
**Hy gaes sebelum baca aku cuma ngigetin kalian jangan lupa vote,like dan komen ya sama banyakin gift gaes buat dukung akuπ.
Mungkin cerita ini sedikit Absurd tapi mudah"an kalian suka.
Yuk langsung aja ke cerita diπgaes.
Happy reading π€π**
...****************...
Dexter saat ini tengah berada di vila yang terletak dipinggir kota ia sengaja menyewanya agar keberadaannya di kota tersebut tidak di diketahui oleh musuhnya.
Di vila itu Dexter tampak sedang merencanakan sesuatu yang serius bersama Max salah satu orang kepercayaannya.
"Tugaskan salah satu anak buah mu untuk mencari tahu tentang keseharian pria yang menjadi kekasih Arumi,ikuti pergerakannya dan bunuh ditempat jika ia melakukan sesuatu yang dapat membahayakan wanita tersebut"ucap Dexter dengan rahang mengatup.
"Bolehkah saya tahu mengapa anda anda begitu yakin tuan"imbuh Max mulai menuangkan wine kedalam gelas dan memberikan pada tuannya.
"Feeling ku mengatakan pria tersebut tidak tulus,ada sesuatu terselubung dalam hati pria itu,aku tak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada Arumi" ujar Dexter menerima gelas berisi minuman beralkohol lalu meneguknya hingga kandas.
"Baiklah tuan jika begitu,anak buah ku akan menyelesaikan tugas ini dengan baik"
"Bagus,lalu apa perkembangan dengan misi kita apakah ada kendala?"
"Tidak tuan semua sesuai rencana,aku berhasil memprovokasi Franky, perang dingin diantara Franky dan Niko menjadi celah untuk memuluskan misi kita,dua bulan lagi kita akan mengeksekusi bajingan"terang Max dengan tersenyum licik.
"Aku sudah tidak sabar untuk menebas kepalanya" ujar Dexter dengan rahang mengeras.
"Tenang tuan itu bakal tidak lama lagi"Max lagi-lagi tersenyum,ia bahkan mengajak Dexter melakukan cheers.
Drrtt.
Dengan terpaksa Max menghentikan pergerakan nya saat benda pipih canggih yang berada disaku jaketnya mengeluarkan getar,Max mengeluarkan benda tersebut lalu segera menyentuh dial hijau dan meletakkan benda pipih itu ketelinganya,Dexter menatapnya dengan tatapan serius.
"Bagus,bawa kemari"ujar Max dan segera memutuskan sambungan teleponnya,Lalu Max menoleh pada salah satu anak buahnya dan memberikan isyarat penuh makna,pria bertubuh tegap dengan kepala plontos itu langsung memahaminya tanpa tanya ia segera melangkah keluar ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi" tanya Dexter penasaran.
"Sebentar lagi tuan akan tahu"jawab Max singkat.
Selang beberapa detik pria plontos itu kembali bersama dengan lima orang bertubuh kekar dan satu pria dengan tangan terikat kebelakang dan kepala tertutup.
"Seret kemari!"tandas Max tegas,salah satu anak buah Max mendorong tubuh pria itu kini pria tersebut tersungkur tepat di bawah kaki Max.
"Siapa pria ini dan apa yang telah dilakukannya"ujar Dexter spontan.
"Bajingan ini adalah salah satu orang kepercayaan Frank,selama ini ia menjadi mata-mata buat Niko untuk menjatuhkan Frank dan Frank yang bodoh tidak pernah tahu hal itu hingga ia mengalami banyak kerugian"jawab Max tenang.
"Mau kita apakan pria ini bos" ujar anak buah Max berambut gondrong,Sejenak Max berpikir ia melirik pada pria yang kini berada di telapak kaki Max.
__ADS_1
"Tuan maaf menganggu ada tuan Frank di depan" Max memberi isyarat yang lagi-lagi dimengerti oleh anak buahnya itu.
