
Warning!"
Sebelum baca dukung ya gaes klik vote dan favoritkan ya gaes dan tinggalin jejak setelah baca heheheπ
Happy reading π
...****************...
Berita tentang kaburnya Arumi tak luput dari pantauan Alvaro,lelaki itu memanfaatkan waktu cutinya untuk berkunjung ke ibu kota,ia sengaja memilih tempat tersebut menghabiskan masa cutinya untuk mencari jejak wanita tersebut.
Begitu menjejakkan kakinya di kota metropolitan Alvaro segera menelepon Diki mantan anggota nya saat ia menjabat sebagai kasat di kota tersebut,setelah membuat temu janji lelaki itu segera menuju sebuah cafe dengan menggunakan ojek online.
Hanya sekitar 10 menit perjalanan Alvaro telah sampai di "Rose cafe" ia melihat Diki telah berada disana,lelaki itu melambaikan tangan kearahnya lalu ia pun berjalan menuju meja Diki.
"Selamat datang di kota metropolitan ndan,senang bisa bertemu anda kembali"ujar Diki menyambut Alvaro dengan menarik kursi mempersilakan pria itu duduk.
"Ahaha kamu tidak pernah berubah tetap Diki yang aku kenal dulu sangat pandai mengatur kata dan sikapmu benar-benar membuatku terkesan walau kadang banyak ngelunjak nya tapi itu yang buat aku kangen"ujar Alvaro terkekeh.
"Ah komandan bisa aja"Diki menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lho bener,aku datang ke sini karena kangen dengan mu"
"Alah pasti karena tentang kasus nya Arumi kan,jujur aja ndan gak perlu muter-muter"ujar Diki mencibir.
"Iya juga sih,tapi beneran sekalian kangen dengan tampang mu yang suka bikin mules perut"Alvaro tertawa lebar.
"Tampang kayak gini bisa buat Amanda Manopo tergila-gila ndan mangkanya sengaja mutusin Billy"
"Sudah-sudah jangan halu kamu,entar lama-lama bisa saiko lho"
Diki cengar-cengir menanggapi candaan sang mantan atasannya itu.
Tak berapa lama mereka pun terlibat obrolan yang lebih serius,Diki menyampaikan info yang ia ketahui dari awal tertangkap nya Arumi hingga akhirnya wanita tersebut berhasil Kabur saat perjalanan menuju kantor pengadilan.
"Menurut kesimpulan mu bagaimana"tanya Alvaro ingin tahu pendapat dari Diki.
"Kecurigaan ku sejauh ini ada yang sengaja menjebak wanita itu,dan semua itu ada kaitannya dengan ini"Diki menyodorkan surat kabar yang terbit dua hari lalu pada Alvaro.
Alvaro mengambil surat kabar dari tangan Diki lalu membaca nya sekilas.
"Lalu menurut mu siapa yang membantu Arumi kabur"
"Terkait itu saya hanya berasumsi seorang saingan bisnis dari konglomerat tersebut"
"Tujuannya?" tanya Alvaro mencoba menggali kemungkinan yang bisa saja terjadi dari seorang Diki.
"Orang tersebut ingin memanfaatkan kecantikan yang ada pada wanita itu,dan biasanya wanita yang begitu sangat kecewa dan putus asa akan tumbuh jiwa pembunuh yang cukup sadis dan biasanya lebih strong dari seorang lelaki,dengan maksud lain orang tersebut membantu Arumi untuk balas dendam dan sebagai imbalan nya Arumi juga harus bersedia menjalankan tugas dari orang tersebut"
"Good analisa mu sungguh masuk akal,itu yang sangat aku suka dari mu meskipun dompet dan tampang mu menyedihkan tapi otak mu begitu cerdas"
__ADS_1
"Ndan sekali-kali jika memuji jangan sekalian menjatuhkan bisa gak"
"Maaf sepertinya itu sangat sulit buat ku hehehe" lagi-lagi Alvaro tertawa lebar,Diki malah nyengir kuda.
"Tetapi ngomong-ngomong siapa orang yang kamu maksud itu,apakah kamu tahu"imbuh Alvaro dengan sisa tawanya.
"Owh itu tentu saja saya tahu andai saja saya berada di TKP ndan"ujar Diki membalas meledek Alvaro kali ini Alvaro yang tampak kesal,tawa Diki semangkin pecah berhasil membalas Alvaro.
Tawa Diki sedikit mereda ketika Freddy sudah hadir ditengah-tengah mereka.
"Apa kabar teman,kenapa baru ngabarin sih kan gue bisa jemput lu di bandara tadi"Kedua lelaki itu saling berpelukan.
"Tadi nya pengen ngasih surprise"ujar Alvaro dengan senyum khas nya.
Freddy tak lupa menyapa Diki yang berada disebelah Alvaro, lalu memesan minuman pada pelayan cafe yang menghampiri Freddy.
"Bagaimana teman pastinya lu tau kabar terakhir tentang Arumi" tanya Freddy menatap Alvaro.
"Sudah bro dan ini kami baru membahas tentang permasalahan itu"Jelas Alvaro pada Freddy.
"Jadi bagaimana kelanjutan nya,apakah sudah mendapatkan titik terang"ujar Freddy sembari mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kotaknya.
