
**hy gaes kita lanjut yuk dan sebelumnya jangan lupa dukung terus ya dengan pencet vote,like dan koment diπya gaes.
Dan juga rate bintang limanya ya gaes juga banyakin giftnya.
Setiap vote,like dan komen kalian merupakan semangat buat ku, please buruan ya gaes gerakan jempol dan hati kalian hehehe.
Happy reading π€**
...****************...
Sudah Tiga hari Arumi tidak bisa menghubungi Kekasihnya itu bahkan dikampus pun Baskoro tidak menampakkan batang hidungnya,ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada pria tersebut.
"Kok ngelamun lagi?" tanya Angel, mengejutkan Arumi yang sedang melamun.
"Eh enggak ah" Arumi memberikan setengah senyumannya.
"Gue tau beb ada yang sedang lu pikirkan,lu bisa membohongi semua orang tapi tidak dengan gue" Imbuh Angel mengusap pundak sahabatnya itu,Arumi menundukkan kepalanya menyembunyikan perasaannya yang sedang diterpa keresahan.
"Baiklah jika lu belum ingin cerita ke gue beb, tapi satu hal yang harus lu tahu gue selalu ada buat lu kapan saja lu ingin cerita gue siap selalu siap"
"Terimakasih lu selalu baik ke gue" kedua wanita itu saling berpelukan.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan gerak-gerik keduanya. Benci,satu kata yang berada dipikiran orang tersebut,bahkan ia sudah muak melihat Arumi karena wanita itulah yang selama ini menjadi penghalang ia memiliki hati seorang Baskoro sepenuhnya "lihat saja setelah ini gue pastikan lu benar-benar menderita wanita bodoh"gumam orang tersebut sambil tersenyum licik,yang tak lain adalah Rini.
"Lihat apaan sih lu" tanya Margaretha mengikuti arah pandangan Rini.
"Hem.....rupanya ada rival berat nih,mana mangkin semok aja tu cewek pantes Baskoro betah"ucapan Margaretha membuat kuping Rini panas emosinya semangkin membuncah.
"Sabar beb,Metha mah emang gitu ngeselin orangnya,tetapi ada benarnya juga ucapan lu Met tu cewek mangkin bening aja" timpal Nindy yang disambut tawa renyah dari Margaretha.
Rini dengan emosi yang sudah berada diubun-ubun bangkit dari duduknya ia tampak semangkin kesal dengan sahabatnya itu yang malah memuji Arumi.
"Eh lu mau kemana beb,kami cuma bercanda kok,please jangan marah donk"ucap Nindy mulai takut Rini bakal marah pada mereka.
Namun Rini sama sekali tak menghiraukan permintaan maaf sahabatnya itu ia melangkah menuju pemilik kantin.
"Mau pesen apa neng" sapa pemilik kantin menyunggingkan senyuman ramah.
"Lemon hangat satu bik"
Pemilik kantin segera membuat pesanan lemon hangat buat Rini,wanita itu berdiri dengan sesekali melirik ke arah Arumi dan Angel yang sedang asik ngobrol.
"Ini neng lemon hangatnya"
"Makasih bik" ujar Rini, setelah membayar pesanannya Rini pun berjalan kembali kemejanya melewati meja Arumi dan dengan sengaja ia menumpahkan lemon hangat kepada Arumi,ketiga sahabatnya tampak tertawa cekikikan melihat aksi yang dilakukan oleh Rini.
"Awww" pekik Arumi secara sepontan ketika merasakan hangat tumpahan air lemon yang mengenai wajahnya.
"Ups sorry"ujar Rini dengan wajah tak berdosa.
__ADS_1
Angel geram ia bangkit dari duduknya dengan menatap sinis Rini"lu mo nyari gara-gara ya"
"Sudah Ngel jangan buat keributan malu dilihat banyak orang"Lerai Arumi menghalangi Angel.
"Denger tu teman lu aja nggak marah tu,kok lu yang kebakaran jenggot"lagi-lagi Rini tersenyum sinis.
"Ternyata gak bawah lu aja Yang gatel mulut lu juga gatel,sini gue garuk"Angel bener-benar muak ia mencoba menjangkau Rini dengan tatapan mata tajam namun lagi-lagi Arumi menghalang,Bayu dan kedua temannya yang baru saja tiba di kantin ikutan menghalangi Angel yang sudah terlanjur emosi.
"Biasa aja kali mandangnya,jijik gue"cibir Rini segera menjauh dari Angel yang seperti singa mengamuk.
"Damn it"umpat Angel menatap Rini dengan penuh kebencian.
"Sudah lah yank gak usah di landeni juga si Rini tu anak sakit jiwa" ucap Bayu membujuk kekasihnya itu.
Angel menghela nafas dalam mencoba menetralkan emosinya sedangkan Arumi tampak membersihkan sisa tumpahan air lemon yang menempel di bajunya.
βοΈ
Setelah perkuliahan usai Arumi mencoba mencari informasi mengenai kekasihnya itu ia menghampiri Aldy yang sedang asik ngobrol di koridor kampus bersama seorang cewek.
"Al ada yang ingin gue bicarakan,bisa kita ngobrol sebentar"
Aldy memutarkan kepalanya menoleh ke arah Arumi yang berdiri didepan nya bersama Angel.
