
.........................
"Ayo mas kita pulang!" Ajak Putri pada Tiyan.
Vian yg sangat hafal dengan suara Putri pun mendongakkan wajahnya ke sumber suara itu. Suara yg begitu ia rindukan beberapa bulan ini, ahirnya dapat ia dengarkan kembali.
"Putri ..." Sapanya dengan aura kebahagiaan yg terpancar penuh.
Putri pun menoleh ke arah Vian. Ia sebenarnya terkejut karena ada Vian yg kebetulan sudah ada disitu.
"Hai kak ...?" Sapanya mencoba ramah, tapi sekaligus takut kalau Tiyan marah padanya karena tiba-tiba ada Vian disitu.
"Apa kabar? oh ya kebetulan sekali ya bisa bertemu disini?"
"Alhamdulillah baik kak, emm iya kebetulan sekali."
"Oh ya, ada apa kamu kesini Put?" Tanyanya kembali.
Saat ini Tiyan sudah berdiri di belakang Putri dengan tatapan tajamnya.
"Emm ... itu ... anu ..." Ucapnya bingung. Lalu memandang Tiyan.
"Kenalin kak ... ini Mas Tiyan calon suamiku dan ini yg namanya Vian mas." Ucapnya sambil memandang Tiyan kemudian Vian secara bergantian.
Cetaaarrrrrrr ... seperti kilatan petir yg seketika menyambar hatinya, yg kini menjadi hancur berkeping-keping karena ucapan Putri.
Vian yg awalnya bahagia saat bertemu Putri kembali menjadi luluh lantak hatinya saat mendengar ucapan Putri.
"Calon suami? jadi selama ini hubungan mereka masih berlanjut? dan akan memasuki babak kehidupan yg baru?" Begitulah isi gejolak hati Vian saat itu.
Tiyan yg menyadari perubahan pada wajah Tiyan seketika tersenyum tipis.
"Oh ini yg namanya Vian yg dulu sering disebut-sebut Putri sebagai pengagum rahasianya" Gumamnya dalam hati.
"Dan harusnya ia berterimakasih padanya, karena sudah menjaga jodohnya selama ini, yaitu Putri bahkan dari waktu sekolah sampai kemarin." Gumam Tiyan dalam hatinya.
Ia pun mengarahkan tangannya untuk berjabat tangan pada Vian. Vian pun membalasnya diikuti dengan senyuman yg masih keliatan terpaksa.
"Vian ..." Ucapnya mencoba ramah.
"Hai ... aku Tiyan!" Ucap Tiyan dengan tatapan yg sulit diartikan Putri. Tiba-tiba saja aura persaingan timbul diantara keduanya.
Putri yg melihat akan terjadi hal yg tidak beres, segera mengajak Tiyan untuk pulang dan berpamitan pada Vian.
"Ka Vian ... maaf kami buru-buru, aku pamit pulang dulu ya."
"Tunggu Put! kamu dapat salam dari mama dan nenek, katanya rindu kamu, kapan kamu maen ke rumah lagi?"
__ADS_1
"Eh iya ... maaf Putri belum bisa maen ke sana, kapan-kapan, insyaAllah Putri akan maen sama mas Tiyan, ya kan mas?" Tanya Putri pada Tiyan.
"Iya." Jawabnya sambil mengangguk pada Putri.
"Ok ... kalau gitu, titip salam buat tante sama nenek ya kak, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam ..." Jawabnya sambil memandangi punggung Putri yg sudah menghilang.
"Sial ... kenapa selalu seperti ini!" Gerutunya dalam hati.
Lalu dari arah belakang muncul Bu Susi, "Ada apa Vian? kamu liatin siapa?"
"Eh tante ... itu liatin pasangan yg baru saja dari butik tante."
"Oh ... Putri dan Tiyan."
"Iya ... tante kenal?" Tanyanya penuh penasaran.
"Kalau sama Putri tante kenal, soalnya dulu ia pernah kesini. Diajak temennya untuk fitting baju pengantin disini. Eh ga taunya sekarang dia sendiri yg fitting baju pengantin." Ucapnya sambil terkekeh. Bagi Bu Susi, Putri tetap gadis kecil yg manis, apalagi ia selalu bisa menghangatkan suasana, karena itu tante Susi begitu suka padanya sejak pertemuan pertama dengan Putri kapan hari.
"Baju pengantin?" Tanyanya kaget.
"Ternyata sudah sejauh ini persiapan mereka. Jadi aku sudah tidak punya kesempatan lagi."
"Iya ... barusan dia fitting bajunya, beberapa bulan lagi pernikahan mereka. Maka dari itu mereka sudah mempersiapkannya, oh ya memang kamu kenal sama Putri?"
"Iya te, kebetulan dia teman Vian masa putih abu-abu te ...."
