
....................
"Iya ..."
Mama Vian sebenarnya sudah dihubungi Bu Susi tentang kejadian di butiknya tadi siang.
"Tapi kenapa Vian belum cerita ya ...? ah sudahlah mungkin dia capek."
Mama Vian pun masuk ke dalam kamarnya untuk mencoba bajunya.
β KAMAR VIAN
Bugh ... bugh ... bugh ... terdengar beberapa kali pukulan, telah ia layangkan pada dinding kamarnya.
Terlihat semburan darah segar mengucur dari kedua tangannya.
"Kenapa selalu seperti ini?" Ucapnya frustasi.
"Kenapa kau jahat sekali padaku? kenapa kau tak pernah memberikan kesempatan padaku untuk sekali saja memilikimu ... arrrggghhhh ...."
Untung saja kamar Vian sudah didesain kedap suara. Jadi apapun yg terjadi di dalam kamar Vian tidak akan ada yg tau, kecuali sang pemilik kamar. Meskipun di dalam kamar Vian ada kamera CCTV, tapi tak dicantumkan suara didalamnya. Dan biasanya yg mengechek semua kamera CCTV adalah Ayah Vian sendiri.
Kekecewaannya kali ini sungguh menyakitkannya, rasanya berkali-kali lipat dibanding dengan kesakitan yg pernah ia alami sebelumnya. Ia tak pernah menyangka kebetulan yg ketiga kalinya ini justru membuatnya semakin terluka. Terluka yg sama untuk kedua kalinya.
Dan kenyataan yg harus ia hadapi kali ini, tak akan bisa diubah sesuai keinginannya lagi. Ia yg harus berdamai dengan takdirnya kali ini.
Jika nanti dalam kehidupan selanjutnya ia bisa memilih, ia akan memilih takdirnya bersama Putri.
.....π..π..π..π..π.....
Di dalam perjalanan pulang, hanya ada keheningan diantara keduanya. Tiga puluh menit perjalanan mereka lalui tanpa ada yg memulai pembicaraan sama sekali, sehingga membuat Putri sedikit cemas.
Putri hanyut dalam pikirannya sendiri, begitu pula dengan Tiyan juga sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Kedua insan tadi seolah sedang berada di dunianya masing-masing, meskipun sebenarnya mereka berdua dalam satu tempat yg sama.
Sampai pada suatu tempat, Tiyan menepikan motornya. Di sebuah kedai rumah makan masakan padang, ia pun memarkirkan motornya.
"Turun yuk Put ... kita makan dulu yukk" Pinta Tiyan pada Putri.
"Ok" Jawab Putri.
Mereka pun turun dengan bergandengan tangan seperti biasanya.
"Mau pesan apa?" Tanya Tiyan.
"Sama kayak yg mas pesan aja." Ucap Putri.
__ADS_1
"Ok"
Kemudian Tiyan pun memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
Selama dua tahun ini, ia sudah sangat hafal dengan makanan kesukaan Putri dan yg tidak disukainya. Begitu pula dengan Putri, sudah hafal sifat-sifat calon suaminya tersebut.
Jadi tadi Tiyan memesan 2 porsi nasi plus rendang dan 2 porsi es teh. Selama menunggu pesanan, tak ada pembicaraan yg terjadi diantara keduanya.
Hanya sesekali, mereka beradu pandang sambil menunggu pesanan mereka datang. Tiyan yg sudah gatal mulutnya, ahirnya bertanya pada Putri.
"Kamu kenapa Put?" Tanyanya mencoba membuka pembicaraan dengan Putri.
Putri yg kikuk ahirnya menjawab pertanyaan dari Tiyan.
"Apa kakak marah?" Tanya Putri dengan hati-hati.
"Marah kenapa si Put?"
"Mmm ... atau karena kemunculan Vian yg tiba-tiba kah?" Ucapnya pasrah.
Tiyan hanya tersenyum. "Buat apa aku marah Put, lagian masa lalu kita yg belum selesai cepat atau lambat akan selalu menghantui kita. Agar kita cepat-cepat menyelesaikannya." Ucapnya dengan bijak.
Putri sempat trenyuh mendengarkan semua jawaban dari calon suaminya itu. Ternyata calon suaminya sekarang sudah menjadi lebih dewasa dan lebih bijak.
Teringat jelas 1 tahun yg lalu, ia pun harus berdamai dengan masa lalu Tiyan. Entah mengapa, satu tahun belakangan ini, banyak sekali masalah yg datang silih berganti kepada mereka berdua.
