
Sejak kejadian beberapa hari lalu, Rya sudah beraktivitas seperti biasa. Bahkan Rya lebih fokus untuk bersiap-siap mencari tempat buat praktek kerja saat nanti masuk semester 1 di kelas 3.
Karena memang jurusan yg Rya ambil sangat sedikit lapangan kerjanya, atau bahkan kadang tidak membuka lowongan magang, maka dari itu Rya harus lebih selektif lagi untuk mencarinya.
Hampir setiap hari, ia menyusuri sudut-sudut kota untuk mencoba melamar kerja buat magang, dan ahirnya dia menemukan satu tempat WO ( Wedding Organizer ) yg memperbolehkan Rya untuk magang disana.
Betapa senang dan bersyukur banget Rya bisa diterima disana. Bahkan sebelum ia pulang, terlebih dulu ia dikenalkan dengan orang-orang sudah bekerja disana. Yang rata-rata semua karyawannya laki-laki.
Rya justru merasa senang karena partner kerjanya nanti laki-laki, karena menurut Rya semuanya pasti akan lebih enak diajak kerja dibanding cewek. Karena ia magang di sebuah WO artinya kerjaannya nanti lebih banyak membutuhkan tenaga ketimbang otak.
Membayangkan aja uda seneng gini, gimana nanti prakteknya ya? Hi ... hi ... Rya cekikikan sendiri sewaktu perjalanan pulang. Ia sudah tak sabar buat memberitahukan hal itu kepada kedua orangtuanya.
Dan itu artinya, ia bisa lebih bisa fokus mencari kak Vano lagi. Karena sudah beberapa hari baik di sekolah atau di manapun ia tak menemukan jejak Vano dan Mungil. Ataukah mereka kembali bersama? entahlah tapi kalo itu terjadi, pasti hatinya akan terasa sakit dan akankah Rya mampu mengatasinya nanti?
Senyum yg tergambar jelas di wajahnya tadi perlahan luntur seketika saat ia membayangkan hubungannya nanti dengan Revano.
πDanuarta pov
Sudah satu minggu lebih ia tak banyak waktu untuk bisa bersama Rya, karena ia juga menghabiskan waktunya untuk mencari tempat praktek kerjanya nanti.
Bahkan ia lebih sering bersama geng Hilmy dkk. Bahkan tanpa disengaja, ahir-ahir ini Rya pun jarang berkumpul dengannya. Rya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sejak kepulangannya dari Bali.
"Aku kangen banget sama kamu Rya? sampai kapan aku bisa memendam rasa ini untukmu?"
"Andai kemarin aku sudah mengutarakan isi hatiku, mungkin ga akan seperti ini, dan aku bebas bertemu kamu kapan aja, Rya I love you so much."
πDi kediaman Revano
"Rya maafkan aku yg selama ini masih bersembunyi darimu, aku benar-benar tak tau apa yg harus aku lakukan tanpa kamu disisiku, tapi aku terlalu bodoh dan pengecut!"
"Setiap aku berjauhan denganmu membuatku semakin sakit, tidak bisa melihat wajahmu, tidak bisa melihat senyummu , seperti membunuhku perlahan, tapi aku tak sempurna bahkan jauh dari kata sempurna jika harus bersanding denganmu."
"Tunggulah aku sampai aku kembali Rya."
"Aku harap kamu akan setia menungguku kembali."
πRumah Ryani
Pukul 3 sore, Rya sampai di rumah. Ia pun segera mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya. Dia tak mau ambil pusing dengan terlalu memikirkan Vano, untuk apa ia harus menunggu sesuatu yg tidak pasti, mungkin dirinya hanya persinggahan. Tapi meski begitu rasa sakit ini terlalu membekas di hati.
Rasa bahagiaku kini berganti dengan rasa sakit yg tak bisa diungkapkan. "Kenapa mencintai harus sesakit ini?" batin Rya.
Jauh didalam hati ini masih tersimpan rasa untuknya, tapi kalo terus menerus diabaikan atau bahkan seperti hubungan yg di gantung itu rasanya ga enak banget.
...~ π~π~π~π~...
__ADS_1
Cinta memang unik
Ketika hadir begitu melambungkan angan dan impian kita
Tapi ketika diabaikan
Atau bahkan saat disakiti
Begitu cepatnya rasa itu hilang seketika
Dan berganti dengan sakit yg luar biasa
Dan entah bagimana dan apa yg bisa menyembuhkan luka itu
Yang jelas aku masih tidak tau
Apa itu Cinta?
...~π~π~π~π~...
Ahirnya malam pun tiba, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul. Ryani pun ingin segera memberi tahu kedua orang tuanya tentang kejadian tadi siang.
