Cintaku Tak Seindah Novel

Cintaku Tak Seindah Novel
PERSIAPAN


__ADS_3

.........................


"Ya sudah kita berdoa aja, semoga nanti saat persalinan aku pas di rumah trus bisa nemenin kamu setiap saat deh."


"Makasih ya mas, i love you."


"Love you too my sweat heart."


Dan ahirnya Tiyan pun kembali ke kota setelah menyelesaikan drama pagi itu dengan istrinya. Setelah itu Putri pun kembali masuk ke rumah dan ia pun menunggu adzan subuh. Setelah sampai waktu subuh, ia pun segera mengambil air wudhu dan sholat. Untung saja ia tadi sudah mandi junub bareng suaminya sebelum suaminya berangkat.


Jadi ia tinggal melaksanakan ibadah saja. Pagi itu seperti biasanya ia menyapu halaman rumah setelah itu ia istirahat didepan TV sambil duduk berselonjor ia membuka laptopnya. Dan ia melihat-lihat karya design-designnya. Dan tiba-tiba ia merasakan mules. Ia pun pergi ke kamar mandi.


Pas di kamar mandi, bukannya buang air kecil melainkan ada aliran lendir bening yg mengalir di salah satu kakinya. Ia pun teringat perkataan mertuanya. Kalau mau melahirkan itu salah satu tandanya akan keluar lendir bercampur sedikit darah. Karena dirumah sepi, ia pun mengambil Hp dan memberitahukan bibinya Tiyan kalau dia sepertinya mau melahirkan.


Lima menit kemudian dengan tergopoh-gopoh ia sudah sampai dirumah Putri.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumsalam, eh bibi sudah datang," ucapku dengan santainya masih duduk selonjoran didepan laptop.


"Ya ampun Putri, kamu ga papa, katanya tadi uda tanda-tanda ya sayang."


Aku pun mengangguk dan aku pun disodori berbagai pertanyaan oleh bibi. Dengan santainya aku menjawab pertanyaan beliau, sedangkan beliau sudah panik luar biasa.


"Sudah telpon ibu? atau mengabari Tiyan?"


Aku pun menggeleng sekali lagi. "Ya sudah biar aku saja yg memberi tau mereka. Kamu siap-siap saja lebih dahulu."


"Apa yg aku perlu siapkan bi?"


"Ya Allah sayang, kamu persiapan saja baju ganti, trus handuk, popok, baju bayi dll. Ga usah banyak-banyak juga."


"Oh ok." Lalu aku pun berjalan menuju kamar, sebelumnya aku udah mematikan laptop dan menyimpannya kembali.


Dan, "Aduh ...." rintihku.


Reflek bibi pun mendekatiku, "Apanya yg sakit sayang?"


"Anu ... itu, si kecil menendangku bi."


"Wah, pasti si kecil sudah ga sabar ingin bertemu mamanya." Ucap bibi menenangkan aku.


Dan aku kembali menuju kamar, dan mulai melakukan sesuai instruksi bibi. Tapi aku pun tak lupa membisikkan sesuatu pada si kecil.

__ADS_1


"Sayang, nanti lahirnya nungguin ayah pulang ya." Ucapku lembut sambil membelai perutku penuh kasih sayang.


Dan 30 menit kemudian ibu mertuaku sudah datang, saudara ibu yg rumahnya dekat pun sudah berdatangan ke rumah ibu. Semua khawatir dengan keadaanku. Sejak mendengar aku mau melahirkan mereka mulai berdatangan ke rumah.


"Bagaimana sayang, sakitnya sudah sering atau masih jarang-jarang?" tanya ibu.


"Masih jarang kok bu."


"Ya sudah, kita berangkat ke bidan sekarang ya, apa kamu kuat ibu bonceng?"


"InsyaAllah kuat bu." Ucapku senang.


"Putri sudah makan belum tadi?" Tanya bibi tiba-tiba.


"Belum bi."


"Ya udah kamu makan dulu sebelum berangkat ke bidan, supaya nanti kuat saat mengejan." Pinta bibi dan seluruh anggota keluarga pun mengangguk setuju.


Dengan terpaksa aku pun makan sedikit nasi dan lauk. Entah kenapa aku tak selera makan pagi itu. Dan pukul 10 pagi ahirnya aku dan ibu berangkat ke bidan. Sedangkan anggota keluarga lainnya akan menyusul nanti.