"Halo tuan Frank selamat datang ditempat kami"sambut Max tersenyum lebar,Frank membalas dengan sebuah pelukan kepada Max.
"Tuan Dexter ada disini?" kapan anda pulang dari Eropa tuan"ucap Frank seakan tak percaya pria yang berada di depannya adalah Dexter salah satu ketua geng Mafia yang cukup disegani,Frank lalu menjabat tangan Dexter kedua pria tersebut saling berpelukan.
Sekilas mata Frank tertuju pada pria dengan kepala yang tertutup dan kaki terikat kebelakang.
"Siapa orang ini"ucap Frank melepas pelukannya.
"Anda silakan buka sendiri tuan dan tuan akan mengenalinya"jawab Max,Frank mengernyitkan dahinya lalu mendekati pria tersebut lalu membuka penutup kepala pria tersebut.
"Kau"seru Frank terperangah matanya mendadak melebar,dia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Benar tuan dan selama ini orang kepercayaan mu lah yang memberi informasi pada Niko Keparat itu"jelas Max dengan santai.
"Tuan ampuni saya tuan,saya terpaksa melakukannya tuan jika tidak Niko akan menyakiti keluarga saya tuan,saya mohon ampuni saya tuan"pria tersebut memohon pada Frank dengan wajah ketakutan,Frank menatap pria itu dengan bengis tidak ada rasa kasihan sedikit pun dihatinya sementara Dexter hanya menatap datar pertunjukan tersebut karena sebagai ketua geng yang cukup disegani dirinya sudah terbiasa dengan situasi seperti itu.
"Katakan apa pesan terakhir mu buat keluargamu"bentak Frank penuh emosi dengan menodongkan pistol kearah kepala pria tersebut.
"Stop"Dexter menginterupsi Frank yang akan mengeksekusi pria yang sudah tak berdaya itu,lalu mengalihkan tangan Frank yang mengarahkan senjatanya pada kepala pria itu,Dexter memberikan Frank sebilah pedang samurai.
"Lakukanlah dengan ini,lalu antarkan pada Keparat itu"ujar Dexter dengan nada perintah.
"Jangan tuan saya mohon kasihanilah saya tuan"pria tersebut berteriak histeris,sepertinya Frank tidak memperdulikannya,Frank mengambil samurai dari tangan Dexter lalu mengayunkan samurai tersebut menebas leher pria itu hingga terputus darah segar pun memuncrat kelantai pria tersebut tewas seketika.
βοΈβοΈβοΈβοΈ.
Namun rutinitas perkuliahan membuat ia akhirnya mau tidak mau pulang kerumah,untuk mengambil beberapa helai pakaiannya.
Sore ini ia yang diantar Desta secara diam-diam masuk kedalam kamarnya melalui jendela untuk sementara ia tidak ingin ibunya tahu kepalanya pasti akan bertambah pusing nantinya,untuk itu sementara waktu ia ingin tinggal di basecamp.
Namun sial sang ibu yang sedang asik mengangkat jemuran tanpa sengaja melihat seseorang yang tengah memanjat jendela,buk Tuti sama sekali tidak mengetahui bahwa pria yang dicurigai itu adalah putranya sendiri.
"O''o ada tamu tak di undang rupanya,baiklah mari kita lihat sejauh mana kehebatannya jika senjata ajaib ku mulai beraksi"batin buk Tuti.
Buk Tuti kembali meletakkan jemurannya dengan berjalan berjinjit ia menuju dapur mengambil senjata pusaka nya lalu mengeluarkan ponsel pintarnya menghubungi bestienya via pesan untuk meminta bala bantuan untuk berjaga-jaga.
Isi percakapan melalui pesan singkat antara buk Tuti dan buk Irma.
Buk Tuti:Ente kudu buruan kemari,gpl.
Buk Mira:Wah sepertinya bakal ada gosip terbaru nih.
Buk Tuti:lebih dari itu dan setelah kejadian ini nama kita berdua bakal terkenal.
