
Setelah Niko tau kedatangan Bayu yang ditemani Angel kerumah orang tua gadis yang telah ia dan teman - temannya bunuh sebulan yang lalu membuat Niko ketar - ketir.
Siapa yang tak kenal dengan Bayu seorang mahasiswa yang paling populer karena kekritisannya,ditambah sekarang Angel dekat dengan Bayu dan Angel adalah sahabat Arumi "jika Arumi juga bercerita tentang kejadian didalam kamar mandi habis gue" batin Niko.
"Aarrrggh....A****g!!!" Niko berteriak dan menendang kursi yang ada dihadapannya.
"Tenang bro nggak perlu panik" ujar Evan sahabat Niko sambil meneguk minuman yang berada didalam kaleng.
"Tenang - tenang pala lu Soak, sepak terjangnya tu anak nggak bisa dianggap main- main.
"Lu kenal dengan ne anak" ujar Evan dengan menunjukkan photo kiriman Brok yang berada di handphonenya.
"Namanya Bayu sekretaris jendral badan eksekutif mahasiswa tingkat universitas dan seorang aktivis,apakah lu lupa ini" ujar Niko melempar sebuah majalah ternama edisi November yang terbit lima bulan lalu kepada Evan,dan pemuda berambut gondrong tersebut menyambar majalah yang dilemparkan oleh Niko kepadanya, sesaat Evan segera membacanya.
"Jadi pemuda yang bernama Bayu di majalah ini pemuda yang sama dengan photo kiriman Brok,dan sekarang pemuda tersebut datang ke rumah orang gadis itu" tanya Evan ikutan panik.
"Benar sekali, jika Bayu benar - benar mendesak pihak berwajib dan membawa kasus tersebut kepermukaan maka kita akan selesai" ujar Niko meraih minuman dan segera meneguknya.sejenak suasana ruangan base camp mereka terasa hampa udara,tidak ada pembicaraan diantara kedua begundal tersebut mereka diselimuti rasa khawatir.
"Brother gue rasa kita tidak perlu takut dan panik" ujar Evan kemudian dengan menatap kearah Niko serius,Niko yang otaknya emang lagi buntu menyeringai menatap Evan.
"Kita tinggal tekan pemuda kampung itu, bereskan" ujar Evan tersenyum licik.
"Good job,lu bener banget" jawab Niko dan tertawa ngakak dan Evan ikutan tertawa terbahak - bahak mereka kembali tampak gembira karena menemukan ide yang cukup tepat untuk membuat mereka terbebas dari masalah, namun tiba - tiba Niko kembali diam seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Come on brother,ada apalagi ini" ucap Evan begitu melihat Niko sahabatnya kembali tampak khawatir.
"Gue masih ada masalah dengan Arumi" ujar Niko mendongakkan kepalanya.
"Siapa lagi ini dan ada apa dengan orang yang bernama Arumi" tanya Evan mulai prustasi.
"Dua Minggu yang lalu gadis tersebut memergoki gue dan yang lainnya lagi make di kamar mandi kampus" ujar Niko datar.
__ADS_1
Tok............tok...........tok
Niko menatap kearah Evan,dan Evan mengerti akan tatapan mata Niko dengan segera ia melangkah berjalan kearah pintu setelah memastikan siapa yang datang melalui celah lubang pintu Evan membuka pintu tersebut.
Tiga orang pria bertubuh kekar dan penuh tato langsung menerobos masuk,Niko tersenyum sinis menyambut kehadiran orang kepercayaan ayah nya.
"Lu diperintahkan bos untuk menghadap" ujar pria yang tampak seperti pemimpin dianatara kedua pria bertubuh kekar tersebut,Evan menatap Niko dengan perasaan tidak enak.
"Ada apa lelaki tua bangka itu memanggilku" batin Niko dan segera bangkit melangkah keluar diikuti oleh Evan dan ketiga pria tersebut.
Niko langsung masuk kedalam mobilnya disusul oleh Evan dan segera duduk disebelah Niko kemudian suara decitan mobil terdengar menderu - deru membelah keramaian jalan.
"Perasaan gue nggak enak bro" ujar Evan menatap Niko yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Dimana Condet dan yang lainnya" ujar Niko dengan mata tetap fokus mengarah kejalanan.
"Mereka pada posisinya" jawab Evan singkat lalu keduanya saling diam,dan Niko mulai menerka - nerka gerangan apa yang membuat deddynya memerintahkan anak buahnya menjemput dirinya.