Untungnya baik Putri maupun Tiyan bisa menyelesaikan dan menghadapinya dengan baik. Sampai ahirnya mereka bisa melanjutkan hubungan mereka sampai hari ini. Dimana beberapa bulan lagi mereka akan menyatukan ikatan cinta mereka dalam satu ikatan suci, yaitu pernikahan.
"Makasih mas ... biar nanti Putri akan menyelesaikannya sendiri."
"Mau aku temani?" Tanya Tiyan tiba-tiba.
"Boleh ... kalau mas engga keberatan," Ucap Putri dengan sangat antusias.
Lalu datanglah makanan pesanan mereka berdua. Dan tak lama kemudian mereka pun memakan pesanan mereka itu.
"Mas kok pinter banget si milih menunya?" Tanya Putri dengan mulut penuh makanan.
"Siapa dulu dong ...Tiyan gitu loh ... he ... he ..."
Putri hanya manggut-manggut dan kembali meneruskan acara makannya.
Setelah menyelesaikan acara makan, mereka lalu pulang ke kost Putri, baru setelahnya ia akan pulang ke asramanya.
Oh ya, sekarang Tiyan sudah boleh masuk kost Putri karena sebentar lagi mereka akan menikah dan ibu kost udah tau tentang hubungan Putri dengan Tiyan.
βKediaman Raharja
__ADS_1
Mama Vian mulai menyadari putranya belum keluar kamar sedari pulang tadi, sudah terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya. Lalu dengan langkah terburu-buru, ia pun menuju kamar Vian.
Tok ... tok ... tok ....
"Vian ... vian ... boleh mama masuk?" Ucapnya sedikit terbata-bata.
Semakin lama menunggu semakin lama tak terdengar suara sahutan dari dalam kamar. Lalu ia pun membuka pintu kamar Vian yg kebetulan tidak terkunci.
Ceklek ....
Mama Vian yg menyadari sesuatu segera mencari dimana keberadaan Vian di dalam kamarnya itu, sampai ahirnya ia menemukan putranya di sudut kamar.
"Viaaannnnn ... !!!!" Ucapnya setengah berteriak.
Diraihnya kedua tangan Vian yg berdarah itu, kemudian beliau berkata, "Kamu kenapa nak? tangan kamu berdarah?"
Mama Vian yg panik segera mengambil kotak P3K di kamar anaknya itu. Ia pun segera membersihkan luka-luka di kedua tangan putranya itu. Dengan telaten beliau membersihkan lukanya lalu memberinya obat dan membalutnya dengan kain kasa/perban.
Vian hanya pasrah melihat semuanya.
"Kenapa bukan kamu yg datang dan mengobatiku Put ...?" Ucapnya lirih.
Mama Vian yg masih panik segera memeluk anak semata wayangnya itu dan menghujaninya dengan tangisan dan pelukan kasih sayang
"Kamu kenapa lagi sayang?"
Vian masih terdiam, ia bahkan tak membalas semua perlakuan mamanya ataupun berniat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mamanya itu. Ia seperti kehilangan nyawanya kembali untuk kedua kalinya.
Hanya tatapan kosong yg mampu ia perlihatkan saat ini.
Karena tak ada respon dari anaknya, ia pun memapah anaknya dan menyuruhnya agar mau berbaring di atas kasurnya.
"Istirahat ya nak, semoga kamu baik-baik saja, nanti mama panggil dokter untuk memeriksa tangan kamu."
Lalu ia pun keluar kamar dan menyuruh bibi untuk membersihkan kamar Vian yg sempat ada darah putranya tadi.
Setelah bibi selesai membersihkan kamar Vian ... ia pun menghampiri nyonyanya.
"Maaf Bu ... den Vian kenapa?"
"Engga tau bik ... tadi saat aku masuk kamarnya udah seperti itu ... ni aja aku barusan nyuruh dokter Richard kemari" Ucap mama Vian dengan lembut.
Ya, dokter Richard adalah dokter yg menangani Vian beberapa tahun lalu, saat ia kehilangan jejak Putri. Mama Vian sepertinya sudah sadar, jika yg bisa membuat Vian seperti ini adalah Putri.
Bibi hanya manggut-manggut, kemudian berkata
"Maaf nyonya, bibi ijin ke dapur dulu."
__ADS_1
"Iya bik ... tolong buatkan Vian makanan kesukaannya ya."
"Baik nyonya."