Buk Mira:Omg, benarkah?"ok ane bakal segera ke TKP.
Buk Tuti:Buruan jangan lupa bawa senjata.
__ADS_1
Buk Mira"Siiiip!"
Buk Mira segera offline setelah mengirimkan pesan terakhirnya, ia segera mencari senjatanya dan berlari menuju posisi dimana bestienya menunggunya,hanya beberapa detik buk Mira sudah berada dihadapan Bestie nya dengan spatula digenggaman tangannya.
(jangan kaget ya gaes mengapa cepat karena rumah kedua wanita bar-bar ini bersebelahan)
"Bagus ente datang tepat waktu,ayo kita beraksi"ujar buk Tuti dengan berbisik.
"Ayo,tapi make ponsel ente buk,ane lagi gak gablek peket ne maklum babang tanvam belum gajian"ujar buk Mira tersenyum simpul.
Buk Tuti segera mengangkat jempol nya,lalu ia kembali berbisik lalu menyerahkan ponsel miliknya pada Bestie nya itu.
"Sekarang ente ke jendela itu biar ane nyerang melalui pintu kamar kemudian ente rekam,ok"
"Tunggu ini maksudnya apa ya,bukankah kita mau tik-tok an seperti biasa kok hanya ente yang direkam" ujar buk Mira cemberut.
Buk Tutik menepuk jidatnya ia baru sadar bahwa ia ternyata belum mengatakan secara rinci aksi mereka yang bakal di lakukan sebentar lagi,tidak mau kehilangan moment tersebut buk Tuti pun segera menerangkan secara ringkas dan akhirnya buk Mira pun mengerti dengan penuh semangat kedua wanita bar-bar itu pun memulai aksinya.
Buk Mira segera melangkah mendekati jendela dengan ponsel yang telah menyala siap untuk merekam aksi heroik Bestie nya tersebut.
Dengan senjata ditangannya buk Tuti segara melangkah menuju kamar sang putra,dari balik pintu ia berusaha mengintip apa yang sedang pria yang dicurigai itu lakukan.
"kamu sudah salah masuk kamar bodoh,mana ada di lemari anak gue emas dan uang"batin buk Tuti.
Buk Tuti tersenyum smirk saat melihat Baskoro yang di duga maling itu tengah membongkar isi lemari dengan kepala tertunduk.
Buk Tuti mulai menghitung mundur sebelum melakukan serangan dan.....
"Ampun.... ampun..... ampun" teriak Baskoro.
"Bugh.....bugh......bugh...rasakan ini"seru buk Tuti mengayunkan sapu pada tubuh anaknya secara beruntun dengan penuh semangat.
"Ampun bu ampun"lagi-lagi Baskoro berteriak sedang kan buk Tuti sama sekali belum menyadari bahwa orang yang ia duga maling adalah anaknya,wanita itu semangkin bersemangat meneruskan serangannya dengan sekuat tenaga,namun beruntung buk Mira yang sedang merekam adegan tersebut sadar akan suara yang berteriak itu.
"lho kayaknya suara Baskoro deh"ucap buk Mira lirih.
Karena penasaran wanita itu memanjat jendela yang tidak tinggi itu dan....
"Gedubrak" buk Mira berhasil mendarat dengan posisi terjengkang ponsel yang berada digengaman tangannya pun secara sempurna menghempas lantai dan hancur berkeping-keping.
"Haaaaaa huks....huks...huks, ponsel ane!"teriak buk Tuti histeris melupakan targetnya.
Akhirnya Boskoro yang babak belur dihajar ibunya bisa bernapas lega ia bersandar pada lemarinya,pria itu sama sekali tidak memperdulikan ibunya yang sedang menangis histeris,buk Mira hanya memandangi buk Tuti ambigu.
...****************...
**Gimana gaes seru gak part kali ini π.
Ok sampai disini dulu ya gaes.
__ADS_1
Jangan lupa lho vote,like dan komennya.
See you next part ππ**