante," ucap Putri malu-malu.


"Ajak duduk dong Vian, masak disuruh berdiri terus," ucap mamanya.


"Duduk Put!" ucapnya


"Makasih."


Lalu mereka pun berbincang-bincang, lalu salah satu ART mereka ke ruang tamu.


"Bu, makanannya sudah siap."


"Makasih mba," ucap mama Vian.


"Ayo makan dulu Put," ucap mama Vian seraya menggandeng tangan Putri.


Putri hanya menurut saja. Sementara Vian sangat bahagia mamanya sangat menyukai Putri.


Lalu sampailah mereka di ruang makan.


"Pagi nenek, nek, ini yang namanya Putri," ucap mama Vian mengajak Putri mendekati nenek.


Putri pun memberi salam dan mencium punggung tangan nenek.


"Pagi nek, perkenalkan saya Putri nek," ucapnya sambil tersenyum.


"Cantik sekali," ucap nenek.


"Ayok makan bareng yuk, jarang-jarang Vian bawa temennya kesini," ucap mamanya bahagia.


"Iya,anak nakal itu bahkan tak pernah mempunyai teman," ucap neneknya ketus.


Putri hanya tersenyum kecil, dia tau sekali Vian itu seperti apa saat sekolah.


"Apaan si ma," ucap Vian ketus.


Dia merasa terpojok sekaligus malu saat ini.


"Sebenarnya teman Vian hanya beberapa biji tante, nenek ..." ucap Putri sambil menahan senyumnya.


Sedangkan Vian semakin bersemu dan malu.


"Betul kan ucapan mama? Putri aja bilang begitu.

__ADS_1


"Ha ... ha ... iya-iya aku ngalah aja deh," ucapnya


Vian sengaja mengalah karena memang begitulah kebenarannya. Ia tak mempunyai banyak teman.


Nenek begitu bahagia melihat cucunya kikuk di depan seorang gadis dan ibunya sendiri. Ia tak menyangka gadis kecil didepannya itu membawa perubahan yang besar buat cucunya. Ia mampu membuat cucunya hidup dan setengah hidup saat kehilangan jejaknya.


"Putri sekarang umur berapa?" tanya nenek tiba-tiba.


"Em ... hampir dua puluh tahun nek," ucap Putri seraya mengingat usianya. Karena memang tak pernah dirayakan jadi kadang Putri tak mengingatnya.


"Kalo kamu Vian?" tanya nenek menatap cucunya.


"Hh ... nenek, masa usia cucu sendiri lupa?" tanya Vian heran.


"Tinggal jawab aja susah amat!" gerutu nenek pelan tapi masih bisa didengar semuanya.


"Iya, iya aku jawab, hampir dua puluh dua tahun nek," ucap Vian tak ikhlas.


"Nah gitu kan enak, Putri aja ditanya langsung jawab eh kamunya malah menggerutu," caci nenek kemudian.


Sedangkan mamanya Vian hanya tersenyum melihat kehangatan yang jarang terjadi di dalam rumahnya.


Tiba-tiba ayah datang dari luar dan menyapa semuanya, "Assalamu'alaikum," ucapnya ramah.


"Wa'alaikumsalam," ucap mereka bersamaan.


Lalu ayah mencium pipi nenek dan juga istrinya. Sedang Vian tak bereaksi apa-apa. Terlihat sekali kurangnya kedekatan antara anak dan ayahnya tersebut. Ia memang tak cukup dekat dengan ayahnya.


"Ini siapa?" tanya ayah pada Putri.


"Kenalin pa, ini Putri teman Vian," ucap mama Vian.


Putri pun berdiri dan mencium tangan ayah Vian dan memperkenalkan diri, "Saya Putri Om ..." ucapnya.


Putri hanya memandang Vian dan satu persatu keluarga Vian. Ia memang merasa aneh ketika Vian tak menyambut ayahnya, tapi ia bisa apa, dia hanya sebagai tamu disana.


"Kamu terusin makannya ya Put, tante permisi dulu mau nemenin Om," ucap mama Vian.


"Silahkan tante!" ucap Putri.


Vian hanya acuh dan melanjutkan makannya.


"Nenek juga masuk dulu ya cu, kamu berdua sama Vian 'ga apa-apa kan?" ucapnya ramah.


"Iya nek," ucap Putri.


Lalu setelah mereka pergi, tinggallah Vian dan Putri berdua.


"Kamu kenapa Vian, kok jadi diem, tadi senyum sekarang cemberut, Putri pulang aja ya kalau kamu begitu!" ucapnya.


