Dendam Kekasih

Dendam Kekasih
Eps.105


__ADS_3

Mohon gaes dukung aku ya jangan lupa vote,like,rate gift dan favorinya ya sekalian komen kalian.


Yuk kita langsung aja, terimakasih ya gaesπŸ™πŸ™πŸ™


...****************...


~Orang yang berubah sebetulnya tidak berubah,aslinya orang tersebut memang seperti itu,kita saja yang baru menyadarinya......so yang berubah itu adalah kesadaran kita tentang orang tersebut~


Don't get stuck.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga bulan kemudian


Pagi ini disebuah villa yang terletak di pinggir kota tepatnya disebuah kamar yang bernuansa merah muda tampak seorang wanita berparas cantik sedang duduk didepan cermin ia kini berangsur pulih dari depresinya semua berkat bantuan Dragon yang merawat wanita itu dengan cukup baik.


Wanita itu berurai air mata mengenangkan sang bunda yang telah menutup mata selamanya dan adik satu-satunya yang saat ini ia ketahui terpaksa tinggal dikampung halaman sang bunda.


Ceklek


Dragon membuka pintu kamar dengan cukup hati-hati ia takut kehadiran nya bakal menganggu tidur wanita tersebut.


Melihat Dragon yang muncul tiba-tiba membuat Arumi langsung menghapus dengan kasar cairan bening yang membasahi pipinya.


"Tu...tuan"sapa Arumi lirih.


Pria itu berjalan melangkah mendekati Arumi"Anda menangis?" apakah anda sedang merindukan seseorang?"


Arumi hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap kearah pria tersebut.


"Anda bisa mengunjungi adik anda jika anda menginginkannya,aku pasti membantu anda nona"


"Untuk saat ini aku belum berani menemui adik ku tuan,semua salah ku dan kini pasti adikku sangat membenciku tuan"


"Nona anda jangan terlalu menyalahkan diri anda,semua sudah ditakdirkan untuk sekarang anda harus bangkit,sekedar menyesali hanyalah menjadikan kita lemah"Dragon memegang dagu Arumi menatap pupil wanita itu dalam,Arumi hanya menyunggingkan senyum tipis tanpa berucap.


"Segeralah bersiap-siap,aku menunggu mu di meja makan nona"imbuh tuan Dexter dengan mengukir senyuman.


Setelah mandi dan berpakaian Arumi segera menuruni beberapa anak tangga ia menuju keruang makan karena tuan Dexter telah menunggunya sejak tadi.


"Beautiful"gumam Max lirih .


"Ehem"Dexter berdehem ketika tanpa disengaja Max memuji Arumi hingga membuat Max salah tingkah lelaki tersebut sama sekali tak menduga Dexter mendengar ucapannya barusan.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan Max"sapa Arumi ramah.


Dexter sekilas melirik pada Max,pria tersebut menunjukkan sikap tidak sukanya, dengan rasa kesal Dexter memulai sarapannya.


"Pa...pagi nona"balas Max gugup ia tak ingin sang bos menjadi salah faham terhadap dirinya.


Arumi segera duduk dan meraih segelas air putih tanpa sengaja matanya tertuju pada surat kabar yang berada didekat Dexter,senyumannya memudar seketika,saat ia membaca tulisan didalamnya"Putri konglomerat negeri ini akan segera bertunangan dengan pria pujaan hatinya"


"Mengapa secepat ini kamu berubah mas"batin Arumi.


Prang!


Gelas tersebut terlepas dari tangan Arumi,tangannya bergetar hebat seketika butiran air mata lolos terjatuh dari pelupuk matanya, jantung nya seperti dihantam palu yang begitu besar hingga ia sulit untuk bernafas saat melihat poster yang menampilkan wajah kekasihnya,yang tak lain adalah Baskoro tersenyum sumringah sedang memeluk mesra Rini.


Badan Arumi mendadak lemas namun ia berusaha menahan berat badannya agar tidak terjatuh,kedua pria itu sontak menoleh pada Arumi karena mendengar suara gelas yang terjatuh,dengan buru-buru Dexter membalikkan surat kabar yang dibawa oleh Max pagi ini.


Arumi berlari kencang menuju kamarnya ia mengabaikan teriakan Dexter yang memanggilnya,Arumi membuka pintu kamar dengan kasar lalu mengunci kamar tersebut.


Suara teriakan Arumi terdengar cukup jelas oleh Dexter dan Max yang berada dibalik pintu kamar.


Dexter yang merasa kawatir menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci dari dalam dan mencoba membujuk Arumi.


Sedangkan didalam kamar Arumi semangkin histeris dengan tangan yang menjambak-jambak rambutnya kasar, melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan dalam dirinya,Arumi tak sanggup menghadapi kenyataan pahit yang baru saja ia lihat selama ini ia hanya menduga tapi kali ini mata kepalanya melihat semuanya secara nyata.


"Aku takut terjadi apa-apa,ayo kita dobrak pintunya!"ujar Dexter yang mengkhawatirkan Arumi.


Brakkk!"


Suara hantaman pintu pada dinding kamar yang cukup keras membuat Arumi menoleh pada kedua sosok pria yang berhasil mendorong pintu kamarnya dan melangkah kearahnya dengan perlahan.


"Tolong nona,jangan lakukan itu ku mohon nona"ucap Dexter kalap saat melihat Arumi dengan cutter ditangan wanita itu.


