
...**Hai gaes lanjut lagi nih tetap dukung author dengan cara...
...Vote, coment dan favorinya ya🤗😘...
...Happy reading ❤️**....
...****************...
Begitu selesai mengantarkan Arumi pulang Alvaro mengurungkan niat kembali kekantor terlebih dahulu lelaki tampan tersebut menuju ke suatu tempat untuk menjumpai seseorang.
Alvaro menekan tunel tombol pengecil volume suara dan menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah klinik kecil yang tak jauh dari pusat kota Jakarta.
Alvaro segera turun dari mobilnya begitu masuki pintu kaca bagian depan tampak seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan sedang mengantri mata mereka saling beradu pandang,Alvaro segera mengambil posisi duduk tepat di sebelah lelaki itu,beberapa detik berlalu tanpa terlibat obrolan lelaki bertubuh gempal itu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan memberikannya pada Alvaro secepat kilat Alvaro menerima bungkusan kecil dari tangan lelaki itu lalu kembali keluar dari ruangan dan bergegas menuju mobilnya yang terparkir.
Begitu tiba diruangannya Alvaro segera membuka bungkusan itu lalu secara detail memperhatikan satu persatu photo-photo tersebut.
"Ternyata kecurigaan ku selama ini benar dia dalang di balik semua ini" gumam Alvaro.
Alvaro segera menyimpan bukti-bukti tersebut ditempat paling rahasia, lalu segera mengeluarkan benda pipih dari saku celananya,Alvaro mendial nomor seseorang tak berapa lama terdengar seseorang diseberang sana mengangkat panggilan telepon dari Alvaro.
"Target sangat licin sulit untuk dijangkau" ujar suara diseberang sana.
"Lalu kapan mereka melakukan pergerakan"
"Besok malam pergerakan tersebut dipimpin oleh orang kepercayaan lelaki tersebut yang bernama Pluto,waktu dan tempat akan saya kirim seperti biasa,sedangkan Pluto anda bisa melihat di photo kedua yang saya berikan"
"Baik"
Alvaro segera memutuskan Sabungan telfonnya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
Tok...
Tok....
Tok...
"Masuk" seru Alvaro tanpa mengubah posisi duduknya.
Ceklek.....
Diki sahabat sekaligus bawahan Alvaro muncul dari balik pintu setelah menundukkan kepala sebagai tanda hormat,Diki segera duduk di hadapan Alvaro.
"Dik malam ini kita akan mengadakan rapat kabari yang lainnya" perintah Alvaro.
"Siap ndan"Diki kembali bangkit dari duduknya melaksanakan titah Alvaro.
"Dan ingat rapat malam nanti sangat penting jangan sampai bocor dan jangan libatkan Handoko dalam rapat malam nanti "
__ADS_1
"Siap ndan, dimengerti" ucap Diki namun pemuda tersebut masih berdiri ditempatnya.
"Apakah masih ada yang tidak jelas" Alvaro mengerutkan kening.
"Sangat jelas ndan" jawab Diki dengan tegasnya sesaat kemudian Diki tampak menggaruk kepalanya "Ndan saya mau pinjem uang tidak banyak kok ndan" ucap Diki sembari nyengir kuda.
"Jika banyak tidak ada tapi jika sedikit ada sih"jawab Alvaro menopang dagu nya dengan kedua tangan di meja menatap lamat wajah Diki yang berada di depannya.
"Tenang ndan cuma sedikit saya pinjam tapi tetap kayak kemarin bayarnya dengan nyicil,saya butuh 10 juta ndan" ujar Diki dengan santai.
"Apa 10 juta,kamu tidak sedang merampokku kan?" tanya Alvaro dengan mata melebar memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Biasa kali ndan jangan pake melotot, maksudnya saya sudah ada delapan juta jadi saya cuma mau pinjam dua juta saja"jelas Diki dengan cangar-cengir.
"Hem ngomong kek dua juta pake acara muter-muter"sungut Alvaro kesal lalu membuka dompetnya dan menyerahkan uang sejumlah dua juta rupiah pada Diki.
"Siap salah ndan" Diki langsung dengan cekatan menerima uang dari tangan Alvaro.
"Satu lagi ndan apakah....." ucapan Diki terpotong.
"Sudah-sudah nggak ada minta tolong yang lain lagi,minta tolong dikantor polisi saja,buruan kerjakan tugas yang saya perintahkan"
"Lho bukankah ini kantor polisi ndan" ujar Diki cengegesan membuat Alvaro melotot kearahnya.
"Yaelah gitu aja marah,emang komandan tau apa yang ingin saya katakan?" tanya Diki
"saya hanya mau bilang wanita yang makan bersama komandan tadi siang cantik juga bahkan sangat manis sungguh perfect" Diki tertawa lebar.