"Yah, ibuk, alhamdulillah Ryani udah diterima magang di tempat usaha jasa pernikahan kepunyaan pak Satya. Itu lo di dekat Tamsis."
"Alhamdulillah nak, ahirnya kamu uda diterima."
"Kira-kira yg punya itu orangnya gimana?"
"Alhamdulillah Yah, Ibu ... tadi siang aku kan bertemu Pak Satya langsung trus kebetulan ada Bu Satya juga disana, trus aku mengutarakan maksud dan tujuanku kesana untuk magang, karena tugas sekolah."
"Awalnya si keberatan, karena mereka belum pernah nerima anak magang, apalagi masih kecil dan sekolah kayak aku ... he ... he ... tapi karena mereka lihat tekadku yg bulat dan sungguh-sungguh ahirnya mereka sepakat untuk menerimaku." terang Rya dengan bersemangat.
"Alhamdulillah nak, bersyukur kamu dipertemukan dengan orang-orang baik, semoga nanti semuanya berjalan dengan lancar ya."
"Tapi Rya kan ga punya kendaraan yah, bolehkah Rya memakai motor ayah bila ada keperluan mendadak?"
"Ya nanti biar ayah antar, atau kakakmu yg ngantar ya, ayah takut kamu kenapa-napa kan namanya usaha jasa pernikahan itu selalu berpindah-pindah tempat dan pulangnya juga ga pasti."
"Oh iya juga ya yah, aku lom tanya tentang jadwal berangkat dan pulangnya jam berapa, nanti aja kalo uda kelas 3 yah, ini kan masih fokus buat belajar biar bisa naik kelas 3 ... he .. he ...."
Dari ruang tengah Kak Rega muncul.
"Bener dek, belajar yg bener biar pinter, jangan sibuk pacaran lo ya, kakak ga mau ngeliat kamu jadi g fokus belajar karena sibuk pacaran."
"Oh tentu kak, kalo disuruh pacaran sekarang pun, aku ga bisa, aku masih pusing ama pelajaran sekolah dan sibuk ama kegiatan extrakurikuler, he ... he ...."
__ADS_1
"Nah gitu dong baru adek abang."
He ... he ... Rya hanya menanggapi dengan senyuman.
Memang tak dapat dipungkiri, kalo sekarang ia justru lebih memilih fokus sama studinya ketimbang perasaannya. Meski masih terasa aneh, tapi Rya mencoba untuk terbiasa dan mengesampingkan perasaannya.
Kalo pun jodoh ga bakal lari juga kan? he ... he ...
πMungil Pov
Semenjak kejadian kemarin, Mungil sudah jarang muncul disekolah, dan katanya ia bakal pindah sekolah dan balik lagi ke Jakarta ikut kedua orangtuanya.
Ya memang karena orangtua Mungil selalu berpindah pindah karena pekerjaan, tapi Mungil tidak serta merta ikut kedua orangtuanya. Kadang ia lebih suka menetap di Jakarta, meskipun kedua orangtuanya sedang dinas keluar kota. Ia kadang lebih memilih tinggal dengan tantenya.
Dan salah satu alasan kenapa ia ikut kedua orangtuanya pindah ke Jogja adalah karena Revano.
Ia mengikuti kemana Revano tinggal. Dan sekarang karena sudah merasa tidak ada harapan lagi ia memilih untuk menjauh dan memendam perasaannya. Mungkin selama ini ia bersikap terlalu egois. Selalu menyuruh orang-orang untuk mengikuti kemauannya. Tapi justru karena sifatnya itulah ia malah semakin jauh dengan Revano.
Revano yg ia kenal dulu tak sedingin saat ini, entah apa yg mengubahnya. Dan sifatnya itu berubah 180Β° ketika bersama Ryani, dan akan kembali dingin saat berhadapan dengan Mungil.
Mungkin cintanya memang bertepuk sebelah tangan. Dan Ryani yg telah memenangkan hati Revano sepenuhnya. Dan ia lebih memilih berdamai dengan hatinya kini.
...~π~π~π~π~π~...
Kalau orang yg kita cintai lebih bahagia ketika bersama orang lain
Dan merasa terkekang saat bersama kita
Sudah saatnya kita melepasnya
Karena bagaimanapun
Hati tak bisa dipaksa
Apalagi dibohongi
Biarlah Cinta menemukan Jodohnya
Dan biarkan Cinta menentukan kemana ia akan berlabuh
...~π~π~π~π~π~...
Ryani aku harap Revano akan bahagia jika bersamamu. Semoga kalian memang berjodoh dan semoga kamu tak akan tersakiti karenanya.
~ Bersambung ~
__ADS_1