"Tuan jangan gegabah"bisik Max


"Ayolah nona kumohon"Dexter mulai berpikir hal buruk,ia benar-benar takut kehilangan wanita tersebut hingga matanya memerah menahan tangis.


Air mata Arumi mengalir deras dengan kepala tertunduk menatap lantai,perasaan hiba terhadap Dexter muncul dengan sendirinya,betapa perduli nya lelaki itu terhadap dirinya.


Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Dexter ia bergegas merebut cutter dari tangan Arumi lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya dan menenggelamkan kepala Arumi kedalam dada bidangnya,Max sengaja meninggalkan tuannya dan wanita itu memberi kesempatan pada kedua orang tersebut untuk lebih terbuka satu dengan yang lainnya.


Tangisan Arumi semangkin pecah saat berada dalam pelukan laki-laki itu,seolah mendapatkan tempat untuk melampiaskan semua rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


"Tuan tolong bantu aku membalas rasa sakit ini tuan"ucap Arumi disela isak tangisannya.

__ADS_1


"Pasti nona,tetapi kumohon jangan pernah lakukan hal ini lagi,jika ini terjadi aku tidak akan pernah memaafkan diri ku sendiri nona"Dexter membelai surai hitam milik wanita itu lalu ia mengecup lembut dengan hati yang merasakan perih yang sama yang dirasakan Arumi.


Arumi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban,ia mulai sadar apa yang ia lakukan barusan adalah sebuah kesalahan,dengan berusaha menyakiti diri sendiri dan menyia-nyiakan pengorbanan orang yang telah membantunya tidaklah membuatnya lebih baik.


"Kali ini anda tidak sendirian nona ada aku yang selalu siap dan ada disamping anda,jangan biarkan lelaki itu bahagia diatas penderitaan yang anda alami,jangan pernah lemah terhadap seorang pengkhianat"tutur Dexter dengan mengusap punggung Arumi menyalurkan rasa nyaman untuk wanita yang ia cintai sejak lama.


"Anda janji nona"pinta Dexter,menangkup kedua pipi Arumi sambil mengusap air mata yang tersisa disana,lagi lagi dibalas dengan sebuah anggukan oleh Arumi,lelaki itu kembali memeluk erat tubuh mungil Arumi dengan menciumi bertubi-tubi pucuk kepala wanita yang berada dalam pelukannya,perasaan khawatir yang ia rasakan beberapa menit lalu ia rasakan berangsur sirna kini.


Kriuk


Dexter melepas pelukannya ketika mendengar suara yang berasal dari dalam perut Arumi.


"Hmm...anda harus makan nona agar cacing-cacing didalam perut anda menghentikan demonya"Dexter berusaha membuat suasana mencair dengan sebuah candaan yang terkesan garing,Arumi membenamkan wajahnya pada dada bidang Dexter ia merasa malu kali ini perutnya tidak bisa diajak kerjasama.


"Apakah anda ingin kita keluar ke suatu tempat untuk sarapannya nona"tawar Dexter dengan merenggangkannya tubuhnya dari Arumi ia tidak ingin Arumi mendengarkan detak jantungnya yang kian tak beraturan.


Arumi menggelengkan kepalanya"Aku akan makan di villa saja tuan"


"Baiklah nona"


Kedua orang tersebut berjalan beriringan menuju kearah ruang makan,tidak hanya sekedar menemani Arumi makan Dexter bahkan menyuapi wanita itu sedangkan Arumi sama sekali tidak menolaknya bahkan untuk pertama kalinya ia merasakan begitu laparnya.


Sambil melahap makanannya ia kembali meraih surat kabar yang masih berada dimeja makan lalu ia menatap dengan seksama namun ia tidak lagi histeris akan tetapi perasaan yang muncul kali sangatlah berbeda.


"Tuan mengapa anda begitu perduli terhadap saya tuan"ucap Arumi dengan meletakkan kembali surat kabar itu ketempat nya semula.


Dexter terperangah ia tak menyangka wanita itu akan menanyakan sebuah pertanyaan yang sulit untuk ia jawab.


"Mengapa anda diam tuan"kali ini Arumi menatap intens lelaki dihadapannya,Dexter terlihat semangkin gugup keringat dingin mengucur pada wajah kharismatik nya.


"Hahaha anda terlihat sangat lucu tuan"Arumi tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Dexter memerah seperti kepiting rebus,pria itu mendadak heran melihat perubahan sikap Arumi dahi pria paruh baya namun masih terlihat gagah itu seketika berkerut.


"Benarkah?" bagaimana dengan ini"Dexter tiba-tiba menyerang Arumi dengan menggelitik perut Arumi.


"Hentikan tuan, hentikan ini sangat geli"Arumi berusaha menghindar dengan berlari menjauhi pria tersebut,tak tinggal diam Dexter pun mengejar Arumi,suara tawa dari keduanya terdengar saling bergantian.


Max yang melihat pemandangan tersebut ikut tersenyum melihat kebahagiaan Dexter untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal dunia 10 tahun lalu.


...***************...


Jangan bosen untuk mengikuti lanjutan cerita dendam kekasih ya gaes,dan jangan lupa untuk dukungannya.


Yang gak suka gak perlu baca ok untuk menghindari dosa sama-sama

__ADS_1


See you and next part πŸ‘‰πŸ‘ŒπŸ€—


__ADS_2