
......................
Ia juga masih memikirkan keadaan dan keselamatan Putri, karena bagaimana pun Putri lebih berharga dibanding nyawanya sendiri.
Mereka sampai di kota K, kurang lebih setelah menempuh 5 jam perjalanan. Lalu mereka pun masuk ke kedai sate itu dan memesan 2 porsi sate dan 2 teh hangat untuk meredakan rasa kedinginan mereka.
20 menit kemudian makanan sudah tersaji di depan mereka.
"Silahkan aden dan non, monggo dinikmati makanannya," ucap pak penjual sate.
"Nggih, matur suwun pak dhe," ucap Putri yg tersenyum tulus.
Lalu ia dan Tiyan segera menyantap makanan itu karena memang kondisinya perut mereka sudah sangat lapar sekali. Ditambah dinginnya udara sore itu sampai merasuk ke tulang-tulang mereka.
"Potongan dagingnya besar-besar ya Put, tapi bumbunya mantap sekali." Ucap Tiyan sambil memasukkan potongan daging sate ke dalam mulutnya.
"Hu um, enak banget deh rasanya,nyam ... nyam ... nyam ...."
Mereka pun makan dengan lahapnya. Lalu sambil menunggu hujan reda.Tiyan mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan, tapi ia sama sekali tak melihat penjual mantel ataupun jas hujan.
Penjual sate pun bertanya pada Tiyan, "Ngapunten den, njenengan pados nopo?"
"Oh kulo pados penjual jas hujan pak, mbok menawi njenengan ngertos toko pundi ingkang jualan jas hujan ingkang celak saking mriki?"
"Wonten mas, la niku lo tokonipun ingkang di cat kuning, kinten-kinten gangsal griyo saking mriki."
"Wo nggih pak, matur suwun nggih pak." Lalu Tiyan pun menuju ke arah toko yg menjual jas hujan itu, sedangkan Putri masih asyik dengan makanannya.
10 menit kemudian Tiyan kembali dengan membawa 2 bungkus jas hujan, satunya berisi jas hujan baju dan celana, satu lagi berisi jas hujan terusan.
Ia menyerahkan jas hujan celana dan baju kepadaku, lalu ia memilih jas hujan terusan.
Setelah aku selesai makan dan membayar tagihannya pada penjual sate, kita pun melanjutkan perjalanan kembali. Aku segera memakai baju dan celana jas hujan. Lalu kak Tiyan pun segera memakai jas hujan terusannya.
"Sudah siap Put?" tanyanya kembali.
"Siap kak ... yuk berangkat!"
Kita pun berdoa sebelum memulai perjalanan kembali. Meskipun cuaca diluar masih hujan, kita tetap melanjutkan perjalanan.
Semakin lama bukannya semakin reda, justru hujannya semakin awet dan lebat. Tapi tetap saja tak mengurungkan niat mereka untuk melanjutkan perjalanan kali ini.
🍃Beberapa jam kemudian
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dan melelahkan ahirnya mereka sampai di rumah Putri, lebih tepatnya pas adzan isya'.
Setelah sampai mereka pun bersalaman dengan kedua orangtua Putri secara bergantian.
__ADS_1
Ibu Putri yg melihat Putri dan temannya basah kuyup dan kedinginan segera menyuruh mereka untuk berganti baju dan mandi air hangat.
"Ya Allah nak, baju kalian basah kuyup, ayo cepet diganti sebelum nanti masuk angin."
"I ... iya bu, " jawab mereka kompak sambil menggigil.
Ibu Putri hanya tersenyum sekaligus miris, lalu segera mengambilkan handuk serta baju ganti untuk putri dan juga teman prianya itu.
Lalu kami pun bergantian untuk membersihkan diri di toilet. Hujan pun masih belum reda, malah semakin larut semakin deras saja.
Sebenarnya beberapa hari lalu Putri sudah menelpon mengabari kalau ia akan pulang tapi dengan pacarnya. Kedua orangtua Putri kaget serta bahagia, ahirnya anak mereka akan membawa calon imamnya pulang.
Karena sejak dulu Putri, ia memang tidak pernah dekat dengan pria manapun, apalagi sampai membawanya pulang, oleh karena itu kedua orangtua Putri amat bahagia akan kedatangan mereka.
🍃 Flash back on-
"Assalamu'alaikum yah?"
"Wa'alaikum salam ...."
"Ini Putri yah, mau ngabarin, insyaAllah minggu depan Putri mau pulang," ucapnya dengan bahagia.
"Alhamdulillah, ahirnya Putri ayah inget rumah juga ... ha ... ha ... ha ..." Ucap ayah yg memang suka bercanda.