"Jangan Putri, aku sangat menunggu kehadiranmu di rumah ini, masa kamu mau pulang gitu aja!"


"Aku udah selesai, kamu mau makan lagi atau?"


"Aku juga sudah, ayo ikut aku aja," ucap Vian kemudian.


"Eh, aku mau beresin piring-piring kotor dulu," tolak Putri kemudian.


"Ga usah, nanti ada yang bersihin kok, ada bibi, kamu ikut aku aja!" pintanya.


Vian pun menarik tangan Putri agar ia mengikuti langkahnya. Ia mengajak Putri ke ruang seninya.

__ADS_1


Putri hanya menurut karena memang hatinya entah lagi dimana sekarang. Yang jelas separuh hatinya sedang pergi.


Ceklek ...


Pintu ruangan seni Vian terbuka. Mata Putri melihat ke sekeliling ruangan itu. Banyak sekali hasil karya Vian. Dan ia melihat sosok wanita yang mirip dirinya.


"Ini ..." ucapnya terhenti saat Vian tiba?tiba berdiri di sampingnya.


"Iya ini kamu Put, cantik kan?"


"Ini semua pasti karya tunggal kamu, sejak kapan kamu membuat semua ini?" tanya Putri terkagum, sembari melihat satu persatu karya Vian yang terpajang apik diruangan itu.


"Hampir setiap aku punya waktu aku pasti membuat sketsa ataupun melukis. Dan ini karya terbaru aku!" ucapnya pada sebuah lukisan dirinya.


"Wah, yang ini besar sekali!" ucap Putri.


"Berapa lama kamu menyelesaikan yang ini?" tanya Putri.


"Sekitar dua bulan, karena detailnya sangat banyak, makanya aku rutinin buat menyelesaikan itu."


"Wah, kamu hebat sekali! Beruntungnya bisa mengenal seniman hebat kaya kamu," ucap Putri.


"Yang beruntung itu Vian sayang, karena dia bisa bertemu gadis cantik kaya kamu," ucap mama Vian yg tiba-tiba sudah ada di depan pintu.


"Eh ada tante, he ... he ... tante beruntung banget punya anak yang berbakat seperti Vian. Putri mah 'ga ada apa-apanya tante," ucapnya.


"Kamu tu hebat Put, bisa merubah Vian jadi seperti ini sekarang," ucap mama Vian lagi.


"Loh kok Putri tante, perkembangan Vian sangat mengagumkan tante, beda sama jaman sekolah dulu."


"Apalagi penampilannya sekarang, Putri aja kaget melihat penampilan Vian yang berubah sekali daripada dulu jaman sekolah."


"Emang kenapa? Jaman sekolah dia jelek ya Put!"


"Eh, bukan begitu tante! Dia jaman sekolah tu pendiam sekali, kalo deket dia serasa deketin gunung es tante ... wkwkwkwkwk," ucapnya.


"Ha ... ha ... ha ... ya begitulah anak tante, dingin. Tapi kayaknya kalo deket kamu dia 'ga dingin lagi deh," ucap mama Vian seraya menaik turunkan alisnya seraya menatap putranya yang jadi kikuk.


"Ha ... ha ... begitukah? kayaknya sama aja tante!" ucap Putri keheranan, dan malah menggoyang-goyangkan badan Vian yang semakin tinggi menjulang itu.


Vian hanya pasrah diperbuat seperti itu sama Putri. Putri itu kekuatan sekaligus kelemahan Vian. Kalo di apa-apakan Putri mah Vian menurut aja.


Mama Vian yang melihat itu semakin yakin, jika Putri cocok untuk putranya yang dingin itu.


"Ya sudah, mama 'ga akan ganggu kalian, terusin aja," ucap mama Vian sambil berlalu.



PENAMPILAN PUTRI SAAT BERKUNJUNG KE RUMAH VIAN 🤗


.


.


.


HAI... HAI... GIMANA? SUKA 'GA DENGAN KEDATANGAN VIAN KEMBALI DALAM HIDUP PUTRI... ABIS TIYAN JAHAT SI AMA PUTRI..😭


OH YA JANGAN LUPA LIKE, FAVORIT, KRITIK, SARAN N VOTE NYA YA... BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT BUAT NULIS NOVELNYA.🙏😊


..OH YA JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL KEDUAKU " AFTER MERRIED "

__ADS_1


SEMOGA KALIAN SUKA 😊.. TETAP JAGA KESEHATAN DAN PATUHI PROTOKOL KESEHATAN YA...😘..SEHAT-SEHAT SEMUANYA 🙏


__ADS_2