"Bentar ya Baby jangan kemana-mana entar gue balik lagi ok"ujar Aldy kepada cewek tersebut dengan mengedipkan matanya lalu mengikuti Arumi yang berjalan menuju rooftop,Angel menunggu Arumi diparkiran kampus.
"Ada apa Rum,Kayaknya serius banget" ucap Aldy mengernyitkan dahi.
"Hmmm.....gua rasa lu tanya aja langsung pada Baskoro,Rum"
"Handphone nya tidak bisa dihubungi,dan sedikit banyak lu tahu bagaimana ortu kami please bantu gue Al"
Aldy adalah salah satu orang yang mendukung hubungan Baskoro bersama Rini namun melihat raut sedih Arumi membuat Aldy tidak tega menolak membantu wanita tersebut.
"Gue akan membantu lu untuk bertemu Baskoro dan soal yang lainnya lu tanya aja langsung dengan Baskoro"
"Benarkah terimakasih Al" wajah Arumi seketika terlihat sumringah Aldy membalas dengan sebuah anggukan.
"Sore nanti lu datang ke basecamp kami ok"
"Baiklah Al sore nanti gue bakal datang,sekali lagi makasih Al"ujar Arumi tersenyum kecil dan lagi-lagi Aldy menganggukkan kepalanya.
Arumi melangkah meninggalkan rooftop menuju parkiran dimana Angel telah menunggunya.
βοΈβοΈβοΈ
Baskoro melepaskan ciumannya lalu tersenyum,dan beberapa detik kemudian wajahnya kembali murung bersamaan dengan nafas berat keluar dari bibirnya.
"Kamu baik-baik aja kan mas?" tanya Arumi menatap sendu kekasihnya itu.
__ADS_1
Baskoro menggeleng sesaat terdiam,Arumi tampak menunggu kekasihnya itu berbicara.
"Kata Aldy kamu ingin bertemu dengan ku,apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan"Baskoro mengajak Arumi duduk pada bangku panjang di belakang basecamp mengalihkan pertanyaan Arumi.
Arumi tampak gugup untuk mengatakan apa sebenarnya yang telah terjadi padanya kepada kekasihnya itu bibirnya mendadak kelu saat kedua mata pria itu menatapnya serius.
"Rum ayo katakan sayang,kamu kenapa"ulang Baskoro dengan penuh penekanan.
"Mas aku hamil"
Deg!"
Angel yang sengaja menguping dengan beralasan pamit ke toilet menutup mulutnya, ia sama sekali tak menyangka bahwa Baskoro lebih brengsek dari dugaannya selama ini.
Apa kamu hamil"ucap Baskoro dengan wajah tampak panik, ia menoleh kearah dalam,ia kemudian membawa Arumi untuk menjauh dari tempat tersebut dirinya takut jika ada yang mendengarnya.
"Apakah aku tidak salah dengar" tanya Baskoro saat merasa yakin tidak ada satu pun yang mendengar obrolan mereka.
"Iya mas"jawab Arumi menundukkan kepala.
"Oh ****!" kenapa secepat ini sih"Baskoro tampak frustasi,pria tersebut menendang sesuatu lalu menjambak rambutnya sendiri.
Melihat sikap Baskoro membuat air mata Arumi seketika jatuh bercucuran membasahi pipi mulusnya,Baskoro yang melihat hal itu semangkin panik.
"Please jangan nangis donk"
"Apakah mas tak mau bertanggung jawab"terdengar ucapan Arumi disela-sela Isak tangisnya,Baskoro menghampiri Arumi dan memeluknya mencoba menenangkan wanitanya.
"Sayang bukan itu masalahnya,tapi kita belum sama-sama siap saat ini" bujuk Baskoro sambil membelai surai panjang wanita yang berada dalam pelukannya itu.
Wajah Arumi menegadah menatap pada pria itu dengan tatapan mata kosong"lalu bagaimana ini mas aku takut"
Baskoro melepaskan pelukannya tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Gugurkan kandungan ini"
"Apa?" tega kamu mas" Arumi kembali menangis ia sama sekali tak menduga atas ucapan pria yang sangat ia cintai itu barusan yang telah tega ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri,Arumi membalikkan badannya untuk pergi dari tempat itu namun dengan cepat Baskoro menarik tangannya dengan keras membuat tubuh Arumi kembali jatuh dalam pelukan Baskoro.
"Hy dengar dulu penjelasan mas,mas sebenarnya juga tidak tega tapi apa yang harus kita lakukan"
"Kita sudah melakukan hal yang salah dari awal mas,aku tak ingin mengulanginya lagi dengan membunuh janin yang tidak berdosa ini" ucap Arumi dengan masih dibanjiri air mata.
Tak ingin bertindak gegabah hingga membuat semua semangkin runyam,membuat Baskoro akhirnya mengalah ia kembali merengkuh tubuh Arum.
"Maafkan mas sayang,mas panik hingga tidak tahu harus berbuat apa,beri mas waktu untuk kita selesaikan masalah ini baik-baik,tidak mudah untuk membuat kedua orang tua ku menerima ini semua"ucap Baskoro lirih dengan wajah memelas.
Mendengar penuturan sang kekasih membuat Arumi lagi-lagi mempercayai ucapan pria tersebut ia pun mengangguk dengan tersenyum tipis.
...****************...
__ADS_1
**Terimakasih buanyak Vote,like dan komennya ya gaesππππ.
See you next part π**