"Hahaha....jangan fitnah ndan,fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan" ujar Diki mengedipkan sebelah matanya tertawa lebar seketika wajah Alvaro pucat pasi menahan malu mengingat kejadian antara dirinya dengan Arumi di restoran tadi.
"Hem pasti cucunguk ini melihat saat aku menautkan kelingking dasar kepo"batin Alvaro semangkin kesal.
"Apakah wanita itu pacar komandan"imbuh Diki yang telah berdiri di ambang pintu dengan senyum yang masih mengembang di sudut bibirnya Alvaro meraih pulpen hendak melemparkan ke arah Diki namun lelaki tersebut buru-buru menutup pintu ruangan Alvaro.
****************
Di dalam kamarnya tampak Arumi sedang melamun memikirkan Baskoro kekasihnya itu lalu wanita tersebut segera meraih benda kotak yang berada di atas nakas,namun sesaat tampak ragu ia mulai menimbang-nimbang apakah ia harus menanyakan tentang kebersamaan kekasihnya tersebut yang bersama Rini sesuai dengan photo yang dikirim oleh Alvaro.
Bagaimana jika Baskoro malah marah jika ia mendesak agar lelaki tersebut mengatakan hal yang sebenarnya,apakah dirinya harus memutuskan hubungan dengan Baskoro jika benar kekasihnya tersebut selingkuh dibelakangnya,sejuta pertanyaan muncul di dalam benaknya.
Arumi menghela napas panjang lalu membuangnya secara perlahan,ada rasa sakit saat mengingat photo kekasihnya tersebut yang bersama Rini namun untuk mengakhiri hubungan dengan lelaki tersebut baginya amat sulit setelah apa yang terjadi antara ia dengan kekasihnya itu.
Drttt...........drttt...........drttt........
Arumi menatap benda kotak yang sedari tadi berada di genggaman tangannya sedikit ragu akhirnya ia menerima panggilan telfon orang yang saat ini sedang ia pikirkan.
"Halo yang kamu lagi ngapain?" ~ Baskoro.
__ADS_1
"Nggak lagi ngapa-ngapain mas"~ Arumi
"Serius nih.....jadi nggak lagi mikirin mas sungguh terlalu dirimu yang"~Baskoreng eh Baskoro (maaf author baper🤦🏻♀️😁)
"Iya sih lagi mikir mas"~Arumi
"Hmmm udah pinter bo'ong pacar mas yang cantik sekarang"
"Seriusan mas,aku lagi mikir kamu mas"
"Yang apakah ibu sudah pulang?"
"Besok ibu baru pulang,emang ada apa mas"
Dari luar kamar terdengar suara buk Tuti yang cempreng sedang berteriak memanggil putra semata wayangnya.
"Hem ada apa sih dengan ibu" gerutu Baskoro yang didengar langsung oleh Arumi via telfon
"Yang udah dulu ya ibu negara sedang memanggil tuh nanti mas telfon lagi ok"
"Baik mas"
Baskoro segera mematikan handphone dan bergegas menuju pintu.
"Bas ada Rini di depan tuh,awas kamu harus baik-baikin Rini"ujar buk Tuti yang sudah berdiri tepat di pintu kamar putranya dengan menenteng penuh beberapa belanjaan ditangannya hasil dari pemberian Rini.
"Wah dari mana belanjaan sebanyak itu bu" ucap Baskoro malah bertanya.
"Sudah tentu dari calon menantu ibu,kamu jangan sampai mengecewakan Rini,wanita itu bisa membuat kita senang,kamu jika kamu menyia-nyiakan kesempatan yang ada didepan mata, mengerti" oceh buk Tuti mengingatkan sang anak.
"Ibu matre ya" Baskoro malah mencibir pada ibunya,buk Tuti membulatkan matanya.
"Iya deh buk,asal ibu bahagia bila perlu malam ini Baskoro bakal ngawinin tuh anak"
"Hus jangan asal bicara kamu nikah dulu itu baru benar" buk Tuti meletakkan barang belanjaannya lalu menjewer telinga Baskoro.
"Ampun buk maksud Baskoro menikah bu,please singkirin tangan ibu dari telingaku bu"ujar Baskoro meringis kesakitan.
"Ayo buruan temuin Rini,kamu yang rapi bila perlu tukar tu baju" ujar buk Tuti dengan menurunkan tangannya.
"Baik bu"jawab Baskoro singkat sambil mengusap telinganya yang terasa sakit.
"Bagus itu baru anak ibu"buk Tuti tersenyum sumringah mendengar jawaban dari putranya tersebut dan segera melangkah menuju dapur.
...****************...
Mudah"an kalian semua suka dengan park di☝️🤲
__ADS_1
Jangan lupa ya dukung terus author dengan vote dan like pada kolom di👇
love you😘