Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
Kau Bukan Mommy


__ADS_3

Darko kembali saat waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Kedua polisi itu sungguh cerewet karena memberikan dirinya begitu banyak pertanyaan. Darko yang mengkhawatirkan keadaan istrinya sudah sangat kesal. Jujur saja dia takut ada yang melihat Mia sehingga ada yang curiga dan tahu jika dialah yang telah membongkar makam istrinya.


Begitu selesai, Darko langsung pulang. Dia harap tidak terjadi apa pun di rumahnya dan dia harap kedua putrinya tidak lagi takut pada ibu mereka. Suasanya rumah begitu sunyi bahkan lampu hanya dinyalakan beberapa saja. Darko menyalakan semua lampu hingga terang dan setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.


Senyuman menghiasi wajahnya ketika melihat Mia duduk di depan cermin dan menyisir rambutnya. Ternyata Mia masih seperti sediakala seperti ketika dia tinggalkan. Darko melangkah mendekati Mia lalu berdiri di belakangnya.


"Bagaimana dengan harimu, Honey?" Darko memijit kedua bahu Mia dengan perlahan. Itu memang kegiatan yang sering dia lakukan dengan Mia.


"Sangat baik," Mia berpaling lalu tersenyum dengan manis.


"Apa anak-anak masih takut denganmu?" tanya Darko lagi.


"Tidak! Mereka seperti biasa dan menyayangi aku!" jawab Mia. Senyuman masih menghiasi wajahnya.


"Aku senang mendengarnya. Aku mandi dulu, setelah ini kita makan malam!" ucap Darko.


Mia mengangguk, Darko memijat bahu istrinya sejenak sebelum dia pergi ke kamar mandi. Kehidupan keluarganya benar-benar kembali lagi. Kebahagiaan itu kembali dia rasakan dan kebahagiaan itu tidak boleh pergi oleh sebab itu malam ini juga dia ingin mengutarakan niatnya untuk membawa mereka pergi.


Mia menyisir rambutnya kembali saat Darko sedang mandi. Mia melakukannya sambil tersenyum namun rambut indahnya justru tertarik bersama dengan sisirnya. Mia melihat rambutnya yang rontok namun suara tawanya terdengar. Dia kembali menyisir dan lagi-lagi rambutnya ikut tertarik dengan sisir yang dia gunakan.


"Hi... Hi... Hi...!" Mia tertawa pelan, sisir pun diletakkan. Mia melihat wajahnya, seringai menakutkan terukir di bibir. Tidak ada  yang tahu apa yang sedang dia pikirkan dan tidak ada yang tahu dia Mia atau bukan.


Mia beranjak, melangkah keluar. Darko tidak mendapati istrinya oleh sebab itu dia bergegas keluar dari kamar setelah memakai pakaiannya. Mia sedang berdiri di dapur ketika dia menemukan keberadaan istrinya. Darko kembali tersenyum melihat istrinya sedang memanaskan makanan tanpa menyadari pikiran-pikiran jahat sudah ada pada Mia.


"Bitsy, cepat keluar!" terdengar suara teriakan Angela dari dalam kamar.


Darko melihat ke arah kamar putrinya, apa lagi yang Bitsy lakukan? Karena ingin tahu, Darko melangkah menuju kamar putrinya apalagi Angela kembali berteriak memanggil kakaknya.


"Bitsy, cepat keluar!" teriak Angela lagi.


"Tidak mau, aku tidak mau keluar!" tolak Bitsy.


"Ada apa, Angela?" tanya Darko pada putri keduanya setelah masuk ke dalam kamar.


"Daddy, Bitsy mengajak Rian mengunci diri di dalam kamar mandi dan tidak mau keluar!" jawab Angela. Darko menghela napas, apa lagi yang dilakukan oleh putri pertamanya?


"Bitsy, apa lagi yang kau lakukan?" sungguh dia tidak mengerti kenapa hanya Bitsy saja yang bersikap seperti itu dan kenapa dia masih saja takut dengan ibunya.

__ADS_1


"Bitsy mau ke rumah Aunty Nadia saja, Daddy. Antar Bitsy ke rumah Aunty Nadia!" teriak Bitsy dari kamar mandi. Aunty Nadia pasti akan mempercayai dirinya, tidak seperti ayahnya yang tidak percaya sama sekali.


"Tidak bisa, Aunty Nadia sudah pindah!" jawab ayahnya yang kesal dengan sikap Bitsy yang tidak berubah. Nadia adalah adiknya, dia sangat dekat dengan ketiga anaknya namun dia tinggal di kota yang cukup jauh.


"Jika begitu ijinkan Bitsy menghubungi Aunty agar Bitsy bisa berbicara dengan Aunty!" pinta Bitsy.


"Tidak, keluar sekarang karena sebentar lagi kita akan makan malam bersama lalu ada yang hendak Daddy sampaikan pada kalian!"


"Tidak mau, Bitsy tidak mau makan!" teriak Bitsy. Entah binatang apa yang dimasak oleh ibunya untuk makan malam, dia tidak mau makan sama sekali.