"Ihhh, ayah ih, Putri kan selalu inget rumah yah, tapi memang ga bisa pulang karena wajib lembur teruss." Gerutu Putri sambil mencebikkan bibirnya.
"Iya, iya putri kesayangan ayah, jangan ngambek dong, nanti manisnya ilang bagaimana? hayooo ntar ga ada yg mau ama Putri bisa berabe deh," ucap ayah sambil menahan tawanya.
"Belum siap atau memang takut sama kakakmu itu?"
Putri menggaruk kepalanya yg tidak gatal sambil berfikir, "Kayaknya memang bener juga deh, abisnya meski dulu Putri sudah punya pacar tapi engga pernah dibawa pulang," batinnya sambil menerawang masa lalunya dengan Revano.
"Ehemm ... diajak ngomong kok malah diem to nak, nak!" ucap ayah di seberang sana.
"Ha ... ha ... iya yah, maaf tadi ada penjual makanan lewat jadi ga konsen ngejawab, ha ... ha ...." elaknya, padahal ia lagi mengingat masa lalunya dengan Revano.
"Trus ada apa lagi?" tanya ayah.
"Emm ... gini yah, tapi minggu depan Putri pulangnya engga sendirian, melainkan membawa teman yah," ucapnya hati-hati karena takut ayahnya marah.
"Engga sendirian? temannya laki-laki atau perempuan ini?" tanya ayah penuh selidik.
"Emm, itu anu yah ... dia laki-laki, teman yg lagi deket sama Putri itu laki-laki ayah."
"Temen deket atau pacar?"
"Emc... anu ... itu yah ... mm ... tapi ayah janji jangan marah sama Putri ya?" ucapnya manja.
__ADS_1
"Tergantung ...."
"Hah!! Tergantung apa yah?"
"Ya tergantung kamu jujur atau bohong sama ayah sama ibu?"
"Dia pacar Putri yah, kami sudah pacaran hampir satu tahun," ucapnya.
"O ... jadi mau dilanjut jadi calon manten ni ceritanya?"
Blush ... seketika wajah putri merona, bisa-bisanya ayahnya bilang mereka calon manten, padahal usia Putri baru 20 tahun lo?" bisa habis deh kalo nanti disuruh cepet-cepet nikah," batinnya.
"Ya dah, kalo begitu kamu hati-hati ya pulangnya nanti."
"Siap yah, kalau begitu Putri tutup dulu telponnya. Salam buat ibuk sama Mas Rega ya yah, assalamu'alaikum," ucap Putri mengahiri telponnya.
"Ya, Wa'alaikum salam."
Ahirnya urusan perijinan sudah selesai.
🍃Flash back off-
Ayah pun melihat dan mengamati calon mantunya, cukup bangga, pasalnya tinggi pacar Putri kali ini lumayan lah, dan badannya juga lumayan atletis dan tinggi, cukuplah untuk menjaga Putri nantinya.
Setelah melihat putri dan calon mantunya selesai bersih-bersih, kedua orang tua itu mengajak mereka makan malam.
Suasana malam itu mati lampu, karena memang hujan sangat deras dan mengakibatkan ada pohon tumbang jadi mungkin mati lampunya sampai pagi, sehingga setelah makan malam mereka pun memutuskan untuk segera beristirahat. Lagian kalau diajak ngobrol tidak mungkin karena cuaca tidak mendukung.
Ahirnya malam itu Putri dan ibunya tidur di kamar ibunya. Sedangkan Tiyan tidur di kamar Putri. Sedangkan ayahnya tidur di kamar tengah.
Ayahnya sengaja tidur disitu untuk jaga-jaga, kalau-kalau calon menantunya kurang nyaman atau membutuhkan sesuatu setidaknya tidak membangunkan istri dan anaknya.
Dan karena hari sudah cukup malam, ahirnya semuanya tertidur dan menggapai mimpinya masing-masing.
⚘⚘⚘
Keesokan harinya
Putri yg sudah terbiasa bangun pagi segera membantu ibunya memasak di dapur. Sedang ayahnya membersihkan halaman rumah dan memberi makan sapi-sapinya.
Sedangkan Tiyan masih tertidur pulas di kamar Putri.
"Put, kamu bangunin sana pacar kamu sana, masa iya kamu suruh bangun siang, katanya mau diajak jalan-jalan ke pantai?" tanya ibunya mengingatkan.
"Ya Allah Putri lupa bu, tapi kasian dia masih capek kayaknya."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu,,ibu cuma mengingatkan aja kok."
Lalu mereka pun melanjutkan masak memasak pagi itu. Sedangkan jam masih menujukan pukul setengah enam pagi.