Sesampainya di rumah bidan, aku pun dijejali banyak pertanyaan sama suster yg jaga. Dan sesudah itu, aku pun dibawa ke ruang periksa dan ibu bidan segera memeriksaku. Selama pemeriksaan belum ada tanda-tanda lagi seperti tadi.


"Hmm, iya bu, nona ini sudah mengalami pembukaan pertama dan mungkin beberapa jam lagi akan melahirkan." Ucap bidan itu.


"Mungkin 10 jam atau bahkan bisa lebih, kalau boleh tau, apa ini anak pertama?"


Aku pun mengangguk.


"Lalu dimana ayahnya?"


"Suami anak saya masih bekerja di kota bu, nanti akan kembali kesini sebentar lagi." Terang ibu mertuaku.


Mungkin ibu bidan mengira aku masih anak dibawah umur, karena memang badanku yg mini dan masih keliatan anak-anak.


Bu bidan pun tersenyum padaku, lalu bertanya kembali.


"Karena proses melahirkan masih lama, mau pulang atau menunggu disini? atau mau melihat ruangan melahirkan dan ruang perawatannya juga boleh." Terangnya kembali.


Ibu pun memberikan kode padaku agar aku menerima tawaran ibu bidan untuk melihat-lihat rumah bersalin itu.


"Kalau boleh saya melihat-lihat disini dulu boleh bu?"


"Boleh saja, mari saya tujukan ruangannya."

__ADS_1


Lalu kami bertiga pun berjalan-jalan disekitar rumah bersalin itu.


"Wah, ternyata sudah sebesar ini ya bu, ruangannya juga bagus-bagus." Ucap ibu memecah keheningan.


"Iya, alhamdulillah sudah sebesar ini bu." Ucap bidan itu.


Kemungkinan mereka sudah kenal lama, dari percakapan mereka, terlihat sekali kalau mereka berdua akrab.


Sedangkan aku melihat ruangan perawatan yg akan digunakan sesudah bersalin, "Hmm, lumayan bagus kok," Ucapku dalam hati.


Dan tiba-tiba, sleb ... seneb ... "Aduhhhh ..." rintihku.


Ibu dan bu bidan menoleh, "Apakah sudah terjadi kontraksi palsu lagi?"


"Sepertinya iya bu, hiks ...."


"Ya udah, kamu berbaring aja di kamar! biar ibu urus administrasinya."


"Iya bu."


Aku pun dibantu suster untuk menuju kamar perawatan. Sedang ibu sudah pergi mengurus administrasinya.


30 menit kemudian, masih belum ada tanda apa-apa. Dan aku pun hanya berbaring di kamar. Sedangkan satu jam sekali, suster sudah rutin memeriksa keadaanku.


Aku hanya bisa berdoa, agar persalinanku kali ini bisa selamat ibu dan bayinya dan bisa berjalan lancar.


Kegugupan melandaku, sedang aku sendirian di kamar itu, "Mas, cepet datang ya, aku takut, hiks."


Aku pun tak bisa berbuat banyak, karena semakin lama menunggu, semakin sakit rasanya. Terkadang aku sampai meringis menahan kontraksi itu. Semakin lama semakin sakit rasanya.


Bulir-bulir keringat pun jatuh bercucuran seketika.


"Mbak, ayok jalan-jalan terlebih dulu, biar makin menambah proses pembukaannya." Ucap suster yg memeriksaku terahir kali.


Dan aku pun mengikuti instruksinya, toh aku lom punya pengalaman apa-apa soal melahirkan, kalau suster atau bidan pasti sudah banyak pengalamannya, jadi aku pun menurut.


Bolak-balik ke setiap lorong klinik, aku pun didampingi 2 orang suster. Satu disampingku sambil terus bertanya apakah mengalami sesuatu. Dan satunya dibelakangku, siap siaga. Sedang ibuku ada disampingku. Dan tiba-tiba ... sleb ... sleb ... senut ... senut ... auwwwhhh.


.


.


.

__ADS_1


Hai para reader's setia "CTSN" CINTAKU TAK SEINDAH NOVEL, sebentar lagi akan sampai ke proses akhir ya.. jadi mohon maaf bila novel perdana Fany ini kurang sesuai dengan imajinasi kalian. Terimakasih sudah mendukung novel fany sampai hari ini. Love you 😘


__ADS_2