"Gue akan mencoba menemui Ayu adik Arumi,gue rasa pasti Arumi menemui ayu"
"Ide yang sangat bagus,tapi ndan maaf saya tidak bisa untuk ikut ndan"Diki yang sedari tadi hanya sebagai pendengar ikut menimpali.
"Tidak mengapa, informasi yang kamu berikan lebih dari cukup"Alvaro menepuk pundak pria itu,kali ini Alvaro terkesan serius.
"Ok sip, terimakasih sekali lagi"balas Alvaro, sementara Freddy yang berada disebelah Alvaro tersenyum kearah Diki.
Tak lama Diki beranjak pergi dari cafe,Alvaro dan Freddy menyusul keluar dari cafe.
βοΈβοΈβοΈ.
Ditempat lain,diwaktu yang berbeda Arumi sedang duduk sendirian dengan ditemani segelas cokelat hangat.
Suasana malam yang membawa kedamaian bagi siapapun,langit yang cerah dengan bertaburan bintang-bintang menemani sang rembulan menambah kesan yang begitu indah malam ini.
Namun suasana tersebut sangatlah berbeda dengan suasana hati Arumi yang berada didalam kamarnya yang selalu memberinya kehangatan.
Hatinya terus bertanya entah pada siapa,mungkin saja bertanya pada angin yang berhembus malam ini.
Ia kembali menyeruput cokelat hangat yang berada ditangannya,berniat menghabiskannya lalu segera tidur untuk menyambut mentari esok.
"Mas baskoro" ucap Arumi tanpa sadar disela menyeruput cokelat hangatnya.
" Tidak,tidak aku tidak boleh mengingat lelaki itu,ia hanyalah masa lalu ku yang banyak menorehkan luka dihatiku,dan aku pastikan aku akan membalas semua perlakuannya"ucapnya lagi.
Sejenak Arumi termenung lalu segera ia bangkit dari duduknya memilih melangkah menuju king size yang berada tepat disudut kamarnya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Arumi mengurungkan niatnya menarik selimutnya lalu duduk diatas kasurnya.
"Ada apa tuan Dexter mengetuk pintu kamar malam-malam begini" batin Arumi bingung.
"Yasudahlah mungkin saja ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan olehnya"
Arumi pun bergegas membuka pintu kamarnya.
Ceklek.
Saat pintu kamar terbuka lebar Arumi tidak bisa berucap sedikitpun,pupilnya melebar dengan bibir sedikit terbuka ia tertegun tak bergeming begitu melihat siapa yang sedang berdiri tepat dihadapannya saat ini.
Gadis itu menghambur memeluk Arumi tangis gadis tersebut pecah namun Arumi tetap diam mematung ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri bahkan Arumi menganggap dirinya sedang berhalusinasi.
Tangis gadis tersebut perlahan-lahan mereda,ia melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Arumi dengan kedua belah tangannya.
"Kak mengapa kakak diam saja,apakah kakak tidak merindukan ku kak"ujar gadis itu disisa tangisnya.
Arumi menoleh pada sosok lelaki yang berada disamping Ayuningtyas lelaki itu mengangguk kan kepalanya mengukir senyuman.
"Apakah aku sedang tidak bermimpi"ujar Arumi dengan tubuh yang tiba-tiba bergetar.
"Tidak nona,ini nyata aku telah menjelaskan pada adik anda apa yang sebenarnya terjadi atas diri anda tidak sepenuhnya kesalahan anda nona"tutur Dexter menjelaskan pada Arumi.
Arumi menepuk pipinya dengan sedikit keras dan rasa perit dipipinya nyata ia terasa.
"Ya aku tidak sedang berhalusinasi atau bermimpi" ujar Arumi seolah berbicara pada dirinya sendiri lalu menoleh kembali pada sosok gadis yang berada dihadapannya,kedua kakak beradik itu saling berpelukan Isak tangis dan derai air mata mereka tumpah tak terbendung.
Dexter yang melihat pertemuan kakak beradik itu pun ikut larut dalam suasana yang mengharu biru kan bagi siapapun yang melihatnya.
Dexter memutar tubuh,berniat pergi membiarkan kedua wanita itu saling melepas rindu,namun Arumi segera meraih tangan Dexter membuat pria itu menghentikan langkahnya.
Arumi melepas pelukannya dari sang adik beralih memeluk Dexter begitu erat,Dexter yang terkejut membalas pelukan Arumi yang sesenggukan pria itu mengusap punggung Arumi.
Situasi tersebut berlangsung cukup lama,Dexter melepaskan pelukannya,ia merasa tidak enak pada Ayuningtias yang menatap pada dirinya dan Arumi.
"Nona sudahlah jangan bersedih,bukankah seseorang yang anda rindukan sudah berada dihadapan anda sekarang"ujar Dexter dengan kedua belah tangannya memegang pundak Arumi.
"Maafkan aku tuan"ujar Arumi menghapus sisa-sisa air mata dari wajahnya.
Dexter hanya tersenyum tipis kemudian melangkah keluar dari kamar itu dengan perasaannya yang sulit ia artikan.
...****************...
__ADS_1
Oklah gaes sampai disini dulu,nanti kita lanjutin lagi,oh iya ini cerita ku yang kedua sambil nungguin up lagi mampir juga gaes dicerita ku pertama dilapak sebelah yang berjudul cintamu membawaku pulang ok gaes.
See u ππ€**