Niko dan Evan segara turun dari dalam mobil kemudian segera masuk kedalam rumah,seorang wanita dengan usia sekitar 50an namun masih terlihat cantik tersebut tersenyum sumringah melihat kehadiran Niko.
"Hy mommy" sapa Niko segara memeluk wanita paruh baya tersebut dan wanita itu membalas memeluk putra kesayangannya itu.
"Sayang kamu kemana aja sih,mommy kangen kamu sayang" ujar wanita itu dengan mengusap lembut wajah Niko.
"Biasanya lah mom namanya juga anak muda" jawab Niko sambil tersenyum sebuah deheman dari orang suruhan ayahnya membuat kedua ibu dan anak tersebut menghentikan acara kangen - kangenan mereka.
"Kamu ada membuat kesalahan apa sayang" ujar sang ibu dan melepaskan pelukannya dengan wajah tampak cemas, Niko tidak menanggapi pertanyaan ibunya ia segera melangkah menuju kesebuah ruangan khusus meninggalkan sang ibu yang merasa kawatir.
Niko mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan tersebut,saat pintu terbuka Niko sudah dapat melihat sang Deddy yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan menghisap cerutu kesenangan sang Deddy.
Niko yang diikuti Evan segera menghampiri dan segera duduk disamping deddynya,suasana hening seperti tidak ada tanda - tanda kehidupan sekilas Niko menatap Evan yang berdiri tepat disisi kiri Niko namun Evan ternyata malah fokus pada bos besarnya yang sedang meneguk Vodka dari dalam botol.
__ADS_1
"Is there a problem Deddy" ujar Niko dengan suara bergetar sang ayah tidak menjawab pertanyaan dari Niko namun mata sang Ayah menatap kepada seorang bodyguard yang berada disampingnya,dan bodyguard tersebut arti dari tatapan mata sang bos yang mengarah pada dirinya ia segera meraih handphone miliknya dan mendail nomor seseorang dan segera memutuskan kembali sambungan teleponnya kemudian memasukkan handphone miliknya kembali kedalam saku celananya.
Gedubrakkkkk..................
Pemuda berperawakan tinggi besar mendorong tubuh seorang pria hingga pria tersebut tersungkur tepat dibawah kaki Niko.
Niko terperangah begitu melihat siapa yang sedang berada dibawah kakinya,Niko yang bingung menatap meminta penjelasan dari Evan, namun sama dengan dirinya Evan sepertinya tidak mengetahui apa.- apa.
Rio yang kini sudah tergeletak dibawah kaki Niko baru tiga bulan bergabung dan menjadi anak buah Niko,Rio adalah seorang pecandu namun mempunyai keahlian dalam baku hantam melihat kehebatan Rio mematahkan puluhan lawannya membuat Niko tertarik dan setelah mendapat inpo tentang Rio yang hidup sebatang kara tanpa mengetahui asal - usulnya Niko pun menjadikan Rio anggotanya.
"What is this Deddy?" ucap Niko dengan penasaran.
"Plakkk....Bukg"
sebuah tamparan dan bogem mentah mendarat diwajah dan ulu hati Niko,Niko meringis menahan sakit.
"Dasar ceroboh" sarkas Albert kepada putranya dan "Plakkk" sebuah tamparan lagi - lagi mendarat di pipi Niko.
"Sorry Deddy what does all this mean?" ucap Niko masih tidak mengerti.
"Bagaimana kamu akan jadi pemimpin, jika kamu sendiri tidak pernah mencari tahu penyebabnya kita selalu gagal menerima kiriman barang dan mengapa income kita merosot dratis beberapa bulan ini!!!" sarkas Albert lagi.
Niko menatap nanar pada sang ayah ia mulai mencerna kalimat yang keluar mulut ayahnya tersebut namun otaknya sulit untuk berkompromi karena ia belum sempat menikmati bubuk kristal sedari pagi sehingga ia tidak kunjung mendapat jawaban dari kalimat sang ayah yang begitu murka.
"Karena kamu sudah memelihara penghianat dirumah mu sendiri" ujar Albert membuat Niko sontak kaget iya benar - benar tak menyangka bahwa Rio adalah seorang informan,sekujur tubuh Niko lemas ia merasa sangat malu dihadapan sang ayah.
"Dorrrrr.......
Sebuah tembakan akhirnya bersarang didalam tubuh Rio membuat Rio tak bergerak seketika.
"Suguhkan pada Terrier" perintah Albert kepada anak buahnya dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut yang diikuti oleh orang kepercayaan nya Anston.
__ADS_1