"Teman atau teman ni?" Tanya tante menyelidik, sambil terus memandangi Vian dengan senyuman yg tidak dapat diartikan olehnya.
"Ha ... ha ... ha ... tenang saja Vian, selama janur kuning belum melengkung kalau kamu mau, kamu bisa dapatin Putri!" Ucap tantenya jujur.
"Maksud tante?"
"Ya kamu minta ijin sama calon suaminya Putri gitu! bilang kalau kamu mau Putri menjadi istrimu." Ucapnya santai sambil melangkah pergi.
"What's??? ... tante becanda ya?" Ucap Vian linglung.
"Becanda kali Vian ... kamu mah apa aja selalu dianggap serius ah ... engga asik kayak Putri!"
Vian mengusap wajahnya yg frustasi ... lalu mengekori tantenya itu untuk mengambil baju pesanan mamanya.
"Ni pesanan mama kamu ... udah siap kok!" Ucap tante Susi sambil menyerahkan sebuah paper bag pada Vian.
"Ok tan ... makasih ya."
"Aku langsung pamit ya te ... masih ada kelas soalnya" Pamit Vian pada Bu Susi.
"Ok ... hati-hati ya ... salam buat mama dan nenek kamu."
"Iya tan, nanti aku sampaikan, assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam ... hati-hati, jangan ngebut lo ya!"
"Siap tante ..." Ucapnya sambil mengajungkan jempol ke arah tantenya itu.
Lalu Vian pun masuk ke dalam mobilnya dan menuju kampus.
🌱 Vian Pov
Sesampai mobilnya Vian memukul stir mobil dengan keras. Ia mencoba mengungkapkan amarahnya disitu.
Orang yg dicintainya sudah menemukan tambatan hatinya yg baru. Dan sialnya belum sempat Vian mengutarakan isi hatinya kembali, kesempatan itu sudah hilang lagi. Putri sudah bahagia dengan pasangannya saat ini, mana mungkin ia menyakitinya.
Ia begitu frustasi akan hal itu. "Kenapa takdir begitu jahat padaku?" Ucapnya di dalam mobil.
Dengan hati yg masih bergemuruh, ia pun melajukan mobilnya menjauh dari Butik Tante Susi. Kini ia sedang dalam perjalanan menuju kampusnya.
30 menit kemudian ia telah sampai di salah satu universitas yg sangat terkenal di kota S. Satu tahun yg lalu ia resmi menjadi mahasiswa di universitas itu atas dorongan dari Putri.
Ya Putri-lah orang yg berhasil membujuknya untuk kembali meneruskan studynya yg sempat berhenti.
Putri berhasil membujuknya agar ia mampu bangkit dan kembali berprestasi kembali di dunia seni. Dunia yg sangat disukai oleh Putri maupun Vian, karena disana mereka mampu mengekspresikan bakatnya.
Vian memang sangat berbakat dalam hal seni. Bahkan Putri tidak ada apa-apanya. Skill Vian sangat kuat dalam hal membuat sketsa. Oa juga pernah membuat sketsa wajah Putri. Bahkan sampai sekarang sketsa tangannya tentang Putri masih ia simpan dengan rapi.
Pertemuamnya dengan Putri satu tahun lalu sangat membuat hari-hari Vian berangsur angsur membaik.
Kehidupan yg dulu dingin, kini sudah mulai menghangat karenanya. Tatapan mata Putri selalu membuatnya nyaman. Ada kehangatan yg selalu terpancar di dalamnya. Kehangatan itu mampu masuk kedalam relung-relung hatinya yg terdalam.
Maka dari itu kenangan akan Putri tidak akan pernah terhapus oleh waktu.
Hari itu jadwal kuliah sorenya pun sudah usai. Kini ia melajukan mobilnya ke arah rumah.
Sesampainya di rumah.
Ceklek..
"Assalamu'alaikum ..." Ucapnya saat masuk rumah.
Vian menyalami tangan ibunya. Ya kebiasaan baru yg dilakukan setahun ini berkat Putri juga. Ia diajari agar selalu hormat pada orang yg lebih tua. Terutama pada ibunya sendiri. Dan orangtua Vian sangat bahagia akan perubahan putranya itu.
"Ini pesanan mama dan mama dapat salam dari tante Susi."
"Oh iya ..." Mama Vian pun segera menerima paper bag yg diberikan Vian.
"Makasih ya sayang ...."
"Masama ma ... Vian naik dulu ya" ucapnya sambil berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Iya ...."
__ADS_1
Mama Vian sebenarnya sudah dihubungi Bu Susi tentang kejadian di butiknya tadi siang. Tapi kenapa Vian belum cerita kalau bertemu Putri? padahal aku sangat merindukan gadis manis itu, "Ah sudahlah mungkin dia capek."
Mama Vian pun masuk ke dalam kamarnya untuk mencoba bajunya.