
...****Yuk lanjut baca cerita ku 👇 yuk....
...Seperti biasa sesudah baca jangan lupa buat vote,like,koment serta klik favorit ya 👌....
...Ingat lho jangan lupa...
...Happy reading ❤️****...
...****************...
Alvaro belum berhasil mendapatkan informasi dari Pluto karena hingga detik ini lelaki tersebut masih saja bungkam,Alvaro kembali keluar ruangan setelah tak satu pun info yang berhasil ia dapat dari Pluto,dengan wajah lesu ia kembali melangkah kan kaki berjalan menuju ruangan nya ia menyandar kan tubuhnya pada kursi kerja nya,terdengar suara pintu di ketuk dari arah luar.
"Lapor ndan Albert telah terbunuh" ujar Diki setelah memberi hormat pada atasan nya tersebut.
"Apa!" ujar Alvaro tampak terkejut.
"Albert terbunuh ndan,jasadnya ditemukan bersama dengan seorang pria botak yang juga terbunuh di sebuah bangunan tua,iasad kedua lelaki tersebut di temukan dengan dengan kondisi ada luka tembak yang ter dapat di tubuh kedua lelaki tersebut,sekarang jasad keduanya telah di evakuasi.
Alvaro segera bangkit dari duduknya dan menuju ke ruangan bagian kriminal untuk mendapatkan informasi lebih akurat dengan di ikuti Diki dibelakangnya.
.
Dari hasil keterangan yang diperoleh Alvaro kedua lelaki tersebut saling serang dengan menggunakan senjata api milik keduanya,ada sedikit keraguan di hati Alvaro terkait keterangan yang ia peroleh namun untuk menyelidiki kasus terbunuh nya Albert bukanlah wewenang nya.
****************
Sebelumnya jauh-jauh hari Niko sudah merencanakan niat busuk nya untuk membunuh sang ayah agar ia bisa mengambil alih posisi ayah nya sebagai pimpinan seluruh ketua geng mafia di ibu kota metropolitan.
Untuk itu ia telah menyusun rencana yang sangat rapi,ia pun dengan sangat sempurna menjalan kan sandiwara nya dengan wajah bersedih begitu mendapati jasad sang ayah yang telah terbujur kaku.
Begitu selesai dilakukan penyidikan jasad Albert di pulang kan ke rumah duka,Alvaro yang merasa begitu penasaran bersama Diki ikut hadir untuk mengucapkan belasungkawa kerumah duka,saat tiba dirumah duka tampak hanya beberapa rekan sejawat dan kenalan Albert yang turut hadir,prosesi pemakaman pun dijaga ketat oleh beberapa orang penjaga pribadi keluarga korban.
"Bagaimana menurut mu tentang kematian Albert" tanya Alvaro pada Diki saat dalam perjalanan sepulang nya dari rumah duka.
"Saya tidak yakin ada orang lain yang terlibat dengan kematian Albert " jawab Diki yang sedang fokus menyetir.
"Maksud kamu"Alvaro lagi-lagi bertanya kepada bawahan nya itu.
"Albert tidak tewas ditangan pria botak yang tewas bersama Albert ndan,menurut saya ada seseorang yang sengaja merencanakan semuanya,orang tersebut membuat rencana seolah kedua pria tersebut tewas setelah terjadi aksi saling tembak" jelas Diki pada Alvaro, tampak Alvaro mengangguk-anggukkan kepalanya,lelaki tersebut kembali diam dirinya membenar kan semua perkataan bawahan nya tersebut,Alvaro juga sependapat dengan Diki namun dirinya tidak bisa berbuat jauh untuk mengungkap kasus tersebut.
"Ndan kita telah sampai" ujar Niko begitu menghentikan mobilnya Alvaro menanggapi dengan ber oh saja,lalu segera turun dari dalam mobil kembali ke ruangan nya.
__ADS_1
Setelah berada di dalam ruangan nya lagi-lagi Alvaro hanya melamun ia tampak berpikir keras terhadap kasus yang sedang ia tangani,keberhasilan dirinya yang tinggal selangkah lagi ternyata gagal dengan terbunuh nya Albert.
"Hmmm......ternyata mereka bergerak cepat, mereka tahu dengan tertangkap nya Pluto maka akan membongkar jaringan mereka sehingga mereka membunuh Albert" batin Alvaro.
"Aku akan berusaha mencari tahu siapa yang telah membunuh pria sukses tersebut,aku semangkin nyakin bahwa Albert lah yang telah mendalangi semua perkembangan bisnis haram tersebut di kota ini"ucap Alvaro lirih.
Alvaro kembali mengingat lelaki yang menjadi perhatian para pelayat yang berada dirumah duka yang sempat kehadiran nya di hadang oleh penjaga rumah Albert,entah mengapa feeling nya mengatakan bahwa lelaki tersebut merupakan salah satu geng mafia yang ada hubungan nya dengan mati nya Albert.
Terdengar suara notifikasi sebuah pesan masuk dari handphone milik nya,Alvaro segera membuka pesan dari orang tersebut setelah membaca isi pesan itu Alvaro segera membalas pesan dan memerintah kan untuk mencari tahu siapa lelaki bernama Dragon tersebut.
Tak lama Diki kembali masuk kedalam ruangan Alvaro, kedua lelaki tersebut kembali terlibat perbincangan seputar tewas nya Albert dan juga kecurigaan mereka tentang pria yang diketahui bernama Dragon keduanya semangkin mencurigai bahwa Dragon salah satu dari kelompok mafia yang sudah lama malang melintang menggeluti bisnis haram yang menjanjikan keuntungan yang sangat mengiur kan itu.