"Bitsy, jangan membuat Daddy sakit kepala dengan sikapmu itu!" ucap Darko.


"Daddy yang tidak mengerti dengan ketakutan yang Bitsy rasakan!" Tangisannya terdengar, Bitsy memeluk Rian dengan erat. Yang dia miliki hanya ayahnya tapi ayahnya tidak percaya dan tidak mau mendengar permintaannya oleh sebab itu dia mau ke rumah Aunty Nadia dan mengatakan semuanya agar mereka tidak dimakan oleh ibu mereka.


"Kau masih kecil, jangan terlalu egois. Daddy melakukansemua ini agar kita kembali bersama!" teriak ayahnya murka.


"Tapi Bitsy tidak mau dengan Mommy yang seperti itu!" teriak Bitsy lagi.


"Cukup Bitsy!" emosi menguasai hati. Putri pertamanya benar-benar sudah keterlaluan.


"Tidak ada apa-apa, Honey. Aku hanya sedang membujuk Bitsy saja agar mau keluar untuk makan malam," ucap Darko.


"Baiklah, serahkan padaku. Pergilah ajak Angela terlebih dahulu, aku akan membujuk Bitsy agar dia mau keluar makan."


"Baiklah, Honey. Mungkin dia mau mendengar jika kau yang membujuknya."


"Jangan tinggalkan Bitsy, Daddy!" teriak Bitsy memohon.


"Bitsy, kenapa kau tidak mau keluar, Sayang?" tanya Mia dengan pelan sambil mengetuk pintu.


"Kau bukan Mommy, pergi dari rumah ini!" teriak Bitsy.


"Teganya Bitsy berkata seperti itu? Apa Bitsy sudah tidak menyayangi Mommy lagi?" Mia pura-pura sedih akibat perkataan putrinya.


"Kau bukan Mommy!" Bitsy kembali meneriakkan hal yang sama.


Darko memijit pelipis, Mia memintanya untuk keluar bersama dengan Angela. Mia masih membujuk dengan kata-kata manisnya namun setelah Darko tidak ada, dia menunjukkan siapa sebenarnya dirinya pada Bitsy.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, kau tidak boleh nakal. Apa kau ingin melihat Angela berada di dalam panci?" tanyanya dengan suara yang mengerikan.


"Tidak, jangan ganggu adikku!" pinta Bitsy ketakutan. Ibunya adalah hantu, kenapa ayahnya dan Angela tidak sadar?


"Jika begitu segera keluar jika tidak aku akan memakan Angela malam ini!"


Bitsy gemetar ketakutan mendengar ancaman itu. Kedua kakinya pun gemetar namun pada akhirnya dia keluar dari kamar mandi karena dia takut dengan sosok yang menyerupai ibunya. Mia tersenyum, gadis manis yang sangat lezat.


"Anak manis yang pintar, jika kau tidak menurut pada Mommy maka Mommy akan memakan adikmu terlebih dahulu!"


"Jangan!" pinta Bitsy sambil menggeleng.


"Jika begitu jangan ribut lagi!" Mia melangkah keluar, Bitsy mengikutinya dengan perasaan takut. Gadis itu bahkan tidak berani bersuara saat makan meski dia benar-benatr takut dengan apa yang sedang mereka makan saat itu.


"Makan daging ini yang banyak!" Mia memberikan beberapa potong daging binatang yang dia bunuh tadi siang pada Bitsy. Bitsy memandanginya, dia ingin menolak tapi Mia memperlihatkan senyuman yang mengerikan.


"Daging apa ini?" tanya Darko. Dia ingat sudah membuang semua daging yang ada di dalam kulkas.


"Itu daging ayam. Aku menemukanya di kulkas," jawab Mia berdusta.


"Benarkah?" Darko mengernyitkan dahi namun dia tidak menaruh curiga sama sekali dan percaya dengan apa yang istrinya katakan.


"Dengar, Daddy berniat mengajak kalian semua pindah!" ucap Darko.


"Tidak mau, Daddy!" tolak Bitsy dengan cepat namun tatapan tajam ibunya membuat Bitsy takut.


"Ke mana?" tanya Mia.


"Tempat bagus, kita akan memulai kehidupan yang baru kita di sana."


"Aku sudah tidak sabar!" Mia tersenyum, senyuman yang memiliki banyak arti.


"Jika begitu, kita harus segera bergegas karena tempat ini tidak aman lagi!"


Bitsy menunduk, dia tidak mau pindah ke mana pun. Benar-Benar tidak mau karena dia tahu ada sosok jahat yang ada pada ibunya. Tapi jika dia tidak pergi, Angela pasti dimakan oleh ibu mereka lalu bagaimana dia bisa mencegah agar ayahnya tidak membawanya pergi?


Gadis yang malang yang harus mengalami ketakutan seorang diri dan berusaha melindungi kedua adiknya. Ayah yang seharusnya menjaga dan melindunginya justru tidak mempercayai dirinya itu karena mata Darko sudah tertutup oleh kebahagiaan serta kebersamaan yang sudah kembali lagi tanpa menyadari jika keluarganya sedang dalam incaran iblis.

__ADS_1


__ADS_2