Matahari mulai tenggelam dibawah cakrawala menyisakan langit jingga yang menaungi alam semesta kedua lelaki itu pun mengakhiri obrolan, mereka meninggalkan ruangan tersebut lalu melangkah kan kaki menuju mobil yang terparkir di halaman kantor kepolisian.
Saat perjalanan pulang Alvaro menghentikan mobilnya disebuah halte ia melihat seorang gadis yang sedang duduk menunggu angkot,yakin gadis itu adalah seseorang yang sangat ia kenal Alvaro segera menurun kan kaca mobilnya.
"Hei gadis cengeng apakah kamu butuh tumpangan?" sapa Alvaro dari dalam mobil.
"Oh ternyata bapak polisi,kok anda bisa tahu kalau saya sedang menunggu angkot?" Arumi balik bertanya dengan menyunggingkan seulas senyum pada sudut bibirnya.
"Gadis yang aneh,nggak mungkin kan kamu disini nungguin saya lewat,ayo buruan masuk karena saya tidak bisa menunggu lama" Alvaro memalsukan senyuman.
"Ya udah biar saya nungguin angkot saja pak,kalau begitu"
"Tadi bilang nya lagi buru-buru sekarang malah maksa" ujar Arumi cemberut.
"Buruan masuk keburu hujan nanti"ujar Alvaro membungkuk ke depan dan sesaat menatap langit dari balik kaca mobilnya,wanita yang berdiri tepat disamping mobilnya ikut mengarahkan pandangan ke langit namun tidak ada tanda-tanda bakal turun hujan Arumi mengernyitkan dahi,Alvaro segera membukakan pintu mobil buat Arumi,wanita cantik itu lalu masuk kedalam mobil dan mengenakan safe belt-nya, Alvaro tersenyum puas,lelaki itu segera menjalan kan mobilnya.
"Kok nungguin angkot emang motor kamu rusak ya" Alvaro memulai obrolan nya.
"Hmmm.....nggak kok pak lagi di pakai sama Ayu buat anterin pesanan kue" jawab Arumi sembari menoleh pada lelaki di sebelah nya yang sedang fokus menyetir mobilnya.
"Penggilnya lnya jangan bapak donk,bukan kah kita seumuran" ujar Alvaro sembari tersenyum.
"Ya....ya seumuran ya,Jadi mesti panfulapa donk"balas Arumi.
"Beti lah alias beda tipis kan umur kita,jadi kamu tu bisa panggil aku dengan menyebut nama atau abang,mas,honey juga bisa tuh lebih akrabkan" Alvaro melirik sekilas pada Arumi.
"Baiklah bagaimana jika mas saja" tanya Arumi dengan tersenyum.
"Ya terserah deh tadi nya pengenalan di panggil honey atau ayang sih" ujar Alvaro dengan wajah pasrah seketika Arumi melebar kan matanya.
__ADS_1
"Biasa aja kali jangan pake acara melotot gitu"
"Siapa yang melotot sih"
"Nah itu tadi apa namanya kalau bukan melotot"
"Auh ah nggak usah di bahas" jawab Arumi menyandar kan tubuhnya.
"Jadi selain berjualan bunga,ada usaha sampingan juga ya dengan membuat kue"
"Ya gitu deh buat tambahin penghasilan"
"Wah hebat donk,nanti aku mampir ya sekalian pengen nyicipin kue buatan kamu"
"Bukan aku yang buat lho tapi ibu" jelas Arumi
"Tapi kan sama aja kalau ibunya ja jago bikin kue pasti anaknya juga pintar"
Tak berapa lama kemudian,mereka sudah pun tiba dirumah Arumi setelah mematikan mesin mobil dan menarik kunci mobilnya,selang beberapa detik kemudian Alvaro ikut turun dari mobil menyusul Arumi dari belakang.
"Lho kenapa mas tidak langsung pulang,kok malah ikutan turun sih" tanya Arumi heran.
"Aku tadi sudah bilang kan mau nyicipin kue buatan ibu kamu" ujar Alvaro sembari berjalan melewati Arumi yang berdiri menatap kepada nya.
"Ya tapi tidak sekarang,mas harus pesan dulu nanti baru di buatin"
Bu Irma yang mendengar Arumi sedang berbicara dengan seseorang segera bergegas keluar rumah wanita itu akhirnya mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh anak sulung nya bersama polisi tampan tersebut.
"Eh ada nak Al rupanya silakan masuk nak" buk Irma mempersilakan kan Alvaro masuk kedalam rumah,Alvaro mengangguk kan kepalanya sekilas mencibir pada Arumi yang sekali lagi menatap ke arah nya dengan mata melotot.
"Tunggu sebentar ya ibu kebbelakang mengambilkan kue nya" ujar buk Irma tersenyum ramah Alvaro lagi-lagi mengangguk kan kepalanya,Arumi berdiri dengan melipat kedua tangan di dada nya menatap kearah Alvaro kesal sementara Alvaro membalas tatapannya Arumi dengan mengedipkan sebelah matanya.
...****************...
**B e r s a m b u n g
^^^Gimana puas nggak dengan lanjutan cerita ku.^^^
...Jika belum puas kasih masukan nya ya di kolom yang sudah tersedia....
...dan terakhir kata aku ucapkan terimakasih....
__ADS_1
...buat yang vote,like dan koment nya 🙏**,...